Senin, 22 Agustus 2011

Indonesische Vereeniging 1925: Paling Indonesia!

Tak banyak yang mengetahui Indonesische Vereeniging, sebuah organisasi pergerakan pemuda awal, di era “Kebangkitan Nasional”, yang kemudian “mematenkan” namanya menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Perhimpunan Indonesia?! Nama yang terlalu umum untuk didengar, nama dengan dua kata yang “biasa” kita gunakan sekarang ini. Dalam sejarah pergerakan nasional pun, dua kata ini kalah populer dengan Budi Utomo, Sarekat Islam, Indische Partij, Taman Siswa, PNI (Marhaenisme), atau bahkan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Padahal menurut sejarawan Sartono Kartodirjo, Manifesto Politik PI 1925 dengan penjabaran dan analisisnya, sudah melampaui makna Sumpah Pemuda 1928. Asvi Warman Adam, dalam “Seabad Kontroversi Sejarah”, juga membuka fakta bahwa ide-ide PI dalam majalah “Indonesia Merdeka” telah mengilhami para pemimpin pemuda, yang nanti akan merumuskan Sumpah Pemuda. Lebih jauh lagi, sejarawan G. Moedjanto menyatakan Manifesto Politik PI telah menjadi embrio pemikiran Soekarno, yang kemudian menggali ide dasar negara, Pancasila.

Bila dilihat dari namanya, memang Perhimpunan Indonesia terlalu sederhana, terlalu banyak digunakan berbagai komunitas. Yah, bagi kita di jaman sekarang!
Namun, nama yang sekilas sederhana ini, merupakan nama pertama di dunia, bagi organisasi politik, yang menggunakan kata “Indonesia” sebagai pengertian sebuah bangsa dan negeri yang harus dilahirkan dunia ini.

Senin, 17 Januari 2011

GAGALNYA KOMUNISME DI EROPA (KASUS POLANDIA DAN YUGOSLAVIA) [Bag.2]

"kembali lagi berbicara komunisme di Eropa..."

Gagalnya Komunisme di Eropa
Gejala komunis menggambarkan tragedi sejarah. Sebagai yang lahir dari idealisme yang tidak sabar, yang menolak ketidakadilan status quo, ia mengusahakan masyarakat yang lebih baik dan lebih manusiawi, tetapi menghasilkan penindasan massal. Demikianlah realita komunisme, terutama di Eropa, meskipun memiliki cita-cita luhur namun dalam penerapannya menggunakan kekuasaan untuk menekan potensi perlawanan.
Komunisme bercita-cita terbentuknya komunisme internasional. Di mana seluruh dunia bersatu di bawah payung komunisme. Satu syarat utama terciptanya masyarakat komunis adalah hancurnya masyarakat kapitalis dengan alat-alat produksi yang mereka kuasai. Syarat tersebut mutlak, karena tidak mungkin kapitalis dan komunis dapat berdiri bersama. Kekuatan yang satu akan menghancurkan kekuatan yang lain.
Dalam ”ramalan” dialektika Karl Marx, kapitalisme dengan sendirinya akan menuju kehancuran. Kehancuran itu disebabkan oleh over weight production, yaitu kelebihan produksi akibat teknologi dan kebutuhan yang telah tercukupi. Meskipun demikian, bagi Marx dan pengikutnya proses kehancuran kapitalisme dapat dipercepat dengan revolusi. Revolusi komunis inilah yang pada abad 20 begitu maraknya.
Dimulai dari revolusi proletar di Uni Soviet, kemudian pasca Perang Dunia II menyebar ke banyak negara. Negara-negara dunia ketiga, yang kesejahteraannya masih diperjuangkan, sangat potensial untuk mendapat pengaruh komunis. Eropa Timur dengan cepat mendapat pengaruh Uni Soviet. Negara seperti Polandia pun jatuh ke tangan komunis. Demikan pula Eropa bagian Selatan, seperti Serbia, Bosnia-Herzegovina, Kroasia, Kosovo, Montenegro, Slovenia yang bersatu dalam Yugoslavia, menggunakan ideologi komunis.

GAGALNYA KOMUNISME DI EROPA (KASUS POLANDIA DAN YUGOSLAVIA) [Bag.1]

"Kita akan berbicara tentang komunisme dahulu..."

Latar Belakang
Dalam pandangan filsafat sejarah deterministis, sejarah seperti halnya manusia, berkembang seperti suatu organisme yang hidup, seperti dari benih yang tumbuh, berkembang dan akhirnya mati. Pandangan ini dikenal dengan determinisitis biologis-naturalistis. Bila kita perhatikan sejarah peradaban, terlihat bahwa pandangan ini benar adanya. Sejarah peradaban, dalam hal ini konteks kebudayaan, mengalami pertumbuhan, perkembangan dan kemudian kematian.
Menurut Arnold J. Toynbee (1889-1975), seorang sejarawan dari Inggris, kehancuran peradaban dapat dicegah dengan terus adanya manusia-manusia kreatif yang mampu menjawab tantangan jamannya. Yoynbee berpendapat selama ada respon terhadap challenge maka peradaban akan terus maju ke arah yang lebih baik.
Eropa dalam catatan sejarah peradaban merupakan benua yang paling produktif dalam segala bidang. Apakah hal tersebut dipengaruhi pencatatan sejarah Eropa yang sudah dilakukan sejak jaman Yunani Kuno (600-an SM)? Bisa jadi demikian. Tetapi faktanya adalah sejarah tentang Eropa merupakan catatan sejarah terlengkap hingga saat ini. Wajar saja benua ini menjadi terang akan masa lalu mereka, tentang kegagalan dan kesuksesan.
Makalah ini tidak akan membahas peradaban Eropa dari awal hingga saat ini, tidak juga melihat peradaban Eropa dari sisi siklus-determinis. Terlalu luas jika akan membahas hal tersebut, terlebih lagi tidak maksimal manfaatnya jika seluruh sejarah Eropa akan dibahas dalam makalah singkat ini.
Pembahasan yang akan dikaji dalam kesempatan ini adalah Eropa pada periode pasca Perang Dunia II, atau lebih tepatnya saat Perang Dingin antara dua raksasa dunia: USSR (Uni Soviet) dan USA (Amerika Serikat). Bahkan akan lebih dipersempit lagi mengenai akhir dari pemerintahan komunisme di Eropa. Kasusnya juga akan lebih dipersempit yaitu: Polandia dan Yugoslavia.

Sabtu, 04 Desember 2010

REVOLUSI INDONESIA DALAM MEMPEROLEH KEMERDEKAAN (II)

"...nyabung lagi ni, dari tulisan sebelumnya..."

B. Situasi di Sekitar Revolusi Kemerdekaan Indonesia
Setelah mendapat kemenangan terus-menerus sejak Jepang menyerang Pearl Harbour pada tanggal 7 Desember 1941 dan merebut wilayah dari Burma sampai Pasifik Barat Daya, Jepang menderita kekalahan besar yang pertama dalam pertempuran Laut di dekat Pulau Midway pada bulan juni 1942. Jepang terus-menerus mengalami kemunduran sejak mulai direbutnya Pulau Guadalcanal di Kepulauan Solomon oleh Sekutu, sampai jatuhnya Pulau Saipan. Jatuhnya Pulau Saipan merupakan suatu kekalahan yang sangat besar bagi Jepang, karena Pulau ini sangat strategis letaknya dan merupakan pusat pertahanan depan kepulauan Jepang. Jatuhnya Saipan menyebabkan krisis politik di Jepang yang menjatuh kabinet Tojo dan diangkatnya Jendral Koiso menjadi Perdana Menteri.
Sementara itu keadaan di Indonesia telah menjadi sangat sulit. Tindakan-tindakan pemerintah militer Jepang, pengerahan romusha, ditambah lagi dengan panen yang gagal pada tahun itu, menyebabkan rakyat semakin menderita, sedangkan jumlah padi yang harus diserahkan kepada pemerintah Jepang tidak dikurangi. Keadaan dalam negeri yang semakin memburuk, menyebabkan harga makanan naik, sedangkan beras saja sangat sulit didapat. Seperti yang diungkapkan Aboe Bakar Loebis dalam bukunya Kilas Balik Revolusi : 

Dengan meningkatnya harga bahan makanan, sedangkan biaya pemondokan tidak dinaikkan, maka kualitas makanan yang disediakan makin lama makin buruk, sehingga hampir tidak dapat dimakan. Ketika pemerintah pendudukan Jepang menganjurkan supaya rakyat makan bekicot sebagai pengganti daging, di asramapun disajikan masakan bekicot ( Loebis, 1992 : 58 )

Minggu, 31 Oktober 2010

REVOLUSI INDONESIA DALAM MEMPEROLEH KEMERDEKAAN ( I )

"Tulisan pertama saat kuliah, idealisme tertuangkan 'tuk pertama kali"

Latar belakang
Revolusi adalah sebuah perubahan dalam kurun waktu yang singkat dan terjadi dengan proses yang cepat. Revolusi merupakan gambaran dari keinginan terbesar individu maupun kelompok, dalam konteks ini adalah bangsa, untuk mencapai sesuatu yang menjadi tujuan gerakan revolusi itu sendiri. Oleh karena itu, sebuah pergerakan revolusi selalu diwarnai dengan pertentangan, perpecahan, yang kemudian mengarah kepada kekerasan. Hal tersebut dikarenakan tidak semua pihak siap menerima perubahan yang sedemikian cepat, dan tentu akan mempengaruhi berbagai bidang dalam kehidupan.
“ Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan “ ( Pembukaan UUD 1945 ) Oleh sebab itu, keinginan untuk merdekanya sebuah bangsa tidak dapat ditunda-tunda, terlebih lagi oleh negara yang ingin memperoleh kemerdekaannya itu.  Tetapi dalam kenyataanya, dalam memperoleh kemerdekaan tidak hanya hasil dari keputusan satu pihak. Untuk memperoleh kemerdekaan secara sah, suatu negara yang ingin merdeka haruslah mendapat pengakuan de yure dari negara-negara lain di dunia, karena pengakuan secara de facto belumlah cukup. Tidak jarang dalam usaha merebut kemerdekaan, sebuah negara harus berjuang secara fisik untuk mendapat pengakuan dari negara-negara lain. Namun, tidak sedikit pula yang menggunakan jalur diplomatis, selain juga berjuang secara fisik.

Jumat, 24 September 2010

HISTORIOGRAFI ASIA SELATAN DAN ASIA TENGGARA (Bagian II)

"...masih dari kuliah Metodologi Penelitian Sejarah, kelas (alm) Prof. Dr. P.J. Suwarno, S.H."


2. Historiografi Modern
Historiografi modern di Eropa tumbuh bersamaan dengan ekspansi kegiatan orang-orang Eropa di Asia. Tetapi karena kegiatan orang-orang Eropa di Asia antara abad ke-16 dan ke-17 hanya di daerah pinggiran saja dan karena perubahan sikap tradisional orang-orang Eropa sendiri terhadap sifat dan penggunaan sejarah sangat lambat, maka tidak ada pengaruhnya pada historiografi Asia Selatan dan Asia Tenggara pada masa tersebut. Baru pada paruh kedua abad ke-19, ketika ilmu pengetahuan dan kebudayaan Barat secara sadar diajarkan dan dipelajari, mula-mula di Asia selatan dan kemudian di beberapa tempat di Asia Tenggara, maka wilayah-wilayah itu pun terpengaruh oleh metode-metode sejarah Barat. Namun apa yang diperkenalkan secara luas sekarang adalah teknik-teknik tradisional dari akhir abad ke-18 dan awal abad ke -19, umpamanya metode filologis dari William Jones dan penulisan sejarah dari James Mill, Mountstuart Elphinstone, dan Vincent Smith. Ada suatu perbedaan waktu dalam perkembangan metodologis ini, dan dalam awal abad ke-20 teknik-teknik tradional tersebut masih dianggap tinggi dan jitu untuk ditiru. Perkembangan menuju sejarah “ilmiah” dan pertumbuhan ilmu-ilmu sosial di Eropa dan Amerika hampir tidak diketahui sampai sesudah perang Dunia kedua. Pemakaian teknik-teknik historiografi Barat pertama-tama digunakan untuk mempelajari India dan Sri Lanka, tetapi kemudian orang-orang Belanda menggunakanya juga untuk mempelajari Indonesia, dan orang-orang Perancis, sekalipun yang paling akhir dalam deretan ini, segera pula menggunakannya untuk mempelajari Indocina.

HISTORIOGRAFI ASIA SELATAN DAN ASIA TENGGARA (Bagian I)

".... dalam sebuah kuliah Metodologi Penelitian Sejarah, di kelas (alm) Prof. Dr. P.J. Suwarno, S.H."

LATAR BELAKANG
Seperti halnya di tempat-tempat lain, perkembangan historiografi Asia Selatan dan Asia Tenggara selalu berhubungan erat dengan sumber-sumber kesusastraan (literaty). Namun, sebelum abad ke-20 sumber-sumber yang terpenting adalah pelbagai agama yang selama enam abad memisahkan suatu wilayah dan menyatukan wilayah lainnya. Untuk kemudahan tinjauan mengenai ikhtisar tradisi historiografi ini, kita dapat membedakan lima wilayah yang mempunyai agama dan pengalaman baca tulis yang berbeda.
Antara agama Hindu yang dianut oleh rakyat banyak di India dan agama Buddha Theravada yang tersebar di Muangthai, Birma dan Sri Lanka, tidak terdapat banyak persamaan. Kedua daerah tersebut berbeda pula dengan wilayah ketiga, yaitu daerah penyebaran agama Islam dengan pusat-pusatnya di Pakistan dan India serta masyarakat di Indonesia, Malaysia dan Filipina Selatan. Wilayah yang keempat dan kelima yaitu, Vietnam dimana terdapat suatu bentuk tertentu dari agama dan Budaya Tiongkok, dan masyarakat yang sebagian besar menganut agama Kristen di Filipina. Dalam wilayah tersebut dapat terlihat perbedaan dan tanggapan mengenai sejarah.

Kamis, 13 Mei 2010

MESIR KUNO SEBUAH PERADABAN DUNIA

A.Sejarah Dibalik Kejayaan Peradaban Mesir Kuno
Awalnya Mesir kuno terdiri dari dua daerah terisolasi yang dilalui Sungai Nil yaitu Mesir hulu atau Mesir atas yang terletak di bagian Selatan dan Mesir hilir atau Mesir bawah yang terletak di bagian Utara. Kondisi geografis kedua daerah inipun berbeda, Mesir hilir terletak bagian hilir Sungai Nil dimana terdapat tanah berawa-rawa subur dan Delta Sungai Nil yang subur pula, sedangkan Mesir hulu terletak di suatu pita sempit yang memanjang lebih dari 1000 km di tepi kedua Sungai Nil antara dua gurun pasir yang suka “mencaploknya”.