<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273</id><updated>2011-10-20T23:00:13.708+07:00</updated><title type='text'>kamudaponti</title><subtitle type='html'>- sejarah, budaya, politik, dan pendidikan -</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-4581604369889774570</id><published>2011-09-06T00:07:00.001+07:00</published><updated>2011-09-06T00:09:06.848+07:00</updated><title type='text'>India dan Indonesia Berdikari: Negara Maju Bangkrut!</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;“Lah, kalau Indonesia maju, siapa yang belibarang Jepang, Eropa, dan Amerika?!” dalam sebuah percakapan dengan seorangteman.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-S53k251S-R0/TmUBXsxeibI/AAAAAAAAAQw/TzfOeup7Aso/s1600/china-and-imperialism-cartoo.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-S53k251S-R0/TmUBXsxeibI/AAAAAAAAAQw/TzfOeup7Aso/s320/china-and-imperialism-cartoo.jpg" width="224" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;"Dunia ibarat pizza"&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Demikianlah tercetus dalam diskusidengan seorang teman. Saya lalu berpikir, seperti apakah wajah dunia ini, bilaIndonesia berhasil maju dengan produk-produk anak negeri. Namun, saya adapesimis juga, melihat sejarah penjajahan dunia, yang rakus dan ganas. Siapayang beli produk negara maju, bila Indonesia sendiri berhasil maju? Pemikiranitu, membawa saya menerawang, ke pelajaran-pelajaran sejarah yang pernah sayadapat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;ImperialismeKuno&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Ong Hok Ham, dalam kenangansahabat-sahabatnya, di buku Onze Ong, menuturkan setengah bercanda, bahwaibu-ibu turut berperan dalam menciptakan penjajahan dunia. Kenapa bisademikian?! Karena penjajahan awal, imperialisme, berasal dari kebutuhan dapur,rempah-rempah. Harga barang tersebut di Eropa sangatlah tinggi, karena itubangsa-bangsa Eropa yang sedari dulu terlibat persaingan, berlomba-lomba menujupusat penghasil rempah-rempah di dunia Timur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Saat itulah dimulai imperialismekuno (Abad 16), sebuah istilah yang nanti akan dibedakan dengan imperialisme modern,atau bahkan neo-imperialisme. Bangsa-bangsa Eropa, lewat perusahaan-perusahaandagangnya berperang (misalnya EIC dan VOC) dan membagi-bagi wilayah dunia,untuk memonopoli penjualan rempah-rempah saat itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Pada masa-masa ini belum dilakukansecara luas pendudukan wilayah secara politis, atau membentuk koloni(kolonialisme). Para pedagang Eropa baru berfokus pada membeli rempah-rempahdengan harga murah dan memonopolinya. Sehingga beberapa sejarawan beranggapanbahwa pada masa VOC berada di Nusantara belumlah dapat dikatakan Belandamenjajah Indonesia, karena hubungannya adalah berdagang. Meskipun demikian,tekanan-tekanan untuk mempengaruhi kebijakan para penguasa feodal (Raja) sudahdilakukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Bahkan Pemerintah Inggris menolakmembentuk koloni di daerah Sungai Congo, Afrika, yang jelas-jelas sudahditemukan potensinya oleh penjelajah dan ilmuwan Henry Morton Stanley di tahun1874. Alasan pemerintah Inggris saat itu adalah tidak ingin menambah bebanpemerintahan Inggris dalam segi biaya. Ternyata pada masa itu, memiliki tanahjajahan bukanlah sesuatu yang terutama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;ImperialismeModern&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Perbedaan kebijakan imperialismemenjadi berubah drastis, ketika Inggris kemudian negara Eropa lainnya berhasilmasuk ke tahap industri pada abad 18-19. Pergantian tenaga manusia ke tenagamesin benar-benar meningkatkan jumlah produksi, sehingga tercipta kondisi “&lt;i&gt;overweight production&lt;/i&gt;” atau“barang-barang surplus” pada negara-negara Eropa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Pada tahap inilah diperlukandaerah-daerah untuk menjual kelebihan produksi tersebut, dan jaminanketersediaan bahan-bahan baku produksi di daerah-daerah luar Eropa, inilah yangdisebut imperialisme modern.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Bangsa-bangsa Barat berebutmendirikan koloni di daerah baru di Afrika dan Asia. Pasar baru sangatdiperlukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tanah Eropa. Maka dengankekuatan militer, pendekatan ekonomi, hingga budaya, bangsa-bangsa Eropaberusaha memiliki daerah-daerah koloni atau jajahan. Sebagai sebagian contoh,Indonesia menjadi milik Belanda, Malaysia, Singapura, dan India milik Inggris,Cina dikuasai Jerman, Perancis, Inggris, Amerika Serikat, dan Jepang.Daerah-daerah di Afrika seluruhnya dibagi-bagi antar negara Eropa. Semuanyademi tujuan meluaskan pasar, mendekatkan bahan baku industri, dan ketersediaantenaga kerja murah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Neo-Imperialisme&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Memasuki tengah abad 20,negara-negara Eropa tak dapat memungkiri dasyatnya ide nasionalisme, demokrasi,liberalisme, dan sosialisme. Hak manusia untuk memperoleh kebebasan, dan bebasdari penjajahan terus dipertanyakan. Maka, negara-negara Eropa, AmerikaSerikat, dan Jepang, harus merelakan daerah-daerah koloninya untuk merdeka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Lalu apakah masalahnya selesai?Ternyata tidak, tetap ada permasalahan awal bagi negara-negara Eropa, AmerikaSerikat, dan Jepang yang kemudian disebut negara dunia pertama, atau negaramaju. Adanya “barang-barang surplus” atas hasil produksi mereka, kebutuhanpasar yang luas, dan tenaga kerja yang murah. Maka, meskipun secara politiskekuasaan negara maju sudah tidak ada, mereka masih mau dan terus menanamkanpengaruhnya di bekas negara-negara koloni.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Inggris menyebut hubungan denganbekas koloninya sebagai “&lt;i&gt;Commonwealth&lt;/i&gt;”.Negara lain berusaha menanamkan pengaruhnya dengan memberi bantuan, ikatanekonomi dan moralitas, dalam bentuk uang dan pinjaman jangka panjang. Sehinggabekas negara-negara koloni akan terus terikat dalam bentuk hutang yang selaluditawarkan, hingga akhirnya terbelit hutang dan tidak mampu membayarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Sekarang…&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Coba lihat sekeliling kita, adakahbarang buatan Indonesia? Tusuk gigi yang ada di dekat saya, “&lt;i&gt;Made In China&lt;/i&gt;”. Sepatu di sebuah rak,buatan Amerika, demikian juga beberapa baju kemeja. Komputer saya buatanJepang, demikian juga sepeda motor. Sementara saya menonton televisi selamasatu jam, maka sepertiganya adalah iklan-iklan produk luar negeri ataupunbersaham asing, yang menarik hati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Buatan Indonesia?! Dulu ada mobil,tapi ternyata bahan bakunya luar dalam dari Korea. Sekarang ada beberapa,misalnya alat elektronik, tapi apakah sebagian besar bahannya dari Indonesia?Atau sebagian besar modalnya Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Saya kembali memikirkan diskusisaya dengan seorang teman. Bila suatu saat, Indonesian dan India mampu mandiriseperti China, berdiri di kaki sendiri… Maka negara-negara maju akan bangkrut!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Hanya apakah itu akan direlakanoleh negara maju?!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Pontianak, 01 Mei 2011 (23:40)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Salam Hari Buruh Sedunia&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-4581604369889774570?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/4581604369889774570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=4581604369889774570&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/4581604369889774570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/4581604369889774570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2011/09/india-dan-indonesia-berdikari-negara.html' title='India dan Indonesia Berdikari: Negara Maju Bangkrut!'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-S53k251S-R0/TmUBXsxeibI/AAAAAAAAAQw/TzfOeup7Aso/s72-c/china-and-imperialism-cartoo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-8849726568749005573</id><published>2011-08-22T08:12:00.006+07:00</published><updated>2011-08-22T08:20:51.273+07:00</updated><title type='text'>Indonesische Vereeniging 1925: Paling Indonesia!</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ky332mDUIJk/TlGsk3AonsI/AAAAAAAAAQs/wgO1kMDeO6Q/s1600/PI+Perhimpunan+Indonesia.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-ky332mDUIJk/TlGsk3AonsI/AAAAAAAAAQs/wgO1kMDeO6Q/s320/PI+Perhimpunan+Indonesia.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: small; line-height: 150%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Tak banyak yang mengetahui &lt;i&gt;Indonesische Vereeniging&lt;/i&gt;, sebuah organisasi pergerakan pemuda awal, di era “Kebangkitan Nasional”, yang kemudian “mematenkan” namanya menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Perhimpunan Indonesia?! Nama yang terlalu umum untuk didengar, nama dengan dua kata yang “biasa” kita gunakan sekarang ini. Dalam sejarah pergerakan nasional pun, dua kata ini kalah populer dengan Budi Utomo, Sarekat Islam, &lt;i&gt;Indische Partij&lt;/i&gt;, Taman Siswa, PNI (Marhaenisme), atau bahkan Partai Komunis Indonesia (PKI).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Padahal menurut sejarawan Sartono Kartodirjo, Manifesto Politik PI 1925 dengan penjabaran dan analisisnya, sudah melampaui makna Sumpah Pemuda 1928. Asvi Warman Adam, dalam “Seabad Kontroversi Sejarah”, juga membuka fakta bahwa ide-ide PI dalam majalah “Indonesia Merdeka” telah mengilhami para pemimpin pemuda, yang nanti akan merumuskan Sumpah Pemuda. Lebih jauh lagi, sejarawan G. Moedjanto menyatakan Manifesto Politik PI telah menjadi embrio pemikiran Soekarno, yang kemudian menggali ide dasar negara, Pancasila.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Bila dilihat dari namanya, memang Perhimpunan Indonesia terlalu sederhana, terlalu banyak digunakan berbagai komunitas. Yah, bagi kita di jaman sekarang! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Namun, nama yang sekilas sederhana ini, merupakan nama pertama di dunia, bagi organisasi politik, yang menggunakan kata “Indonesia” sebagai pengertian sebuah bangsa dan negeri yang harus dilahirkan dunia ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Dari &lt;i&gt;Indische&lt;/i&gt; Ke &lt;i&gt;Indonesische&lt;/i&gt; 1908-1922&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Pada saat itu, Indonesia belum dikenal, hanya ada di buku-buku ilmiah antropologi dan geografi di Eropa. Indonesia dikenal dengan Hindia-Belanda (&lt;i&gt;Indische&lt;/i&gt;) atau India milik Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Pada awal awal abad 20, dengan berlakunya politik etis, semakin banyaklah pemuda Indonesia yang belajar di perguruan tinggi Belanda. Di sana, mereka membentuk &lt;i&gt;Indische Vereeniging&lt;/i&gt; (Perhimpunan Hindia-Belanda), tahun 1908. Tujuan organisasi ini bersifat sosial, sebagai wahana berbagi pengalaman, pengetahuan, tentang masalah di Hindia-Belanda. &lt;i&gt;Indische Vereeniging&lt;/i&gt; terbuka bagi mereka yang berasal dari Hindia-Belanda (pribumi maupun non pribumi yang menetap di Hindia-Belanda).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Di Belanda, para pemuda lebih dekat untuk mengetahui perkembangan situasi dunia, yang sedang gencarnya dengan gagasan nasionalisme. Pasca Perang Dunia I, ide Woodrow Wilson “menentukan nasib sendiri dan merdeka dari penjajahan”, telah menyala di kepala para pemuda Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Semakin matangnya para pemikir muda, seperti Iwa Koesoema Soemantri, Soekiman, Moh. Hatta, A. Soebardjo (semua pernah mengetuai PI), membuat &lt;i&gt;Indische Vereeniging&lt;/i&gt; berganti nama menjadi &lt;i&gt;Indonesische Vereeniging&lt;/i&gt; atau Perhimpunan Indonesia, tahun 1922. Peristiwa ini juga menandakan, untuk pertama kalinya istilah “Indonesia” dikenalkan sebagai entitas kebangsaan, dalam nama organisasi politik, dalam majalah PI yang berjudul “Indonesia Merdeka”, yang menjadi inspirasi para pemuda di Hindia-Belanda, dan membuat gusar para politisi Negeri Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Manifesto Politik PI 1925&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Berkumpulnya para intelektual muda Indonesia di Belanda, membuat diskusi-diskusi mereka semakin terarah pada kemerdekaan Indonesia, yang bagi mereka merupakan keharusan jaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Di saat penduduk Belanda, dan Hindia-Belanda, belum memikirkan tentang kemungkinan adanya sebuah negara Indonesia, Perhimpunan Indonesia mengeluarkan Deklarasi PI yang dimuat di majalah “Hindia Poetra”, tahun 1923,(menurut Van Niel tahun 1922). Isinya adalah:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;“Masa depan &lt;b&gt;bangsa Indonesia&lt;/b&gt; semata-mata terletak pada adanya bentuk &lt;b&gt;pemerintahan yang bertanggung jawab kepada rakyat dalam arti sebenar-benarnya&lt;/b&gt;… Setiap orang Indonesia &lt;b&gt;haruslah berjuang&lt;/b&gt; demi tujuan ini… dengan &lt;b&gt;kekuatannya dan usahanya sendiri&lt;/b&gt; (bebas dari bantuan asing, menurut sumber: Moh.Hatta, Memoir)… hanya dengan &lt;b&gt;Persatuan yang erat&lt;/b&gt; di antara putra-putri Indonesia saja, yang dapat menuju ke arah tercapainya &lt;b&gt;tujuan bersama&lt;/b&gt; (kesejahteraan sosial, menurut tulisan G. Moedjanto)”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Yang menarik dari Deklarasi PI ini adalah penggunaan kata “Bangsa Indonesia”, hal ini jelas menunjukkan bahwa PI bercita-cita tentang sebuah negara baru, yaitu Indonesia. Negara yang dimaksud adalah negara demokrasi, yang dicapai dengan cara berjuang, menggalang persatuan, dengan kekuatan sendiri, bebas dari bantuan asing.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Deklarasi PI tersebut kemudian berkembang menjadi “Arah Dasar PI”, dan kemudian menjadi &lt;b&gt;Manifesto Politik PI 1925&lt;/b&gt; yang isinya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Rakyat Indonesia semata-mata diperintah oleh pemerintah yang mereka pilih sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam memperjuangkan pemerintahan sendiri diusahakan tanpa bantuan dari pihak manapun.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Untuk mencapai tujuan bersama itu, semua unsur perlu persatuan yang seerat-eratnya.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Manifesto Politik PI 1925 ini kemudian disebarluaskan di Eropa, dan perkumpulan pelajar dan mahasiswa dari negeri-negeri jajahan di Asia-Afrika. Dalam Kongres ke-6 &lt;i&gt;Liga Demokratie Internasional&lt;/i&gt;, Agustus 1926 di Paris, Moh. Hatta tampil sebagai pembicara dan secara tegas menyatakan tuntutan kemerdekaan Indonesia. Pada Kongres Liga tahun 1927 di Berlin, PI mendapat dukungan dan simpati untuk kemerdekaan Indonesia dari peserta Kongres Liga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Hal ini menyebabkan PI dinyatakan sebagai organisasi terlarang di Belanda, di tuduh “dengan tulisan menghasut di muka umum untuk memberontak terhadap pemerintah”. Hatta dan kawan-kawan, Nazir Pamontjak, Abdulmajid Djodjoadiningrat, dan Ali Sastroamidjojo, dipenjara dari 10 Juni 1927 – 8 Maret 1928. Di mana pada saat pengadilan dan kemudian dinyatakan bebas, Bung Hatta sempat membacakan pidato pembelaannya yang berjudul “&lt;i&gt;Indonesia Vrij&lt;/i&gt;” atau “Indonesia Merdeka”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Perhimpunan Indonesia 1925: Paling Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Dengan tidak menyampingkan sejarah yang lain, seperti Budi Utomo dengan Kebangkitan Nasional 1908, dan Kongres Pemuda II dengan Sumpah Pemuda 1928, Manisfesto Politik PI 1925 memiliki makna yang teramat dasyat. Namun, entah kenapa sejarah PI begitu tenggelam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Padahal setelah Budi Utomo mendirikan organisasi pertama, PI lah yang secara terang-terangan melahirkan makna “Indonesia” sebagai negara di masa depan. Berbeda dengan Budi Utomo yang bertujuan mensejahterakan kaum Jawa, atau Sarekat Dagang Islam yang melindungi para pedagang Muslim, atau &lt;i&gt;Indische Partij&lt;/i&gt; yang berniat merombak Hindia-Belanda, Perhimpunan Indonesia benar-benar merangkum itu semua dengan kata “Bangsa Indonesia”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Meskipun, Sumpah Pemuda begitu menggelorakan semangat persatuan nasional di kalangan pemuda Indonesia, harus disadari juga bahwa para penggagas Sumpah Pemuda membaca tulisan-tulisan PI di “Indonesia Merdeka” atau “Hindia Poetra” yang sudah berjuang lebih dahulu di kancah internasional.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Selain itu, Manifesto Politik PI 1925, tidak hanya memuat pentingnya persatuan nasional, tapi juga bentuk pemerintahan demokrasi, otonomi, dan swadaya (&lt;i&gt;principle of self-reliance&lt;/i&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Indonesia tak dapat dibangun hanya dengan persatuan saja, tapi juga kita harus mempertanyakan pemerintah yang demokrasi, prinsip otonomi yang menyejahterakan, dan kemerdekaan negara yang berharga diri. Semua itu, ada di dalam Deklarasi PI 1922 dan Manifesto Politik PI 1925.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;“Perhimpunan Indonesia 1925 Paling Indonesia!”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Pontianak, 18 Mei 2011&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Courier New&amp;quot;; font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;M.S.M.V. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-8849726568749005573?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/8849726568749005573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=8849726568749005573&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/8849726568749005573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/8849726568749005573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2011/08/indonesische-vereeniging-1925-paling.html' title='Indonesische Vereeniging 1925: Paling Indonesia!'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ky332mDUIJk/TlGsk3AonsI/AAAAAAAAAQs/wgO1kMDeO6Q/s72-c/PI+Perhimpunan+Indonesia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-5151069139703174117</id><published>2011-01-17T23:44:00.001+07:00</published><updated>2011-01-17T23:48:07.918+07:00</updated><title type='text'>GAGALNYA  KOMUNISME  DI  EROPA (KASUS   POLANDIA  DAN  YUGOSLAVIA) [Bag.2]</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;"kembali lagi berbicara komunisme di Eropa..."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Gagalnya Komunisme di Eropa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Gejala komunis menggambarkan tragedi sejarah. Sebagai yang lahir dari idealisme yang tidak sabar, yang menolak ketidakadilan status quo, ia mengusahakan masyarakat yang lebih baik dan lebih manusiawi, tetapi menghasilkan penindasan massal&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Demikianlah realita komunisme, terutama di Eropa, meskipun memiliki cita-cita luhur namun dalam penerapannya menggunakan kekuasaan untuk menekan potensi perlawanan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Komunisme bercita-cita terbentuknya komunisme internasional. Di mana seluruh dunia bersatu di bawah payung komunisme. Satu syarat utama terciptanya masyarakat komunis adalah hancurnya masyarakat kapitalis dengan alat-alat produksi yang mereka kuasai. Syarat tersebut mutlak, karena tidak mungkin kapitalis dan komunis dapat berdiri bersama. Kekuatan yang satu akan menghancurkan kekuatan yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dalam ”ramalan” dialektika Karl Marx, kapitalisme dengan sendirinya akan menuju kehancuran. Kehancuran itu disebabkan oleh &lt;i&gt;over weight production&lt;/i&gt;, yaitu kelebihan produksi akibat teknologi dan kebutuhan yang telah tercukupi. Meskipun demikian, bagi Marx dan pengikutnya proses kehancuran kapitalisme dapat dipercepat dengan revolusi. Revolusi komunis inilah yang pada abad 20 begitu maraknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Dimulai dari revolusi proletar di Uni Soviet, kemudian pasca Perang Dunia II menyebar ke banyak negara. Negara-negara dunia ketiga, yang kesejahteraannya masih diperjuangkan, sangat potensial untuk mendapat pengaruh komunis. Eropa Timur dengan cepat mendapat pengaruh Uni Soviet. Negara seperti Polandia pun jatuh ke tangan komunis. Demikan pula Eropa bagian Selatan, seperti Serbia, Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Kosovo, Montenegro, Slovenia yang bersatu dalam Yugoslavia, menggunakan ideologi komunis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Maraknya ideolodi komunis di dunia saat itu, bukan berarti ramalan Marx, tentang runtuhnya kapitalisme sudah berhasil. Negara-negara kapitalis tetap ada, bahkan masih sangat kuat untuk melawan pengaruh komunisme. Negara-negara kapitalis yang kuat juga adalah pemenang PD II, yaitu: Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan negara-negara Eropa Barat ditambah Jepang. Di dalam negara komunis pun pengaruh paham kapitalis masih cukup berpengaruh di kalangan borjuis dan aristokrat. Keadaan demikian disebabkan karena revolusi komunisme yang radikal dilakukan saat kapitalis sedang bangkit dan membangun kekuatan pula. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Amerika Serikat berperan besar dalam pembangunan Eropa dengan Program Marshal dan Doktrin Truman&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Selain itu kebudayaan Eropa memang cenderung ke liberal-kapitalis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Didasari situasi dan kondisi demikian, maka penting bagi pemerintahan komunis di negara-negara Eropa untuk melakukan resistensi. Dalam taraf minimal paling tidak dapat mempertahankan ideologi komunis di negaranya. Sistem pemerintahan totaliterisme pun digunakan. Sistem otoritarian-diktator ini berguna untuk menekan kekuatan-kekuatan penentang di dalam sebuah negara. Selain itu pembangunan secara terencana dan terpusat pun dapat dijaminan pelaksanaannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Pemerintahan totaliter ini bukan tanpa masalah di dalam negara dan di dunia internasional. Pemerintahannya yang diktator menyebabkan munculnya kelompok-kelompok yang tidak puas dan ingin merubah &lt;i&gt;status quo&lt;/i&gt;. Di samping itu, komunisme secara ideologi yang sistematis harus dipaksakan di setiap warga di negara tersebut. Padahal sebagai ideologi, komunis masih harus diperdebatkan kebenaran ilmiahnya. Komunisme bukanlah ideologi yang sudah mapan dan membudaya di Eropa. Komunisme meskipun sangat dikagumi rakyat kecil, tapi masih menjadi ideologi baru yang misterius.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Ketiga sebab utama tersebut: totaliterisme, ideologi yang belum mapan, dan konlik antar golonagn, yang meyebabkan kegagalan komunsime di Eropa. Di samping itu masih didorong faktor-faktor khas lain, yang menjadi karakter tiap negara. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pembahasan berikut akan melihat kasus runtuhnya komunisme di Polandia dan Yugoslavia berdasarkan teori di atas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;C.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Runtuhnya Komunisme di Polandia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kita akan mencoba menganalisis runtuhnya komunisme di Polandia dilihat dari teori totaliterisme. Unsur-unsur pokok ide totaliterisme yang ada di Polandia adalah:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;1)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Suatu ideologi yang menjelaskan dunia, masyarakat manusia dan sejarah, merupakan ideologi yang harus ditaati, dipropagandakan dan diterima oleh semua warga negara. Dalam kasus Polandia unsur terdapat dalam ideologi komunisnya. Ideologi komunis adalah satu-satunya ideologi yang diperkenankan di Polandia. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Semua warga negara harus mengikuti ideologi komunis tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;2)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Pemusatan kekuasaan sosial dan politik di tangan satu partai (biasanya didominasi oleh satu orang pemimpin). Pada kasus Polandia, Partai Komunis mendominasi pemerintahan dan parlemen. Kebijakan negara seakan-akan kebijakan partai. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Pemimpin negara: Persiden dan Perdana menteri juga dari Partai Komunis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;3)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Intimidasi atas rakyat melalui ketidakpastian hukum dan teror politis yang sewenang-wenang. Di Polandia ini ditunjukkan saat para pendukung Partai Buruh-Solidaritas (anti komunis) ditangkap dan dipenjarakan oleh pemerintah pimpinan Jenderal Jeruzelski. Ketika para aktor intelektual penentang komunisme ditangkap, terpaksa perjuangan pihak anti-komunis dilakuklan secara gerilya.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="IT" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;4)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Monopoli negara atas sarana-sarana informasi-komunikasi dan perekonomian yang terpusat dan kurang lebih terencana. Kebijakan-kebijakan menaikkan harga barang secara sepihak oleh pemerintah komunis Polandia membuktikan bahwa segala keputusan perekonomian ada di tangan pemeriuntahan komunis. Surat kabar pun yang diterbitkan oleh pemerintah komunis Polandia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Sistem yang totaliter tersebut tentu saja mendapat tentangan dari pihak yang merasa dirugikan. Rakyat Polandia kebanyakan merasa menderita dengan kebijakan ekonomi pemerintah komunis yang tidak kunjung menyejahterakan mereka. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Barang-barang kebutuhan semakin mahal. Sementara kebebasan berpendapat mendapat larangan yang keras. Bila ada yang protes akan langsung menerima hukuman. Jelas saja muncul kelompok yang berusaha menggantuikan status quo partai komunis Polandia. Kelompok tersebut adalah Serikat Buruh Bebas, atau dikenal dengan nama Solidaritas. Kelompok ini merupakan kelompok buruh yang anti komunis dan merasa dirugikan dengan pemerintahan komunis. Seriukat buruh bebas ini akhirnya dapat menumbangkan pemerntahan komunis Polandia melalui sebuah perundingan. Pada pemilu sesudahnya bahkan dapat menguasai pemerintahan Polandia&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;D.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Runtuhnya Komunisme di Yugoslavia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kekhususan runtuhnya komunis di Yugoslavia disebabkan oleh disintegrasi di antara etnis-etnis yang ada di kawasannya. Akar-akar perbedaan yang sulit didamaikan mencakup kesombongan rasial dan kultural terutama di kalangan etnis besar sangat transparan dan sulit dikrompomikan. Kesombongan rasial dan kultural ini diperburuk lagi dengan adanya perbedaan agama dan pengalaman sejarah yang diwarnai oleh budaya saling balas dendam di antara etnis. Perbedaan itu semua dalam perjalanan sejarah tidak sempat menghasilakan ideologi perekat sebagai hasil konsensus bersama&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Berdasarkan sebab umum, totaliterisme dalam pemerintahan komunis, Joseph Broz&amp;nbsp; Tito mencoba memaksakan ideologi komunis sebagai solusi tiadanya perekat di antara etnis yang majemuk. Namun, karena dipaksakan lewat pemerintahan yang sentralis, diktatoral dan kadang diskriminatif benih-benih perlawanan mulai muncul. Begitu Tito tutup usia, tidak ada pemimpin yang dapat diterima oleh semua pihak di Yugoslavia. Ideologi komunis yang sebelumnya sebagai perekat akhirnya mulai mencair, dan muncul sebagai semangat untuk saling membenci&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Kurang lebih 35 tahun Tito memimpin Yugoslavia. Ideologi komunis yang dipilih Tito sebagai ideologi pemersatu bangsa dengan harapan dapat merajut segala perbedaan jenis etnis (agama, budaya, bahasa, dll) ternyata hanya mampu menjamin stabilitas negara selama selama daya paksanya didukung oleh militer dan penguasa otoriter.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Dalam hal ideologi, komunis sebagai ideologi negara ternyata tidak disambut hangat oleh rakyat Yugoslavia. Komunisme ternyata masih menjadi ideologi elitis yang sulit dimengerti oleh rakyat kecil. Komunisme hanya dapat menjadi pengikat semu selam didukung faktor-faktor ekstern dan intern. Faktor intern adalah komunisme masih menjadi ideologi di banyak negara lain, khususnya Uni Soviet. Faktor intern adalah kediktatoran, dan sentralisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Konflik sendiri datang dari etnis-etnis yang merasa tidak puas dengan kepemimpinan pemerintah. Mereka menuntut memisahkan diri dari Yugoslavia. Hal tersebut tidak mustahil mengungat etnis-etnis tersebut pada masa lalu memang sebuah negara (atau kerajaan) yang merdeka. Hanya karisma Titolah dan harapan akan kesejahteraan dan keadilan yang membuat mereka bergabung dalam Yugoslavia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Dengan berbagai kebijakan yang ditempuh Tito selama berkuasa, yang ternyata masih meninggalkan sejumlah permasalahan bangsa yang kompleks dan sulit, maka tidak mustahil para penggantinya mengalami kesulitan untuk mencari jalan keluar. Kesulitan mencari penyelesaian yang berkepanjangan (sekitar 10 tahun sejak meninggalnya Tito) ternyata mengantar Yugoslavia ke jurang disintegrasi secara sigifikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT"&gt;E. Realitas Kegagalan Komunisme&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Komunisme sekali lagi terbukti mengalami kegagalan. Ide-ide komunis yang idealis ternyata sulit direlisasikan pelaksanaannya. Karya-karya Karl Marx seperti Manifesto Comunism dan Das Capital masih terlalu rumit bagi rakyat kecil. Sedangkan di lain sisi, liberalisme-kapitalisme sudah membudaya sekian lama dalam kehidupan masyarakat Eropa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Realitas di dunia pada akhir abad 20 terjadinya krisi umum komunisme. Krisis tersebut terlihat pada: terus menerus membelotnya negeri-negeri baru dari model yang dipengaruhi oleh Soviet; melemahnya posisi negeri-negeri komunis dalam persaingan ekonomi dengan demokrasi-demokrasi usaha bebas yang telah maju; disintegrasi blok soviet; menjengkelkannya kontrasiksi-kontradiksi komunisme dengan berkembangnya sosialisme monopolistis negara dan tumbuhnya militerisme; semakin parah ketidakstabilan di dalam negeri dan membusuknya perwujudan ekonomi dalam semakin tidak mampunya komunsime untuk menggunakan sepenuhnya kekuatan produktifnya&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IT"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Selain itu tingkat pertumbuhan produksi rendah, krisi periodik, kegagalan konstan dalam memanfaatkan kapasitas-kapasitas produksi dan pengangguran yang kronis. Intensifikasi reaksi politik di semua front yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berdirinya tirani tirani pribadi di sejumlah negeri komunis dan krisi yang parah dalam kebijakan dan ideologi komunis.&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Maraknya ideolodi komunis di dunia saat itu, bukan berarti ramalan Marx, tentang runtuhnya kapitalisme sudah berhasil. Negara-negara kapitalis tetap ada, bahkan masih sangat kuat untuk melawan pengaruh komunisme. Negara-negara kapitalis yang kuat juga adalah pemenang PD II, yaitu: Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan negara-negara Eropa Barat ditambah Jepang. Di dalam negara komunis pun pengaruh paham kapitalis masih cukup berpengaruh di kalangan borjuis dan aristokrat. Keadaan demikian disebabkan karena revolusi komunisme yang radikal dilakukan saat kapitalis sedang bangkit dan membangun kekuatan pula. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Amerika Serikat berperan besar dalam pembangunan Eropa dengan Program Marshal dan Doktrin Truman. Selain itu kebudayaan Eropa memang cenderung ke liberal-kapitalis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Didasari situasi dan kondisi demikian, maka penting bagi pemerintahan komunis di negara-negara Eropa untuk melakukan resistensi. Dalam taraf minimal paling tidak dapat mempertahankan ideologi komunis di negaranya. Sistem pemerintahan totaliterisme pun digunakan. Sistem otoritarian-diktator ini berguna untuk menekan kekuatan-kekuatan penentang di dalam sebuah negara. Selain itu pembangunan secara terencana dan terpusat pun dapat dijaminan pelaksanaannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Pemerintahan totaliter ini bukan tanpa masalah di dalam negara dan di dunia internasional. Pemerintahannya yang diktator menyebabkan munculnya kelompok-kelompok yang tidak puas dan ingin merubah &lt;i&gt;status quo&lt;/i&gt;. Di samping itu, komunisme secara ideologi yang sistematis harus dipaksakan di setiap warga di negara tersebut. Padahal sebagai ideologi, komunis masih harus diperdebatkan kebenaran ilmiahnya. Komunisme bukanlah ideologi yang sudah mapan dan membudaya di Eropa. Komunisme meskipun sangat dikagumi rakyat kecil, tapi masih menjadi ideologi baru yang misterius.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Ketiga sebab utama tersebut: totaliterisme, ideologi yang belum mapan, dan konlik antar golonagn, yang meyebabkan kegagalan komunsime di Eropa. Di samping itu masih didorong faktor-faktor khas lain, yang menjadi karakter tiap negara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;  &lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;(HABIS, kapan2 nyambung lagi kiteee..)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Oleh: M. S. Mitchel Vinco&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-5151069139703174117?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/5151069139703174117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=5151069139703174117&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/5151069139703174117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/5151069139703174117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2011/01/gagalnya-komunisme-di-eropa-kasus_17.html' title='GAGALNYA  KOMUNISME  DI  EROPA (KASUS   POLANDIA  DAN  YUGOSLAVIA) [Bag.2]'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-6401364666234738305</id><published>2011-01-17T23:24:00.002+07:00</published><updated>2011-01-17T23:28:07.920+07:00</updated><title type='text'>GAGALNYA  KOMUNISME  DI  EROPA (KASUS   POLANDIA  DAN  YUGOSLAVIA) [Bag.1]</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;i&gt;"Kita akan berbicara tentang komunisme dahulu..."&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;Latar Belakang&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Dalam pandangan filsafat sejarah deterministis, sejarah seperti halnya manusia, berkembang seperti suatu organisme yang hidup, seperti dari benih yang tumbuh, berkembang dan akhirnya mati. Pandangan ini dikenal dengan determinisitis biologis-naturalistis&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Bila kita perhatikan sejarah peradaban, terlihat bahwa pandangan ini benar adanya. Sejarah peradaban, dalam hal ini konteks kebudayaan, mengalami pertumbuhan, perkembangan dan kemudian kematian.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Menurut Arnold J. Toynbee (1889-1975), seorang sejarawan dari Inggris, kehancuran peradaban dapat dicegah dengan terus adanya manusia-manusia kreatif yang mampu menjawab tantangan jamannya. Yoynbee berpendapat selama ada &lt;i&gt;respon&lt;/i&gt; terhadap &lt;i&gt;challenge&lt;/i&gt; maka peradaban akan terus maju ke arah yang lebih baik&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Eropa dalam catatan sejarah peradaban merupakan benua yang paling produktif dalam segala bidang. Apakah hal tersebut dipengaruhi pencatatan sejarah Eropa yang sudah dilakukan sejak jaman Yunani Kuno (600-an SM)? Bisa jadi demikian. Tetapi faktanya adalah sejarah tentang Eropa merupakan catatan sejarah terlengkap hingga saat ini. Wajar saja benua ini menjadi terang akan masa lalu mereka, tentang kegagalan dan kesuksesan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Makalah ini tidak akan membahas peradaban Eropa dari awal hingga saat ini, tidak juga melihat peradaban Eropa dari sisi siklus-determinis. Terlalu luas jika akan membahas hal tersebut, terlebih lagi tidak maksimal manfaatnya jika seluruh sejarah Eropa akan dibahas dalam makalah singkat ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Pembahasan yang akan dikaji dalam kesempatan ini adalah Eropa pada periode pasca Perang Dunia II, atau lebih tepatnya saat Perang Dingin antara dua raksasa dunia: USSR (Uni Soviet) dan USA (Amerika Serikat). Bahkan akan lebih dipersempit lagi mengenai akhir dari pemerintahan komunisme di Eropa. Kasusnya juga akan lebih dipersempit yaitu: Polandia dan Yugoslavia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Dilihat dari kasus runtuhnya komunisme, ketiga negara tersebut memang memiliki kekhasan tersendiri. Sehingga coraknya pun menarik untuk diamati. Uni Soviet sebagai negara utama pendukung komunisme dan tempat lahirnya komunisme. Polandia yang sebagai negara komunisme, ternyata tidak mampu menghadapi aksi mogok para buruh yang seharusnya menjadi tulang punggung komunisme. Sedangkan Yugoslavia dengan masalah kemajemukan etnis-etnis yang bertikai di negaranya. Secara khusus Yogoslavia memang ada kemiripan dengan Indonesia sebagai negara majemuk. Ada baiknya kita belajar dari sejarah Yugoslavia. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Semua negara komunis tersebut pada akhirnya rontok pada akhir abad 20. Secara de facto dan de jure, negara-negara tersebut masih ada, namun bentuk dan sistem pemerintahnya telah berubah total. Tidak ada lagi sistem pemerintahan komunisme dan bentuk pemerintahan diktator-otoriter.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Komunisme: Teori, Idealisme dan Kritik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Komunisme secara ilmiah dirumuskan oleh Karl Marx dalam &lt;i&gt;Manifesto Comunisem&lt;/i&gt; (1848) dan &lt;i&gt;Das Capital&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Komunisme merupakan ideologi yang menjadi anti-tesis dari problematika di Eropa saat itu. Kapitalisme saat itu sudah dianggap menyengsarakan rakyat, terutama buruh pabrik. Sedangkan di satu sisi para pemilik modal terus meraup keuntungan tanpa mengeluarkan setetes keringat pun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Pandangan-pandangan Karl Marx atau komunisme dapat digeneralisir antara lain adalah: 1) kerja dan keterasingan manusia; 2) masyarakat berkelas dan pembagian kerja; 3) materialisme dialektis dan historis; 4) perjuangan kelas dan negara; 5) teori tentang ekonomi dan ideologi&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="IT"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kerja dan Keterasingan Manusia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dalam ”&lt;i&gt;Economic and Philosophical Manuscripts&lt;/i&gt;”, Marx menjelaskan bahwa dalam pekerjaannya manusia mengalami empat lapisan keterasingannya, yaitu: keterasingan dari hasil kerjanya, keterasingan dari tindakan berproduksi, keterasingan dari sesama manusia, dan keterasingan dari speciesnya&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Masyarakat Berkelas dan Pembagian Kerja&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dalam ”&lt;i&gt;The German Ideologi&lt;/i&gt;”, Marx dan Engles mengatakan bahwa adanya pembagian kerja berarti adanya pertentangan kepentingan perorangan atau dan suatu keluarga dengan kepentingan bersama dari semua individu yang bergaul satu sama lain. Bagi Marx, pembagian kerja itu erat kaitannya dengan keterasingan manusia dengan pekerjaannya. Pembagian kerja dapat mengasingkan manusia dari sasarannya sebab pembagian kerja bekanlah sifat sosial yang instrinsik pada kerja itu sendiri, melainklan muncul dari egoisme untuk menghasilkan dan menukar barang sebanyak mungkin&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Kelas-kelas adalah kenyataan sosial yang tampak pada masyarakat. Tetapi ini tidak berarti pembagian kelas-kelas berdasarkan profesi dan pekerjaan. Bukan pula atas partai politik dan pandangan hidup. Kelas yang dimaksud Marx adalah berhubungan dengan penguasaan produksi. Sehingga akan tercipta klas-klas yang menguasai alat produksi dan yang tidak menguasai, maka terjadilah konflik antar kelas&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="FI"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Materialisme Dialektis dan Historis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Marx mengambil dua unsur dari Hegel yaitu: gagasan mengenai terjadinya pertentangan antara segi-segi yang berlawanan, dan bahwa semua terus berkembang tanpa henti. Namun, Marx menandaskan hukum itu berlaku dalam dunia materi, bahwa setiap benda atau keadaan, dalam tubuhnya sendiri menimbulkan segi-segi yang berlawanan, bertentangan satu sama lain, dan ini dinamakan kontradiksi. Pada akhirnya akan terjadi keseimbangan, tetapi akan berdialektika lagi, begitu seterusnya&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Ini yang dikenal sebagai materialisme dialektis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dalam materialisme historis, Marx lebih berbicara tentang arah perkembangan sejarah yang bukan ditentukan sepenuhnya oleh manusia, tetapi oleh perkembangan sarana-sarana produksi yang material&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Perjuangan Kelas dan Negara&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Terciptanya kelas-kelas atas dasar alienasi dan pembagian hasil produksi akan menimbulkan ketegangan antara dua kelas yang ada dalam masyarakat industri. Ketegangan meningkat sehingga menjadi permusuhan dan inilah yang disebut pertentangan kelas. Tidak dapat dihindari bahwa perjuangan kelas akan menghasilkan suatu masyarakat tanpa kelas. Dengan kata lain perjuangan kelas mutlak diperlukan untuk mewujudkan masyarakat komunisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Negara menurut Marx, menjadi alat pemegang kekuasaan untuk menindas kaum yanh tidak berkuasa. Negara pada jaman Marx, hanya mendatang keuntungan bagi kaum borjuis dan kapitalis. Negara macam itu menurut Marx harus lenyap&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Teori tentang Ekonomi dan Ideologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Teori ekonomi Marx ingin menunjukkan bahwa perkembangan sistem kapitalis memberi prasyarat menuju ke sosialisme-komunisme. Kapitalisme tidak dapat mempertahankan dirinya setelah bermacam-macam krisis. Pada saat itu tibalah para buruh bangkit dan mengambil alih kekuasaan, lalu menggunakan alat-alat produksi demi kepentingan umum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dalam soal ideologi Marx dengan penuh semangat menguraikan pentingnya peranan hidup individual atau kelompok. Gagasan-gagasan yang dihasilkan manusia bersifat ideologis, intinya menjaga dan membela kepentingan suatu kelas atau kelompok tertentu.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;Marx melihat dirinya sekadar menyuarakan gerakan historis yang akan mewujudkan kebebasan manusia dengan menyuratkan apa yang tersirat dalam proses historis, dan dengan demikian membantu tercapainya tujuan kelas buruh tersebut. Pada titik inilah warisan problematis Marx muncul. Teori-teori Marx yang problematis ibarat dua sisi pada mata uanga yang sama.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Di satu sisi, teorisasinya memang ”sengaja” bersifat problematis. Seperti terlihat dalam memadukan teori dan praktek. Di sisi lain, warisannya ”tanpa sengaja” juga bersifat problematis. Penolakannya terhadap leberalisme, kapitalisme dan sosialisme lain di luar teorinya, bersandar pada asumsi ganda yang masih rapuh. Pertama bahwa kapitalisme berada dalam proses keruntuhan. Kedua bahwa kaum proletar akan menjadi kelas hegemonik baru yang menciptakan tatanan komunis global. Apa yang terjadi jika bukti realitas menuju ke arah lain? Kapitalisme tidak runtuh dan kelas buruh enggan menerima kedudukan sebagai kelas penguasa?&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ada beberapa pengkritik tajam Karl Marx pada abad 20, yaitu: Herbert Marcuse (1898-1979), Jurgen Habermas (1929-....) dan Franz Magnis Suseno. Berikut kritik mereka seperti yang diramu oleh Adisusilo dalam bukunya Sejarah Pemikiran Barat dari Klasik hingga Modern.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Masyarakat      Tanpa Kelas dan Negara&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Menurut Marx bila masyarakat tanpa komunis telah terwujud maka tidak akan ada lagi kelas-kelas dalam masyarakat. Anggapan bahwa dalam masyarakat tanpa kelas, negara tidak diperlukan lagi tidaklah berdasar. Dalam hal ini Franz Magnis Suseno mengajukan tiga alasan. Pertama, negara tidak hanya sebagai alat pelindung kekuasaan, dalam hal ini kapitalis. Negara juga mempunyai fungsi positif, seperti mengatur bentukbentuk komunikasi sosial, menjamin kebutuhan masyarakat dan menwujudkan kesatuan masyarakat di mana masyarakat harus bersatu. Kedua, pandangan Marx bahwa masyarakat dalam masyarakat tanpa kelas tidak ada lagi penghisapan, pencurian, pemerkosaan dan kriminalitas. Menurut Magnis Suseno, kejahatan tidak semata-mata bersumber pada ketidakadilan dan kemiskinan. Oleh sebab itu, fungsi negara tetap dibutuhkan dengan lembaga-lembaga yang mendukung. Ketiga, Marx memahami masyarakat tanpa kelas sebagai kerajaan kebebasan manusia, di mana setiap orang dapat bekerja menurut selera dan kreativitasnya sendiri. Padahal di negara komunis pun ada pekerjaan-pekerjaan yang tidak enak dan tidak diminati tapi harus dikerjakan, seperti membersihkan parit, WC dan sampah.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="2" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Materialisme      Historis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pandangan Marx tentang produksi sebagai satu-satunya basis sejarah sulitlah dipertahankan. Sejarah jauh lebih rumit daripada hanya suatu perkembangan yang ditentukan oleh bidang produksi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="3" style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ideologi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Bagi Marx kebenaran instrindik dari ideologi tidak penting dan tidak relevan dipersoalkan, karena bagaiman pun bentuk dari pakaiannya, hanyalah pantulan dari realitas yang mendasarinya. Yang lebih penting adalah fungsi dari ideologi itu, selain meligitimasikan kekuasaan penguasa atau golongan tertentu, ideologi dapat melegitimkan berbagai cara dan jalan dalam mengejar tujuan tertentu. Namun, perlu diperhatikan bahwa sulit diterima kebenaran instrinsik suatu ideologi tidak perlu dipersoalkan lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Demikianlah komunisme sebagai ideologi, dengan kekhasannya dan beberapa kekurangannya, mulai dianut negara-negara Eropa sebagai ideologi negaranya. Bermula dari Uni Soviet yang menjadi soko guru komunisme. Kemudian pasca Perang Dunia II, sebagai salah satu pemenang perang, Uni Soviet mulai secara gencar menyebarkan pengaruh komunisnya. Negara-negara Eropa Timur berhasil menjadi negara satelit Uni Soviet. Namun akhir abad 20, negara-negara tersebut pecah. Komunisme pun&amp;nbsp; diambang kehancuran. Mengapa bisa demikian?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Setelah melihat sekilas ajaran komunisme dan beberapa kritik terhadapnya. Maka untuk memudahkan menganalisis, ada baiknya juga dikemukakan teori totaliterisme dan teori konflik. Pemahaman terhadap teori totaliterisme menjadi penting, karena pada realitasnya negara-negara komunis berkembang dengan bentuk negara totaliter bahkan diktator. Meskipun harus dilihat juga bahwa fakta yang ada tidak dapat digeneralisasi begitu saja. Negara-negara liberal dan demokratis pun ada juga yang totaliter, tetapi tidak pernah tampak secara langsung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 30pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Teori Totaliterisme&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Menurut Zbigniew Brzezinski (seperti dikutip Adisusilo) masyarakat totaliter mempunyai lima unsur pokok, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;1)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Suatu ideologi yang menjelaskan dunia, masyarakat manusia dan sejarah, merupakan ideologi yang harus ditaati, dipropagandakan dan diterima oleh senua warga negara;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;2)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt;Pemusatan kekuasaan sosial dan politik di tangan satu partai (biasanya didominasi oleh satu orang pemimpin);&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;3)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Intimidasi atas rakyat melalui ketidakpastian hukum dan teror politis yang sewenang-wenang;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;4)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Monopoli negara atas sarana-sarana informasi dan komunikasi;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;5)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NO-BOK"&gt;Perekonomian yang terpusat dan kurang lebih terencana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 30pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Teori Konflik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dalam tulisannya Ralf Danrendorf (seperti dikutip Adisusilo) sistem sosial mempunyai ciri-ciri konflik, sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;1)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sistem sosial senantiasa berada dalam keadaan konflik;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;2)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Konflik tersebut disebabkan oleh adanya kepentingan-kepentingan yang berbeda atau bertentangan yang tidak dapat dicegah dalam struktur sosial masyarakat;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;3)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kepentingan-kepentingan yang saling bertentangan mencerminkan perbedaan distribusi kekuasaan di antara kelompok-kelompok yang berkuasa, yang cenderung mempertahankan status quo dari kelompok yang dikuasai, yang berusaha merubah status quo;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;4)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kelompok-kelompok itu cenderung berpolarisasi dalam dua kelompok yang saling bertentangan;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;5)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Penyelesaian konflik dapat menghasilakan konsensus, namun didalamnya sering terkandung kepentingan baru yang saling bertentangan sehingga dalam kondisi tertentu akan menimbulkan konflik&amp;nbsp; baru.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;BERSAMBUNG ...&lt;br /&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-6401364666234738305?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/6401364666234738305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=6401364666234738305&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/6401364666234738305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/6401364666234738305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2011/01/gagalnya-komunisme-di-eropa-kasus.html' title='GAGALNYA  KOMUNISME  DI  EROPA (KASUS   POLANDIA  DAN  YUGOSLAVIA) [Bag.1]'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-5656057674046877736</id><published>2010-12-04T18:08:00.001+07:00</published><updated>2010-12-04T18:11:44.861+07:00</updated><title type='text'>REVOLUSI INDONESIA DALAM MEMPEROLEH KEMERDEKAAN (II)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"...nyabung lagi ni, dari tulisan sebelumnya..."&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify;"&gt;B. Situasi di Sekitar Revolusi Kemerdekaan Indonesia&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Setelah mendapat kemenangan terus-menerus sejak Jepang menyerang Pearl Harbour pada tanggal 7 Desember 1941 dan merebut wilayah dari Burma sampai Pasifik Barat Daya, Jepang menderita kekalahan besar yang pertama dalam pertempuran Laut di dekat Pulau Midway pada bulan juni 1942. Jepang terus-menerus mengalami kemunduran sejak mulai direbutnya Pulau Guadalcanal di Kepulauan Solomon oleh Sekutu, sampai jatuhnya Pulau Saipan. Jatuhnya Pulau Saipan merupakan suatu kekalahan yang sangat besar bagi Jepang, karena Pulau ini sangat strategis letaknya dan merupakan pusat pertahanan depan kepulauan Jepang. Jatuhnya Saipan menyebabkan krisis politik di Jepang yang menjatuh kabinet Tojo dan diangkatnya Jendral Koiso menjadi Perdana Menteri.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Sementara itu keadaan di Indonesia telah menjadi sangat sulit. Tindakan-tindakan pemerintah militer Jepang, pengerahan romusha, ditambah lagi dengan panen yang gagal pada tahun itu, menyebabkan rakyat semakin menderita, sedangkan jumlah padi yang harus diserahkan kepada pemerintah Jepang tidak dikurangi. Keadaan dalam negeri yang semakin memburuk, menyebabkan harga makanan naik, sedangkan beras saja sangat sulit didapat. Seperti yang diungkapkan Aboe Bakar Loebis dalam bukunya Kilas Balik Revolusi :&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Dengan meningkatnya harga bahan makanan, sedangkan biaya pemondokan tidak dinaikkan, maka kualitas makanan yang disediakan makin lama makin buruk, sehingga hampir tidak dapat dimakan. Ketika pemerintah pendudukan Jepang menganjurkan supaya rakyat makan bekicot sebagai pengganti daging, di asramapun disajikan masakan bekicot ( Loebis, 1992 : 58 )&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Hal tersebut menimbulkan ketidakpuasan dikalangan masyarakat Indonesia pada umumnya, dan menyebabkan pemberontakan rakyat di berbagai tempat. Dalam keadaan demikian Jepang menyadari, jika ingin mendapat bantuan dan kerjasama rakyat dalam mempertahankan Indonesia terhadap serangan Sekutu, maka kepada rakyat Indonesia harus diberikan atau setidak-tidaknya dijanjikan sesuatu yang memenuhi aspirasi rakyat, yaitu kemerdekaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBlockText" style="margin-left: 0cm; text-indent: 21.3pt;"&gt;Pada tanggal 7 September 1944 Perdana Menteri Jepang Jenderal Koiso Kuniaki mengumumkan di depan parlemen Jepang bahwa akan memberikan kemerdekaan pada Indonesia di kemudian hari. Pernyataan ini merupakan perubahan sikap yang besar, mengingat sejak semula Jepang tidak ingin membebaskan Indonesia dari kekuasaannya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBlockText" style="margin-left: 0cm; text-indent: 21.3pt;"&gt;Dampak dari keluarnya pernyataan dari Perdana Menteri Koiso menyebabkan terjadi perseteruan di dalam pemerintahan Jepang sendiri. Pernyataan P.M. Koiso mengenai kemerdekaan Indonesia hanya didukung oleh tentara Jepang, sedangkan angkatan laut menolak, dengan alasan bahwa bangsa Indonesia masih terlalu terbelakang dan pendidikannya masih rendah, sehingga tidak mungkin untuk diberi kemerdekaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBlockText" style="margin-left: 0cm; text-indent: 21.3pt;"&gt;Reaksi berbeda terjadi di Indonesia, pemimpin-pemimpin Indonesia pada umumnya menyambut hangat pernyataan itu, walaupun kelak dikemudian hari janji tersebut menjadi sangat samar. Dengan adanya pernyataan Koiso, bendera merah putih boleh berkibar lagi dan lagu Indonesia Raya sudah bisa berkumandang di tiap sudut rumah. Para cendikiawan Indonesia lebih mengartikan sebagai bolehnya berbicara tentang kemerdekaan secara terbuka, sehingga semangat kemerdekaan tersebar luas di semua pelosok tanah air. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBlockText" style="margin-left: 0cm; text-indent: 21.3pt;"&gt;Para pemuda kemudian berkumpul membentuk kelompok-kelompok nasionalis dan anti Jepang. Awalnya kelompok-kelompok ini terdiri dari kawan-kawan dekat, kemudian terjadi hubungan yang luas antara berbagai kelompok pemuda. Mereka kerap kali berkumpul membicarakan dan membahas soal-soal yang menyangkut dengan keadaan perang umumnya, keadaan dalam negeri, cita-cita kemerdekaan, dan bagaimana caranya mencapai kemerdekaan cita-cita itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBlockText" style="margin-left: 0cm; text-indent: 21.3pt;"&gt;&amp;nbsp;Kegiatan-kegiatan nasionalis anti Jepang yang dilakukan pemuda Indonesia tidak dimaksudkan untuk melakukan perlawanan bersenjata terhadap Jepang. Namun, gerakan pemuda –pemuda tersebut dimaksudkan untuk mempersiapkan diri menghadapi kemerdekaan, jika Jepang sudah kalah dan peperangan selesai. Untuk itu perlu diketahui betul bagaimana jalannya peperangan, perkembangan keadaan di dalam dan di luar negeri dan sebagainya. Pengetahuan ini disebar luaskan diantara kelompok-kelompok pemuda dan juga diberi pengarahan bagaimana menafsirkan perkembangan yang berjalan demi perjuangan kebangsaan dan kemerdekaan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBlockText" style="margin-left: 0cm; text-indent: 21.3pt;"&gt;Pada bulan Februari 1945 terjadi sesuatu yang sangat menggemparkan dan mengejutkan Jepang. Pada tanggal 12 Februari kesatua PETA di Blitar memberontak. Sebenarnya pemberontakan direncanakan untuk meletus di beberapa kota lain, tapi kenyataannya&amp;nbsp; pemberontak hanya terjadi pada kesatuan PETA Blitar, karena kecilnya pemberontakan yang dilakukan maka mudah sekali ditumpas Jepang. Walaupun gagal, pemberontakan ini berhasil menimbulkan kecemasan besar di kalangan Jepang.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBlockText" style="margin-left: 0cm; text-indent: 21.3pt;"&gt;Untuk meyakinkan rakyat Indonesia bahwa pemerintah Jepang benar-benar ingin memberi kemerdekaan, maka pada tanggal 1 Maret 1945 dibentuklah BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang terdiri atas wakil-wakil Jepang dan tokoh-tokoh Indonesia. Pembentukan badan penyelidik sama sekali tidak memuaskan rakyat, khususnya pemuda, karena terkesan buatan Jepang dan merupakan “boneka” yang bebas digerakkan Jepang. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Jepang selalu berusaha mengambil keuntungan propaganda dari pernyataan Koiso. Keinginan pemerintah Jepang adalah agar rakyat Indonesia kembali mengakui kebaikan hati Jepang. Tetapi keinginan Jepang menjadi sangat cocok dengan pribahasa “ bertepuk sebelah tangan “. Para pemuda sangat pandai dalam memanfaatkan kepercayaan Jepang yang ingin melakukan propaganda. Beberapa kesempatan propaganda Jepang terbukti berhasil diputarbalikkan oleh gerakan pemuda.&amp;nbsp; Misalnya pada tanggal 12 Mei 1945 akan diadakan rapat pemuda di gedung bioskop Decca Park, di Jalan Merdeka Utara. Dalam rapat tersebut Jepang ingin membuat film yang menun jukkan bagaimana pemuda Indonesia berterima kasih kepada Jepang dan akan menyokong usaha perang Asia Timur Raya. Maka Nasrun Iskandar ditugaskan untuk berpidato. Ketika tiba gilirannya, Nasrun berpidato dan mengatakan dengan lantang, “ bahwa pemuda Indonesia menuntut kemerdekaan sekarang juga, dan tidak di kelak kemudian hari, Indonesia berdaulat berbentuk negara republik kesatuan “ (Loebis, 1992 : 81). Jelas usaha pihak Jepang untuk mempropaganda bangsa Indonesia, khususnya para pemuda, menjadi serangan balik yang sangat merugikan pihak Jepang. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Masalah mengenai kemerdekaan Indonesia semakin sering menjadi topik perbincanganan di kalangan rakyat Indonesia. Mula-mula secara diam-diam, dan setelah pernyataan Koiso diumumkan, pembicaraan menjadi terbuka. Keadaan perang sudah jelas mengarah kepada kekalahan Jepang, dan makin majunya gerakan militer pihak Sekutu makin mendesak soal kemerdekaan bagi Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Di pihak Jepang sendiri telah diambil putusan pada bulan Juli untuk memberikan kemerdekaan kepada daerah bekas jajahan Belanda. Putusan yang diambil kemudian diteruskan kepada panglima daerah Selatan, Marsekal Terauchi, yang diperintahkan segera melakukan persiapan pelaksanaan kemerdekaan itu. Maka semakin dekatlah terjadinya revolusi Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify;"&gt;C. Meletusnya Revolusi Kemerdekaan Indonesia&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Kemerdekaan sudah tidak dapat ditunda lagi, cepat atau lambat bangsa Indonesia tetap akan menuntut kemerdekaan, dengan jalan diplomatis atau “darah” sekalipun rakyat siap. Melihat keadaan tersebut maka sehari sesudah Hiroshima diserang dengan bom atom pada tanggal 7 Agustus 1945, Jepang mengumumkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerekaan Indonesia (PPKI) dalam bahasa Jepang berarti&lt;i&gt; Dokuritsu Junbi Inkai&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBlockText" style="margin-left: 0cm; text-indent: 21.3pt;"&gt;Pada tanggal 8 Agustus 1945 Soekarno, Hatta dan Dr. Radjiman secara rahasia pergi ke Saigon untuk menemui Jendral Terauchi. Tanggal 11 Agustus 1945 Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta resmi dilantik menjadi Ketua dan Wakil Ketua PPKI. Keinginan Soekarno-Hatta untuk melakukan&amp;nbsp; gerakan revolusioner besar-besaran sudah sangat memungkinkan, dengan dilantiknya mereka berdua. Impian untuk menggabungkan berbagai kekuatan legal di bawah Soekarno-Hatta&amp;nbsp; dan gerakan bawah tanah dalam usaha mendirikan negara Indonesia yang merdeka, tidak lama lagi akan tiba. Namun, sekembalinya Soekarno-Hatta pada tanggal 14 Agustus, berbagai peristiwa yang berlangsung cepat dan mengejutkan telah terjadi. Empat hari sebelum kedatangan mereka, tanggal 10 Agustus Jepang telah menyerah kepada Sekutu, suatu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Soekarno, telah terjadi begitu cepat, padahal seharusnya menurut rencana akan diadakan rapat PPKI pertama tanggal 18 Agustus 1945.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Keadaan telah berubah, Pemerintah Jepang yang menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia sudah kalah oleh sekutu. Dalam kondisi demikian, Hatta dan Syahrir mendesak supaya Soekarno memproklamasikan kemerdekaan secepat-cepatnya, atas nama bangsa Indonesia tanpa melalui PPKI, karena PPKI adalah ciptaan Jepang. Usul itu disetujui para pemuda yang tidak ingin negara Republik Indonesia&amp;nbsp; nanti dicap bikinan Jepang. Namun, Soekarno berpendapat lain,hal terpenting sebelum memproklamasikan kemerdekaan Indonesia adalah untuk mengetahui perkembangan Internasional yang sedang berjalan, apakah Jepang sudah menyerah atau belum.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Para pemuda tidak sabar dengan sikap Soekarno yang terlalu berhati-hati dalam bertindak, padahal sangat jelas bahwa Jepang sudah menyerah. Namun, para pemuda Nasionalis sadar sekali bahwa proklamasi kemerdekaan harus diumumkan oleh Soekarno agar bisa mempengaruhi seluruh negeri. Para pemuda kemudian melakukan rapat yang keputusannya adalah mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan hari itu juga, tanpa pengaruh dari PPKI bentukan Jepang, tetapi Soekarno tidak bersedia mengumumkan proklamasi Indonesia sebelum yakin bahwa Jepang sudah mengalami kekalahan. Oleh karena itu, pada tanggal 15 Agustus sebuah kesatuan tentara Indonesia yang di tempatkan di dekat Jakarta dan beberapa pemuda menculik Soekarno, Hatta beserta Ibu Fatmawati dan membawanya ke Markas Garnisun yang terletak di Rengasdengklok untuk meyakinkan mereka, bahwa proklamasi harus dilaksanakan secepat-cepatnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Pagi tanggal 16 Agustus Achmad Soebardjo berhasil membujuk para pemuda untuk membebaskan Soekarno-Hatta. Sebagai jalan tengahnya, maka Achmad Soebardjo mengusulkan akan diadakan sidang konstitusi yang akan membahas proklamasi Indonesia hari ini juga. Mengenai tempat, Achmad Soebardjo mengusulkan kediaman Laksamana Maeda, seorang Jepang, dengan jaminan terhindarnya dari serangan yang bisa saja dilakukan tentara Jepang. Tetapi para pemuda tetap tidak mengijinkan Laksamana Maeda turut campur dalam sidang, perannya hanya sekedar memfasilitasi sidang.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Dalam sidang yang bertempat di kediaman Laksamana Maeda, diputuskan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilakukan pada esok harinya, tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10 pagi di lapangan Ikatan Atletik Indonesia atau lebih dikenal dengan nama lapangan Ikada. Tetapi oleh karena ada kemungkinan timbul bentrokan dengan pasukan-pasukan Jepang yang terus berpatroli, maka akhirnya diputuskan untuk melakukan upacara itu di rumah Soekarno, jalan Pengangsaan Timur 56. Karena masih khawatir, kalau Jepang tetap berusaha menggagalkan, maka di Asrama Parapatan diadakan upacara paralel, untuk mengelabuhi Jepang. Tepat pada waktu naskah proklamasi dibacakan di Pengangsaan Timur, hal yang sama dilakukan di asrama Parapatan, lengkap dengan penaikan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Tepat pada pukul 10 pagi, tanggal 17 bulan Agustus tahun 1945, ditengah pengawasan tentara Jepang&amp;nbsp; Soekarno atas nama bangsa Indonesia membacakan teks proklamasi yang menyatakan kemerdekaan Indonesia. Dengan ini revolusi yang telah berlangsung selama 3 tahun (1942-1945) dalam ketegangan, dalam gerakan untuk mengejar cita-cita kemerdekaan tanpa kenal lelah, telah mencapai klimaksnya. Tercapailah impian seluruh rakyat akan kebebasan tanpa penjajah, hidup dengan pilihan sendiri, hidup dalam negara merdeka, berdaulat, adil dan makmur.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;M. S. Mitchel Vinco&lt;br /&gt;(Guru Honorer)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-5656057674046877736?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/5656057674046877736/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=5656057674046877736&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/5656057674046877736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/5656057674046877736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2010/12/revolusi-indonesia-dalam-memperoleh.html' title='REVOLUSI INDONESIA DALAM MEMPEROLEH KEMERDEKAAN (II)'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-1433884220395212154</id><published>2010-10-31T00:04:00.001+07:00</published><updated>2010-10-31T00:05:11.196+07:00</updated><title type='text'>REVOLUSI INDONESIA  DALAM MEMPEROLEH KEMERDEKAAN ( I )</title><content type='html'>&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;i&gt;"Tulisan pertama saat kuliah, idealisme tertuangkan 'tuk pertama kali"&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;b&gt;Latar belakang&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Revolusi adalah sebuah perubahan dalam kurun waktu yang singkat dan terjadi dengan proses yang cepat. Revolusi merupakan gambaran dari keinginan terbesar individu maupun kelompok, dalam konteks ini adalah bangsa, untuk mencapai sesuatu yang menjadi tujuan gerakan revolusi itu sendiri. Oleh karena itu, sebuah pergerakan revolusi selalu diwarnai dengan pertentangan, perpecahan, yang kemudian mengarah kepada kekerasan. Hal tersebut dikarenakan tidak semua pihak siap menerima perubahan yang sedemikian cepat, dan tentu akan mempengaruhi berbagai bidang dalam kehidupan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;“ Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan “ ( Pembukaan UUD 1945 ) Oleh sebab itu, keinginan untuk merdekanya sebuah bangsa tidak dapat ditunda-tunda, terlebih lagi oleh negara yang ingin memperoleh kemerdekaannya itu.&amp;nbsp; Tetapi dalam kenyataanya, dalam memperoleh kemerdekaan tidak hanya hasil dari keputusan satu pihak. Untuk memperoleh kemerdekaan secara sah, suatu negara yang ingin merdeka haruslah mendapat pengakuan &lt;i&gt;de yure&lt;/i&gt; dari negara-negara lain di dunia, karena pengakuan secara &lt;i&gt;de facto&lt;/i&gt; belumlah cukup. Tidak jarang dalam usaha merebut kemerdekaan, sebuah negara harus berjuang secara fisik untuk mendapat pengakuan dari negara-negara lain. Namun, tidak sedikit pula yang menggunakan jalur diplomatis, selain juga berjuang secara fisik.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Revolusi dan kemerdekaan sangat erat kaitannya, karena suatu proses kemerdekaan kebanyakan diperoleh melalui perubahan yang cepat dan mendasar. Pemanfaatan situasi dan kondisi juga membawa pengaruh dalam sebuah proses revolusi.&amp;nbsp; Revolusi prancis dan revolusi perbudakan di Amerika Serikat merupakan contoh sebuah pemanfaatan situasi dan kondisi dalam memperoleh kemerdekaan yang membawa perubahan mendasar dan cepat..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Indonesia termasuk sekelompok kecil bangsa “ dunia ketiga “ yang memperoleh kemerdekaannya&amp;nbsp; bukan sebagai pemberian dari penjajah kepada bangsa terjajah, ataupun sebagai hasil suatu proses damai belaka. Sebaliknya, kemerdekaan Indonesia diraih melalui sebuah perjuangan panjang dan berat yang mencapai puncak saat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia padsa tanggal 17 Agustus 1945. Bahkan, sesudah proklamasi itu pun, bangsa Indonesia masih harus mengadakan perjuangan fisik selama &lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;±&lt;/span&gt; 5 tahun lagi dalam mempertahankan kemerdekaan yang diproklamasikan itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Kemerdekaan Indonesia adalah sebuah revolusi, karena kemerdekaan Indonesia terjadi secara cepat dan mendasar. Dalam usaha pencapaian kemerdekaannya, berbagai cara digunakan bangsa Indonesia. Mulai dari perlawanan fisik, hingga perjuangan diplomatis untuk mendapat bantuan dan pengakuan dari negara lain. Korban sudah menjadi hal yang biasa dalam usaha itu, tapi menjadi tidak biasa jika bangsa Indonesia gagal memperoleh kemerdekaannya. Kondisi negara dan tepatnya waktu juga tidak dapat dilupakan dalam pencapaiaan revolusi ini. Walaupun ada nuansa keberuntungan, tapi kemampuan para tokoh untuk memanfaatkan waktu tersebut harus diperhitungkan.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Revolusi kemerdekaan Indonesia merupakan peristiwa terbesar dalam sejarah bangsa Indonesia, karena menyangkut masa depan Indonesia saat ini. Bayangkan, jika tidak ada revolusi kemerdekaan, apa yang terjadi dengan bangsa Indonesia saat ini, mungkin saja saat ini Indonesia masih dalam kekuasaan penjajah. Dengan adanya revolusi kemerdekaan, maka mulai terbukalah kesempatan bangsa Indonesia untuk mengatur&amp;nbsp; negara sendiri tanpa campur tangan pihak lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Revolusi kemerdekaan dapat dijadikan contoh&amp;nbsp; dari sebuah kisah nyata yang menggambarkan tekad dan semangat untuk meraih impian walau sesulit apapun. Rakyat Indonesia dalam kondisi yang tertekan dari segala pihak, baik jepang maupun sekutu, masih memiliki tekad kuat untuk merebut kemerdekaan. Munculnya tokoh-tokoh pergerakan Nasional semakin mempertebal jiwa patriotisme rakyat Indonesia.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Syahrir, A. Soebardjo, Bung Tomo, adalah segelintir tokoh pergerakan Nasional yang mampu membakar semangat rakyat Indonesia pada saat itu. Bahkan, hingga saat ini pengaruh para tokoh tersebut masih sangat terasa dalam kehidupan, dapat ditunjukkan dengan munculnya partai-partai, maupun lembaga-lembaga yang menjunjung tinggi para tokoh tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&amp;nbsp;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;b&gt;Dibalik Munculnya Gerakan Revolusi Kemerdekaan Indonesia&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Bangsa Belanda telah mengeksploatasi Indonesia secara ekonomis selama berabad-abad. Hasil alam Indonesia diambil dan hasil penjualannya menjadi milik pemerintah piusat Belanda. Kolonialisme dan imperialisme sudah menjadi hal wajar bagi bangsa Belanda sendiri. Mereka lupa atau mungkin tidak berniat untuk mengetahui apa yang rakyat Indonesia rasakan. Para penguasa Belanda yang tinggal di Indonesia berabad-abad lamanya, telah memperdaya diri sendiri dengan kepercayaan bahwa pemerintah kolonial-paternalisme mereka berbeda dengan yang diterapkan Spanyol, Portugis dan&amp;nbsp; bahkan Inggris. Oleh karena itu, mereka beranggapan bahwa bangsa Indonesia pada umumnya sangat menghargai pemerintahan dari negeri Belanda dan membalas dengan sikap baik, seperti yang diperlihatkan oleh para pegawai pemerintah kolonial berkebangsaan Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Memang benar, sebelum bangsa Belanda masuk, bertahun-tahun lamanya keadaan dalam negeri Indonesia&amp;nbsp; diisi dengan pertentangan penduduk, perselisihan antar desa maupun daerah. Tidak jarang terjadi pertumpahan darah, sehingga akan merugikan kedua belah pihak. Kedatangan pemerintahan asing yang kuat, terpusat, dan tidak memihak, benar-benar disambut oleh rakyat Indonesia. Dengan adanya pemerintahan tersebut, hukum dan tata tertib dapat dipulihkan, sehingga bercocok tanam dan beternak bisa berlangsung dalam kondisi damai. Tetapi dibalik itu semua, Belanda menutup mata terhadap semakin melaratnya rakyat. Perekonomian rakyat menjadi tidak diperhatikan, karena pemerintah kolonial mengijinkan ekspor bahan mentah yang didapat dari Indonesia, demi keuntungan dan peningkatan kekayaan negeri induk. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Pembangunan memang terjadi pada masa pemerintahan kolonial, dapat terlihat dengan meningkatnya jumlah sekolah, rumah sakit, jalan yang bersih, dan persediaan air minum turut memenuhi tuntutan kesehatan dan kecerdasan bangsa Indonesia. Namun, kebanyakan dari fasilitas itu hanya dapat dinikmati oleh kalangan tertentu saja, bangsa Eropa jelas menjadi prioritas terdepan dalam menggunakan berbagai fasilitas tersebut, kemudian baru giliran para bangsawan dan pejabat pemerintahan berkebangsaan Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Pemberlakuan hukum pada pemerintahan kolonial juga terjadi ketimpangan. Hukum sudah berjalan dengan peraturan dan sanksi yang jelas, hanya saja dalam penerapannya bangsa Belanda masih memberlakukan pembedaan formal antara golongan Eropa,&lt;i&gt; Inlander&lt;/i&gt; (pribumi), dan golongan timur jauh (Arab, Cina, India). Pembedaan ini tidak semata-mata rasialistis, karena diperbolehkan menurut hukum bagi orang-orang yang berminat untuk mengubah rasnya. Orang-orang Indonesia yang telah mengganti rasnya menjadi golongan Eropa, dan benar-benar dapat menyesuaikan diri dengan kebudayaan Eropa, diperlakukan sebagai orang Eropa. Namun, pembedaan-pembedaan itu tetap berlangsung demi menjaga kelestarian orang Eropa. Misalnya seperti yang terdapat pada kolam renang di Cikini, diberi tanda verboden&lt;i&gt; voor inlanders en hoden&lt;/i&gt; yang berarti pribumi dan anjing dilarang masuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Pembedaan rasial tercermin pula dalam kehidupan kota, dimana terjadi pembagian tempat yang tetap saja menomor buntutkan bangsa pribumi. Bangsa Belanda mendiami tempat dengan kantor-kantor pemerintahan, kantor-kantor bisnis besar, taman-taman, vila dan kebun-kebunnya. Orang-orang Indonesia yang seharusnya berada pada posisi mayoritas tinggal di kampung-kampung, daerah padat yang rumah-rumahnya tidak permanen, kumuh dan tersembunyi dari jalan-jalan besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Jelas sekali pengeksploatasian perekonomian dilakukan pihak Belanda secara sadar demi keuntungan sepihak, ditambah tindakan diskriminasi yang dialami rakyat pribumi, menjadikan rakyat Indonesia tersadar. Nasionalisme dengan tujuan ingin mempunyai pemerintahan sendiri secara bertahap dan nyata mulai mengobarkan rakyat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Perlawanan bersenjata bangsa Indonesia dimulai, kemenangan dan kekalahan mewarnai usaha perjuangan Indonesia. Tetes darah menjadi taruhan dalam peperangan. Namun, kemenangan tidak juga berhasil diraih secara penuh. Perlawanan bersenjata Indonesia menjadi terbengkalai setelah jatuhnya kerajaan mataram dan kerajaan lainnya sekitar tahun1830-an. Tetapi nasionalisme sebagai faktor perlawanan terhadap pemerintah asing tetap hidup dan membara. Hal itu terlihat ketika Budi Utomo dengan prinsip nasionalismenya berdiri pada tahun1908. sarekat islam kemudian menyusul pada tahun 1911, munculnya sarekat islam karena kaum intelektual Indonesia membutuhkan badan yang lebih luas, juga untuk melindungi iman islam penduduk dan memajukan kecerdasan bangsa Indonesia. Tahun 1930-an merupakan dasawarsa meningkatnya aktivitas anti-kolonial Belanda, kebanyakan pelajar melakukan perlawanan politis terhadap pemerintah Belanda. Berdirinya PNI pimpinan Soekarno menjadi ancaman bagi Belanda, konsekuensinya adalah dengan ditangkapnya Soekarno. Perlawanan pasca ditangkapnya Soekarno mulai meredup, itu menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia masih menggantungkan harapan pada seorang pimpinan karismatik, akibatnya ketika pimpinan mereka ditangkap terhentilah perjuangan yang sudah mereka mulai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Ketika pendudukan Jepang mulai berlangsung pada periode 1942-1945 keadaan menjadi berubah drastis. Bangsa Indonesia percaya bahwa Jepang akan membawa Indonesia ke arah kemerdekaan. Dugaan itu meleset, kondisi ekonomi Indonesia kian memburuk terutama selama akhir masa pemerintahan Jepang. Pemerintah Jepang membebani rakyat dengan kewajiban menyediakan hasil bumi dan tenaga kerja. Memang Jepang memberi bayaran, tetapi nilai mata uang yang mereka terima sangat rendah dan cepat sekali merosot.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-right: 9.35pt; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;Sejak kedatangannya Jepang mendirikan berbagai organisasi massa yang bersifat politis misalnya gerakan tiga A, Putera, PETA dan Sushintai (barisan Pelopor). Makna penting dari eksistensi organisasi itu terletak pada kokohnya akar organisasi tersebut dan memberi pengalaman kehidupan berorganisasi kepada para anggotanya. Meskipun secara formal mereka berada di bawah naungan pemerintah. Namun, eksistensi mereka pada hakikatnya bebas dari hierarki pemerintah. Struktur sosial dan politik di Indonesia dalam kaitan ini telah diperkokoh. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBlockText" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;14 Aguatus 1945 mendadak Jepang menyerah, terjadi kekosongan pada pemerintahan di Indonesia. Inisiatif dilemparkan kepada Indonesia. Banyak unsur yang melatar belakangi sebuah revolusi : sejarah ketidakpuasan sejak masa kekuasaan kolonial, sejarah pemberontakan, sejarah kebencian terhadap penjajah, sejarah kemunculan kelompok massa, dan sejarah nasionalisme menuju kemerdekaan. Akankah semua bercampur menjadi satu sehingga timbul ledakan revolusi ?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBlockText" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBlockText" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;"Masih nyambung yeee..."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 21.3pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-1433884220395212154?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/1433884220395212154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=1433884220395212154&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/1433884220395212154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/1433884220395212154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2010/10/revolusi-indonesia-dalam-memperoleh.html' title='REVOLUSI INDONESIA  DALAM MEMPEROLEH KEMERDEKAAN ( I )'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-171684992954253831</id><published>2010-09-24T20:00:00.002+07:00</published><updated>2010-10-20T15:19:49.049+07:00</updated><title type='text'>HISTORIOGRAFI  ASIA  SELATAN DAN  ASIA  TENGGARA (Bagian II)</title><content type='html'>"...masih dari kuliah Metodologi Penelitian Sejarah, kelas (alm) Prof. Dr. P.J. Suwarno, S.H."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Historiografi Modern&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Historiografi modern di Eropa tumbuh bersamaan dengan ekspansi kegiatan orang-orang Eropa di Asia. Tetapi karena kegiatan orang-orang Eropa di Asia antara abad ke-16 dan ke-17 hanya di daerah pinggiran saja dan karena perubahan sikap tradisional orang-orang Eropa sendiri terhadap sifat dan penggunaan sejarah sangat lambat, maka tidak ada pengaruhnya pada historiografi Asia Selatan dan Asia Tenggara pada masa tersebut. Baru pada paruh kedua abad ke-19, ketika ilmu pengetahuan dan kebudayaan Barat secara sadar diajarkan dan dipelajari, mula-mula di Asia selatan dan kemudian di beberapa tempat di Asia Tenggara, maka wilayah-wilayah itu pun terpengaruh oleh metode-metode sejarah Barat. Namun apa yang diperkenalkan secara luas sekarang adalah teknik-teknik tradisional dari akhir abad ke-18 dan awal abad ke -19, umpamanya metode filologis dari William Jones dan penulisan sejarah dari James Mill, Mountstuart Elphinstone, dan Vincent Smith. Ada suatu perbedaan waktu dalam perkembangan metodologis ini, dan dalam awal abad ke-20 teknik-teknik tradional tersebut masih dianggap tinggi dan jitu untuk ditiru. Perkembangan menuju sejarah “ilmiah” dan pertumbuhan ilmu-ilmu sosial di Eropa dan Amerika hampir tidak diketahui sampai sesudah perang Dunia kedua. Pemakaian teknik-teknik historiografi Barat pertama-tama digunakan untuk mempelajari India dan Sri Lanka, tetapi kemudian orang-orang Belanda menggunakanya juga untuk mempelajari Indonesia, dan orang-orang Perancis, sekalipun yang paling akhir dalam deretan ini, segera pula menggunakannya untuk mempelajari Indocina.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Historiografi Modern Asia Selatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan Barat yang sungguh-sungguh di India dimula dari William James yang membentuk Asiatis Society di Calcutta pada tahun 1784. Kegiatan lembaga ini mengenai penelitian dunia Timur dan lembaga-lembaga sejenisnya di Bombay, Madras, Mysore, dan Sri Lanka, serta pertumbuhan lembaga-lembaga ilmiah di Perancis dan Jerman, dan pengadaan kursi-kursi kemahaguruan di Eropa dalam abad ke-19, merupakan landasan bagi perkembangan historiografi modern di Asia Selatan.&lt;br /&gt;Sumbangan-sumbangan yang paling penting pada mulanya adalah dalam bidang filoogsi Sankrit dan pengediatn teks-teks dari agama Veda dan agama Budha, tetapi kemudian penelitian tentang kepurbakalaan India-lah yang meletakkan dasar untuk menghadapi bahan-bahan dari India Kuno yang sebelumnya tidak dapat ditelusuri itu. Periode pra-Islam sangat menarik karena bagi sejarawan periode ini serbat tidak pasti – tidak ada kronoligi, tidak ada geneologi yang dapat dipercaya, dan tidak ada ketentuan-ketentuan yang dapat menjelaskan manusia dengan tepat. Dalam bidang inilah tercatat penemuan-penemuan yang paling mengesankan. Yang terutama adalah  karya James Tod, Annal and Antiquities of Rajasthan (Tarikh-tarikh dan kepurbakalaan Rajastan) yang diterbitkan antara 1829 sampai 1832, dan penelitian-penelitian epigrafi dan numismatik dari James Prinisip yang diterbitkan pada tahun 1858 dengan judul Essays on Indian Antiquities ( Esai-esai mengenai kepurbakalaan India). Keberhasilan ini mengakibatkan dibukanya departemen arkeologi di bawah pimpinan Alexander Cunningham pada tahun 1862; inilah yang pada tahun 1902 menjelma menjadi Indian Archeological Survey (Dinas Kepurbakalaan India) yang tekenal itu yang dipimpin oleh John Marshall (Ancient India, 1953).&lt;br /&gt;Bila dibandingkan dengan karya-karya tersebut di atas, sejarawan-sejarawan tradisional Eropa kurang berhasil. Mill, Esphinstone, dan Smith, maupun ahli-ahli sejarah India yang berkebangsaan Perancis dan Jerman, tergesa-gesa menekankan superioritas pemerintahan Barat atau sangat tidak kritis terhadap bahan-bahan Islam dan non-Islam. Pengaruh-pengaruh mereka pada mulanya paling besar di kalangan pembaca Eropa dibandingkan dengan pembaca India. Baru setlah dibukanya universitas-universitas model Inggris di Calcuta, Bombay, Madras (ketiganya tahun 1857), dan di tempat-tempat lain, maka pengajaran secara formal memperkenalkan karya-karya Eropa pada ilmiawan-ilmiawan muda India. Tetapi pada saat itu pula, ketika sarjana ilmu-ilmu sejarah Eropa sedang mengalami langkah-langkah kemajuan, sarjana-sarjana India seperti R.G. Bhandarkar mempelajari teknik-teknik yang berasal dari masa sebelumnya dengan cara yang demikian baiknya sehingga sanggup mengkritik sejarawan-sejarawan Eropa sendiri (Philips, 1961a, Bahsam 1961b).&lt;br /&gt;Baru dalam abad ke-20 historiografi Asia Selatan mulai terpengaruh secara langsung dan kuat oleh metodologi Barat. Paling kurang adanya dua caranya. Pertama, suatu penghargaan yang lebih mendalam terhadap metode-metode ilmiah Barat, terutama setelah penelitian arkeologis yang gemilang mengenai Mohenjodaro dan Harappa. Kedua, adalah pendekatan nasionalistis dan anti-imperialistis, yang dalam bentuknya yang paling ekstrem menghasilkan penulisan-penulisan sejarah yang buruk dan revisionistis pada satu pihak, dan pada pihak lain memberi perangsang bagi historiografi Marxis dan lain-lain bentuk histioriografi yang radikal (Majumdar, 1961b)&lt;br /&gt;Dapat dikatakan bahwa awal historiografi modern adalah diterbitkannya Cambridge History of India (sejarah India dari Cambrdige) yang enak jilid itu  antara tahun 1932. Hal ini membangkikat perhatian yang cukup besar dari pihak orang-orang India, malah juga mereka yang tidak menyenangi dominasi karya orang-orang Barat mengenai India. Diakui bahwa dalam bidang arkeologi dan numismatik, kumpulan karya yang banyak dihasilkan oleh sarjana-sarjana Eropa itu tidak dapat diabaikan. Demikian pula kumpulan dokumen-dokumen dan penafsiran-penafsiran mengenai kegiatan orang-orang Inggris, politik East India Company (perusahaan India Timur), dan perluasan kekuasaan  Inggris di India. Tetapi tidak demikian halnya mengenai karya-karya tentang agama dan kebudayaan India, perlawanan India terhadap Inggris (umpamanya pemberontakan 1857 dan pergrakan nasional) dan perubahan-perubahan sosial-ekonomi di India sejak awal abad ke-19. Dalam bidang inilah sejarawan generasi baru mulai menentang hasil-hasil penelitian orang-orang Eropa itu. Yang terpenting dari generasi baru ini adalah R.C Majumdar, H.C Raychaudhuri, K.A.A. Nilakantasastri,dan K.M. Panikar. Kebanyakan adalah tamatan jurusan-jurusan sejarah dari tingkat universitas di Inggris maupun di India, dan banyak di antara mereka adalah dosen-dosen sejarah yang profesional. Mereka melanjutkan tradisi pembentukan lembaga-lembaga ilmiah untuk menerbitkan majalah-majalah ilmiah dan belajar menghargai perpustakaan yang besar serta koleksi-koleksi arsip yang diorganisasi oleh negara dan pemerintah India (Lihat,  Nilakantasastri, 1956; Datta, 1957).&lt;br /&gt;Setelah kemerdekaan tercapai, penulisan sejarah berkembanga terus. Yang terutama sangat aktif  adalah lembaga-lembaga seperti Archeological Survey (Dinas Arkeologi), History Records Commiossion (komiris Arsip Sejarah), dan India History Congress (Kongres Sejarah India). Antara penerbitan-penerbitan majalah dengan standar akademis ada pula yang patut dicatat; India Historical Quarterly  (Kwartalan Sejarah India), dan Jurnal of Indian History (Jurnal Sejarah India). Suatu usaha yang penting yaitu seri sebelas jilid mengenai sejarah dan kebudayaan bangsa India yang diterbitkan oleh Bharatiya Vidya Bharam dengan editor umum R.C. Majumdar. Juga penting India History  Congress tersebut yang mengadakan komperensi mengenai sejarah Asia pada tahun 1961 dan pertemuan internasional dari International Congress of Orientalists (Kongres Internasional ahli-ahli  mengenai dunia timur) yang diadakan di New Delhi pada tahun 1965. Perkembangan-perkembangan ini mencerminkan kesadaran historiografi modern dari orang-orang India yang rupanya juga mencerminkan penerimaan metode-metoe ilmiah yang modern dalam historiografi. Kenyataan yang paling penting di India modern ini adalah bahwa kini cukup banyak tersedia sejarawan yang terlatih untuk mempelajari hampir seluruh periode dan macam persoalan dalam sejarah India. Tambahan lagi, beberapa dari sejarawan baru kini mulai menggunakan ilmu-ilmu sosial dalam penelitian mereka. Dalam hal mempertajam metodologinya banyak yang beralih pada disiplin-disiplin ilmiah yang dikembangkan di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Historiografi Modern Asia Tenggara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Asia Selatan, di Asia Tenggara tidak terdapat suatu pusat kegiatan ilmiah yang berurat-berakar dan menyebar ke seluruh wilayah itu. Perluasan kekuasaan bangsa Eropa yang tidak merata di seluruh wilayah dan submer bahan-bahan yang tidak banyak dari negara-negara yang kecil itu, tidak memungkinkan adanya perkembangan historiografi modern. Umpamanya kisah-kisah tertua mengenai daerah ini yang dihasilkan oleh orang-orang Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris (dari abad ke-16 sampai dengan abad ke-18) tidak mempengaruhi penulisan-penulisan dari orang-orang Asia Tenggara dan lebih merupkan historiografi Eropa. Malah pembentukan Bataviaach Genootshcap vor Kunsten en Vetenschappen  (Perhimpunan ?Batavia untuk seni dan Ilmu pengetahuan) yang terkenal itu pun (di Jakarta sejak tahun 1778) dan bukunya William Marsden, History of Sumatra (Sejarah Sumatera) yang diterbitkan pad atahun 1783 serta bukunya Raffles, History of Java (Sejarah Jawa) dari tahun 1817, sedikit sekali merangsang penelitian sejarah. Baru pada bagian akhir dari abad ke-19, dan dengan dihidupkannya kembali perhimpunan Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan tersebut, serta pembentukan Straits Branch of the Royal Asiatic Society (Cabang Straits dari masyarakat kerajaan Asia) pada tahun 1878, mulailah kegiatan ilmiah yang sungguh-sungguh di Indonesia dan di Malaysia. Sesungguhnya sewaktu orang-orang Eropa sedang menghasilkan karya-karya tersebut, dalam abad ke-19, tradisi asli penulisan Babad dan Sejarah  juga tetap hidup, dan sarjana-sarjana Barat sering bergantung pada kronik-kronik asli itu untuk mendapatkan bahan-bahan mengenai periode yang lebih tua. Betapa pun, karya orang-orang Eropa tersebut berkembang berdampingan dengan usaha-usaha penulisan sejarah setempat dan tidak mempengaruhi bentuk-bentuk dan sikap-sikap tradisional.&lt;br /&gt;Demikian juga orang-orang Birma dan Muangthai di daratan Asia Tenggara tetap giat menyusun Yazawin-yazawin  dan P’ongsawadan-P’ongsawadan sewaktu orang-orang Eropa yang amatir itu seperti Arthur Phraye (A History of Burma -  sejarah Birma, 1883) dan W.A.R Wood (A History of Siam – sejarah siam, 1926) menulis karya-karyanya dan sewaktu majalah-majalah ilmiah seperti Journal of the Burma Research Society (jurnal masyarakat Penelitian Birma) dan Journal of the Siam Society (Jurnal masyarakat Muangthai) diterbitkan. Umpamanya, kedua sarjana Inggris yang disebut di atas mengakui bahwa mereka sangat bergantung pada hasil penelitian setempat itu. Di Vietnam sejarawan-sejarawan tradisional banyak membantu sarjana-sarjana Perancis yang tergabung dalam Ecole Francaise d’Etreme Orient (sekolah Perancis mengenai Timur Jauh) yang didirikan pada tahun 1900 dan yang karya-karyanya membawa keharuman pada majalahnya yang benama Bulletin. Arsip-arsip kerajaan di Hue pun masih menyimpan dokumen-dokumennya dengan cara tradisional sampai beberapa tahun setelah Perancis menaklukkan daaerah itu.&lt;br /&gt;Filipihna adalah suatu kasus tersendiri dimana suatu tingkat ilmu pengetahuan Barat menggantikan tingkat ilmu pengetahuan Barat lainnya. Namun demikian, penulisan sejarah model Spanyol tradisional tetap berkembang selama masa pendudukan Amerika Serikat (sejak 1898) sementara sarjana-sarjana Amerika mempelajari sejarah Filipina dari dokumen-dokumen kolonial dan dokumen-dokumen Missi Spanyol. Di antaranya yang paling penting adalah karangan E.H. Blair dan J.A. Robertson yang 55 jilid itu dan yang berjudul The Philippine Islands, 1493-1898 (Kepulauan Filipina, 1493-1898) dan yang diterbitkan antara tahun-tahun 1903  dan 1909.&lt;br /&gt;Dalam abad ke-19 dan paruh pertama dari abad ke-20 pernah terdapat tiga bidang historiografi Asia Tenggara yang berbeda-beda. Pertama, sejarah kuno – yang tidak dikenal atau kurang dikenal oleh penduduk asli – diungkpakan oleh para filolog, epigraf, dan para arkeolog. Kedua, sejarah kolonial – yang mencakup perdagangan, perang, perjanjian-perjanjian, dan administrasi orang-orang Eropa – adalah bidang perhatian khusus dari orang-orang Eropa sendiri, dan kurang sekali menarik perhatian sarjana-sarjana setempat. Ketiga, “periode tengah” – yang berkisar antara empat sampai sepuluh abad sebeluam abad ke-19 – adalah zaman penulisan sejarah pendudul asli; metode-metode modern bisa digunakan untuk mengatur, menentukan tanggal-tanggal secara lebih tepat, dan malah menginterpretasikan kembali tulisan-tulisan dari periode ini (Hall, 1961).&lt;br /&gt;Berbeda sama sekali dengan apa yang mereka lakukan di Asia Selatan, orang-orang Inggris, Belanda, dan Perancis tidak berusaha untuk mendidik sejarawan-sejarawan di kalangan orang-orang Asia Tenggara sampai beberapa tahun setelah Perang Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ciri-Ciri Historiografi Modern&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Diantara dua wilayah antara Asia tenggara dan Asia selatan India-lah yang paling mengesankan baik dilihat dari kuantitasnya maupun kualitasnya. Tetapi Srilangka dan Pakistan banyak persamaanya dengan Indonesia, Birma, Malaysia, dan Filipina dalam soal tingkat kemajuan dan kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam penelitian. Ada kemungkinan bahwa Srilangka dan Filipina Malaysia dan Singapura akan berbeda perkembanganya dengan negara-negara lain karena Historiografi tradisionalnya tidak menghambat Modernisasi. Dalam hal ini Historigrafi modern sedang dikonfrontasikan dengan nasionalisme dan mungkin saja ditunjukan pada kepentingan-kepentingan Nasional. Salah satunya India tersebut dihadapkan pada negara-negara lainya. Sejarah nasional diutamakan dari pada sejarah ilmiah, tetapi selama alat pengajaran dan penggunaan metode-metode akademis tetap dipertahankan, keadaan ini bisa saja berubah. Muangthai adalah suatu pengecualian. Peneliti sejarah tidak terlalu banyak, dan masih ada karya-karya yang dikerjakan dalam batas-batas nilai nilai tradisional, tetapi tidak ada ramuan tradisional dalam karya karya mereka. Apalagi suatu generasi baru sedang mengunakan metode-metode modern dan semakin tinggi saja ketrampilan dan keyakinan mereka &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Otonomi Tradisi Historiografi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Otonami Tradisi Historiografi sejarah tidak pernah mendapat tempat yang penting dalam tradisi Asia tenggara. Fungsi utama yang pernah ada adalah memperkuat kewibawaan sang raja, dengan memberi ajaran moral dan agama serta menghibur untuk memberi kesenangan. Setiap tradisi historiografi berkembang sekitar kepentingan dari bermacam-macam pembaca dengan kekuatan atau kelemahanya tergantung pada pranata politik yang menghasilkan pembaca-pembaca itu. Selama pranata-pranata itu tetap bertahan, tradisi penulisan sejarah yang mendukungnya pun bertahan pula.&lt;br /&gt;Di asia selatan dan filipina pengaruh pemerintah kolonial sangat lama dan hal ini meningkatkan bekas yang mendalam dalam Historiografi penduduk setempat. Sebab itu kecuali beberapa tradisi historiografi Islam, tidak ada historiografi tradisional yang masih bertahan disana. Tetapi dibagian lain di Asia Tenggara Sejarah pengaruh barat tidak terlalu mendalam, dan dalam hal-hal tertentu malah kurang dari seratus tahun, dalam mana masa sejarahwan-sejarawan dan para penguasa kolonial tidak menghancurkan tradisi tradisi lokal. Dengan demikian, banyak diantara tradisi-tradisi itu yang masih hidup dalam tradisi baru. Hal ini bisa nampak bila pergerakan nasional berhasil menghidupkan karya-karya masa silam.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, yang terpenting bukan kenyataan bahwa historiografi Asia selatan dan asia tenggara belum juga berhasil membebaskan dirinya dari sikap-sikap serta hambatan-hambatanya. Yang terpenting adalah kenyataan bahwa antara lembaga dan akademis di asia dan dunia barat telah ada hubungan timbal balik Karya-karya yang penting dapat sama-sama diperoleh, dan disiplin baru sudah diperkenalkan dan di pahami. Konsep dasar telah sampai di asia selatan dan asia tenggara bahwa waktu dan tempat harus teliti behwa pengetahuan mengenai masa lampau manusia harus Sekuler dan humanistik, dan bahwa pakta sejarah dan interprestasi sejarah harus selalu diuji dengan metode-metode ilmiah yang paling baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: M.S.Mitchel Vinco&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-171684992954253831?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/171684992954253831/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=171684992954253831&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/171684992954253831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/171684992954253831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2010/09/historiografi-asia-selatan-dan-asia_24.html' title='HISTORIOGRAFI  ASIA  SELATAN DAN  ASIA  TENGGARA (Bagian II)'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-3246448889433473065</id><published>2010-09-24T19:52:00.002+07:00</published><updated>2010-10-20T15:22:13.196+07:00</updated><title type='text'>HISTORIOGRAFI  ASIA  SELATAN DAN  ASIA  TENGGARA (Bagian I)</title><content type='html'>".... dalam sebuah kuliah Metodologi Penelitian Sejarah, di kelas (alm) Prof. Dr. P.J. Suwarno, S.H."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;LATAR BELAKANG&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya di tempat-tempat lain, perkembangan historiografi Asia Selatan dan Asia Tenggara selalu berhubungan erat dengan sumber-sumber kesusastraan (literaty). Namun, sebelum abad ke-20 sumber-sumber yang terpenting adalah pelbagai agama yang selama enam abad memisahkan suatu wilayah dan menyatukan wilayah lainnya. Untuk kemudahan tinjauan mengenai ikhtisar tradisi historiografi ini, kita dapat membedakan lima wilayah yang mempunyai agama dan pengalaman baca tulis yang berbeda.&lt;br /&gt;Antara agama Hindu yang dianut oleh rakyat banyak di India dan agama Buddha Theravada yang tersebar di Muangthai, Birma dan Sri Lanka, tidak terdapat banyak persamaan. Kedua daerah tersebut berbeda pula dengan wilayah ketiga, yaitu daerah penyebaran agama Islam dengan pusat-pusatnya di Pakistan dan India serta masyarakat di Indonesia, Malaysia dan Filipina Selatan. Wilayah yang keempat dan kelima yaitu, Vietnam dimana terdapat suatu bentuk tertentu dari agama dan Budaya Tiongkok, dan masyarakat yang sebagian besar menganut agama Kristen di Filipina. Dalam wilayah tersebut dapat terlihat perbedaan dan tanggapan mengenai sejarah.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Historiografi Tradisional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Historiografi Tradisional Asia Selatan&lt;br /&gt;Agama yang dikenal pertama kali di India adalah agama Veda. Agama ini di India mengahasilakan tarikh-tarikh dalam bentuk Purana. Tradisi Purana ini kemudian diperluas dan tarikh-tarikh lain disusun pula, namun tetap ditandai ciri-ciri sebagai berikut: tidak dikenal umum, dibesar-besarkan, kurang data yang otentik dan pengabaian topografi dan kronologi.&lt;br /&gt;Epik-epik besar yaitu Mahabharata dan Ramayana, banyak berpengaruh dan dipakai sebagai sumber tradisi historiografi yang lain lagi. Sekalipun tidak menimbulkan penulisan sejarah, namun berabad-abad lamanya epik-epik itu merupakan bentuk yang paling dekat dengan sejarah dan dapat dikatakan berperan sebagai sejarah bagi orang-orang yang menggunakan cerita-cerita itu. Tambahan lagi, kedua epik tersebut bersama-sama dengan cerita Pancatantra dan Jataka dari agama Buddha menjadi sumber dari cerita-cerita jenaka dan tradisi berkisah untuk pemulisan genealogi-genealogi buddhis dan kronik-kronik di Sri Lanka serta daratan Asia Tenggara. Beberapa abad kemudian, baru kronik-kronik ini beralih dari perkembangan filsafat Gautama Buddha ke pencatatan yang dilakukan secara sadar dari peristiwa-peristiwa politik kontemporer dan peristiwa-peristiwa keagamaan.&lt;br /&gt;Historiografi India sangat kaya setelah masuknya agama Islam ke India pada akhir abad ke-12. Suatu tradisi pemulisan sejarah yang sudah berkembang baik diperkenalkan, dan selama enam abad lebih suatu cabang historiografi Islam menguasai Asia Selatan. Ciri-ciri utama dari penulisan historiografi Islam ini sama dengan historiografi Islam di persia, Afrika Barat dan Afrika Utara. Historiografi ini tetap terikat pada kepentingan kekuasaan yang ortodoks dan cenderung  untuk mengabdi kepada Tuhan dan komuniti Islam. Karya ini ditunjukkan pada pendidikan moral dan agama melalui kisah-kisah para nabi, khalif, sultan dan orang-orang besar lainnya. Cerita-cerita tersebut berkisah menganai kemenangan dan kekalahan para penguasa Islam dan tidak pernah menyentuh orang yang menganut agama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Historiografi Tradisional Asia Tenggara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di Birma, dengan tersebarnya agama Buddha Theravada orang-orang Mon-Khmer (di daaratan Asia Tenggara) mulai menyusun kronik-kronik yang memantapkan suatu tradisi penggabungan  data-data mengenai dinasti, anekdot-anekdot mengenai raja-raja, serta berbagai mitos dan legenda yang memberikan arti pada setiap pemerintahan. Sebagai karya yang disusun oleh para biarawan, para brahmana terpelajar, karya-karya ini mengandung bahan-bahan yang berharga bagi tulisan-tulisan pertama dari orang-orang Eropa mengenai Birma. Demikian pula tradisi Muangthai, yang dikembangkan oleh para biarawan dan menteri-menteri yang terpelajar, diambil dari Sri Lanka, mungkin melalui bangsa-bangsa yang berbahasa Mon-Khmer yang berdiam di Lembah Menam.&lt;br /&gt;Keadaannya berbeda di antara orang-orang Jawa dan Melayu. Monumen-monumen dan inskripsi-inskripsi Hindu-Buddhis banyak sekali ditinggalkan, tetapi perhatian penduduk asli pada masa lampau dan penggunaan masa lampau sebagai sumber kekuatan gaib untuk memberikan kekuasaan dan mensahkan kewibawaan juga berkembang sendiri. Mulai dari sajak-sajak epik Negarakertagama sampai pada Pararaton dan Babad Tanah Jawi( abad 14-17 ) pujangga-pujangga keraton memuja-muja raja mereka, meyususn genealogi-genealogi yang mengesankan, serta menyempurnakan dalam bentuk sajak. Karya ini bukan karya sejarah, tetapi mendekati suatu tradisi asli dalam hal kesadaran sejarah.&lt;br /&gt;Keinginan untuk meneruskan kekuasaan yang sah dan kedaulatan para pahlawan dari masa lampau, nampak dipertahankan selam berabad-abad. Karena tidak memiliki ketepatan kronologis serta perhatian yang sekuler mengenai raja-raja, menteri-menteri, rakyat dan musuh-musuh, maka daftar tersebut lebih banyak merupakan latihan metrik serta jampi-jampi daripada penulisan sejarah. Namun, setelah abad ke-19 babad yang dihasilakan lebih mendekati sejarah, terutama Babd Diponegoro dan Sejarah Banten.&lt;br /&gt;Tulisan-tulisan dalam bahasa melayu, terutama kitab Sejarah Melayu dan sejumlah karya lain seperti kerjaan Johor dan Kerajaan Riau-Lingga, lebih kaya daripada cerita-cerita dalam bahasa Jawa, uraian mengenai orang dan tempatnya juga lebih hidup. Tidak banyak tekanan pada kekuatan gaib, dibandingkan tekana nilai-nilai moral seperti kepatuhan, kejujuran dan secara keseluruhan karya-karya berbahasa Melayu ini tidak saja bertujuan untuk mendidik tetapi juga menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ciri-Ciri Historiografi Tradisional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa tradisi yang mempunyai asal-usul sama tetapi kemudian berkembang menjadi tradisi-tradisi tersendiri dan khas di Sri Lanka, Birma, Muangthai, Jawa dan dunia Melayu. Malah tradisi Islam tidak homogen, dan apa yang muncul di India Utara berbeda sekali dengan penulisan di Aceh, Jawa, Malaka, Johor, Sulawesi Selatan dan Sulu.&lt;br /&gt;Ciri-ciri yang sama itu adalah: (a) kebanyakan karya-karya tersebut kuat dalam hal genealogi, tetapi lemah dalam hal kronologi dan detail-detail biografis; (b) tekanannya adalah pada gaya bercerita, bahan-bahan anekdot, dan penggunaan sejarah sebagai alat pengajaran agama; (c) bila karya-karya tersebut lebih bersifat sekuler maka nampak adanya persamaan dalam hal perhatian pada kingship (konsep mngenai raja) serta tekanan diletakkan pada kontinuitas dan loyalitas yang ortodoks; (d) pertimbangan-pertimbangan kosmologi dan astrologis cenderung untuk menyampingkan keterangan-keterangan mengenai sebab-akibat dan ide kemajuan.&lt;br /&gt;Perbedaan-perbedaan yang pokok adalah: (a) agama memisahkan para sejarawan Indo-Islam dari konteks sosio-ekonomi agama Hindu yang terdapat dalam sejarah India; agama juga memisahkan orang-orang Muangthai dan Kamboja dari tradisi Asia Timur dalam bentuk Vietnamnya; agama juga memisahkan dunia Melayu-Jawa dari orang-orang Muangthai dan Birma di satu pihak dan orang-orang Filipina di pihak lain; (b) persaingan nasional mempengaruhi karya mengenai bangsa-bangsa yang bertetangga, umpanya karya-karya orang-orang Birma dan Muangthai; (c) perbedaan-perbedaan bahasa di India sebelum dipakainya bahasa Persia dan daratan Asia Asia Tenggara sebelum menurunnya bahasa Pali sangat rumit: kebanyakan karya-karya itu tidak dapat dibaca di luar batas-batas negara itu sendiri; (d) kebijaksanaan-kebijaksanaan raja-raja mengenai penulisan sejarah cukup beragam: karya-karya Islam dan Melayu diedarkan di kalangan umum, sedangkan karya-karya orang Muangthai, Birma, serta Vietnam hanya untuk kepentingan pihak resmi.&lt;br /&gt;Ada dua hal yang perlu ditekankan di sini. Pertama, kalangan ilmiah masa kini sudah mulai menghargai karya-karya tradisional tersebut, dan telah menerapkan teknik-teknik kritik Biblikal dan Homerikal dalam penelitian-penelitian mereka. Sekarang sudah disadari bahwa kronik-kronik dapat diartikan dengan tepat dalam konteks keseluruhan sistem budaya yang menghasilkannya. Kedua, terlepas dari persoalan apakah karya-karya ini dapat dinamakan”sejarah” atau tidak, nilainya sebagai suatu dokumen sejarah telah terbukti sekarang. Yang diperlukan sekarang adalah teknik-teknik yang lebih halus dan lebih peka untuk mendapatkan data-data yang diperlukan untuk menuliskan sejarah Asia Selatan dan sejarah Asia Tenggara.&lt;br /&gt;(Bersambung ke Historiografi Modern Assel dan Asteng)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-3246448889433473065?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/3246448889433473065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=3246448889433473065&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/3246448889433473065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/3246448889433473065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2010/09/historiografi-asia-selatan-dan-asia.html' title='HISTORIOGRAFI  ASIA  SELATAN DAN  ASIA  TENGGARA (Bagian I)'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-8609515639367849699</id><published>2010-05-13T18:11:00.002+07:00</published><updated>2010-10-20T15:23:43.349+07:00</updated><title type='text'>MESIR KUNO SEBUAH PERADABAN DUNIA</title><content type='html'>A.Sejarah Dibalik Kejayaan Peradaban Mesir Kuno&lt;br /&gt;Awalnya Mesir kuno terdiri dari dua daerah terisolasi yang dilalui Sungai Nil yaitu Mesir hulu atau Mesir atas yang terletak di bagian Selatan dan Mesir hilir atau Mesir bawah yang terletak di bagian Utara. Kondisi geografis kedua daerah inipun berbeda, Mesir hilir terletak bagian hilir Sungai Nil dimana terdapat tanah berawa-rawa subur dan Delta Sungai Nil yang subur pula, sedangkan Mesir hulu terletak di suatu pita sempit yang memanjang lebih dari 1000 km di tepi kedua Sungai Nil antara dua gurun pasir yang suka “mencaploknya”. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Keadaan tersebut menimbulkan sikap berlainan antara kedua daerah, persaingan dan konflik pun sering terjadi. Hal tersebut didukung dengan latar belakang budaya berbeda dari kedua daerah disebabkan dari isolasi alam yang ketat untuk kedua daerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3000 SM masyarakat Mesir bagian Utara telah berhasil membangun kekuatan politik untuk menguasai Mesir daerah Selatan dengan dibentuknya sebuah kerajaan. Namun, usaha untuk menguasai Mesir bagian Selatan gagal, karena ternyata Mesir bagian Selatan juga telah menyatukan diri di bawah seorang Raja. Dengan demikian timbul dua kerajaan Mesir dengan mahkotanya sendiri-sendiri. Bahkan antara 2900-2800 SM Mesir bagian Selatan di bawah pimpinan Raja Menes berhasil menyerang dan menaklukkan Mesir bagian Utara. Kemudian Menes menyatukan mahkota kerajaan dan membangun Ibukota Negara dengan nama Memphis yang terletak di antara bagian Selatan dan Utara. Di bawah pemerintahan Menes terjadi begitu banyak pemberontakan. Namun, kekuasaan Menes dapat bertahan dan dapat dikonsolidasikan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Mesir berhasil menjadi bangsa yang kokoh kesatuannya ketika diperintah Raja Joser dan Imhotep (wesir atau patihnya), dan berhasil mendirikan jaman yang dikenal dengan jaman Kerajaan Kuno (2700-2200 SM) yang memuat empat dinasti. Pada kepemimpinan Raja Joser jugalah Piramide pertama dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 2200 SM Mesir mengalami kekacauan. Kaum petani memberontak melawan pemerasan pajak dak kerja paksa. Hasil dari pemberontakan tersebut, sejumlah penguasa bagian melepaskan diri dan mulai bersaing memperebutkan kekuasaan tertinggi. Pada masa ini terjadi perampasan harta Firaun di Piramide, bahkan peti Firaunyang berharga juga dirampas. Selama satu setengah abad hal demikian terjadi. Sejumlah percobaan untuk kembali pada kesatuan dan ketentraman selalu kandas di tengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Hasil-Hasil Kebudayaan Mesir Kuno&lt;br /&gt;Mesir sebagai salah satu pusat peradaban dunia memiliki hasil kebudayaan bernilai tinggi, baik itu budaya fisik maupun non fisik. Hasil-hasil budaya tersebut dapat dilihat pada bidang-bidang berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Religi dan Ilmu Pengetahuan&lt;br /&gt;Dalam bidang religi, hasil budaya Mesir yang sangat terkenal adalah Piramide. Piramide adalah makam para Firaun (Raja Mesir), dimana saat dimakamkan di Piramide mereka dibekali dengan harta selama masanya berkuasa. Munculnya Piramide diawali kepercayaan masyarakat Mesir bahwa mereka ketika mati memerlukan tempat tinggal yang kemudian dikenal dengan sebutan “gedung baka”. Tempat ini layaknya dibentuk seperti rumah duniawi mereka dan dilengkapi dengan segala hal yang bisa menyenangi mereka saat mati. Ajaran Istana baka sendiri dicetuskan oleh para wali kuil atau pemimpin agama yang sangat berpengaruh dalam pemerintahan. Piramide dibangun pertama kali pada masa pemerintahan Raja Joser (2700-2200) sebagai bentuk lain dari istana baka. Pada dinding Piramide dilukiskan gambar, relief dan arca yang melukiskan riwayat para Raja, madah pujian agamawi, serta kejadian sehari-hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pemerintahan Raja Thebe (2000-1800) bentuk Piramide dibangun dengan bentuk lebih kecil, tetapi tulisan-tulisan dinding semakin banyak sebagai mantra pelindung makam. Selain Piramide, hasil budaya Mesir kuno yang berupa bangunan atau benda besar adalah Sphink dan Obelisk. Sphink adalah bangunan penjaga piramide dengan bentuk badan singa dan kepala sang Raja yang mati. Sedangkan Obelisk adalah tiang persegi yang amat tinggi dipotong sekaligis dari batu karang dan konon keberadaan obelisk ada hubungannya dengan penyembahan Matahari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai agama, Masyarakat Mesir awalnya melihat binatang-binatang yang terdapat di sekitar Sungai Nil, lalu memproyeksikan kekuatan-kekuatan gaib padanya. Misalnya, burung (kemampuan terbang), singa (lambang kekuatan), buaya (keganasan), ular (rahasia, bahaya, cedik), burung ibis (kearifan). Karena hal-hal tersebut maka beberapa dewa diberi badan yang aneh: Sekmet (wanita berkepala singa), Sobek (berbadan buaya, dewa air), Amun (raja dari dewa, berkepala kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para wali kuil tidak hanya membawa pengaruh dalam bidang kerohanian saja, tetapi juga mencakup ilmu pengetahuan seperti ilmu falak dalam arti astronomi dan astrologi. Mereka mempelajari perjalanan bintang dan berhasil menyusun penanggalan berdasarkan tahun matahari yang memuat 365 hari (1230+5). Tahun ini dimulai dengan naiknya air Sungai (pertengahan Juli).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mata Pencaharian dan Teknologi&lt;br /&gt;Sifat suatu bangsa serta budayanya terutama ditentukan oleh keadaan tanah, cara khas bertani, hasil pertaniannya, luas area pertanian, iklim dan musim. Bidang-bidang tersebut menentukan perkembangan bidang Ekonomi dan Politik suatu bangsa pada masyarakat kuno. Hal-hal tersebut pula menentukan irama hidup, gaya hidup serta tingkah laku manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masyarakat Mesir kuno keadaan tersebut dapat dilihat pada masyarakat yang mendiami Lembah Sungai Nil bagian Utara maupun bagian Selatan. Lahan-lahan di sekitar sungai Nil selalu mendapat kiriman banjir setiap tahun yang berasal dari Sungai Nil sendiri, hal ini membawa akibat suburnya tanah-tanah di sekitar Sungai Nil. Namun, suburnya daerah sepanjang Sungai Nil tidaklah sama, penduduk lembah Nil yang terisolasi memiliki lahan yang tidak kena luapan banjir Sungai Nil, maka sebagai pemecahnnya dibuatlah Irigasi. Dengan adanya Irigasi bertambahlah persediaan pangan bagi penduduk. Sehingga banyak penduduk yang tertarik bertani di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu masyarakat Mesir tidak hanya hidup dari pertanian dan peternakan saja, bidang pertambangan pun sudah digeluti. Pertambangan yang ditemukan di Mesir antara lain Wadi Alaki menghasilkan tembaga dan batu pualam, tambang emas di pegunungan Sinai. Selain logam, batu-batuan seperti gamping, batu pasir merah, granit, sabak juga dicari oleh masyarakat Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sistem Kemasyarakatan dan Bahasa&lt;br /&gt;Penduduk mesir terdiri atas tiga ras yakni: Ras Mediteran, Ras Negroid dan Ras Crogmanoid. Bahasa Mesir dalam segala jaman selalu ada hubungan dengan bahasa Semit dan Hamit, tetapi karena isolasi masing-masing daerah berkembang terbentuklah bahasa baru yang khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Mesir mempunyai corak khusus. Menurut para ahli, wali kuil memikirkan sistem tulisan karena rangsangan dari bangsa Sumeria. Namun, jika dilihat para wali kuil tidak menulis di atas tanah liat seperti kaum Sumeria. Para walikuil menulis huruf-huruf yang merupakan gambaran (piktogram) dan diukir di batu atau dilukiskan pada dinding atau papyrus (daun semacam rotan yang tumbuh di sepanjang Sungai Nil). Tulisan Mesir kuno disebut Hieroglyph atau ukiran suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.Pengaruh Kebudayaan Mesir Terhadap Eropa dan Dunia&lt;br /&gt;Mesir berada di wilayah Laut Tengah, dimana juga berada pusat-pusat peradaban lainnya. Selain berada di Laut tengah, Mesir juga mudah di datangi bangsa-bangsa Eropa dan Asia. Untuk menuju Mesir, bangsa Asia dapat melewati Kanaan (Syria, Lebanon, Palestina), sedangkan bagi bangsa Eropa, khususnya Yunani, dapat menyeberangi Laut Tengah. Keadaan Geografis Mesir yang demikian dapat memudahkan terjadinya pertukaran budaya antar bangsa yang berbeda kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, keadaan tersebut tidak membuat Mesir kehilangan identitas budaya khasnya, bahkan pengaruh langsung dari Asia tidak bisa mengubah corak khas Mesir. Mesir tetap tampil sebagai bangsa besar mandiri, dan menjadikannya salah satu pusat peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Mesir pada dunia tidak dapat dipisahkan begitu saja. Sistem penggalan matahari yang ditemukan para wali kuil masih digunakan sampai saaat ini bahkan menjadi patokan penanggalan hampir seluruh dunia. Ilmu astrologi dan astronomi yang mempelajari tentang bintang dan benda langit juga masih digunakan dunia hingga saat ini. Selain itu sistem irigasi Mesir, yang membuat Mesir kaya akan hasil pertanian, sekarang juga digunakan pada pertanian modern di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M.S.Mitchel Vinco&lt;br /&gt;Dalam kuliah Sejarah Asia Barat/Timur Tengah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-8609515639367849699?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/8609515639367849699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=8609515639367849699&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/8609515639367849699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/8609515639367849699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2010/05/mesir-kuno-sebuah-peradaban-dunia.html' title='MESIR KUNO SEBUAH PERADABAN DUNIA'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-3369296227581470594</id><published>2010-04-22T22:59:00.004+07:00</published><updated>2010-10-20T16:18:09.716+07:00</updated><title type='text'>Penemuan Australia: Pelayaran Belanda - Inggris</title><content type='html'>&lt;b&gt;Pelayaran Belanda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab-sebab kedatangan orang Belanda ke dunia timur sebagai penjelajah, pedagang dan penjajah hingga akhirnya menemukan benua Australia, dapat dihubungkan dengan kejadian-kejadian penting di Eropa pada waktu itu. Diawali dengan reformasi yang dasarnya adalah masalah keagamaan, tetapi kemudian melahirkan akibat-akibat dan konsekuensi-konsekuensi di bidang politik, perdagangan dan kepentingan-kepentingan kemanusiaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang politik, yang juga bermotifkan agama, Belanda dan Spanyol terlibat dalam perang mereka yang terkenal yaitu Perang 80 Tahun (1568-1648). Perang ini muncul karena Belanda yang pro paham reformasi, tidak mau mengikuti dan tunduk lagi di bawah Kerajaan Spanyol (Philip II).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berlangsungnya perang, pelaut-pelaut Belanda dengan kapal yang banyak dan awak yang gagah berani, mengambil peran yang besar dalam perdagangan di Eropa. Peran para pelaut Belanda ini adalah mendistribusikan barang dagangan dari Lisabon ke seluruh Eropa. Lisabon merupakan pelabuhan terbesar yang ada di Eropa, dimana barang-barang dari Asia, terutama rempah-rempah dari Indonesia, diperdagangkan. Keuntungan dagang inilah yang menjadi modal dalam perang melawan Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana bagi Bangsa Belanda justru terjadi ketika Portugal berhasil disatukan di bawah kekuasaan Spanyol. Pelabuhan Lisabon pun ditutup bagi kapal-kapal Belanda, atas perintah Raja Philip II. Bencana tersebut justru kelak memberi keuntungan bagi Belanda. Dengan ditutpnya Lisabon, maka Belanda berusaha sendiri untuk menemukan jalan sendiri ke Indonesia, sebuah wilayah kaya rempah-rempah.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Belanda yang bekerja pada kapal - kapal Portugis sangat membantu Belanda dalam usaha menemukan  jalan ke Indonesia yaitu Cornells De Houtman adalah pemimpin pelayaran Belanda yang pertama sampai di Indonesia pada tahun 1596, Garis pelayaran yang diikuti oleh Houtman ke Indonesia dengan mengikuti Selat Sunda mengikuti pctunjuk yang diberikan oleh Van Linschoten dalam bukunva yang berjudul Itinerario. &lt;br /&gt;Kapal belanda yang pertama sekali mengunjungi pantai Australia adalah Duyfken di bawah pimpinan William Jansz melalui Selat Torres hingga maret 1606 sampai di suatu lokasi di pantai barat Semenanjung York, William Jansz bersama anak buahnya ialah orang Eropa pertama sekali melihat atau menemukan Benua Australia. &lt;br /&gt;Tahun 1611 Hendrik Brouwer sebagai Gubernur Jendral VOC secara kebetulan menemukan jalan laut baru untuk mencapai pulau Jawa dan Brower mencapai Pulau Jawa dalam waktu yang singkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapal Belanda Eendracht yang dipimpin oleh Kapten Dirk Hartog, mengikuti rute pelayaran Brouwer dan secara kebetulan mencapai Pantai Barat Australia (dekat  Shark's Bay) dan mendarat di Pulau yang sampai sekarang bernama Hartog's Island. Di pulau ini Hartog menanamkan sebuah tiang dan meninggalkan sebuah piring dipakukan pada tiang tersebut. Tanggal 25 Oktober 1616, kapal Endracht di bawah pimpinan Dirk Hartog berlayar lagi menuju Banten pada tanggal 27 bulan yang sama". Isi piring Hartog ini sangat berharga karena catatan tertua yang terdapat di Australia yang mengisahkan tentang kontak antara orang Eropa dan Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1619 Frederick de Houtman sampai di Pantai Barat Australia di sebelah Selatan Kota Perth sekarang. Dalam pelayarannya itu Houtman hampir saja mengalami kecelakaan di sebuah tempat yang berbahaya yang diberi nama Abrolhos yang berarti "keep your eves open (buku mata) ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1622 kapal bernama Leewin sampai di Pantai Barat Daya Australia, yang kemudian dikenal dengan nama Leewin’s Land. Pada tahun itu juga terdengar kabar bahwa ada kapal Belanda yang tenggelam di sebelah utara Hartog’s Island.&lt;br /&gt;Pada tahun 16 23 suatu ekspedisi yang terdiri dari dua buah kapal, Pera dan Arnhem, yang dipimpin oleh Carstenz dikirimkan untuk menyelidiki Teluk Carpentaria. Namun, ketika Cartenz hampir sampai di Teluk Carpentaria, Ia memerintahkan tim ekspedisi untuk kembali karena Cartenz meyakini bahwa apa yang dilaluinya itu adalah suatu terusan (passage) ke “Daerah Selatan”. Dalam perjalanan kembali , mereka terbawa angin ke daerah yang sekarang bernama Arnhem’s Land. Kesan mereka tentang daerah yang di datanginya adalah gersang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1627 kapal bernama Gulden Zeepart berangkat dari Amsterdam menuju Indonesia. Setelah mencapai Cape Leewuin kapal ini terus menuju Great Australia Bight sampai ke tempat yang kini bernama Streaky Bay. Daerah inio diberi nama Nuyt,s Land sesuai dengan nama seorang pegawai VOC yang ikut dalam kapal tersebut. &lt;br /&gt;Tahun 1628 sebuah kapal Belanda yang bernama Vyanen di bawah pimpinan De Wit, dalam perjalan pulang ke negeri belanda dari Batavia mengalami kecelakaan ditanjung barat-laut Ausrtalia. Kapal ini hanya berhasil diselamatkan dengan membuang sebagian dari muatannya yaitu lada dan tembaga. Tempat ini kemudian disebut De Wit's land. Pada tahun 1629 kapal perang Belanda Batavia mengalami kecelakaan di Houtman's Abrolhos. Kaptennya Francis Pelsart, berhasil menyelamatkan diri beserta anak buahnya dan sampai di Batavia 34 hari kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hambatan - hambatan dalam pelayaran bangsa Belanda ini semakin menyadarkan pemimpin VOC di Indonesia pada waktu itu bahwa mereka harus memiliki peta yang baik tentang rute pelayaran ke dan dari Indonesia jika mereka tidak mau kehilangan kapal - kapal dan barang-barang yang berharga. Gubernur Jenderal Anthony van Deimen tercatat sebagai pemimpin VOC yang paling besar perhatiannya terhadap eksplorasi ke daerah Australia. Untuk keperluan eksplorasi itu dia memilih seorang yang pintar yang bernama Abel Tasman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menahkodai dua buah kapal, Heemskerk dan Zeehaen, Tasman meninggalkan Batavia pada tanggal 14 Agustus 1642 dan langsung menuju Mauritius untuk membelok langsung ke Australia. 21 November 1642, Tasman menemukan daerah yang diberi nama Van Diemen’s Land, yang sekarang dikenal dengan Tasmania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyusuri separuh dari pantai bagian selatan, Tasman meneruskan pelayaran ke Timur, pada tanggal 4 Desember. Sembilan hari kemudian Tasman sampai di suatu tempat yang Ia namakan Staten Land. Laun antara Van Diemen’s Lang dengan Staten land dinamakan Abel Tasman;s Passage. Dalam pelayaran ini tiga orang anak buahnya mati oleh penduduk asli ketika berlabuh di Massacre Bay. Pulangnya Tasman menyusuri pantai utara Irian dan tiba di Batavia tanggal 15 Juni 1643.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1644 Abel Tasman memimpin ekspedisinya yang kedua. Dalam kesempatan ini Abel Tasman diperintahkan untuk menyelidiki apakah ada passage antara Irian dengan dataran disebelah selatannya. Apabila Tasman berhasil menernukannya. dia diperintahkan untuk melaluinya dan memasuki pasifik terus ke Van Diemen's land dan dari sana kembali ke Batavia melalui Het Land van de Eendracht. Seandainya Tasman berhasil melaksanakan tugas yang dibebankan padanya dalam ekspedisi yang kedua ini maka akan jelas baginya, bahwa Het land van de Eendracht adalah benua berbentuk pulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pelayaran Abel Tasman itu, Bangsa Belanda mulai menggunakan New Holland untuk menyebut daratan Australia. Kesan mereka terhadap New Holland adalah New Holland merupakan daratan yang gersang sehingga mereka tidak tertarik untuk mengadakan pendudukan disana. Tujuan utama datang kedunia Timur adalah untuk memperoleh keuntungan material sebanyak-banyaknya. Pemberangakatan Abel Tasman tentu telah menghabiskan biaya yang cukup banyak, namun dia kembali tanpa membawa sesuatu yang berharga. Pemimpin tertinggi VOC tentu mengharapkan Van Diemen bisa membayar kembali dana yang sudah tercapai itu dengan ditemukannya Emas dan perak oleh Abel Tasman. Ternyata Abel Tasman tidak menemukan apa-apa sehingga sejak itu semua kegiatan penyelidikan dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PELAYARAN BANGSA INGGRIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1688 pelaut Inggris yang pertama kali sampai di benua Australia adalah William Dampier. Rombongan ini menggunakan kapal Cygnet. Rombongan ini mendarat dipantai barat laut dekat Melville Island dan tinggal beberapa minggu untuk istirahat. Selama tinggal ditempat itu mereka tidak menemukakan hal-hal yang yang memberikan keuntungan kepada mereka sebagai bajak laut, sehingga mereka memutuskan untuk kembali keInggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah William Dampier kembali ke Inggris, la menerbitkan tulisan tentang pelayaran. Tulisannya itu tepat sekali dengan keinginan pemerintahan Inggris saat itu, karena pemerintah Inggris sedang berusaha untuk mendapatkan daerah di sekitar Indonesia, untuk tidak membiarkan Belanda menguasai keuntungan di wilayah tersebut. &lt;br /&gt;Oleh karena itu pemerintah Inggris terdorong untuk menyelidiki New Holland. Pada tahun 1699 pemerintah Inggris, dalam hal ini angkatan laut  Inggris mempercayakan kapal Roebuck di bawah komandan Dampier untuk menyelidiki New Holland. Pada tanggal 6 Agustus 1699 Dampier berhasil mendarat di suatu tempat yang kemudian ia menamakan Shark Bay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1769 para ahli astronomi Inggris memperkirakan akan terjadi suatu peristiwa penting yaitu: "Transit Of venus"Royal Society of London. Menghendaki agar dilakukan pengamatan atas peristiwa tersebut karena peristiwa itu hanya dapat diamati dengan baik dari lautan selatan, maka Royal Society Of London meminta kepada angkatan Laut Inggris menyediakan sebuah kapal serta anak buah untuk keperluan tersebut sesuai dengan permintaan. Maka angkatan laut membeli sebuah kapal yang bermuatan 370 ton, kapal ini diberi nama Endeavour  Bark. Dalam buku-buku yang mengkisahkan pelayaran Cook hanya  dikenal nama endeavour (semula kapal itu bernama Earl of Pembroke), dan pemimpinnya ialah James Cook (Siboro, 1989, him. 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas yang diberikan kepada James Cook dalam pelayarannya yaitu:&lt;br /&gt;1. Berlayar ke Tahiti agar "Transit Of Venus " untuk dapat diamati dengan baik&lt;br /&gt;2. Berusaha melakukan penemuan dipasifik selatan dengan berlayar terus sampai kegaris 40 derajat Lintang Selatan. Dengan kata lain mencari "Terra Australis Incognita ", selain itu tujuan mereka datang ke benua Australia adalah dem mengembangkan ilmu pengetahuan. Daratan luas yang diyakini dekat kutub selatan. &lt;br /&gt;3. Bila tujuan kedua tidak tercapai, maka James Cook bisa melanjutkan menyelidiki New Zealand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James Cook berangkat dari Inggris tanggal 26 Agustus 1768 dengan tujuan pertama pelayaran Cook ke Tahiti,dimana ia akan melakukan tugasnya yang pertama yaitu mengamati "transit of venus''. Rombongan cook sampai di Tahiti pada bulan April 1769, dan menyaksikan terjadinya "transit of venus" pada permulaan bulan Juni tahun itu juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tugas ini selesai, Cook mulai bergerak untuk melaksanakan tugasnya yang kedua, yaitu mencoba mencari "dataran selatan ". Untuk itu ia berlayar ke arah selatan sampai garis yang telah ditentukan. Namun karena tidak menemukan dataran tersebut dan karena terkena serangan udara dingin, James mundur dan beralih ke tujuan ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan oktober 1967 Cook berhasil menggapai New Zealand, ia mendarat dipantai timur North Island dari sana ia melanjutkan pelayarannya ke utara. Disini ia menyaksikan lagi peristiwa Astronomis lainnya yaitu “Transit of Marcury” ia menggunakan enam bulan untuk mengelilingi Nort Island dan south Island serta berhasil meyakinkan bahwa  New Zeland bukan bagian dari darataan luas sebagai mana diduganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan April 1770 Cook meninggalkan New Zealand menuju van     Diemen's Land Tetapi gagal hal ini dikarenakan cuaca yang kurang mendukung,  namun Ia sampai kepantai timur Australia yang belum pernah  didatangi oleh orang Eropa, ia mendarat disebuah tempat yang kira-kira perbatasan New South    wales dengan Victoria sekarang. Mereka mendarat diteluk yang bernama Stingray Harbour, kini diubah menjadi Botany Bay . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Botany James Cook meneruskan pelayaran melewati ujung Semenanjung York, sebuah pulau yang diberi nama Possesion Island. Untuk dijadikan daerah Inggris kemudian Cook mengganti nama daerah itu menjadi New Wales atau South Wales. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 23 Agustus 1770. Setelah tinggal   beberapa hari di Batavia, Cook meneruskan pelayarannya kembali ke Inggris  dengan melalui tanjung Pengharapan Baik. Dan mereka tiba di Inggris tanggal 13 Juli 1771 (Siboro, 1989, him. 25).&lt;br /&gt;Penemuan Cook ini sangat berarti. Dimana laporan - laporan mereka tentang daerah New Sout Wales menimbulkan kesan yang sangat berbeda dengan kesan pemimpm VOC, setelah menerima laporan ekspedisi Tasman. Laporan Cook beserta anggota rombongannya yang akhirnya mendorong pemerintah Inggris untuk melakukan kolonisasi disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keberhasilan Cook menernukan benua Australia maka ia mendapat julukan Columbus Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M.S.Mitchel Vinco&lt;br /&gt;Dalam sebuah Kuliah Sejarah Australia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-3369296227581470594?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/3369296227581470594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=3369296227581470594&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/3369296227581470594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/3369296227581470594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2010/04/penemuan-australia-pelayaran-belanda.html' title='Penemuan Australia: Pelayaran Belanda - Inggris'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-6945316194675320093</id><published>2010-04-20T23:58:00.011+07:00</published><updated>2011-01-17T21:53:49.316+07:00</updated><title type='text'>Perkembangan Sosial Remaja Awal (Sebuah Pembandingan Teori-Teori Psikologi)</title><content type='html'>A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Kehidupan remaja merupakan kehidupan yang unik dan “penuh warna” dalam perjalanannya. Segala tindakan atau apresiasi remaja sangatlah beragam dan sulit untuk ditebak. Hasil dari tindakan remaja terkadang tidak “normal” untuk diartikan secara kasat mata. Disatu sisi para remaja melakukan tindakan-tindakan di luar batas kewajaran norma dan budaya di lingkungannya, misalnya: berkelahi/tawuran, mabuk, liar atau tidak bisa diatur, tidak menghargai orang tua dan sopan santun, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, disisi lain para remaja mampu memberikan prestasi, buah dari usaha yang biasanya dianggap tidak berarti di mata orang dewasa. Misalnya, begadang demi berlatih gitar, lupa belajar karena bermain bola, ataupun seharian di depan komputer. Kehidupan remaja yang tidak lazim tersebut, ternyata mempunyai makna bagi diri yang menjalankannya dan bukanlah hal yang sia-sia seperti anggapan orang kebanyakan. Tidak jarang dalam sebuah perjalanan kehidupan, sukses atau tidaknya manusia ditentukan oleh kondisi pada saat remajanya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan remaja menjadi sangat penting untuk dipelajari. Dengan memahami remaja secara psikologis membuat  persepsi yang kabur terhadap remaja menjadi terjelaskan. Semua hal yang terjadi pada remaja bukanlah keinginan yang secara independent dilakukannya atau semau gue. Namun, merupakan reaksi dari rangsangan psikologis yang dipengaruhi perkembangan remaja secara fisik dan mental. Hal tersebut masih ditunjang dengan kondisi lingkungan yang ada di sekitar remaja tersebut, apakah sesuai dengan keinginan remaja? Ataukah terlalu mengekang? Ditinjau dari sudut kronologis pada suatu pembatasan yang relatif fleksibel, masa remaja ini terjadi sekitar umur 12 – 20 tahun (Rifai, 1984:1). Jelas periode ini merupakan masa pertumbuhan yang cepat, dan ini harus dialami para remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bagian terpenting dari perkembangan remaja adalah perkembangan dalam kehidupan sosial. Memang perkembangan fisik tidak dapat dilepaskan, tetapi kebanyakan kasus remaja terjadi dikarenakan kurang sempurnanya proses perkembangan sosialnya. Permasalahan dalam perkembangan sosial remaja dikarenakan para remaja belum mampu menjalankan tugas perkembangan sosialnya. Tugas perkembangan sosial remaja adalah tugas yang khas dimiliki para remaja. Para remaja, disadari atau tidak merasa harus memenuhi tugasnya tersebut, tetapi di satu sisi tantangan remaja untuk memenuhi tugas tersebut sangatlah berat. Pertanyaannya adalah bagaimana korelasi antara tugas perkembangan sosial remaja dengan kenyataan remaja sebenarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Remaja dan Tugas Perkembangannya&lt;br /&gt;Siapa Remaja itu?&lt;br /&gt;Stanley Hall berpendapat bahwa “Masa remaja adalah masa ‘stress and strain’ (masa kegoncangan dan kebimbangan). Akibatnya para pemuda-pemudi melakukan penolakan-penolakan pada kebiasaan di rumah, sekolah dan mengasingkan diri dari kehidupan umum, membentuk kelompok hanya untuk ‘gangnya’. Mereka bersifat sentimentil, mudah terguncang dan bingung. Mereka menganggap dunia sudah berubah, mereka”&lt;br /&gt;Mereka adalah pemuda pemudi yang berada pada masa perkembangan yang disebut masa “adolesensi” (masa remaja menuju kedewasaan). Masa ini merupakan taraf perkembangan dalam kehidupan manusia, di mana seseorang sudah tidak dapat disebut anak kecil lagi, tetapi juga belum dapat disebut orang dewasa. (Rifai, 1984:1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari deskripsi Rifai di atas, jelas ada kata-kata yang membingungkan yaitu “…tidak dapat disebut anak kecil lagi, tetapi belum dapat disebut orang dewasa”. Pengertian tersebut mengartikan remaja sebagai bagian antara anak kecil dan orang dewasa, atau  pengertian lebih ekstrim yaitu bukan anak kecil dan bukan orang dewasa. Membingungkan? Namun, itulah yang dirasakan para remaja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi kebingungannya, secara alami remaja akan belajar (learning) mengenai lingkungan di mana dia berada, bagaimana tanggapan orang terhadapnya dan yang terpenting remaja akan mengetahui tugas-tugas perkembangan yang harus diembannya. Seperti yang kembali diungkapkan Melly Sri Sulastri Rifai dalam bukunya Psikologi Perkembangan Remaja  “Masa adolensi ini disebut juga masa ‘physiological learning’ dan ‘social learning’, hal ini berarti pada masa ini pemuda pemudi remaja sedang mengalami suatu pematangan fisik dan pematangan sosial.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pematangan fisik, remaja mengalami proses perubahan struktur dan fungsi jasmaniah mengarah pada kedewasaan fisik. Dalam pematangan sosial remaja menghadapi proses belajar mengadakan penyesuaian diri pada kehidupan sosial orang dewasa secara tepat. Hal ini berarti pula, bahwa remaja harus belajar pola-pola tingkah laku sosial yang dilakukan orang dewasa dalam lingkungan di mana mereka hidup.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Tugas-Tugas Perkembangan Remaja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses pematangan atau proses belajarnya, remaja kemudian menyadari bahwa dirinya mempunyai tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhinya. Menurut Havighurst, tugas perkembangan adalah “tugas yang muncul pada saat atau sekitar periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Akan tetapi kalau gagal, menimbulkan rasa tidak bahagia dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya.” (Hurlock, 1991: 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat atau cepat remaja akan menyadari bahwa mereka diharapkan menguasai tugas-tugas tertentu. Setiap remaja juga menjadi sadar bahwa dirinya terlalu cepat, terlambat atau tepat dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Kesadaran inilah yang mempengaruhi sikap dan perilaku mereka sendiri, demikian pula sikap orang lain terhadap mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas-tugas dalam perkembangan mempunyai tiga macam tujuan yang sangat berguna. Pertama, sebagai penunjuk bagi individu untuk mengetahui apa yang diharapkan masyarakat dari mereka pada usia-usia tertentu. Kedua, dalam memberi motivasi kepada setiap individu untuk melakukan apa yang diharapkan dari mereka oleh kelompok sosial pada usia tertentu sepanjang kehidupan mereka. Dan akhirnya, menunjukkan kepada setiap individu tentang apa yang mereka hadapi dan tindakan apa yang diharapkan dari mereka kalau sampai pada tingkat perkembangan berikutnya. (Hurlock, 1991:9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert Y. Havighurst dalam bukunya Human Development and Education menyebutkan sepuluh tugas perkembangan remaja, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mencapai hubungan sosial yang lebih matang dengan teman-teman sebayanya, baik dengan teman-teman sejenis maupun jenis kelamin lain.&lt;br /&gt;2. Dapat menjalankan peranan-peranan sosial menurut jenis kelamin masing-masing.&lt;br /&gt;3. Menerima kenyataan (realitas) jasmaniah serta menggunakannya seefektif-efektifnya dengan perasaan puas.&lt;br /&gt;4. Mencapai kebebasan emosional dari orang tua atau orang dewasa lainnya.&lt;br /&gt;5. Mencapai kebebasan ekonomi. Ia merasa sanggup untuk hidup berdasarkan usaha sendiri.&lt;br /&gt;6. Memilih dan mempersiapkan diri untuk pekerjaan atau jabatan.&lt;br /&gt;7. Mempersiapkan diri untuk melakukan perkawinan dan hidup berumah tangga.&lt;br /&gt;8. Mengembangkan kecakapan intelektual serta konsep-konsep yang diperlukan untuk kepentingan hidup bermasyarakat.&lt;br /&gt;9. Memperlihatkan tingkah laku yang secara sosial dapat dipertanggung jawabkan.&lt;br /&gt;10. Memperoleh sejumlah norma-norma sebagai pedoman-pedoman dalam tindakan-tindakannya dan sebagai pandangan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas perkembangan remaja juga sangat terkait dengan ciri-ciri remaja yang khas. Menurut Soerjono Soekanto dalam bukunya Remaja dan Pola Rekreasinya, para remaja mempunyai ciri-ciri tertentu, baik yang bersifat spirirual maupun badaniah, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Perkembangan fisik yang pesat.&lt;br /&gt;2.Keinginan yang kuat untuk mengadakan interaksi sosial dengan kalangan yang lebih  dewasa atau yang dianggap lebih matang pribadinya. Kadang-kadang diharapkan bahwa interaksi sosial itu mengakibatkan masyarakat menganggap remaja sudah dewasa.&lt;br /&gt;3.Keinginan yang kuat untuk mendapatkan kepercayaan dari kalangan dewasa.&lt;br /&gt;4.Mulai memikirkan kehidupan secara mandiri, baik secara sosial, ekonomis, maupun politis, dengan mengutamakan kebebasan dari pengawasan yang terlalu ketat oleh orang tua atau sekolah.&lt;br /&gt;5.Adanya perkembangan tahap intelektualitas untuk mendapatkan identitas diri.&lt;br /&gt;6.Menginginkan sistem kaidah dan nilai yang serasi dengan kebutuhan atau keinginannya, yang tidak selalu sama dengan sistem kaidah dan nilai yang dianut oleh orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari deskripsi ciri-ciri si atas terlihat bahwa semua ciri-ciri remaja juga terdapat dalam tugas perkembangan. Jadi dapat disimpulkan tugas perkembangan sosial remaja merupakan sesuatu yang khas (ciri-ciri) pada diri remaja dan harus dipahami kekhasannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M.S.Mitchel Vinco&lt;br /&gt;(Dalam Kuliah Psikologi Remaja)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-6945316194675320093?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/6945316194675320093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=6945316194675320093&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/6945316194675320093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/6945316194675320093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2010/04/tugas-perkembangan-sosial-remaja-awal.html' title='Perkembangan Sosial Remaja Awal (Sebuah Pembandingan Teori-Teori Psikologi)'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-5217105227593634291</id><published>2010-02-16T23:03:00.002+07:00</published><updated>2010-04-22T23:48:01.943+07:00</updated><title type='text'>American  Dreams: Ketika Amerika Serikat Bermimpi (Bagian II)</title><content type='html'>(Sambungan dari artikel American Dreams:...(Bagian I)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Wilson, Perang Dunia I hingga New Deal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 22 Januari 1917 pemerintah Jerman mengumumkan perang kapal selam tak terbatas akan dilanjutkan kembali. Ketika lima kapal Amerika tenggelam di bulan April, Wilson langsung meminta konggres untuk menyatakan perang. Segera saja pemerintah memobilisasi kekuatan militer, industri, tenaga kerja dan pertanian. Di bulan Oktober 1918 sebanyak 1.750.000 tentara Amerika disebar ke Perancis.&lt;br /&gt;Presiden Wilson berperan besar membuat perang berakhir lebih cepat dengan mendefinisikan tujuan perang sekutu. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Empat belas pokok pikiran Wilson yang terkenal diserahkan kepada senat pada bulan Januari 1918. Empat belas pokok pikiran ini menjadi sendi utama perjanjian perdamaian yang digagas Wilson – pembentukan sebuah asosiasi bangsa-bangsa yang mengupayakan “jaminan bersama terhadap kemerdekaan politik dan keutuhan wilayah untuk semua negara, baik yang besar maupun kecil”&lt;br /&gt;Pada akhirnya hanya sedikit yang tersisa dari usulan Wilson bagi perdamaian abadi kecuali Liga Bangsa bangsa itu sendiri dan sang Presiden harus menanggung ironi terakhir dengan melihat bangsanya sendiri secara angkuh menolak keanggotaan di Liga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan oktober 1929 pasar saham hancur dan 40 persen nilai saham hilang. Inti masalah adalah perbedaan yang besar antara kapasitas produksi Negara dan kemakmuran rakyat untuk mengkonsumsinya. Penemuan-penemuan besar teknik produksi selama dan setelah perang meningkatkan hasil produksi industri di atas daya beli petani dan pekerja rendah di Amerika. Simpanan orang-orang kaya dan kelas menengah sudah sedemikian banyak dan tidak hanya sekedar main aman lagi, kekayaan orang-orang kaya dan kelas menengah dialihkan kepada spekulasi gila-gilaan di saham atau real estat. Karena jatuhnya pasar saham hanyalah struktur spekulasi yang lemah dan ambruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1933, presiden baru Franklin Roosevelt mendatangkan rasa percaya diri dan optimisme. Hal ini dengan cepat menggalang rakyat untuk mendukung programnya yang dikenal dengan nama New Deal  (janji baru). Dalam pelantikannya  Roosevelt mengatakan “Satu-satunya yang harus ditakuti adalah ketakutan kita sendiri”. Prinsi New Deal ini adalah meninggalkan ekonomi bebas atau liberal dan beralih ke sistem perekonomian terpimpin oleh untuk mengatur dan kekacauan ekonomi. &lt;b&gt;Program New Deal&lt;/b&gt; meliputi 3R yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Relief : ditujukan untuk golongan bawah. Prinsipnya untuk membantu orang yang sedang menderita agar tetap bisa bertahan hidup. Realisasinya antara lain melalui program padat karya, dimana rakyat dilibatkan dalam pembangunan Tennessee, Vailly Autorty.&lt;br /&gt;2. Recovery : merupakan program mendorong industri ketingkat semula. Realisasinya &lt;br /&gt;a. Pemerintah memberikan pinjaman agar perusahaan tidak tutup dan dapat menyerap tenaga kerja. &lt;br /&gt;b. Menaikan harga dalam negeri, diadakannya devaliasi agar rakyat dapat menjangkau harga barang, diluar negeri dijaga harganya agar tidak anjlok. &lt;br /&gt;c. Dikeluarkannya $ 2 juta dollar untuk menstabilkan harga. &lt;br /&gt;3. Reform : merupakan perbaikan dalam sistem dimana pemerintah mengeluarkan  uu jaminan sosial, realisasinya, emperhatikan usia pension, memberikan jaminan hari tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bukti-bukti keberhasilan program New Deal : &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. mengurangi jumlah pengangguran dengan cara membuat proyek-proyek menyerap tenaga kerja. &lt;br /&gt;2. harga barang dinaikan agar perusahaan-perusahaan tidak tutup dan memberikan pekerjaan bagi orang lain. &lt;br /&gt;3. menyusun UU untuk menjamin buruh, dengan menentukan upah minimum, menentukan 40 jam sebagi maksimum jam kerja seminggu, majikan harus mengakui dan menerima wakil-wakil buruh.  &lt;br /&gt;Meskipun New Deal berhasil dalam program-programnya untuk mengatasi depresi hebat di Amerika walupun New Deal mendapatkan kritikan tentang program-program dari New Deal tersebut. Namun presiden Roosevelt bersikeras bahwa langkah-langkahnya untuk menyehatkan ekonomi Amerika akan memperkuat kemerdekaan dan demokrasi. Sehingga program-program dari Roosevelt menjadi mimpi Amerika. Dalam pidatonya di radio pada tahun 1938, Roosevelt mengingatkan rakyat Amerika bahwa: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demokrasi telah lenyap di sejumlah Negara besar, bukan karena orang-orang di sana benci demokrasi, tetapi karena mereka bosan dengan tingkat pengangguran dan tiada jaminan, bosan melihat anak-anak mereka kelaparan, sementara mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena pemerintah mereka kebingungan dan karena lemah salam memimpin...  akhirnya di tengah kepitus asaan, mereka memilih untuk mengorbankan kemerdekaan mereka demi mendapatkan makanan. Kita di Amerika tahu betul bahwa institusi demokrasi kita bisa dijaga dan berhasil. Namun untuk menjaganya kita perlu…membuktikan bahwa langkah praktis pemerintah yang demokratis setara dengan tugas untuk melndungi keamanan rakyat…rakyat Amerika semua sepakat menjaga kemerdekaan, apapun resikonya, dan langkah pertama pertahanan itu terletak pada perlindungan keamanan ekonomi” &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;D. Contemporer Dreams&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Masa yang disebut Contemporer Dreams, ingin dibatasi menyangkut mulainya Amerika Serikat memasuki dan konsentrasi pada politik luar negeri. Sekaligus juag memberi batasan jelas antara past dream, yang orientasinya adalah America for American. Dimasa contemporer ini didorong oleh American Dreams yang berbunyi: “cahaya untuk negara-negara”. Maka Amerika Serikat aktif memasuki kancah pertarungan dunia internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perang Dunia II dan Four Freedom&lt;br /&gt;Sebelum Roosevelt terpilih menjadi presiden untuk kedua kalinya, program barunya tertutup oleh bahaya baru yang tidak disadari oleh rakyat Amerika. Ekspansi rezim totaliter Jepang, Italia dan Jerman tahun 1931.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Jepang, Jerman dan Italia melakukan agresi secara besar-besaran rakyat Amerika cemas terkena sentiment menutup diri. Amerika masih kecewa dengan kegagalan perjuagan demokrasi di perang dunia I., mengumumkan bahwa Negara-negara yang terlibat dalam konflik tidak bisa meminta bantuan. Tujuannya ialah mencegah apapun caranya, keterlibatan Amerika dalam perang yang bukan perang Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentimen mengisolasi diri Amerika mekin menguat ketika Nazi menyerang Polandia tahun 1939 dan perang dunia II pecah, sekalipun rakyat Amerika sama sekali tidak netral tentang peristiwa tersebut. Sentimen publik jelas tertuju kepada korban agresi militer Hitler dan mendukung kekuatan sekutu yang menentang ekspansi Jerman. Sikap menjauhkan Amerika dari keterlibatan perang akhirnya atal sesudah Jepang menyerang pangkalan militernya di Pearl Harbour pada tanggal 7 Desember 1941. bersama inggris dan Negara sekutu lainya, menggalang kekuatan untuk menghancurkan kekuatan fascist. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1940 Franklin. D. Roosevelt terpilih menjadi presiden Amerika ke tiga. Secara terang-terangan ia memusuhi facist dalam perang dunia II serta menjalankan kontrak bersama sekutu. Pada tanggal 14 Agustus 1941 bersama mentri inggris Winston Churchill, ia menulis deklarasi 8 pasal sebagai program perdamaian yang lebih dikenal dengan piagam Atlantik. Dalam program ini dicantumkan hak rakyat menentukan nasib sendiri, jaminan perdamaian serta bebas dari kemelaratan dan ketakutan. Program ini disebut “The Four Freedom”  yang disampaikan oleh Franklin. D. Roosevelt. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang mendasar yang diharapkan rakyat dari sistem ekonomi dan politik mereka yaitu : &lt;br /&gt;1. Kebebasan berbicara dan berpendapat di mana pun di dunia&lt;br /&gt;2. Kebebasan setiap orang untuk beribadat kepada Allah dengan caranya sendiri di mana pun di dunia.&lt;br /&gt;3. Bebas dari kekurangan, yang, kalau diterjemahkan dalam istilah yang lebih umum, berarti berkaitan dengan pengertian ekonomi yang akan menjamin bahwa setiap negara mempunyai kehidupan masa damai yang sehat bagi rakyatnya di mana pun di dunia&lt;br /&gt;4. Bebas dari rasa takut - yang, kalau diterjemahkan dalam peristilahan umum, berarti pengurangan persenjataan di seluruh dunia sampai ke suatu tingkat tertentu dan dengan cara yang seksama sehingga tidak ada suatu bangsa yang sanggup melakukan tindakan agresif fisik terhadap negara tetangganya di mana pun di dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perang Dingin&lt;br /&gt;Pada masa ini Amerika lebih berorientasi kepada poitik luar negeri Amerika. Setelah perang dunia II Amerika mendominasi masalah-masalah global selama bertahun-tahun. Para pemimpin Amerika ingin mempertahankan struktur demokrasi yang telah mereka bela dengan dengan penuh pengorbanan dan membagi kemakmuran seluas mungkin. Masyarakat Amerika mendukung peningkatan kewenangan pemerintah dan menerima rancangan Negara yang sejahtera, menciptakan tingkat kekayaan baru di Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perang dunia II, Uni Soviet dan Amerika terjadi permusuhan akibat dari adanya perbedaan pandangan tentang ideologi antar kedua Negara tersebut, sehingga pertentangan antara kedua Negara tersebut disebut juga dengan perang dingin. Amerika berharap bisa menciptakan stabilitas agar rekonstruksi damai bisa dilaksanakan. Amerika menempatkan posisinya sebagai pendukung utama peradagangan bebas dan ingin menghapus hambatan perdagan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerika juga menciptakan pasar bagi pertanian dan industri Amerika. Pengurangan hambatan dagang dapat diyakini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi baik dalam maupun luar negri, serta mendukung stabilitas sekutu Amerika, dengan kata lain Amerika berusaha meyakinkan Eropa untuk bangkit dari depresi hebat (1929-1940) Amerika mendukung eropa dengan cara melakukan eksport agar perumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi di Eropa cepat pulih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uni Soviet mempuyai agenda sendiri. Tradisi lama Rusia akan pemerintahan yang terpusat dan otokrasi berlawanan dengan penekanan America yang demokrasi. Setelah membaliknya ancaman Hitler, Uni Soviet bertekad untuk bangkit. Dan kini Uni Soviet menuntut danya tapal batas yang dapat dipertahankan dan rezim yang bersimpati dengan cita-cita mereka di eropa timur. Namun Amerika telah menyatakan pemulihan kemerdekaan dan pemerintahan sendiri di polandia, cekoslowakia, dan Negara-negara lain di eropa tengah dan timur sebagai salah satu tujuan perang mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Amerika membuat peryataan yang dikenal dengan doktrin Truman, ia menyatakan “ Saya percaya bahwa harus menjadi kebijakan Amerika untuk membantu rakyat merdeka yang menentang penindasan yang dilakukan oleh kaum minoritas bersenjata atau oleh pihak asing”. Akibat peryataanya mengakibatkan gelombang anti komunis diseluruh penjuru negeri. Berdasarkan asumsi bahwa “Uni Soviet berusaha keras untuk mengambil alih pemerintahan dimana saja yang memungkinkan”. dokumen tersebut mengikat Amerika untuk membantu sekutu di manapun di dunia yang terancam ancaman Soviet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Kemunculan budaya tandingan hingga Amerika Serikat menjadi polisi dunia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerika telah melewati berbagai peperangan seperti: Perang Saudara, Perang Dunia I dan II. Kini dalam masa perang Dingin secara otomatis kancah perseteruan dilakukan di luar negeri. Di dalam negeri sendiri ternyata terjadi kejenuhan. Saat itulah muncul berbagai aliran tanda-tanda yang tampak dari budaya tandingan muncul di masyarakat Amerika pada akhir tahun 1960-1970-an. Rambut panjang dan jenggot tebal menjadi lazim. Jins biru dan kaos oblong menggantikan kemeja, jas dan dasi. Pemakaian obat-obatan terlarang meningkat dalam usaha untuk membebaskan pikiran dari tekanan-tekanan masa lalu. Musik Rock And Roll berkembang dalam berbagai fariasi. Hard rock menjadi poluler dan lagu-lagu berisi kritik poltik atau sosial menjadi umum. Budaya tandingan kaum muda mencapai puncaknya pada bulan agustus 1969 di woodstock. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi yang mendorong gerakan sipil dan menjadi katalisator budaya tandingan memancing gerakan lingkungan hidup pada pertengahan 1960-an. Gerakan ini banyak muncul setelah terbit buku karya Rachel Carson tahun 1962 berjudul Silent Spring, yang menunjukan banyaknya penggunaan pestisida kimia. Keprihatinan masyarakat terhadap lingkungan terus meningkat sekitar tahun 1960-an dengan banyaknya orang sadar akan polutan mengepung mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 22 April 1970 seluruh Amerika merayakan hari bumi. Namun banyak yang menolak usulan untuk membersihkan udaar dan air negara ini. Solusi tersebut akan memakan biaya yang besar. Pada tahun 1970 konggres mengajukan amandemen Undang-Undang udara bersih tahun 1967 untuk mengembangkan penyeragaman standart kualitas udara. Tahun 1970 lembaga perlindungan lingkungan hidup dibentuk sebagai agen federal independen untuk pengendalian pencemaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1991 menjadi akhir dari pearng dingin. Ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet. Apa yang akan dilakukan Amerika? Masih adakah mimpinya? Amerika kemudian menjadi ”tanpa tanding”. Pada paruh pertama tahun 1990-an Amerika mulai menjadi polisi dunia. Hal itu tampak pada campur tangannya terhadap urusan dalam negri negara lain. Amerika Serikat ingin memperluas paham demokrasi-liberalnya yang dianggap sebagai pajam terbaik bagi seluruh negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun sejarah panjang Amerika, ternyata Amerika Serikat tetap menjadi impian kebebasan bagi setiap orang. Apapun bisa dilakukan di Amerika. Tidak mengherankan Amerika banyak menampung para imigran, yang legal maupun yang datang secara ilegal. Semuanya mempunyai mimpi, American Dreams: The right to life, liberty and the pursuit of happiness. Apakah semua mimpi itu tercapai? Perjalanan sejarahlah yang dapat membuktikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M.S. Mitchel Vinco&lt;br /&gt;(saat kuliah Sejarah Amerika)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-5217105227593634291?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/5217105227593634291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=5217105227593634291&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/5217105227593634291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/5217105227593634291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2010/02/american-dreams-ketika-orang-amerika.html' title='American  Dreams: Ketika Amerika Serikat Bermimpi (Bagian II)'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-6854899255771484484</id><published>2010-01-23T16:44:00.005+07:00</published><updated>2010-04-22T22:45:05.088+07:00</updated><title type='text'>American  Dreams: Ketika Amerika Serikat Bermimpi (Bagian I)</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	mso-ansi-language:EN-US;	mso-fareast-language:EN-US;}a:link, span.MsoHyperlink	{mso-style-priority:99;	mso-style-unhide:no;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	color:blue;	text-decoration:underline;	text-underline:single;}a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed	{mso-style-noshow:yes;	mso-style-priority:99;	color:purple;	mso-themecolor:followedhyperlink;	text-decoration:underline;	text-underline:single;}em	{mso-style-priority:99;	mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}p	{mso-style-priority:99;	mso-style-unhide:no;	mso-margin-top-alt:auto;	margin-right:0cm;	mso-margin-bottom-alt:auto;	margin-left:0cm;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";	mso-ansi-language:EN-GB;	mso-fareast-language:EN-GB;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	text-align:justify;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0	{mso-list-id:1054233802;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-872137564 545264094 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}@list l0:level1	{mso-level-number-format:alpha-lower;	mso-level-text:"%1\)";	mso-level-tab-stop:42.0pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:42.0pt;	text-indent:-18.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l0:level2	{mso-level-number-format:alpha-lower;	mso-level-tab-stop:78.0pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:78.0pt;	text-indent:-18.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l0:level3	{mso-level-number-format:roman-lower;	mso-level-tab-stop:114.0pt;	mso-level-number-position:right;	margin-left:114.0pt;	text-indent:-9.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l0:level4	{mso-level-tab-stop:150.0pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:150.0pt;	text-indent:-18.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l0:level5	{mso-level-number-format:alpha-lower;	mso-level-tab-stop:186.0pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:186.0pt;	text-indent:-18.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l0:level6	{mso-level-number-format:roman-lower;	mso-level-tab-stop:222.0pt;	mso-level-number-position:right;	margin-left:222.0pt;	text-indent:-9.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l0:level7	{mso-level-tab-stop:258.0pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:258.0pt;	text-indent:-18.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l0:level8	{mso-level-number-format:alpha-lower;	mso-level-tab-stop:294.0pt;	mso-level-number-position:left;	margin-left:294.0pt;	text-indent:-18.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l0:level9	{mso-level-number-format:roman-lower;	mso-level-tab-stop:330.0pt;	mso-level-number-position:right;	margin-left:330.0pt;	text-indent:-9.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l1	{mso-list-id:2003308527;	mso-list-type:hybrid;	mso-list-template-ids:-772139180 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}@list l1:level1	{mso-level-tab-stop:36.0pt;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-18.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l1:level2	{mso-level-number-format:alpha-lower;	mso-level-tab-stop:72.0pt;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-18.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l1:level3	{mso-level-number-format:roman-lower;	mso-level-tab-stop:108.0pt;	mso-level-number-position:right;	text-indent:-9.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l1:level4	{mso-level-tab-stop:144.0pt;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-18.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l1:level5	{mso-level-number-format:alpha-lower;	mso-level-tab-stop:180.0pt;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-18.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l1:level6	{mso-level-number-format:roman-lower;	mso-level-tab-stop:216.0pt;	mso-level-number-position:right;	text-indent:-9.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l1:level7	{mso-level-tab-stop:252.0pt;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-18.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l1:level8	{mso-level-number-format:alpha-lower;	mso-level-tab-stop:288.0pt;	mso-level-number-position:left;	text-indent:-18.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l1:level9	{mso-level-number-format:roman-lower;	mso-level-tab-stop:324.0pt;	mso-level-number-position:right;	text-indent:-9.0pt;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}ol	{margin-bottom:0cm;}ul	{margin-bottom:0cm;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pada abad 21 sekarang ini, siapa yang tidak mengenal Amerika Serikat atau United State of America (USA)? Bahkan saat ini menjadi lazim, pemuda-pemudi dari seantero negeri menjalankan budayanya dengan kiblat ke Amerika bagian Utara tersebut. Lihat saja MTV (Music Television) yang sangat digemari anak muda Indonesia, atau acara lain seperti American Idol, Fear Factor dan acara dari negara Paman Sam tersebut. Jika ingin ditelaah, gaya busana casual atau santai seperti celana jeans dan kaos oblong merupakan gaya asli Amerika Serikat, yang berkembang di sekitar tahun 1960-1970. Apa yang tidak ”Amerika” saat ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Di satu sisi di negara yang mengakui penjunjung HAM ini juga terjadi beberapa peristiwa yang memilukan, gambaran sebuah kebebasan yang kebablasan. Masih hangat dalam memori kita peristiwa tewasnya mahasiswa program doktoral teknik sipil Universitas Virginia asal Indonesia, Partahi Lumbantoruan, 34 tahun di Virginia, USA. Sang penembak, Cho Seung-Hui adalah orang Korea, namun lahir dan beasr di Amerika Serikat. Betapa Kedigdayaan Amerika pun ada celahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	text-align:justify;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	text-align:justify;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;lt;span class="fullpost"&amp;gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;  &lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Amerika Serikat memang harus diakui telah menjadi salah satu ”raksasa” dunia dalam berbagai bidang. Dalam bidang ekonomi, negeri yang menganut sistem kapitalisme ini, sudah memiliki pasar di berbagai belahan dunia. Dalam bidang pertahanan/militer, sudah tidak perlu diragukan lagi, sejarah mencatat bahwa Amerika Serikat adalah jagoannya dari kecanggihan teknologi militer dan pasukan militer khususnya. Dalam bidang sosial, Amerika Serikat merupakan negara yang sangat makmur dan sejahtera, jaminan sosialnya jelas diatur hukum dan mendapat priorotas utama, demikian pula dengan pendidikan dan kesehatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Meskipun demikian, sebagai sebuah negara bangsa, Amerika memiliki perjalanan sejarah yang sangat panjang dan cukup menarik. Bila dalam pengertian kesadaran sejarah, bahwa apa yang terjadi saat ini merupakan hasil dari masa lalu dan akan membentuk masa depan. Maka, perubahan yang sejati mengandaikan adanya sesuatu yang tetap sama, yang dapat dipakai sebagai tolak ukur untuk mengukur perubahan. Dengan demikian dapat dipastikan, Amerika Serikat bila dikaji secara historis akan tampak nilai-nilai sejati dari bangsa ini. Nilai-nilai yang disatu saat menjadi mimpi atau angan-angan, tetapi di satu sisi mampu menjadi arah dan kompas dalam perjalanan Amerika Serikat. American Dreams demikianlah nilai-nilai tersebut dikenal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mengapa dreams? Mengapa bermimpi? Tidak jelas mengapa digunakan kata dreams. Namun, menurut kami hal tersebut merupakan ungkapan romantisme, agar mimpi tersebut dapat selalu dihayati dan selalu dikejar. Mimpi bukanlah sekedar ”bunga tidur” saja. Mimpi adalah tujuan, keinginan tertinggi setiap individu, dalam hal Amerika Serikat adalah mimpi sebuah bangsa. Bukankah “sesuatu yang mungkin merupakan sesuatu yang tidak mungkin&amp;nbsp; tapi belum terwujudkan”. Dan “ Masa depan adalah milik mereka yang percaya keindahan mimpinya “.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;American Dreams mewarnai perjalanan sejarah Amerika Serikat hingga saat ini. Ketika masih menjadi koloni, perang kemerdekaan, perang dunia hingga Amerika Serikat menjadi polisi dunia. Walaupun dibatasi dengan batasan waktu yang panjang, American Dreams tetap menjadi mimpi rakyat Amerika Serikat. Mungkin hal tersebut yang membuat Amerika Serikat sebagai sebuah negara menjadi begitu kokoh pendiriannya. Apakah Indonesia harus mencoba untuk merumuskan mimpinya? Mimpi yang dihayati dan didambakan setiap insan dari penghuni Zamrud Khatulistiwa. Harus diakui, angan-angan tentang Indonesia yang ideal saat ini semakin sirna, ada yang melupakan, ada yang masih memegang teguh, ada pula yang ”amnesia”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; line-height: 150%;"&gt;A. Pengertian American Dreams&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Tidak banyak literatur yang memberi definisi American Dreams secara ilmiah. Namun, dalam wacana umum, American Dreams memang adanya. Setidaknya itulah yang tertulis di surat kabar cetak maupun elektronik. Pada kajian budaya juga tersirat apa itu American Dreams. Perlu dicatat memang tidak secara tersurat terdapat definisi American Dreams. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Demikianlah yang dapat ditemukan mengenai definisi American Dreams: &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=American_Dream&amp;amp;action=edit" title="American Dream"&gt;American Dream&lt;/a&gt;, atau "mimpi orang Amerika" (dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia, &lt;i&gt;dream&lt;/i&gt; berarti bermimpi) dalam bahasa Indonesia, adalah sebuah kepercayaan, yang dipercayai oleh banyak orang di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat" title="Amerika Serikat"&gt;Amerika Serikat&lt;/a&gt;. Mereka percaya, melalui kerja keras, pengorbanan, dan kebulatan tekad, tanpa memperdulikan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Status_sosial&amp;amp;action=edit" title="Status sosial"&gt;status sosial&lt;/a&gt;, seseorang dapat mendapatkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mobilitas_sosial" title="Mobilitas sosial"&gt;kehidupan yang lebih baik&lt;/a&gt;. Gagasan ini berakar dari sebuah keyakinan bahwa Amerika Serikat adalah sebuah "&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kota_di_atas_bukit&amp;amp;action=edit" title="Kota di atas bukit"&gt;kota di atas bukit&lt;/a&gt;" (atau &lt;i&gt;city upon a hill"&lt;/i&gt;), "cahaya untuk negara-negara" (&lt;i&gt;"a light unto the nations"&lt;/i&gt;), yang memiliki nilai dan kekayaan yang telah ada sejak kedatangan para penjelajah Eropa sampai generasi berikutnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Prinsip dasar berkebangsaan Amerika adalah ”&lt;i&gt;The right to life, liberty and the pursuit of happiness&lt;/i&gt;”. ”&lt;i&gt;Life, liberty, and happiness&lt;/i&gt;” itulah tujuan buat apa Amerika didirikan. Untuk mencapai mimpi itu, seorang Amerika harus memiliki ”otonomi” (individual autonomy), kebebasan individual yang besar sehingga ia mampu bersaing di masyarakat. &lt;span lang="SV"&gt;Dengan cara begitu, ia akan merasa aman dalam mengarungi kehidupan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pandangan berbeda tentang American Dreams diberikan sebagai berikut: “The American dream&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV"&gt; dengan segala materialisme, konsumtifisme, hedonisme, dan liberalisme-nya telah membius banyak orang, dan memicu terjadinya gelombang kaum imigran. Sebagian berhasil meraih impian itu, sebagian tidak.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 53.85pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kiranya beberapa pandangan di atas harus digunakan pada waktu yang tepat. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Pada pembahasan ini akan dibahas American Dreams yang terdiri dari: past dream, nation dream dan contemporer dream. Past berasal dari bahasa Inggris yang berarti: telah lalu; telah lampau; dahulu; lalu. Past dream dapat berarti mimpi tentang masa lalu, dalam hal ini berarti mimpi orang-orang Amerika Serikat di masa lalu. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Periodenya dapat disepakati sejak masa kolonisasi hingga awal Perang Dunia ke-2. Mengapa mengambil periode tersebut? Menurut kami periode sekitar abad 18 hingga akhir paruh abad ke 20 merupakan periode khas, yang mempunyai kesamaan dalam perjalanannya, namun berbeda dengan periode dewasa ini atau contemporer. Bagaimana persamaan dan perbedaannya?akan dibahas selanjutnya. Sebelumnya baiklah disepakati pula mengenai contemporer dream. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 53.85pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Contemporer berasal dari kata contemporary yang berarti: sewaktu; yang hidup dalam waktu yang sama. Contemporer dream dalam Americans dreams berarti mimpi tentang masa sekarang ini, atau mimpi orang-orang Amerika Serikat pada kurun waktu di ”dekat” mereka hidup. Periodenya bila mengikuti arti contemporer dapat disepakati paruh kedua abad 20 hingga sekarang. Berarti sekaligus juga dapat disambungkan dengan periode past dream yang berakhir pada akhir paruh pertama abad 20. Peristiwa terkait pada masa contemporer adalah Perang Dunia II, Perang Dingin, hingga Amerika Serikat saat ini yang menjadi negara adi daya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; line-height: 150%;"&gt;B. Past Dreams dan Nation Dreams&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Masa antara kolonisasi di Amerika Utara hingga Perang Dunia I, dapat ditarik benang merah, yaitu: usaha Amerika Serikat untuk menyelesaikan masalah-masalah di dalam negeri. Bagaimana perjalanan bangsa Amerika dalam mengatasi masalah-masalah dalam negerinya? Bagaimanakah wujud dari American Dreams dalam kurun waktu tersebut?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Masa Kolonisasi hingga Independent of America 1776&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Awal tahun 1600-an terjadi gelombang besar perpindahan dari Eropa ke Amerika utara, selama lebih dari tiga abad, gerakan perpindahan yang tadinya beratus-ratus menjadi berjuta-juta pendatang baru. Kemudian pada abad ke-17 terbentuklah sejumlah koloni di Amerika Utara, kolonisasi tersebut berawal dari keinginan sejumlah serikat dagang untuk menanamkan modal di Amerika Utara. Keinginan itu didukung oleh parlemen Inggris berupa wewenang kepada serikat dagang untuk menanamkan modal dan mendirikan koloni di Amerika. Adapun mimpi yang ingin dicapai yaitu mencari kehidupan yang lebih baik dari asal sebelumnya dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial budaya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Realisasi mimpi yang dicapai didalam kehidupan koloni :&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 42pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;a)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Ekonomi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Sebagian besar tanah pertanian di Irlandia ditanami kentang sebagai makanan pokok. Namun pada tahun 1830-an terjadi gagal panen yang sangat besar sehingga terjadi kelaparan. Orang-orang Irlandia banyak yang meninggal karena terserang penyakit epidermis, sebagian yang hidup memilih meninggalkan negeri mereka dan pindah ke Amerika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 42pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;b)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Agama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;.Pergolakan-pergolakan keagamaan terjadi di Inggris pada abad ke-16 dan ke-17, sekelompom pria dan wanita yang dinamakan kaum puritan berusaha merombak gereja dari dalam. Mereka ingin menuntut protestanisasi yang lebih menyeluruh terhadap bentuk ibadah agar menjadi lebih sederhana. Pemberontakan bermotif agama yang menjadi klimaks terjadi pada tahun 1641. beribu orang protestan dibantai dalam peristiwa tersebut. Kemudian pda masa pemerintahan Cromwel, beribu orang katolik Irlandia dibunuh. Siapa yang berkuasa berhak menentukan hidup dan mati seseorang yang menganut agama tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 42pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;c)&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Meskipun secara hukum orang-orang Irlandia bebas, namun mereka hidup seperti dalam keadaan terjajah di negerinya sendiri. Penguasa Inggris mengendalikan kehidupan politik mereka, dan para pendatang Inggris mendominasi perekonomian agraris setelah merampas semua tanah dan kemudian disewakan kepada petani Irlandia. Pada abad ke-18, kekuasaan orang-orang Inggris telah terlampau besar, mereka berkuasa untuk menjatuhkan hukuman kepada para petani yang melakukan perlawanan. Bahkan mereka berhak mengambil istri atau anak gadis petani untuk menemani mereka tidur.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Dengan demikian banyak emigran dari Eropa meninggalkan tanah air mereka karena melarikan diri dari penindasan politik, demi mencari kemerdekaan menjalankan ibadah atau untuk petualangan dan peruntungan yang lebih baik. Inilah &lt;b&gt;American Dreams saat tumbuhnya koloni di Amerika Utara, yang menjadi cikal bakal Amerika Serikat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;###&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Pemerintah Inggris membutuhkan lebih banyak uang guna memelihara imperium yang semakin bertumbuh. Maka pemerintah inggris menginginkan koloni-koloni&amp;nbsp; untuk membayar pajak. Pada tahun 1964 dikeluarkan undang- undang gula yang bertujuan untuk meningkatan pendapatan serta mengatur perdagangan. Dalam tahun yang sama parlemen juga mengesahkan undang- undang mata uang&amp;nbsp; untuk mencegah agar surat – surat kredit yang dikeluarkan tidak dijadikan alat pembayaran yang sah. Berhubung koloni-koloni yang merupakan daerah perdagangan yang defisit dan selalu kekurangan “uang keras,” peraturan itu menambahkan beban yang berat pada perekonomian koloni. Yang juga tak bisa diterima dari segi perdagangan ekonomi, adalah undang-undang Uang Kertas yang dikeluarkan pada tahun 1765 mengharuskan koloni-koloni menyediakan perumahan serta persediaan bagi pasukan-pasukan kerajaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Kemudian perang berlanjut dan pada akhirnya pihak koloni memperoleh kemenangan dan kemerdekaan. Deklarasi kemerdekaan pun segera diresmikan pada tanggal 4 Juli 1776 yang merupakan kelahiran sebuah negara baru dan kemudian akan menjadi kekuatan yang dinamis di seluruh dunia barat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;Apakah mimpi Amerika atau &lt;b&gt;American Dreams pada masa perang kemerdekaan&lt;/b&gt; tersebut? Kiranya dapat dilihat dari isi Declaration of Independence : &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;“Kita anggap kebenaran-kebenaran ini hakiki adanya, ialah bahwa semua manusia diciptakan sederajat, bahwa oleh sang pencipta mereka dikaruniai hak-hak tertentu yang tak dapat dicabut, bahwa diantaranya adalah kehidupan, kemerdekaan, dan usaha mencari kebahagiaan. Bahwa untuk menjamin hak-hak ini, didirikan pemerintah diantara rakyat, dengan kekuasaannya yang adil yang diperoleh atas izin mereka yang diperintah; bahwa manakala bentuk pemerintahan yang bagaimanapun menjadi merusak bagi tujuan-tujuan ini, maka hak rakyat untuk mengubah atau menghapuskannya, dan untuk mendirikan suatu pemerintahan yang baru, yang dibangin atas dasar prinsip-prinsip sedemikian, dan kekuasaannya disusun dalam bentuk sedemikian, yang bagi mereka nampak paling mungkin mendatangkan keamanan dan kebahagiaan.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dari Doktrin Monroe hingga Perang Saudara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pada bulan Desember 1823 setelah mengetahui bahwa angkatan laut Inggris akan membela Amerika latin dari Persekutuan Suci dan Perancis. Presiden Monroe menggunakan kesempatannya pidato tahunannya ke konggres untuk menyatakan apa yang dikenal sebagai Doctrin Monroe, penolakam untuk mentolerir perluasan lebih lanjut dominasi Eropa di Amerika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tanah Amerika… mulai sekarang tidak boleh lagi dijadikan ajang kolonisasi oleh negara-negara Eropa. Kita harus menganggap setiap usaha mereka memperluas sistem politik di bagian manapun di benua ini sebagai bahaya bagi kedamaian dan keselamatan kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;”Terhadap setiap koloni atau tanah jajahan penguasa Eropa yang ada, kita tidak dan tidak akan ikut campur. Tetapi pemerintah yang telah menyatakan kemerdekaan mereka dan mempertahankannya, serta yang kemerdekaannya kita … akui, langkah negara Eropa manapun yang bertujuan menindas, atau yang mengatur nasib mereka dengan cara yang lain, tidak bisa kita lihat dengan cara lain kecuali sebagai pernyataan permusuhan terhadap Amerika”. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Doctrin Monroe ini menyatakan semangat solidaritas dengan republik Amerika latin yang baru merdeka. Bangsa-bangsa ini pada gilirannya menghormati ikatan politik mereka dengan Amerika Serikat dengan melandaskan konstitusi baru mereka, dalam banyak hal, pada model Amerika Utara. Bangsa Amerika Serikat, semakin menegaskan cirnya yang liberal, bebas tidak terikat. Inilah &lt;b&gt;American Dreams pada masa Monroe&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pada tahun1786, George Washington menulis bahwa ia sepenuh hati menginginkan adannya rancangan agar perbudakan bisa diakhiri dengan cara yang tak tergesa-gesa, pasti, dan tak menimbulkan guncangan. Jefferson, Madison dan Monroe, semuanya dari Virginia menyatakan hal yang serupa. Namun harapan tersebut keliru karena selama generasi berikutnya, wilayah selatan bersatu padu mendukung lembaga perbudakan saat faktor ekonomi baru membuat perbudakan jauh lebih menguntungkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Faktor yang paling utama yang menimbulkan ini adalah meningkatnya perkembangan di bidang industri khususnya industri kapas. Orang Selatan yang marah melihat keuntungan besar yang didapat pelaku bisnis Utara, sebaliknya orang Utara menyatakan bahwa perbudakan merupakan penyebab utama terjadinya kemunduran di daerah tersebut. Padahal bagi orang Selatan perbudakan sangat penting untuk perekonomian mereka (pertanian kapas).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Abraham Lincoln sudah lama menganggap perbudakan sebagai suatu kejahatan. Dalam suatu pidatonya di Peoria, Illinois tahun 1854, ia menyatakan bahwa semua peraturan negara mesti disusun atas prinsip perbudakan harus dibatasi dan akhirnya dihapuskan. Pidato inilah yang menyebabkan Ia dikenal masyarakat luas. Abraham Lincoln juga melontarkan ucapan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;“Sebuah rumah yang terbelah tak akan bisa bertahan. Saya percaya bahwa pemerintahan ini tak bisa selamanya menganut setengah perbudakan dan setengah bebas. Saya tidak mengharapkan Union pecah – saya tak ingin rumah – tapi saya ingin perpecahan ini berhenti.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Setelah perang saudara selesai Abraham Lincoln terpilih lagi untuk kedua kalinya sebagai presiden, dalam pidato pelantikannya yang kedua Lincoln menutupnya dengan kata-kata :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 54pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt;“…Janganlah menaruh dendam pada siapapun, berbuat baiklah kepada semua orang, yakinlah pada sesuatu yang benar, karena Tuhan telah memberikan kita pengelihatan untuk melihat kebenaran, marilah kita berjuang untuk menyelesaikan tugas kita, untuk mengobati luka bangsa: merawat mereka yang telah berjuang dalam pertempuran, dan menyantuni para janda dan anak yatim mereka… melakukan semua yang bisa kita raih dan &lt;b&gt;menghargai kedamaian yang adil dan abadi di antara kita sendiri dan dengan semua bangsa&lt;/b&gt;”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="SV" style="font-size: 11pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;American Dreams demikianlah yang terjadi pada masa Lincoln. Kebebasan untuk semua!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;(Bersambung: American Dream II)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;M.S. Mitchel Vinco&lt;br /&gt;Sejarawan, Pendidik, Budayawan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	text-align:justify;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	text-align:justify;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;  &lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-6854899255771484484?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/6854899255771484484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=6854899255771484484&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/6854899255771484484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/6854899255771484484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2010/01/american-dreams-ketika-amerika-serikat.html' title='American  Dreams: Ketika Amerika Serikat Bermimpi (Bagian I)'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-320360524935818899</id><published>2010-01-11T21:17:00.001+07:00</published><updated>2010-01-11T22:06:17.339+07:00</updated><title type='text'>Memandang Kuba dalam Demokrasi</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Footnote Text Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	vertical-align:super;} span.FootnoteTextChar 	{mso-style-name:"Footnote Text Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Footnote Text"; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url("file:///C:/Users/acer/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/Users/acer/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fcs; 	mso-endnote-separator:url("file:///C:/Users/acer/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") es; 	mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/Users/acer/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Setelah kekalahan Spanyol dari Amerika Serikat dalam perang tahun 1898, Kuba berada di bawah pengaruh Amerika Serikat. Kuba diberi kemerdekaan tahun 1902 setelah menerima apa yang disebut Amandemen Platt sebagai bagian dari konstitusi militer Amerika Serikat di Kuba (Guantanamo adalah pangkalan Amerika Serikat hingga sekarang). Amandemen tersebut berbunyi ”Pemerintah Kuba sepakat untuk m&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S0s9sFBOZkI/AAAAAAAAAK4/LME6e4i3LUA/s1600-h/bendera+kuba.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 124px; height: 111px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S0s9sFBOZkI/AAAAAAAAAK4/LME6e4i3LUA/s200/bendera+kuba.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425498003568748098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;emperkenankan Amerika Serikat memperoleh hak-hak untuk melakukan intervensi untuk melindungi kemeredekaan Kuba, pelestarian suatu pemerintahan yang layak untuk melindungi perikehidupan, hak milik dan kebebasan &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;perseorangan...”&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6735655419866292273&amp;amp;postID=320360524935818899#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Sepenggal catatan sejarah di atas menunjukkan usaha peletakan batu demokrasi pertama di Kuba. Seperti halnya &lt;i&gt;Australia Collonies Act&lt;/i&gt;, sebuah negara bangsa diberi kebebasan untuk mengatur pemerintahan sendiri. Namun, catatan sejarah juga menyatakan bahwa ”...Amerika memperoleh hak-hak untuk melakukan intervensi...”, berarti seketika itu pula demokrasi telah dinodai – seperti yang dikatakan John Markoff di atas – terlebih lagi klaim terhadap demokrasi telah menggunakan nama rakyat ” ...melindungi perikehidupan, hak milik dan kebebasan perseorangan...”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Berikutnya pemerintahan Kuba seringkali diwarnai pemberontakan dan kudeta. Tahun 1920-an melahir&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;kan ke&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;diktatoran Gerardo Machado y Morales. Pemerintah Machado kemudian berhasil digulingkan oleh golongan revolusioner yang dipimpin Sersan Muda Fulgencio Batista y Zalvidar. Namun, yang naik ke kursi presiden justru Ramon Grau San Martin. Batista kemudian pada tahun 1934 mampu mengambil alih pimpinan sebagai diktator dengan bantuan Amerika Serikat. Pada tahun 1944 rezim Batista digeser dan selama delapan tahun Kuba memiliki demokrasi perwakilan. Tetapi pada tahun 1952, Batista kembali mengambil alih pemerintahan&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6735655419866292273&amp;amp;postID=320360524935818899#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Dalam periode awal kemerdekaan ini, dapat dilihat bahwa di Kuba sering terjadi perebutan kekuasaan yang &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;diwarnai kudeta oleh militer. Pihak militer selalu turun tangan mengatasnamakan rakyat, dan dengan kekuatan militernya menggulingkan penguasa yang ada. Sebuah catatan dapat diberikan pada kurun waktu 1944-1952 di mana Kuba berhasil melaksanakan demokrasi perwakilan. Inilah demokrasi model Barat yang pertama kali dilaksanakan di Kuba, meskipun di kemudian hari rezim Batista kembali melakukan perebutan kekuasaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S0s9sunlhRI/AAAAAAAAALI/xwnyIdR-7Kc/s1600-h/castro2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 128px; height: 126px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S0s9sunlhRI/AAAAAAAAALI/xwnyIdR-7Kc/s200/castro2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425498014735500562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Pada tahun 1953 muncul sosok pemimpin, yang dikemudian hari akan dicintai rakyat Kuba. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;Dia adalah Fidel Castro, seorang ahli hukum muda dari Havana. Di dorong atas kediktatoran Batista dan penderitaan rakyat, dia menyerbu barak-barak tentara Kuba di Santiago dan kemudian tertangkap dan diadili. Di pengadilan Castro melakukan pembelaan dan didukung oleh rakyat, maka Castro pun dibebaskan. Selepas dari penjara, Castro pergi ke Meksiko untuk mempersiapkan organisasi dalam rangka melawan Batista&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6735655419866292273&amp;amp;postID=320360524935818899#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;Pada tahun 1956, Castro mulai menjalankan strateginya tahap demi tahap. Fidel Castro bersama sahabatnya Che Guevara memulai perang gerilya dengan pendaratan di Sierra Maestra hingga kemenangan di Havana&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6735655419866292273&amp;amp;postID=320360524935818899#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;Pemerintahan Castro adalah pemerintahan revolusioner, pemerintahan yang dikatator-otoriter, namun Castro mengklaim bahwa pemerintahannya adalah semata-mata demi kepentingan rakyat. Selama pemerintahannya Castro berhasil melakukan pendidikan gratis, kebijakan agraria dengan sistem pembagian tanah, peningkatan penghasilan pertanian, dan peningkatan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6735655419866292273&amp;amp;postID=320360524935818899#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;Namun sikapnya yang tidak menyenagi Amerika menyebabkan Castro menasionalisasikan perusahaan – perusahaan asing di Kuba. Bidang-bidang industri yang diambil alih negara mencakup nyaris seluruh bidang; sektor-sektor produksi dan pengilangan minyak, perusahaan telepon dan listrik, pabrik-pabrik gula yang besar, industri kimia, perusahaan perkeretaapian, pabrik pengolahan karet, pabrik sabun, hingga pabrik rokok dan tekstil. Pada tahun 1960, 80 % GNP (gross National Product) Kuba dikontrol oleh negara, di tangan Fidel Castro&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6735655419866292273&amp;amp;postID=320360524935818899#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:100%;"&gt;Selain itu jaminan untuk kalangan menengah menjadi terkorbankan akibat konsentrasi Castro untuk menyejahterakan golongan bawah. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Sekelompok orang Kuba dari kalangan menengah ke atas merasa terancam. Mereka memilih melarikan diri ke Miami. Kaum borjuis ini mendapat teman senasib ketika kelompok agama dan kaum konservatif marah besar karena Castro mengambil alih sekolah-sekolah Katolik dan membubarkan upacara keagamaan. Natal tidak lagi menjadi hari libur resmi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6735655419866292273&amp;amp;postID=320360524935818899#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Berikutnya Fidel Castro merasa perlu membendung kekuasaan yang kini ada digenggamannya. Untuk melakukan pembersihan politik, pemerintahan Castro memenjarakan semua orang yang menentangnya. Ia juga membatalkan seluruh pemilihan umum dan mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6735655419866292273&amp;amp;postID=320360524935818899#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Karena tindakan Fidel Castro yang memusuhi Amerika Serikat maka Amerika Serikat tanggal 17 April 1961 melakukan invasi di &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;teluk babi yang ternyata kemudian gagal. Kegagalan ini justru membuat Fidel Castro memperoleh 53 juta dolar dalam bentuk makanan dan obat-obatan, dengan imbalan Castro harus membebaskan 1000 lebih tawanan akibat invasi di teluk Babi&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6735655419866292273&amp;amp;postID=320360524935818899#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Makanan dan obat-obatan tersebut sangat dibutuhkan rakyat Kuba yang menderita kelaparan dan sakit. Popularitas Fidel Castro yang sempat menurun kembali meningkat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S0s9sRHUrjI/AAAAAAAAALA/zdn08itEwnw/s1600-h/castro.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 132px; height: 137px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S0s9sRHUrjI/AAAAAAAAALA/zdn08itEwnw/s200/castro.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425498006815551026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Tanggal 1 Mei 1961 Castro mengumumkan bahwa dirinya adalah komunis. Hal ini disebabkan karena rasa marah dan jengkel Fidel Castro terhadap perlakuan Amerika Serikat terhadap Kuba&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6735655419866292273&amp;amp;postID=320360524935818899#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Bahkan Weisboard berkata ”terima kasih untuk kebijakan AS yang tolol, yang mendorong Kuba bergerak ke orbit Soviet...”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6735655419866292273&amp;amp;postID=320360524935818899#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Setelah kita menelusuri sejarah pada pemerintahan Fidel Castro, maka tidak tampak adanya demokrasi konstitusional, seperti juga yang dikehendaki Amerika Serikat. Bahkan Castro mengangkat dirinya menjadi Presiden seumur hidup, melakukan nasionalisasi perusahaan asing, melakukan kebijakan agraria dengan pembagian tanah, menangkap lawan politik, bahkan membunuh mereka. Jelas semua itu tidak termasuk dalam sistem demokrasi konstitusional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Meskipun demikian, jika dipandang dari sudut demokrasi komunisme atau demokasi otoritarian (bila Castro belum menjadi komunis), kebijakan – kebijakan Fidel Castro dapat dikatakan memenuhi nilai demokrasi. Fakta pertama adalah bahwa Fidel Castro dicintai rakyatnya, pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis, kehidupan para petani dan para buruh meningkat. Dalam pendidikan bahkan angka melek huruf mencapai 100% (bandingkan dengan Indonesia). Fakta kedua adalah perkataan-perkataan Fidel Castro yang keluar dari mulutnya sekan-akan sudah mendapat legitimasi dari rakyat. Rakyat seakan-akan sudah menyerahkan kekuasaan pada Fidel Castro&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6735655419866292273&amp;amp;postID=320360524935818899#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Misalnya dalam sebuah perkataannya ” Obatku adalah rakyat!”, ”Aku harus bekerja keras; mengerti dan berbicara kepada rakyat”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6735655419866292273&amp;amp;postID=320360524935818899#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Meskipun demikian, Fidel Castro tidak pernah mengklain dirinya dan negaranya sebagai demokrasi. Seperti dalam ucapannya ”Tak ada lagi pemerintahan demokratis di Amerika Latin, yang ada hanya pemerintahan revolusioner.”, ”Jika Tuan Kennedy tidak senang dengan sosialisme, kami juga tidak senang dengan imperialisme dan kapitalisme" &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:85%;"  &gt;Ditulis oleh: M.S. Mitchel Vinco (Sejarawan, Pendidik, Budayawan)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6735655419866292273&amp;amp;postID=320360524935818899#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES-TRAD"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="ES-TRAD"  style="font-size:85%;"&gt;Guevara, Che. 2007. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dari Sierra Maestra hingga Havana.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Narasi: Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:85%;"&gt;Mukmin, Hidayat. 1980. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Pergolakan di Amerika Latin&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Ghalia Indonesia:Jakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:85%;"&gt;Pambudi, A. 2007. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Fidel Castro 60 Tahun Menentang Amerika&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Narasi: Yogyakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Prasetyo, Eko. 2006. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Inilah Presiden Radikal!&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;. &lt;/u&gt;&lt;/i&gt;Resist Book: Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-320360524935818899?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/320360524935818899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=320360524935818899&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/320360524935818899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/320360524935818899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2010/01/memandang-kuba-dalam-demokrasi.html' title='Memandang Kuba dalam Demokrasi'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S0s9sFBOZkI/AAAAAAAAAK4/LME6e4i3LUA/s72-c/bendera+kuba.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-5754018200042452112</id><published>2010-01-02T15:34:00.000+07:00</published><updated>2010-01-11T21:46:15.864+07:00</updated><title type='text'>KESADARAN HISTORIS DAN KETERLIBATAN</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:842012190; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1736601836 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;Sampai sekarang ini, kita hanya meninjau pengkajian sejarah “dari dalam”; yang dibicarakan hanya hubungan antara pengkajian sejarah dan masyarakat, sejauh nilai-nilai yang hidup di masyarakat, ada konsekuensinya bagi sejarawan yang membuata suatu gambaran historis mengenai masa silam. Akan tetapi, pengkajian sejarah tidak hanya menerima sesuatu dari masyarakat, melainkan juga menyumbangkan sesuatu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;Seorang sejaerawan memberikan sumbangan pokok, bagi caranya orang-orang sejaman membayangkan diri mereka sendiri. Dalam arti yang paling umum, seorang sejarawan melakukan hal itu dengan menyadarkan sesama mengenai masa silam dan bagaimana masyarakat dan kebudayaan berakar dalam masa silam itu. Ia mengembangklan dan merangsang kesadaran historis orang-orang sejaman.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;Sering disangsikan, apakah dapat ditulis sejarah yang obyektif dan bebas nilai. Mengapa kita lalu tidak memandang masa silam dari perspektif itu? Bila penulisan sejarah yang obyektif tidak mungkin, mengapa kita lalu tidak menggunakan masa silam sebagai sarana untuk memperbaiki dunia. Bila kita memilih pendirian ini, bila kita mengharap sejarah dari pengkajian sejarah, agar ia dapat memberi sumbangan bagi suatu masyarakat yang lebih baik dan bila kita bersedia mengendurkan tuntutan akan obyektifitas setinggi mungkin, ini berarti kita membela penulisan sejarah yang terlibat. Ini tidak berarti, bahwa setiap penulisan sejarah yang terlibat niscaya juga akan menghasilkan buah penelitian yang subyektif. Yang diminta dari seoranbg sejarawan, agar ia selaku sejarawan, tidak mengambil jarak terhadap masalah-masalah sosial yang berkecamuk dalam masyarakat dewasa ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;A. Pengertian Kesadaran Sejarah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut Oakeshott konsep perubahan sebetulnya merupakan sebuah konsep yang paradoksal, karena memperpadukan pengertian mengenai perbedaan, dengan pengertian mengenai sesuatu yang tetap sama. Bila ada yang berubah maka ada juga unsur-unsur yang sama di dalam perubahan itu. Perubahan yang tidak dibarengi oleh sesuatu yang tetap sama, merupakan kekacauan belaka, tak adanya tata tertib dan, aneh bin aneh, justru menimbulkan kesan mengenai sesuatu yang sama, tetap dan statis. Perubahan yang sejati mengdaikan adanya sesuatu yang sama, yang dapat dipakai sebagai tolak ukur untuk mengukur perubahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tetapi masih ada paradoks lain, yaitu makin banyak keterkaitan dan makin banyak yang tak berubah, makin besar juga sifat perubahan yang kita amati pada masa silam. Bila kita menyadari perubahan-perubahan dalam masyarakat, kita menjadi sadar pula akan tradisi-tradisi. Singkatnya baik sifat perubahan historis, maupun usaha-usaha untuk menyusun perubahan-perubahan itu menurut skema yang agak tetap, merupakan bagian-bagian dalam kesadaran historis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;B. Perkembangan Pemahaman Kesadaran Sejarah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Para ahli mempunyai pendapat berbeda-beda mengenai kapan munculnya kesadaran sejarah? Biasanya dikatakan, bahwa kesadaran historis dibangkitkan karena perubahan-perubahan sosial dan politik yang mendalam di Eropa Barat, akibat Revolusi Perancis dan Revolusi Industri. Ditandai dengan lahirnya pengkajian sejarah modern.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Meinecke memperlihatkan, bahwa segala konsep yang kita kaitkan dengan kesadaran historis dan historisme, sudah kita jumpai dalam tulisan-tulisan Montesquieu Moser atau Herder. Tak lama berselang, P.H. Reill menunjukkan hal yang sama dalam tulisan sementra sejarawan dan filsuf abad ke-18, yang tidak begitu terkenal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;D. Kelley dan J. Franklin yang mengadakan penelitian mengenai tulisan sementara ahli sejarah hukum pada abad ke-16 seperti Jacques Cujas (1522-1590), Francois Hotman (1524-1590) dan terutama Jacques Beaundoin (1520-1573) menunjukkan, bagaimana pada abad itu para ahli sejarah hukm telah menyadari bahwa setiap kurun waktu dalam sejarah mempunyai norma-norma hukum tersendiri dan bagaimana norma-norma tersebut selalu tergantung pada bentuk masyarakat yang menjadi sasaran tata hukum itu. Dalam kasusu ini, dilihat bagaimana pengakuan terhadap unsur perubahan (dalam norma hukum), dibarengi oleh suatu pengakuan terhadap sifat-sifat yang tidak berubah (keberkaitan antara norma hukum dan masyarakat).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;J.G.A. Pocock merumuskan sebuah analisis yang sangat orisinal mengenai tumbuhnya kesadaran historis. Yang menjadi titik pangkalnya adalah perbedaan antara pandangan abad pertengahan mengenai kenyataan sosio-historis dengan pendapat-pendapat yang dipaparkan oleh para pengerang Renaissance, seperti Niccolo Machiavelli (1469-1527) dan Francesco Guicciardinni (1483-1540). Secara singkat abad tengah menawarkan pemikiran bahwa manusia hidup sebetulnya hanya ada kaitan ”vertikal” dengan Kerajaan Allah (Civitas Dei). Tidak ada tempat bagi hubungan horozontal antara orang perorang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pandangan ini semakin kentara dalam gagasan Fortuna pada abad pertengahan (= kebetulan, nasib). &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-TRAD"&gt;Segala sesuatu yang terjadi pada Civitas Terrena tunduk pada unsur kebetulan. Orang yang satu ditinggikan Fortuna, sedangkan yang lain dijatuhkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-TRAD"&gt;Gagasan Fortuna ini ditentang pada jaman Renaissance dengan konsep virtu. Virtu adalah kekuatan, kekuasaan, keunggulan alami, ketrampilan, serta perasaan halus untuk saat yang tepat, pada umumnya, kemampuan beberapa orang untuk mengatur kenyataan politik dan historis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-TRAD"&gt;Menurut Machiavelli dalam konflik antara Fortuna dan Virtu, msnudis mrmpunyai dua pilihan. Bila manusia menyerah pada Fortuna, akibatnya adalah benturan-benturan antara hal-hal yang kebentulan terjadi, lalu terjadi suatu tata tertib sosial yang baru, alami dan hirarkis. Tetapi bila kita ingin membangun suatu masyarakat, sebuah republik, seperti dengan sadar dikehendaki manusia, maka diperlukan Virtu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-TRAD"&gt;Dalam pertentangan terus menerus antara Fortuna dan Virtu, tampaklah untuk pertama kali kesadaran historis. Kesadaran tersebut memperlihatkan betapa segal ihwal-ihwal di dunia ini terus berubah. Selalu ada kecenderungan untuk bertambah liar, maka kita tidak boleh meninggalkan pengawasan begitu saja. Konsep ini membawa penafsiran yang dramatis, mengapa demikian? Karena pembinaan dunia historis dan pilitik menuntut perhatian dan ketekunan terus menerus dengan bantuan Virtu. Bila manusia ingin membuat sejarah atau membentuk negaran dan masyarakat, maka ia harus mengikat pinggangnya, siap melakukan perlawanan terus menerus terhadap kecenderungan kemunduran, desintegrasi, serta kekuasaan Dewi Fortuna.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="ES-TRAD"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES-TRAD"&gt;C. Kesadaran Sejarah Masa Kini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-TRAD"&gt;Pada umumnya ada aura pemistis dalam memandang kesadaran historis dewasa ini. Bertambahnya kuantitas dan kualitas sejarah pada abad 20, menurut Nietzsche membuat masa silam hany menjadi obyek belaka, yang terletak di depan muka kita seperti benda yang mati. Jumlah buku dan karangan sejarah yang demikian banyak, membuat kita acuh tak acuh terhadap masa silam. Menurut Th. Schieder, manusia Barat sekarang ini, tidak merasa terikat lagi dengan masa silam, karena kesadaran akan unsur perubahan dan kelestarianayang demikian pokok bagi kesadaran historis telah punah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-TRAD"&gt;Pendapat lain menyatakan bahwa ini tidak benar, bila hanya pengkajian sejarah dewasa ini yang menyebabkan kesadaran historis punah. Ada pendapat bahwa segala kemungkinan dan bahaya yang terbentang di hadapan kita tidak ada taranya dalam masa silam. Dengan demikian, kita dengan sendirinya menyadari, makin memusatkan diri kita pada masa kini dan sikap ini berlawanan dengan kesadaran historis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-TRAD"&gt;Akhirnya saintisme pada pertengahan abad ini masih demikian dielu-elukan, rupanya kini kalah dengan suatu bentuk historisme gaya batu. Iklim intelektual dewasa ini, menurut banyak segi, mirip dengan iklim Romantik awal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="ES-TRAD"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES-TRAD"&gt;D. Keterlibatan H. Zinn Dalam Penulisan Sejarah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-TRAD"&gt;H. Zinn, seorang sejarawan dari Kanada, membela penulisan sejarah yang moderat-terlibat, lalu menelusuri, apa konsekuensinya bagi penulisan sejarah. Ia mulai menandaskan bahwa kita terhadap ilmu pengetahuan ialah supaya bermanfaat. Ia merasa heran, mengapa banyak sejarawan memperlihatkan sikap acuh tak acuh terhadap masalah-masalah sosial di dalam masyarakat. Menurut dia, seorang sejarawan, bila memilih sebuah obyek bagi penelitian sejarah harus dituntun oleh kebutuhan-kebutuhan sosial pada masa kini. Dalam perspektif ini sejarah emansipasi wanita di Indonesia lebih relevan daripada suatu penelitian mengenai silsillah raja-raja Kediri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Zinn menandaskan bahwa opsinya tidak mempengaruhi hasil penelitin historis. Usul-usul Zinn dapat kita ringkas menurut empat butir yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pengkajian sejarah hendaknya menimba ilham dari cita-cita Fajar Budi. Pada abad itu, pengkajian sejarah baru dianggap relevan, kalau mengabdi kepada kemajuan. &lt;/span&gt;Seperti Voltaire dan Gibbon memerangi takhayul dan dogma-dogma.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Seterusnya Zinn minta dari seorang sejarawan, agar ia memaparkan sejarah dari perspektif orang-orang yang menjadi korban proses sejarah. Agar penderitaan para korban itu dapat dihayati, Zinn menganjurkan metode hermeneutis. Baru metode hermeneutis akan berhasil melukiskan penderitaan mereka itu, seolah-olah merupakan penderitaan kita sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Seorang sejarawan terus-menerus harus menyadarkan kita, bahwa tata tertib dalam masyarakat dewasa ini kebetulan saja terjadi begini dan bahwa itu terikat akan keadaan pada suatu waktu tertentu. Keadaan sekarang ini bukanlah ditentukan oleh nasib yang tak terelakkan, melainkan merupakan hasil dari suatu pertarungan antara kekuatan-kekuatan sosial.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7pt;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Akhirnya sejarah membuka jalan, agar kita dapat belajar dari kesalahan-kesalahn dan sukses-sukses manusia dahulu kala. Sejarah Revolusi Industri di Inggris mengajarkan kepada kita, kesalahan-kesalahan mana yang harus kita hindarkan dalam melaksanakn industialisasi.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Masalah-masalah Sekitar Penulisan Sejarah Yang Terlibat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;Kebanyakan sejarawan dan filsuf sejarah sepakat, bahwa suatu spesialisasi yang ekstrem dalam pengkajian sejarah, memang harus dihindarkan. Menyadari hal itu sudah membuka pandangan seorang sejarawan bagi masalah-masalah sosial dan politik yang memberi corak kepada zamannya sendiri. Maka dari itu, kita dapat menyetujui keinginan Zinn, supaya seorang sejarawan tetap sadar akan tanggung jawab sosial dan kultural terhadap zamannya. Tetapi sering seorang sejarawan yang terlibat menyaksikan dengan rasa heran, bagaimana kelompok-kelompok sosial tertentu sangat terikat akan suatu tata masyarakat yang menurut pendapatnya, bertentangan dengan kepentingan obyektif kelompok itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;Nipperdey masih melihat suatu bahaya lain yang dapat dihasilkan oleh penulisan sejarah yang terlibat. Bahaya itu adalah bahwa kita hanya menggunakan masa silam untuk melaksanakan, dihari depan, norma-norma dan nilai-nilai yang sekarang kita terima. Tetapi penulisan sejarah yang tidak terlibat, rupanya merupakan jaminan yang lebih baik bagi hari depan yang lebih cerah daripada penulisan sejarah yang terlibat. Seorang sejarawan yang terlibat, bertitik tolak pada suatu pendapat yang masih harus dibuktikan. Dengan kata lain, seorang sejarawan terlibat mengandaikan suatu wawasan historis, yang baru dapat diperoleh lewat suatu penelitian yang tidak berat sebelah. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; sejarawan pada umumnya agak skeptis terhadap cita-cita mengenai penulisan sejarah seperti dibela oleh Zinn. Menurut mereka, satu-satunya keterlibatan yang berlaku bagi seorang sejarawan ialah keterlibatan dengan kebenaran historis.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;E. Bagaimana Perjalanan dari Pemikiran Tentang Keterlibatan Dalam Penulisan Sejarah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; sejarawan yang terlibat mengutarakan, bahwa sikap melibatkan diri pada kebenaran mempunyai implikasi politik. Hal ini menjadi jelas, bila kita ingat akan dwifungsi akal budi dan ilmu pengetahuan dalam dunia modern. Akal budi dan ilmu dipergunakan secara instrumental murni. Tetapi, ilmu sendiri tidak memilih tujuan, manusialah yang memilih tujuan itu. Pada hakekatnya akal budi dan ilmu bersifat “kritis”, artinya secara implisit mengandung sebuah kritik terhadap tata masyarakat kita yang tidak sempurna. Mereka yang mengkritik sikap para sejarawan yang terlibat, hanya melihat sifat instrumental yang terkandung dalam ilmu dan menutup mata terhadap sifat kritis dalam ilmu itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;Adapun Horkheimer (1895-1973) dan Th. Adorno (1903-1069) mendirikan Mazhab Frankfurt, yakni pada tahun 1929, yang terhimpun dalam mazhab itu ialah sejumlah ahli sosiologi yang melancarkan kritik neo-marxis terhadap kapitlisme Barat modern, serta terhadap filsafat ilmu yang positivistis yang menurut mereka merupakan pengungkapan teoritis mengenai sistem kapitalis itu. Marxisme yang dianut Habermas, terutama berakar dalam perhatiannya untuk gagasan marxis mengenai ideologi-ideologi. Yang menjadi tujuan Habermas bukan pertama-tama untuk merombak susunan masyarakat yang ada, melainkan untuk mengkritik ideologi yang menopang tata masyarakat yang sedang berlaku. Menurut Habermas sendiri, sautu masyarakat dimana kebenaran mengenai kenyataan sosial dapat dicari dan dapat ditemukan dalam suatu diskusi yang bukan ideologi dan yang bebas dari perbudakan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CUsers%5Cacer%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footer"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="page number"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Footer Char"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.FooterChar 	{mso-style-name:"Footer Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Footer; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:70.9pt 3.0cm 70.9pt 3.0cm; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-page-numbers:0; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;Menurut Oakeshott konsep perubahan sebetulnya merupakan sebuah konsep yang paradoksal, karena memperpadukan pengertian mengenai perbedaan, dengan pengertian mengenai sesuatu yang tetap sama. Bila ada yang berubah maka ada juga unsur-unsur yang sama di dalam perubahan itu. Perubahan yang tidak dibarengi oleh sesuatu yang tetap sama, merupakan kekacauan belaka, tak adanya tata tertib dan, aneh bin aneh, justru menimbulkan kesan mengenai sesuatu yang sama, tetap dan statis. Perubahan yang sejati mengdaikan adanya sesuatu yang sama, yang dapat dipakai sebagai tolak ukur untuk mengukur perubahan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; ahli mempunyai pendapat berbeda-beda mengenai kapan munculnya kesadaran sejarah? Biasanya dikatakan, bahwa kesadaran historis dibangkitkan karena perubahan-perubahan sosial dan politik yang mendalam di Eropa Barat, akibat Revolusi Perancis dan Revolusi Industri. Ditandai dengan lahirnya pengkajian sejarah modern.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;Pada umumnya ada aura pemistis dalam memandang kesadaran historis dewasa ini. Bertambahnya kuantitas dan kualitas sejarah pada abad 20, menurut Nietzsche membuat masa silam hany menjadi obyek belaka, yang terletak di depan muka kita seperti benda yang mati. Jumlah buku dan karangan sejarah yang demikian banyak, membuat kita acuh tak acuh terhadap masa silam. Menurut Th. Schieder, manusia Barat sekarang ini, tidak merasa terikat lagi dengan masa silam, karena kesadaran akan unsur perubahan dan kelestarianayang demikian pokok bagi kesadaran historis telah punah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 54pt; line-height: 150%;"&gt;Kebanyakan sejarawan dan filsuf sejarah sepakat, bahwa suatu spesialisasi yang ekstrem dalam pengkajian sejarah, memang harus dihindarkan. Menyadari hal itu sudah membuka pandangan seorang sejarawan bagi masalah-masalah sosial dan politik yang memberi corak kepada zamannya sendiri. Maka dari itu, kita dapat menyetujui keinginan Zinn, supaya seorang sejarawan tetap sadar akan tanggung jawab sosial dan kultural terhadap zamannya. Tetapi sering seorang sejarawan yang terlibat menyaksikan dengan rasa heran, bagaimana kelompok-kelompok sosial tertentu sangat terikat akan suatu tata masyarakat yang menurut pendapatnya, bertentangan dengan kepentingan obyektif kelompok itu.&lt;/p&gt;  (M.S. Mitchel Vinco/ dalam sebuah kuliah filsafat sejarah)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-5754018200042452112?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/5754018200042452112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=5754018200042452112&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/5754018200042452112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/5754018200042452112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2010/01/kesadaran-historis-dan-keterlibatan.html' title='KESADARAN HISTORIS DAN KETERLIBATAN'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-6568314663491962370</id><published>2009-12-22T00:23:00.001+07:00</published><updated>2009-12-22T00:26:30.212+07:00</updated><title type='text'>ARTICLE OF CONFEDERATION HINGGA KONSTITUSI AMERICA (part II)</title><content type='html'>&lt;b style=""&gt;C. Terbentuknya Konstitusi Amerika&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tidak adanya kekuasaan dalam mengatur perdagangan antar Negara bagian,dan merupakan menjadi salah satu faktor kelemahan dari artikel konfederasi. Artikel konfedersi juga berdampak pada melemahnya ekonomi, sosial dan politik. Pada tahun 1786 di Anapolis diadakan rapat yang membahas tentang kepentingan dari Negara-negara bagian, mengenai kerja sama antara Negara bagian dalam pemerintahan, dimana yang memerintah adalah yang lebih kuat terutama dalam pengawasan perdagangan kepentingan Negara-negara bagian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Orang terpenting yang memberikan dorongan, untuk membentuk pemerintahan yang kuat adalah; Alexander Hamilton dari New york. Hamilton mengusulkan agar meninjau kembali artikel konfederasi untuk menyelidiki struktur pemerintahan pada tahun 1787. Selain itu ada juga tokoh yang berpengaruh yaitu; James Madison, usulanya tidak jauh berbeda dengan Hamilton.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada tahun 1787, dibentuk konstitusi Amerika serikat, dengan tujuan untuk membatasi kekuasaan pemerintah dari pada tujuan umum lainnya. Konstitusi Amerika Serikat dibentuk oleh masing-masing kepalah Negara bagian. Isi konstitusi diambil juga dari Carta [1215], petisi Inggris tentang hak-hak [1628], peraturan kerajaan Inggris tentang hak, serta diambil juga dari artikel konfederasi. Konstitusi ini digerakan oleh tokoh-tokoh yang menginginkan Amerika merdeka dan bebas untuk menentukan nasibnya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Konsep dasar dari perundangan Amerika Serikat ini di pelajari juga dari konsep lama yaitu; Romawi dan Yunani, yang menyatakan adanya pelaksanaan hukum tertinggi, maka akan mengatur kehidupan manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam perkembangan pada tahun 1787 di Philadelphia, diadakan pertemuan yang dihadiri oleh masing-masing wakil dari Negara bagian, yang hadir dalam kongres &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berjumlah 39 orang.dalam pertemuan itu dibicarakan tentang perundangan dan persatuan yang lebih kokoh dan merdeka.dari pertemuan di Philadelphia. Masing-masing Negara mengeluarkan pendapat, salah satunya tanggapan dari Virginia, mengusulkan untuk membentuk pemeritahan yang tediri atas; Eksekutif, Legeslatif dan pengadilan. Dalam legislatif akan terdiri atas suatu kongres dari dua badan atau Senat, yang didasarkan pada masing-masing kekuasaan Negara bagian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari pertemuan diatas diambil kesepakatan yang terdiri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atas, kongres terdiri atas dua badan yang di dalamnya terdapat setiap perwakilan di bidang yang lebih tinggi dari Negara bagian dan dari masing-masing Negara bagian terdapat dua senator, yang dipilih dari dewan perwakilan Negara bagian dan di badan yang lebih rendah ialah dewan perwakilan yang semuanya dipilih dari wakil masing-masing Negara bagian yang dipilih langsung oleh rakyat.”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 6pt; text-align: justify; text-indent: 42pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pembuatan konstitusi dipertegas tentang pengambilan kekuasaan kedaulatan dan Negara bagian, yang diberikan kepada rakyat sebagai keseluruhan kerja sama dengan pemerintah pusat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Konstitusi Amerika Serikat terdapat tiga konsep&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 24pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemisahan kekuasaan, pemisahan wewenang dalam konstitusi Amerika Serikat, secara umum kekuasaan didelegasikan kepada kongres[legeslatif], presiden[eksekutif] dan lembaga hukum federal[Yudikatif], masing-masing dari mereka mempunyai wilayah secara independent[mutlak].&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 24pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;System Federal, doktrin federal mempunyai dua implikasi untuk menganalisa hukum konstitusional, system ini tidak mempunyai kekuasaan mutlak, tetapi tergantung persetujuan Negara bagian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 24pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Yudicial Review, uji materi hukum, sering digambarkan sebagai penyeimbang dalam sistem negera federal dalam menjamin kesepakatan atau peluang menguji fadilitas aksi dari Negara bagian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Prisip-prisip konstitusi Amerika Serikat:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;1.Federalisme&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;2.Pemisahan wewenang atau kekuasaan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;3.Cheks and Balances&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;4.Konstitusi yang demokkrasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;D.Reaksi Negara-negara bagian terhadap konstitusi AS&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bagi banyak orang dokumen konvensi konstitusional sangat berbahaya karena mereka takut apakah pemerintah pusat yang kuat yang terbentuk ini nantinya tidak akan menindas mereka atau membebani mereka dengan pajak yang tinggi dan membawa mereka ke peperangan? Dari pandangan mengenai konstitusional ini menyebabkan ada dua kelompok yang mendukung konstitusi dan yang tidak mendukung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Kelompok pro/ pendukung&lt;/span&gt;;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;a. orang-orang negro yang menyetujui konstitusi, kelompok ini mendukung pemerintah pusat yang kuat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;b. negara yang setuju antara lain: Pensylvania, Massachussetts, Delavari, New Jersey, Georgia, New York dan Virginia, dibawah pimpinan Alexander Hamilton.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-weight: bold;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;2.kontra&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;a. orang-orang yang tidak setuju konstitusi adalah orang-orang yang anti federalis, mereka ini lebih suka sebuah asosiasi longgar dari Negara-negara bagian yang terpisah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 6pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;b. negara bagian yang tidak setuju; New York city, Rhode Island, Nort Carrolina dibawah pimpinan Thomas Jefferson pemungutan suara pada konvensi di Paugh keeps.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;KESIMPULAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;Sejarah Amerika pasca revolusi ditandai dengan dua keinginan umum pada Negara-negara bagian. Di satu sisi, beberapa Negara bagian menginginkan kebebasan sepenuhnya pada wilayah bagiannya. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Sementara beberapa Negara bagian lain, bersama kongres, menginginkan terbentuknya sebuah Negara dengan pusat pemerintahan yang kuat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Negara-negara bagian Amerika, setelah revolusi dan diilhami oleh declaration of independence merasa berhak untuk menganggap Negara mereka merdeka sepenuhnya. Konstitusi-konstitusi dibuat untuk Negara bagian masing-masing. Peran kongres yang menjadi wakil dari Negara koloni semakin disampingkan. Oleh karena itu kongres membuat undang-undang tertulis pertama yang disebut Article of Confederation. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Article of Confederation berusaha mengatur kekuasaan Negara bagian, dan mulai memikirkan konsep pemerintahan yang terpusat. Namun, artikel tersebut masih memiliki banyak kelemahan. Terutama karena kongres tidak memilki lembaga eksekutif untuk menjalankan undang-undangnya. Maka artikel ini pun gagal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Didasarkan atas kegagalan Article of Confederation, wakil-wakil Negara bagian mulai berkumpul untuk memikirkan bagaimana Amerika ke depan. Dimulailah usul untuk membentuk pemerintahan terpusat. Pada awalnya usul tersebut banyak penentangnya, namun pada akhirnya terbentuk pulalah Constitution of America yang menendai masuknya babak baru dalam pemerintahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Escher, Franklin. 1954. &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Dari Koloni Menjadi salah satu Negara terbesar: Sejarah&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Ringkas Amerika Serikat.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Endang. &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Ensiklopedia International.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; 1978. Lexicon Publication, Inc.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Garis-Garis Besar Sejarah Amerika.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-6568314663491962370?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/6568314663491962370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=6568314663491962370&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/6568314663491962370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/6568314663491962370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2009/12/article-of-confederation-hingga_21.html' title='ARTICLE OF CONFEDERATION HINGGA KONSTITUSI AMERICA (part II)'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-8973422534188467119</id><published>2009-12-22T00:17:00.000+07:00</published><updated>2009-12-22T00:22:44.147+07:00</updated><title type='text'>ARTICLE OF CONFEDERATION HINGGA KONSTITUSI AMERICA (part 1)</title><content type='html'>&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;Munculnya Article of Confederation&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;Setelah Revolusi Amerika berakhir pada tanggal 4 Juli 1776, maka koloni-koloni yang sebelumnya dikuasai Inggris berubah statusnya menjadi Negara bagian dari Negara Amerika. Kondisi ini didorong juga oleh Decalaration of Independence sebagai pernyataan Amerika sudah merdeka dari tangan Inggris. Pada tanggal 10 Mei 1776, Kongres telah mengeluarkan resolusi yang menganjurkan daerah koloni membentuk pemerintahan baru “yang diharapakan bisa memberikan yang terbaik untuk mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan bagi para pemilih mereka” (Garis Besar Sejarah Amerika: 92).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan perjalanan waktu, Negara-negara bagian mulai membentuk konstitusinya masing-masing. Tujuan dari masing-masing konstitusi Negara bagian tidak jauh dari usaha perlindungan hak-hak yang melekat atau hak-hak asasi. Jadi, setiap .konstitusi dimulai dengan sebuah deklarasi atau pernyataan hak-hak asasi manusia. (Garis Besar Sejarah Amerika:93). Dalam waktu kira-kira setahun sejak deklarasi kemerdekaan hanya tiga Negara bagian yang belum menyususn konstitusi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dampak dari terbentuknya konstitusi di masing-masing Negara bagian adalah kepatuhan hukum hanya terhadap konstitusi Negara bagian masing-masing. Setiap rakyat dari Negara-negara bagian hanya mematuhi hukumnya masing-masing. Nasionalisme yang berkembang dan keinginan bersatu pada masing-masing koloni, serta semangant untuk mengorganisir diri menjadi suatu komponen setingkat Negara, membuat mereka mulai memupuk rasa identitas kolektif mereka sendiri. Sebuah kenyataan, bahwa Negara-negara bagian itu masih menganggap diri sebagai Negara sendiri-sendiri, mereka merasa curuga terhadap usaha mempersatukan diri (Escher, 1954:47). Masing-masing Negara bagian menjadi sebuah wilayah yang eksklusif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di tengah-tengah merebaknya rasa kecurigaan terhadap sebuah Negara yang bersatu, muncullah sebuah usaha dari kongres untuk mencairkan situasi kondisi yang mulai memanas. Pada bulan Maret 1781 kongres mengeluarkan UU tertulis pertama yang pasal-pasalnya berisi aturan-aturan dalam bidang pemerintahan nasional Amerika yang kemudian dikenal sebagai Article of Confederation. Adapun isi dari artikel tersebut memberikan kuasa kepada kongres untuk beberapa hal sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Masing-masing Negara bagian memiliki kedaulatan, tiap Negara bagian memiliki satu suara dalam kongres tanpa memperdulikan luas wilayah dan jumlah penduduk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kongres tidak berhak memungut pajak, mengatur perdagangan dan ikut campur dalam usaha internal Negara bagian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kongres berhak menangani hubungan internasional luar negeri, mengumumkan perang dan perdamaian, membangun angkatan perang dan meminjam uang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keputusan kongres sah apabila disetujui oleh 2/3 anggota kongres.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kongres berhak menangani dan menjadi hakim atas perselisihan anatara Negara bagian. kongres berhak mengeluarkan uang dan menentukan senat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ini merupakan kewajiban yang luas tujuannya dan mengenai nasib rakyat sebagai keseluruhan. Akan tetapi Negara, dalam hal ini kongres tidak mempunyai eksekutif untuk melaksanakan undang-undang yang disahkan kongres. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;B. Kegagalan Article of Confederation&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;Article of confederation sendiri sebenarnya sangat lemah dan lamban. Setiap Negara bagian, tidak memandang besarnya wilayah ataupun jumlah penduduk, hanya dapat memiliki satu suara atau satu perwakilan dalam kongres. Suara yang sah menurut deklarasi adalah sembilan suara dari tiga belas suara, sedangkan untuk menghadirkan semua anggota kongres sangatlah sulit dalam tempat dan waktu yang sama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seperti telah disebutkan di atas, Negara dalam hal ini kongres tidak mempunyai badan eksekutif untuk melaksanakan undang-undang kongres. Apabila akan mengatur kehidupan penduduk Amerika orang seorang, maka Kongres sepenuh-penuhnya dihalangi oleh Negara-negara bagian. Badan perwakilan ini tidak bisa memaksa seorang warga Negara untuk membayar pajak atau memajukannya di depan pengadilan. Demikian pula Kongres tidak mempunyai kekuasaan untuk mengerahkan orang-orang yang sehat dan kuata badannya untuk menjadi tentara, tidak menjadi soal bagaimana amat diperlukannya mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam Article of Confederation, Negara-negara bagian diakui sebagai pemerintah yang merdeka dan berdaulat, dan apa yang ingin disumbangkan Negara bagian untuk kesejahteraan nasional adalah suatu soal yang akan diputuskan oleh badan-badan perwakilan mereka sendiri. Kondisi demikian membawa masalah baru. Kongres tidak bias mencegah Negara-negara bagian untuk mengeluarkan ber ton-ton uang kertas yang tidak berharga. Negara-negara bagian saling memungut cukai terhadap masing-masing barang. Perselisihan antar Negara bagian pun semakin menjadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Orang-orang beruang adalah yang paling banyak rugi, sebab orang-orang yang mempunyai obligasi mengalami bahwa apa yang dimilikinya turun nilainya sampai sepuluh sen pada setiap harga sedollar. Pengusaha pabrik terpaksa menghentikan usahanya, sebab tidak ada tarif nasioanal yang melindunginya terhadap saingan luar negeri. Pemilik-pemilik tanah di daerah-daerah baru tidak bias berjual beli tanah, tentara yang seharusnya melindungi tanah-tanah tersebut terlampau lemah untuk melindungi tanah beserta pemiliknya terhadap orang Indian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Secara umum kelemahan Article of Confederation adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pemerintahan nasional kurang mempunyai wewenang untuk menetapkan besarnya tarif yang diperlukan untuk mengatur perdagangan dan memungut pajak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Terjadinya konflik dagang antar Negara bagian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Terjadi kekacauan, karena begitu banyak jenis uang logam serta uang kertas nasional dari Negara bagian yang semuanya turun nilainya dengan cepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;pemerintah pusat kurang mempunyai kendali atas hubungan internasional, banyak Negara-negara bagian yang langsung secara bebas mengadakan hubungan maupun perjanjian dengan Negara lain.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt; line-height: 150%;"&gt;(bersambung ke part II)&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 12pt; text-align: justify; text-indent: -12pt; line-height: 150%;"&gt;M.S. Mitchel Vinco&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-8973422534188467119?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/8973422534188467119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=8973422534188467119&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/8973422534188467119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/8973422534188467119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2009/12/article-of-confederation-hingga.html' title='ARTICLE OF CONFEDERATION HINGGA KONSTITUSI AMERICA (part 1)'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-3988017856683765630</id><published>2009-10-21T00:47:00.000+07:00</published><updated>2009-10-21T00:58:25.409+07:00</updated><title type='text'>NASIONALISME AGRESIF NAPOLEON... Bagian II</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;D. Nasionalisme Agresif Napoleon &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(1799-1813)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Revolusi Brumaire 1799 menjadi tonggak utama, yang kemudian melegitimasi nasionalisme agresif Napoleon ke berbagai penjuru Eropa. Revolusi Brumaire hanya dapat terjadi karena Napoleon Bonaparte sudah sangat masyur dan rakyat menaruh kepercayaan pada pemuda dari Corsi&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ca ini.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St345LT3mJI/AAAAAAAAAJY/1_zsywrNu8E/s1600-h/Rev+france+4.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 124px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St345LT3mJI/AAAAAAAAAJY/1_zsywrNu8E/s200/Rev+france+4.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394741589832079506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Revolusi Perancis 1789 dengan panji-panji &lt;i style=""&gt;liberte, egalite&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;fraternite&lt;/i&gt; telah diturunkan kibarnya, sedangkan dem&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;okrasi menjadi pertanyaan besar saat ini, saat seorang Jenderal besar yang masyur dengan kendaraan milite&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;r ekspansionisnya menjadi berkuasa &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;di Perancis. Meskipun demikian, sorak-sorai rakyat tetap bergema menya&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;but hadirnya sang penakluk Eropa ini, dan untuk sementara mengaburkan kendaraan ”pembunuh” yang ditunggangi sang pahlawan Perancis tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Revolusi Brumaire merupakan revolusi yang dilancarkan oleh kaum militer terhadap revolusi yang pada mulanya dilancarkan oleh sipil. Itulah maksudnya bila dikatakan Revolusi Perancis dimulai oleh sipil tetapi kandas di tangan militer, yang semula ingin menghapus kediktaturan Louis XVI maka dengan berkuasanya Napoleon revolusi telah berputar haluan kediktratur yang lain lagi.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada malam pertama sesudah &lt;i style=""&gt;Coup d’Etat&lt;/i&gt; itu, sebelum konstit&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;usi baru direncanakan atau diusulkan, Napoleon menunjuk dua panitia untuk merencanakan buku undang-undang. Inilah tind&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;akannya yang pertama dalam kediktatoran. Buku undang-undang ini akhirnya diterima dalam tahun 1804. Buku ini juga disebut &lt;i style=""&gt;Code&lt;/i&gt; Napoleon.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;[&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Napoleon bertugas sebagai konsul utama hingga tahun 1804. berkat popularitasnya yang semakin menenjak, rakyat Perancis mengijinkannya mengubah konsulat itu menjadi suatu kekaisaran. Napoleon mengundang Sri Pau&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;s untuk memahkotainya sebagai Kaisar Perancis di Katedral Notre Dame di Paris 18 Mei 1804.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Maka dengan demikian, Napoleon mulai membangun Kekaisaran Perancis-nya di atas legitimasi nasionalisme, atas nama rakyat yang memujanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setelah dipukul angkatan laut Inggris saat ekspedisinya ke Mesir 1798, Napoleon memang sibuk dengan urusan dalam negeri. Akibatnya tahun 1800 Rusia &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;mulai memasuki kancah perebutan kekuasaan di Timur Tengah. Rusia dalam kekosongan konflik Perancis Inggris berhasil me&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;nganeksasi Georgia dan menduduki sela-sela strategis di pegunungan Kaukasus pada tahun 1800.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan mas&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;uknya kepentingan Rusia di Timur Tengah dan demi membendung kepentingan Rusia tersebut, Inggris mengadakan perjanjian damai dengan Perancis tahun 1802. Masa perdamaian dengan Inggris ternyata tidak melemahkan semangat ekspansionis Napoleon. Pada tahun-tahun damai digunakan Napoleon untuk memperkuat perkapalan Perancis. Semua galangan-galangan kapal di Eropa bekerja sekuat tenaga untuk mempersiapkan kapal bagi armada Napoleon.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;[&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kebulatan tekad Napoleon untuk memperkuat angkata&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;n laut merupakan indikasi untuk segera meletus kembali perang antara Perancis dan Inggris. Masa damai ternyata menjadi ”kedok” untuk mengumpulkan kekuatan dan kemudian melakukan &lt;i style=""&gt;revance&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;asih terkait dengan politik luar negeri, Napoleon membutuhkan pemasukan kas negara yang cukup besar untuk menunjang persiapa&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;n perang. Tahun 1803, Napoleon menjual tanah koloni Perancis di Amerika yaitu Louisiana kepada Amerika Serikat seharga 15 juta dollar Amerika. Selain untuk mengisi kas negara, penjualan ini juga untuk menutup kemungkinan Inggris untuk mendirikan koloni di Amerika.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tahun 1805 dimulailah gerakan ekspansi Napoleon. Dengan alasan harus mengalahkan Inggris dahulu baru jaminan kekuasaan di Eropa dan Asia dapat terlaksana, Napoleon dan armadanya merencana&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;kan untuk langsung menyerang Inggris melalui Selat Dover. Pasukan-pasukan darat Perancis yang ter&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;masyur dan angkatan laut yang sudah dibangun dengan matang dikerahkan dan dipersiapkan di Boulogne untuk menyeberang menghancurkan Inggris.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Laut dan sosok Nelson – perwiwa angkatan laut Inggris yang mengalahkan Napoleon di Mesir – sepertinya menjadi &lt;i style=""&gt;momok&lt;/i&gt; menakutkan bagi pasukan Perancis. Pada tanggal 21 Oktober 1805, Nelson berhasil mengaramkan a&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St346P6ckPI/AAAAAAAAAJo/Ds0W-sbZdGw/s1600-h/Napoleon+Bonaparte.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St346P6ckPI/AAAAAAAAAJo/Ds0W-sbZdGw/s200/Napoleon+Bonaparte.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394741608247496946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;mbisi Perancis untuk menyerang Inggris. Armada gabungan angkatan laut Perancis dan Spanyol berhasil dihancurkan Nelson di dekat Teluk Trafalgar di pantai Selatan Spanyol.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Ini menjadi kekalahan kedua Pasukan Perancis di bawah pimpinan Napoleon terhadap pasukan I&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;nggris di bawah komando Nelson. Ironisnya keduanya terjadi di laut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Semangat militeristik Napoleon tidak redup begitu saja di Teluk Trafalgar. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Di tahun yang sama (1805) Napoleon berhasil memenangkan pertempuran gilang-gemilang di Eropa daratan. Napoleon memukul tentara Rusia dan Austria di Austerlia (1805), tentara Prusia di Jena dan Auerstadt (1806) dan lagi tentara Rusia di Eylau dan Friedland (1807).&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Bagaima&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;na dengan Inggris? Harus diakui Napoleon bahwa Inggris memang digdaya di lautan. Namun, tidak berarti Napoleon menyerah kalah terhadap Inggris. Masih terlalu awal bagi Panglima Corsica tersebut untuk kalah. Napoleon kemudian mengeluarkan kebijakan Stelsel Continental atau menutup semua pelabuhan di Eropa untuk Inggris.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tidak ada yang boleh bagi negara-negara Eropa untuk berdagang dengan Inggris. Sekali lagi otoritas Napoleon tampak sangat dominan di Eropa, setelah sebelumnya berhasil ”memaksa” Paus untuk melantiknya sebagai Kaisar (1804).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Inggris untuk ketiga kalinya berhasil mengungguli Napoleon. Inggris membalas Stelsel Continental dengan mengepung perdagangan Eropa dari hubungan dengan wilayah Amerika dan benua lain di seberang samudera. Cara lain yang digun&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;akan Inggris untuk melawan Napoleon adalah dengan memberikan emas kepada musuh-musuhnya dan kepada negeri-negeri netral. Selain itu propaganda juga dilakukan Inggris untuk menjelek-jelekkan pemerintahan Napoleon. Uang-uang palsu juga diselundupkan ke Eropa daratan untuk mengganggu keseimbangan ekonomi di sana.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mes&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;kipun selalu gagal memukul Inggris, Napoleon masih tangguh di daratan. Dalam tahun 1807 Napoleon menyerbu Portugal dan menaruh saudaranya Joseph Napoleon di atas tahta Spanyol (1808).&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tahun 1809 Napoleon mempersiapkan kampanyenya yang terbesar dan yang akan menjadi awal kecelakaan strateginya, yaitu penyerbuan Rusia oleh ”La Grande Armee”(Tentara Agung).&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Persiapanpun dilakukan hingga tahun 1812&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. dalam tahun 1812 Napoleon dan tentaranya yang berjumlah besar bergerak menyerbu Rusia. Ditaklukkannya tentara-tentara Rusia dan kemudian terus maju tanpa perlawanan berarti. Pasukan-pasukan Rusia terus menarik diri mundur, sementara pasukan Perancis terus merangsek maju dan akhirnya sampai di muka gerbang Moskow.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setelah N&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;apoleon dapat mengatur pengepungan terhadap Moskow pada September 1812, angin dingin mulai berhembus yang menandai datangnya musim dingin. Pasukan Napoleon tidak siap dengan kondisi alam demikian, maka terjadi ke&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;kacauan di dalam pasukan Napoleon.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn15" name="_ftnref15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;Di dalam Moskow sendiri, sudah muncul keputusasaan, Tsar Rusia sudah mau menyerahkan diri. Namun, disaat yang genting, Rusia menjalankan taktik membumihanguskan kota Moskow dan semua rute yang akan dilewati Napoleon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keadaan yang demikian, musim dingin dan taktik bumi hangus, membuat Napoleon mengambil keputusan untuk menarik pasukannya kembali ke Perancis. Perjalanan pasukan Napoleon ke Perancis justru membawa bencana yang sangat besar. Pasukan Perancis te&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;rsebut berjalan pulang dengan letih dan sulit menembus medan salju, sedangkan pasukan Rusia justru melakukan taktik gerilya selama perjalanan tersebut. Ribuan pasukan Perancis tewas, sedangkan y&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ang masih bertahan harus berjalan dengan kaki membeku dan bengkak-bengkak.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn16" name="_ftnref16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Napoleon kemudian meninggalkan tentaranya dan berlari ke Paris untuk mengerahkan segala kekuatan yang masih ada, tetapi Napoleon menderita kekalahan lagi di Leipzig (1813).&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn17" name="_ftnref17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Inilah serangan terakhir yang bisa dilakukan Napoleon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;E. Akhir Kekuasaan Kaisar Napoleon&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selama sepuluh tahun Napoleon menjadi kaisar di Perancis, dan selama waktu itu pula Napoleon memburu ke seluruh Eropa, dengan perjuangan-perjuangan militer Napoleon merebut kemenangan gilang-gemilang. Segenap Eropa gentar mendengar namanya, memang Napoleon berhasil menjadi penguasa Eropa da&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;n tidak ada yang seperti itu sebelumnya. Ulm, Austerlitz, Jena, Eylau, Friedland, Wagram, adalah nama-nama dari beberapa kemenangan yang termasyur di darat. Austria, Prusia dan Rusia semuanya runtuh di depan Napoleon. Spanyol, Italia, Belanda, sebagian besar Jerman, yang disebut confederasi sungai Rine, Poland sekarang disebut kerajaan Hertog Warshow, semuanya menjadi taklukan Napoleon.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn18" name="_ftnref18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ironis sek&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St344pCteCI/AAAAAAAAAJQ/-G7deH7-SPk/s1600-h/Napoleon+Bonaparte.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St344pCteCI/AAAAAAAAAJQ/-G7deH7-SPk/s200/Napoleon+Bonaparte.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394741580633307170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ali, s&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;etelah kekalahan atau tepatnya kesalahan strategi di front Rusia, Napoleon juga dimusuhi oleh orang-orang yang dulu dekat dengannya. Merasa tidak ada peluang untuk bangkit, Napoleon turun dari tahta pada 11 April 1814. Napoleon mundur dari tahtanya dan dipaksa mengasingkan diri di Pulau Elba yang berbatu-batu.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn19" name="_ftnref19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nasionalisme militeristik yang dibawa Napoleon selama lima belas tahun akhirnya berakhir pada tahun 1814, seperti halnya Napoleon menumbangkan kekuasaan sipil tahun 1799. Mengapa hal demikian bisa terjadi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Menara mercusuar” yang dibangun Napoleon yang sempat menyilaukan daratan Eropa selama lebih dari satu dekade, sebenarnya dibangun dengan fondasi yang keropos. Fondasi keropos tersebut adalah nasionalisme semu dan ambisi Napoleon mendirikan imperium agung, seperti Karel Agung dan Caesar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Memang anti klimaks agresi militer Napoleon adalah kesalahan strategi di front Rusia, tetapi sesungguhnya bibit kehancuran &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;dinasti Bonaparte ini sudah dipupuk dan tumbuh sejak awal kekuasaannya. Kekalahan di depan kota Moskow hanyalah salah satu faktor yang mempercepat jatuhnya Napoleon beserta dinasti yang hendak dibangunnya. Tanpa itupun Napoleon sudah mengarahkan dirinya pada kekalahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada berbagai faktor yang menyebabkan berakhirnya kekaisaran Napoleon Bonaparte. Berbagai faktor ini saling terkait, oleh sebab itu tidak bolehlah kita menyederhanakan persoalan jatuhnya Napoleon dengan satu faktor dominan saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Faktor &lt;i style=""&gt;pertama&lt;/i&gt; adalah nasionalisme yang dikumandangkan Napoleon pada awal dimulainya kepemimpinannya atas Perancis. Nasionalisme yang dikumandangkan Napoleon tidak lebih merupakan nasionalisme semu, yang hanya menjadi alat legitimasi untuk melancarkan ekspansinya ke penjuru Eropa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setelah dinobatkan menjadi raja (1804) di Perancis, Napoleon tidak dapat mendasarkan kekuasaanya pada tradisi dan hak ke-Tu&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;hanan, seperti raja-raja sebelumnya. Napoleon mesti mendasarkannya pada kecakapannya dan kemasyurannya di tengah-tengah rakyat, lebih-lebih kaum petani, yang semuanya memang menjadi penunjangnya yang setia, karena mereka merasa bahwa Napoleon telah menolong tanah-tanah mereka.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn20" name="_ftnref20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Tetapi kaum petani ini lambat laun merasa jemu juga dengan &lt;i style=""&gt;rhetorasi&lt;/i&gt; Napoleon yang mengobarkan panji-panji nasionalisme semu Perancis, mereka merasa jemu harus menyediakan putra-putra mereka untuk peperangan, yang hampir terus menerus terjadi. Kejemuan yang dipupuk terus menerus akhirnya membuat ”mercusuar” yang telah didirikan Napoleon dengan panji-panji nasionalisme mulai goyang&lt;span style="font-size:78%;"&gt;.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn21" name="_ftnref21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Napoleon tertarik &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;dengan nasionalisme Perancis, bahkan menggunakannya dalam dasar kekuasaannya, akan tetapi Napoleon sendiri bukanlah nasionalis. Napoleon menyempurnakan negara kebangsaan dengan kekuasaan yang terpusat, dengan sistem undang-undangnya yang seragam, birokrasi dan pendidikan, akan tetapi Napoleon melakukan ini dalam semangat raja-raja abad ke-18. Napoleon&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersedia menggunakan aspirasi-aspirasi nasional selama masih sesuai dengan sistemnya, tanpa mempunyai keinginan yang sungguh-sungguh untuk memuaskan rakyat.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn22" name="_ftnref22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Napoleon memberi dorongan yang samar-samar kepada keinginan nasional Italia dan Polandia, akan tetapi Napoleon meletakkan kepentingan-kepentingan nasional itu di bawah kepentingan imperium dan dinastinya. Ambisi Napoleon bukanlah negara kebangsaan, bahkan bukan negara-negara kebangsaan yang diperluas, akan tetapi kebangunan kembali imperium Karel Agung dan Caesar.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn23" name="_ftnref23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam menaklukk&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St345urwoQI/AAAAAAAAAJg/Yugq5WvkZ5c/s1600-h/Rev+france+2.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 180px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St345urwoQI/AAAAAAAAAJg/Yugq5WvkZ5c/s200/Rev+france+2.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394741599327527170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;an Eropa Napoleon selalu membawa semangat Revolusi Perancis. Rakyat-rakyat di negeri-negeri yang ditaklukan Napoleon, tidak benci terhadapnya bahkan menyanjungnya sebagai pembebas dari tangan-tangan feodal. Di Jerman Feodalisme disapu bersih. Di Spanyol dihabiskannya mahkamah agama. Tetapi semangat kebangsaan yang secara tidak sadar turut dibangunnya dalam negeri-negeri itu, mulai berpaling kearahnya dan akhirnya menaklukkan Napoleon. Napoleon memang dapat mengalahkan raja-raja feodal di eropa, tetapi Napoleon tidak berhasil menguasai rakyat-rakyat yang berdiri melawannya&lt;span style="font-size:78%;"&gt;.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn24" name="_ftnref24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Demikianlah bangsa Spanyol bangkit menentang Napoleon. Rakyat Jerman juga mengadakan organisasi di bawah seorang patriot besar, Baron von Stein, yang kemudian menjadi musuh Napoleon yang tidak terkalahkan. Kemudian datanglah perang kemerdekaan Jerman. Demikianlah nasionalisme yang yang telah dibangkitkan Napoleon sendiri bergabung dengan kekuatan Inggris di laut, menyebabkan kejatuhannya.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn25" name="_ftnref25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Faktor &lt;i style=""&gt;kedua&lt;/i&gt; adalah kolusi yang dilakukan Napoleon terhadap para saudaranya lelaki maupun perempuan, meskipun mereka sebenarnya tidak memiliki kemampuan yang cakap. Faktor ini disebabkan karena Napoleon berambisi membangun sebuah imperium dimana keluarga Napoleon yang berkuasa. Orang-orang terdekatnya ini, awalnya diharapkan Napoleon untuk mendukung kekuasaannya, tetapi dikemudian waktu merekalah yang bermain mata dengan para musuh Napoleon. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Termasuk istri keduanya Maria Louise puteri maharaja Hapsburg dari Austria.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Saudara-saudaranya yang lain bodoh dan sia-sia, tetapi Napoleon tetap menjadikan mereka raja-raja dan pengendali pemerintahan. Hampir setiap saudara-saudaranya berlaku palsu kepada Napoleon dan meninggalkan Napoleon dalam waktu kesukaran. Satu-satunya saudaranya yang sopan adalah Lucien, yang telah membantu Napoleon dalam keadaan genting selama Coup d’Etat tahun 1799, tetapi akhirnya juga bertengkar dengan Napoleon dan menarik diri ke Italia&lt;span style="font-size:78%;"&gt;.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn26" name="_ftnref26" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Faktor &lt;i style=""&gt;ketiga&lt;/i&gt; adalah penghianatan menteri-menteri dalam pemerintahannya terhadap Napoleon. Beberapa dari para menterinya sendiri berkhianant padanya; Talleyrand bersekongkol dengan Tsar Rusia, Fouche dengan Inggris. Napoleon mengetahui bahwa mereka berkhianat, tetapi ajaib, Napoleon hanya menyalahkan mereka dan mengijinkan terus menjadi menteri. Salah satu Jenderalnya, Bernadotte menentang dan menjadi musuh Napoleon.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn27" name="_ftnref27" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Akibat dari berbagai faktor tersebut, Napoleon menjadi pemimpin yang sangat diktator, banyaklah orang yang dipenjara dengan tidak diperiksa terlebih dahulu. Nyatalah bahwa pamor Napoleon sedang dimasa krisis. Selain itu penyakit kankerpun mulai menyerangnya di tahun 1812. Berbagai faktor tersebut semakin mempercepat jatuhnya Napoleon dengan didorong faktor &lt;i style=""&gt;keempat&lt;/i&gt; yaitu kekalahan La Grande Armee di depan kota Moskow, Rusia. (M.S. Mitchel Vinco/ Makalah pada Kuliah Sejarah Eropa)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;   &lt;hr width="33%" align="left"  style="font-size:78%;"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jawaharlal, op.cit, hlm.80.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:78%;" lang="IT" &gt; Adisusilo, J.R.(Ed), op.cit, hlm.30.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, hlm.81.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Yenne, op.cit, hlm.98-99.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Polak J.B.A.F, Sejarah Dunia Modern, Denpasar, Gunung Agung Bali, 1975, hlm.121.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Idem.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:78%;" lang="SV" &gt; Howard Cincotta (Ed), Garis Besar Sejarah Amerika, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, 1994. hlm. 117. lihat juga Polak, op.cit, hlm.121.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:78%;" lang="SV" &gt; Jawaharlal, op.cit, hlm.83. lihat juga Polak, op.cit, hlm.122.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Polak, op.cit, hlm.122.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Idem. Lihat juga Jawaharlal, op.cit, hlm.83.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jawaharlal, op.cit, hlm.83.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn12"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Polak, op.cit, hlm.123.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn13"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, hlm.124.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn14"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref14" name="_ftn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jawaharlal, op.cit, hlm.86.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn15"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref15" name="_ftn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Yenne, op.cit, hlm. 99.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn16"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref16" name="_ftn16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jawaharlal, op.cit, hlm.87.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn17"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref17" name="_ftn17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Polak, op.cit, hlm.124.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn18"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref18" name="_ftn18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jawaharlal, op.cit.hlm.82.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn19"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref19" name="_ftn19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, hlm.87.lihat juga Yenne, op.cit,hlm.100.dan juga Polak, op.cit, hlm.124.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn20"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref20" name="_ftn20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jawaharlal, op.cit, hlm.82.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn21"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref21" name="_ftn21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Idem.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn22"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref22" name="_ftn22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:78%;" lang="SV" &gt; Hans Kohn, op.cit.hlm.39.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn23"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref23" name="_ftn23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Idem.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn24"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref24" name="_ftn24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jawaharlal, op.cit, hlm. 84.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn25"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref25" name="_ftn25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Idem.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn26"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref26" name="_ftn26" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, hlm.85.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn27"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref27" name="_ftn27" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, hlm.86.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-3988017856683765630?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/3988017856683765630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=3988017856683765630&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/3988017856683765630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/3988017856683765630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2009/10/nasionalisme-agresif-napoleon-bagian-ii.html' title='NASIONALISME AGRESIF NAPOLEON... Bagian II'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St345LT3mJI/AAAAAAAAAJY/1_zsywrNu8E/s72-c/Rev+france+4.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-251393106756547100</id><published>2009-10-21T00:34:00.000+07:00</published><updated>2009-10-21T00:45:34.787+07:00</updated><title type='text'>NASIONALISME AGRESIF NAPOLEON BONAPARTE  (1799-1814) Bagian I</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;A. Napoleon “Si tangguh” dari Corsica&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Napoleon Bonaparte lahir dalam tahun 1769 di pulau Corsica, yang menjadi bagian Perancis. Napoleon se&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;benarnya campuran Corsica, Perancis dan Italia. Dia dilatih di sekolah militer di perancis, dan selama revolu&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;si menjadi anggota golongan Jacobin.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Ambisi Napoleon muda mulai terlihat di sini, apalagi setelah diketahui bahwa Napoleon menggabungkan diri dengan or&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;ang-orang Jacobin, semata-mata untuk memajukan kepentinga&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;n dan kemajuannya sendiri, dan bukanlah karena percaya dalam cita-cita mereka. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dikemudian hari ketidakterikatan Napoleon terhadap suatu partai politik, menyebabkan Napoleon dengan leluasa menerapkan sistem politiknya. Bahkan keti&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ka harus membentuk pemerintahan koalisi (1795) dengan ”muntahan peluru untuk rakyat” dan di lain saat harus membubarkannya pada November 1799. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; revolusi Brumaire,&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St31kmdn22I/AAAAAAAAAI4/slB7gICjdEU/s1600-h/Napoleon+Bonaparte.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St31kmdn22I/AAAAAAAAAI4/slB7gICjdEU/s200/Napoleon+Bonaparte.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394737937808612194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; sekaligus menjadi &lt;i style=""&gt;st&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;i style=""&gt;arting point&lt;/i&gt; berkuasanya Napoleon di Perancis secara mutlak..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kembali ke masa mudanya, pada tahun 1793 saat berusia 24 tahun, Napoleon menang untuk pertama kalinya dalam pertempuran di Toulon. Pemberontakan Toulon merupakan penghianatan orang-orang kaya yang merasa dirugikan oleh revolusi Perancis. Orang-orang kaya ini mengundang dan meminta perlindungan dari tentara Inggris, perbuatan te&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;rsebut tentu menjadi bencana bagi Perancis yang baru memulai pemerintahan sipilnya sejak 1789.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Napoleon kemudian membinasakan kaum pemberontak itu dan mengalahkan pasukan Inggris di Toulon oleh serangan yang amat ulung. Bintangnya mulai gemerlapan sekarang, dan pada usia 24 tahun Napoleon menjadi Jenderal.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;[&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;B. Pemerintahan Teror Jacobin (1793-1794)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di dalam negeri Perancis – diwaktu Napoleon sibuk dengan perang-perang diluar – terjadi pergolakan antara golongan-golongan, terutama golongan Gerondin&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; dan Jacobin.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;Tahun 1793, pada tanggal 21 Januari, kaum Gerondin disingkirkan dari puncak pemerintahan oleh golongan Jacobin. Di waktu yang sama Raja Perancis juga di&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;bunuh oleh golongan Jacobin. Naiknya Jacobin sebagai golongan tertinggi di pemerintahan tidak s&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;erta merta membawa perbaikan. Usaha memperbaiki ekonomi dan masalah-masalah dalam negeri lainnya ternyata mengalami kesulitan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada pemerintahan Jacobin, semangat revolusi memang berhasil untuk menangkis lawan-lawan yang datang dari luar – dibuktikan dengan kemenangan Napoleon di Toulon – namun gagal mengatasi kesulitan-kesulitan dalam negeri yang diperburuk oleh gerakan-gerakan kontra revolusi yang dilancarkan oleh sisa-sisa Gerondin lainn&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St31lOaLQvI/AAAAAAAAAJA/6kdzOgH4fu8/s1600-h/Rev+France+8.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 163px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St31lOaLQvI/AAAAAAAAAJA/6kdzOgH4fu8/s200/Rev+France+8.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394737948531573490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ya.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Akibatnya banyak sekali pemberontakan, pembangkangan dari pemerintah &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;daerah terhadap pemerintahan pusat di Paris antara tahun 1793-1794.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pertentangan dalam dewan Konvensi dan antara golongan-golongan memaksa Robespierre pemimpin Jacobin menerapkan pemerintahan teror. Kebijakan ini dia&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;wali dengan dibentuknya Panitia Keselamatan Umum dan disusul dengan Komite keamanan Umum pada bulan agustus 1793. Kedua lembaga inilah yang kemudian melakukan teror, terutama bagi lawan-lawan politik Jacobin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mulai bulan april hingga Juli 1794 puluhan ribu ’musuh revolusi” dari kalangan bangsawan, pejabat gerejani, kaum royalis, Gerondin, bahkan Jacobin seperti Danton, Roland, diajukan ke depan Pengadilan revolusioner serta di kirim ke tiang guillotin.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Kondisi demikian telah menghancurkan sendi-sendi demokrasi dan hak asasi yang diperjuangkan sejak revolusi Pera&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ncis tahun 1789. Situasi itulah yang mendorong militer untuk turun tangan dengan melakukan kudeta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jenderal Hanriot, Panglima militer dari distrik kota Paris menangkap Robespiere dan ”dedengkotnya” tanggal 27 Juli 1794 dan kemudian pada tanggal 28 Juli langsung dijatuhkan hukuman guillotin oleh Dewan Konvensi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Bermula dari tahun 1794 inilah, campur tangan militer mulai mangambil peran besar di dalam negeri Perancis. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada awalnya campur tangan militer hanya untuk menstabilkan kondisi politik yang sudah sang&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;at ekstrim gerakannya. Hal itu pula yang diingini rakyat Perancis kebanyakan, yang merasa dirugikan dan terancam oleh gerakan ekstrim penguasa, sehingga melegitimasi kudeta militer 1794 di Paris, Perancis. Analisis ini juga sesuai pendapat Crane Brinton, dalam bukunya Anatomi Revolusi (terjemahan), yang mengatakan ”dalam revolusi-revolusi ini golongan radikal pada satu hal mewakili atau melaksanakan apa yang dikehendaki oleh jiwa, kemauan, &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;semangat bangsa-bangsa mereka masing-masing”&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Golongan ekstrimis, dalam hal ini gerakan ekstrim dari militer, mendapat kemenangan oleh karena mereka memegang pengawasan terhadap pemerintahan tidak sah (Golongan Girondin, royalis dan bangsawan) dan kemudian merubahnya dalam suatu coup d’etat yang menentukan, atas pemerintahan yang sah (Jacobin).&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;C. Dewan Directoire hingga Revolusi Brumaire&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;(1795-1799)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Segera setelah Coup d’etat Jenderal Hanriot, Dewan Konvensi sebagai lembaga legislatif segera mempersiapkan Kon&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;stitusi baru. Pada bulan oktober 1795, lima belas bulan kemudian, rapat nasional dibubarkan dan sebuah majelis terdiri dari lima anggota menjadi pengendali pemerintah.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Pemerintahan itu kemudian disebut Dewan Direktoire. Di antara kelima direktur tersebut adalah Abbe Seiyes, Henriot dan Napoleon Bonaparte, namun Napoleon masih sibuk di medan perang menghadapi koalisi.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Perancis mengalami guncangan berat di dalam negeri. Pemerintahan apapun, dari golongan manapun, akan sulit menstabilkan situasi di Perancis. Dewan Direktoire mengalami nasib serupa. Kendaraan militer yang mereka bawa tidak mengurungkan perlawanan dari pihak oposisi yang dipimpin sisa-sisa kaum royalis dan Jacobin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St31lqiHz3I/AAAAAAAAAJI/35eXTMI5oVU/s1600-h/last-days-of-louis-xvi-and-family.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 138px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St31lqiHz3I/AAAAAAAAAJI/35eXTMI5oVU/s200/last-days-of-louis-xvi-and-family.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394737956081094514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Konstitusi baru yang mencoba menghapuskan pemerintahan diktatur tidak mendapat sambutan positif dari rakyat dan justru d&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;i bawah hasutan kaum royalis, mereka melancarkan pemberontakan Oktober 1795.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Kejadian itu akhirnya mampu ditumpas oleh seorang jenderal muda dari tentara republik, Napoleon Bonaparte, yang berani menembaki khalayak Perancis.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;Hanya dengan ketegasan militeristik Napoleonlah pemberontakan tersebut dalam waktu singkat dapat dipadamkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari dalam negeri, kita beralih ke font lain di luar negeri. Seperti diungkapkan di awal, kondisi dalam negeri yang kacau ternyata tidak memberi dampak berarti pada politik luar negeri. Perancis dengan panji-panji nasionalisme menancapkan cakar-cakar pengaruhnya di berbagai sudut daratan Eropa. Gerakan ekspansif tersebut dipimpin oleh pemuda dari Corsica yang kita kenal, yaitu Napoleon Bonaparte. Meskipun menjabat sebagai salah seorang dari Dewan Directoire, Napoleon tidak dapat meninggalkan nalurinya sebagai seorang militer yang haus kekuasaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Dalam tahun 1896 Napoleon menjadi panglima tentara Italia dalam ekspansi ke Italia Utara. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bangsa-bangsa Eropa dikejutkan dengan kemenangan gilang gemilang Napoleon di Italia Utara tersebut.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Setelah memenangi pertempuran di Italia Utara dan mengalahkan Austria di sana dan menghabiskan republik purba Venesia, dia kembali ke Paris sebagai pahlawan besar yang telah mengadakan rebutan-rebutan yang membanggakan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pada waktu itu Napoleon sudah mulai menguasai Perancis dengan karisma dan popularitasnya.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pasca kemenangan di Italia Utara, Napoleon belum tertarik untuk duduk sebagai pemimpin Perancis. Namun, saat itu saja karismanya sudah dapat mempengaruhi hampir seluruh rakyat Perancis. Tampaknya hanya menunggu waktu saja, Napoleon akan menjadi orang nomer satu di Perancis. Meskipun demikian ada satu keinginan yang ingin dicapainya dahulu, yaitu menguasai Mesir, wilayah yang sangat dipuja Napoleon dari masa kanak-kanaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Mesir pada waktu itu menjadi bagian dari kemaharajaan Turki Ottoman yang sedang merosot, akibatnya yang mengendalikan Mesir adalah orang-orang Mameluk atas nama Sultan Turki. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Napoleon sebagai ahli dalam peperangan di darat dengan mudah dapat menaklukan Mesir. Tetapi ternyata kedigdayaan Napoleon di darat tidak diimbangi kekuatan laut yang cakap. Sedangkan Inggris mempunyai perwira-perwira laut yang tangguh seperti Nelson. Akibatnya sudah dapat dikira, Napoleon terisolasi dari hubungan dengan Perancis karena laut dikuasai Inggris.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Meskipun Napoleon memperoleh kemenangan yang gilang-gemilang di Mesir, ekspedisi ke Timur ini dapat dikatakan gagal. Oleh karena itu, Napoleon kembali ke Perancis dan mengurbankan Mesir.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn15" name="_ftnref15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di dalam negeri Perancis, pemerintahan koalisis Thermidor tidaklah berjalan lancar karena krisis pangan antara tahun 1795-1797 menimbulkan inflasi besar-besaran, harga melonjak tak terkendali, kerusuhan meluas di kota-kota Perancis sehingga bahaya perang saudara mengancam.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn16" name="_ftnref16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 48pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dalam kondisi seperti ini Napoleon yang sebelumnya ada di Mesir segera bergegas pulang dan dengan dukungan penuh dari militer, Dewan Direktoire dibubarkan di Brumaire bulan November 1799. Peristiwa ini dekenal dengan Revolusi Brumaire. Dengan kudeta tersebut Napoleon mendirikan pemerintahan Konsuler, yang terdiri dari tiga orang. Dalam kenyataan Napoleon menjadi konsul utama dan menjadi penguasa tunggal sejak tanggal 15 Desember 1799.&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn17" name="_ftnref17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftn18" name="_ftnref18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;[18] &lt;span style="font-size:100%;"&gt;(M.S.Mitchel Vinco/ Makalah pada kuliah Sejarah Eropa)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;   &lt;hr width="33%" align="left"  style="font-size:78%;"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jawaharlal Nehru, Lintasan Sedjarah Dunia II, &lt;st1:place st="on"&gt;Djakarta&lt;/st1:place&gt;, Balai Pustaka, 1951, hlm.76.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, hlm.77.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Golongan Gerondin merupakan salah satu wadah kaum nasionalis, menghimpun kaum borjuis, pedagang, industrialis, mempunyai kedudukan ekonomi yang kuat, juga menguasai parlemen-parlemen di berbagai &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; di Perancis. Tokoh gerondin: Brissot, Roland, Concordet. Adisusilo. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:78%;"&gt;J.R., Kapita Selekta Sejarah Eropa Abad XVIII-XIX, Yogyakarta, Univeersitas Sanata Dharma, 1998, hlm. 41.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:78%;"&gt; Golongan Jacobin merupakan perkumpulan kaum buruh dan petani, bersifat radikal dan ekstrim. Sudah beberapa kali melakukan pemberontakan tahun 1780 sampai 1785-an. Tokohnya: Robespierre dan Petion. Selain Gerondin dan Jacobin terdapat juga golongan Cordellier (kaum terpelajar dan teknokrat) dan kaum konstitusionalis. Ibid.hlm.41.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:78%;"&gt; Adisusilo, J.R. (Ed), op.cit., hlm. 28-29.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:78%;"&gt; Ibid. hlm.29.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:78%;"&gt; Crane Brinton, Anatomi Revol&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:78%;"&gt;usi, &lt;st1:place st="on"&gt;Djakarta&lt;/st1:place&gt;, Bhratara, 1962, hlm.182.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, hlm.179-180.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jawaharlal, op.cit, hlm.67.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:78%;"&gt; Adisusilo, J.R.(Ed), op.cit, hlm.30.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Idem.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn12"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jawaharlal, op.cit. hlm.67.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn13"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, hlm.77.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn14"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref14" name="_ftn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, hlm.78.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn15"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref15" name="_ftn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ibid, hlm.79.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn16"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref16" name="_ftn16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"  style="font-size:78%;"&gt; Adisusilo, J.R.(Ed), op.cit, hlm.30.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn17"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref17" name="_ftn17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Idem.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn18"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=6735655419866292273#_ftnref18" name="_ftn18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Idem&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6735655419866292273-251393106756547100?l=kamudaponti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kamudaponti.blogspot.com/feeds/251393106756547100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6735655419866292273&amp;postID=251393106756547100&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/251393106756547100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6735655419866292273/posts/default/251393106756547100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kamudaponti.blogspot.com/2009/10/nasionalisme-agresif-napoleon-bonaparte.html' title='NASIONALISME AGRESIF NAPOLEON BONAPARTE  (1799-1814) Bagian I'/><author><name>kamudaponti</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/S83PsPIfZqI/AAAAAAAAALQ/U-wHu1BhNr4/S220/DSCF9342.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St31kmdn22I/AAAAAAAAAI4/slB7gICjdEU/s72-c/Napoleon+Bonaparte.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6735655419866292273.post-5245406202517429108</id><published>2009-08-17T15:42:00.000+07:00</published><updated>2009-10-21T15:32:52.878+07:00</updated><title type='text'>20 Mei 1908:  Diingat, Ditemukan, Ditemu-ciptakan</title><content type='html'>Bernard Lewis, sejarawan “otoritatif” kajian Sejarah Timur Tengah dari Princenton University, USA, mengungkapkan tiga ragam sejarah yang selama ini eksis di masyarakat, yaitu: 1) sejarah sebagaimana yang diingat (remembered), 2) sejarah sebagaimana yang ditemukan kembali (recovered), dan 3) sejarah sebagaimana yang ditemu-ciptakan (invented).&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St7GHY3o1kI/AAAAAAAAAKQ/Hrb0oNrEGrc/s1600-h/d.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 203px; height: 95px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St7GHY3o1kI/AAAAAAAAAKQ/Hrb0oNrEGrc/s200/d.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394967233873630786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini akan mengkaji Sejarah Awal Kebangkitan Nasional Indonesia, yang terkait Budi Utomo, menggunakan ketiga jenis sejarah di atas. Namun, sebelumnya akan dibahas pengertian singkat jenis-jenis sejarah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah jenis pertama oleh para antropolog dan sosiolog biasa disebut memori kolektif, yang menjadi identitas dan nilai bersama di dalam masyarakat penghayatnya. Sejarah jenis ini berdasarkan ingatan yang diturunkan antar generasi dan menjadi keyakinan yang tidak mudah berubah. Sejarah jenis ini dapat dilihat dari upacara peringatan atau selebrasi terhadap peristiwa masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah jenis kedua merupakan penemuan masa lalu, berdasarkan jejak-jejak peristiwa yang ditemukan dan dirangkai melalui cara kerja ilmiah. Karena yang berusaha disusun kembali adalah jejak-jejak masa lalu yang tidak utuh, maka dalam rekontruksinya, suka tidak suka, sejarawan akan masuk ke sejarah jenis ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah yang ditemu-ciptakan (invented) merupakan sejarah yang ditulis dengan tujuan tertentu. Sejarah jenis ini dimungkinkan terjadi karena pemalsuan dan penyingkiran sumber sejarah, tetapi juga karena semangat subyektif sejarawan yang tergambar dalam karyanya. Sejarah jenis ketiga ini, tidak bisa dihindari maupun dihilangkan, karena dalam penelitian sejarah proses interpretasi terhadap sumber sejarah mendayagunakan penciptaan dan imajinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memahami ketiga jenis sejarah tersebut, agar tidak terjadi kesalahan pemahaman, perlu dikemukakan pendapat sejarawan senior Indonesia, Taufik Abdullah, seketika kata sejarah disebut maka dua pengertian akan tampil – “hasil rekontruksi peristiwa di masa lalu” dan “sebuah sistem keilmuan untuk merekontruksi peristiwa di masa lalu”. Dengan demikian sejarah dapat menjadi alat perjuangan, penanaman nilai-nilai hidup, selama tata cara keilmuan dijalankan. Seperti kata Sartono Kartodirjo, ”penulisan kembali biasa dilakukan, karena penemuan fakta-fakta baru, atau sejarawan membuat interpretasi baru terhadap fakta yang sudah ada berdasarkan kerangka teoritik konseptual dan jiwa jaman yang baru”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kebangkitan Nasional: Yang Diingat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahun, pada tanggal 20 Mei, masyarakat Indonesia merayakan hari Kebangkitan Nasional. Pada tahun 2008 lalu, bertepatan 100 tahun peringatan Kebangkitan Nasional, dirayakan besar-besaran di Gelora Bung Karno. Semangat berkobar-kobar pun diserukan, bahwa Indonesia harus bangkit dari keterpurukan dan semua itu bisa dilakukan. Menurut Putu Wijaya dalam kolom Bahasa! Majalah Tempo 27/10 – 2/11 tahun 2008, acara demikian merupakan “kegiatan seremonial dan terapi psikologis untuk mengatasi segala kegalauan”. Demikian pula bila menelusuri munculnya perayaan hari kebangkitan pada awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memori kolektif men&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St7GH5JGDXI/AAAAAAAAAKY/Q3FNMrQ9IZM/s1600-h/0617-01coconut.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 136px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St7GH5JGDXI/AAAAAAAAAKY/Q3FNMrQ9IZM/s200/0617-01coconut.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394967242536783218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;genai kebangkitan nasional dimulai atas prakarsa pemerintah Indonesia pada tahun 1948, di saat negara baru diproklamasikan tahun 1945, sedang mengalami ancaman serius dari kekuatan kolonial Belanda yang ingin kembali. Presiden, Wakil Presiden dan para tokoh RI yang lain merayakan hari lahirnya Budi Utomo, 20 Mei 1908, sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Secara eksplisit para tokoh bangsa ingin mengatakan, bahwa perjuangan mendapatkan kemerdekaan bangsa sesungguhnya telah bermula sejak empat puluh tahun yang lalu (1908). Dengan panjang waktu demikian, kemenangan atau mempertahankan kemerdekaan yang sudah lama dibangun adalah suatu kemestian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kebangkitan Nasional: Yang Ditemukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejarah yang ditemukan terkait dengan kerja-kerja sistematis dalam menemukan sumber sejarah, sehingga masa lalu yang awalnya gelap menjadi terang. Dari penelitian para sejarawan dapat disebutkan tentang berdirinya organisasi-organisasi pergerakan nasional. Diawali dari catatan Taufik Abdullah mengenai pertemuan ide antara dr. A. Rivai dan dr. Wahidin Soediro Hoesodo mengenai perlunya organisasi para “kaum muda”. Dalam perjalanan mengelilingi Pulau Jawa menyebar gagasan, pada akhir 1907, dr. Wahidin bertemu dengan Sutomo, pelajar STOVIA di Jakarta. Hari Rabu, 20 Mei 1908 di Gedung STOVIA, Jakarta, Budi Utomo didirikan. Setelah perdebatan yang panjang mengenai corak Budi Utomo, Pengurus Besar membatasi jangkauan gerakan Budi Utomo kepada penduduk Jawa dan Madura, dengan bidang kegiatan pendidikan dan budaya, serta tidak melibatkan diri dalam politik. Tujuan Budi Utomo tergambar melalui slogannya, pada awalnya “kemajuan bagi Hindia”, “perjuangan untuk mempertahankan penghidupan” dan akhirnya menjadi “kemajuan secara serasi”. Pada akhir tahun 1909 Budi Utomo telah mempunyai cabang di 40 tempat dengan jumlah anggota kurang lebih 10.000 orang.&lt;br /&gt;Pada tahun 1911 berdiri perkumpulan Sarekat Islam di Solo, yang kemudian berkembang pesat hingga anggotanya mencapai angka jutaan. Pada tahun 1912 berdiri juga Indische Partij, yang tidak membatasi keanggotaannya berdasarkan suku bangsa dan agama, melainkan terbuka bagi mereka yang terlahir di tanah Hindia. Kedua organisasi ini kemudian mengambil gerakan non kooperatif terhadap penguasa kolonial. Setelah Budi Utomo, Sarekat Islam dan Indische Partij, organisasi pergerakan mulai banyak bermunculan. Sebelum Budi Utomo pernah berdiri organisasi Priyayi Jawa dengan nama Sarikat Priyayi, namun organisasi belum berbentuk organisasi modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kebangkitan Nasional: Yang Ditemu-ciptakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejarah jenis ini muncul karena kebutuhan akan sejarah yang berarti bagi sejarawannya sendiri, masyarakat, bahkan bagi penguasa/negara. Dengan demikian, dari sejarah yang ditemukan (recovered) ditarik hubungan-hubungan sebab akibat yang berpengaruh terhadap masa sekarang dan masa depan individu, kelompok atau lembaga bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan Nasional merupakan hasil dari sejarah yang ditemu-ciptakan (invented). Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij pada masa berdirinya tidak dapat mengklaim “dirinya” seb&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St7GHL6pGoI/AAAAAAAAAKI/MiiMSy9qirk/s1600-h/art-gallery-art-class-006.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 244px; height: 174px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3YLsdcXNUxI/St7GHL6pGoI/AAAAAAAAAKI/MiiMSy9qirk/s200/art-gallery-art-class-006.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394967230396570242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;agai pembangkit gerakan nasional menuju Indonesia merdeka. Istilah Kebangkitan Nasional diberikan kemudian, ketika dapat dilihat hasil benih-benih perjuangan mereka, yaitu lahirnya golongan terpelajar yang mampu berjuang melalui organisasi kooperatif maupun non kooperatif dengan hasil proklamasi 17 Agustus 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan kata “Kebangkitan Nasional” dapat dimengerti jika melihat perjuangan setelah 20 Mei 1908 yang menggunakan metode pergerakan atau organisasi. Berbeda dengan cara perang fisik yang bersifat kedaerahan dan sangat bergantung pada karisma tokoh tertentu. Dengan kata lain, kata “bangkit” digunakan sebagai ungkapan untuk meninggalkan cara perjuangan lama yang dikemudian hari dinilai tidak efektif.&lt;br /&gt;Mengenai Budi Utomo yang gerakannya terbatas pada orang Jawa dan Madura, dapat dikatakan sebagai etnonasionalisme dan merupakan proses awal penyadaran diri terhadap identitas bangsa. Perlu dicatat pada masa itu bangsa Indonesia belumlah tergambar, melalui Indische Partij konsep tersebut digaungkan. Barulah pada 1923 Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia di Belanda menggunakan istilah kemerdekaan Indonesia. Lima tahun kemudian para pemuda mengucapkan Sumpah Pemuda 1928.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaparan mengenai ragam sejarah di atas harus dilihat sebagai kesatuan. Bermula dari yang diingat, kemudian dicari dan ditemukan melalui metode yang ilmiah. Penemuan tersebut melalui seleksi nilai-nilai akan menjadi yang berarti dan tidak berarti. Meskipun demikian tetap saja yang tidak berarti pada dasarnya berarti bagi manusia. Realitas inilah yang terjadi, seleksi-seleksi tersebut akan muncul meski tidak disadari. Dalam ilmu sejarah hal ini disebut intersubyektifitas. Akhirnya sejarah yang berarti akan diingat dan ditanamkan antar generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Kebangkitan Nasional bagi masyarakat dan bangsa Indonesia tentu saja sangat berarti. Diawali Kebangkitan Nasional-lah rakyat Indonesia diantar ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Kisah tentang pergerakan awal para tokoh bangsa, mampu mengobarkan semangat juang ketika Belanda kembali ke Indonesia melalui agresi militer. Namun, setelah semua itu usai, masih berartikan kisah awal Pergerakan Nasional bagi kita? Jika iya, mari kita kenang peristiwa tersebut dengan menjadikannya cambuk semangat dan inspirasi bagi kebangkitan kita dan bangsa Indonesia. Karena sejarah bukanlah sebuah paksaan, sejarah merupakan proses dialog antara kita dengan jejak-jejak dari masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. S. Mitchel Vinco&lt;br /&gt;Sejarawan dan Pendidik&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' hei
