![]() |
| (Sumber: google.com) |
A. Pendahuluan
“Mereka yang tidak belajar dari masa tiga ribu tahun
berarti tidak memanfaatkan akalnya” (Goethe, 1749-1832). Itulah nasehat sekaligus
sindirian satir dari sastrawan dan sejarawan Prusia tersebut kepada kaum
terdidik yang tidak mau belajar dari panjangnya durasi narasi sejarah.
Sementara itu pada zaman sesudah Goethe, seorang filsuf Prusia memperingatkan
“kembali” para intelektual (sejarawan) yang melahirkan begitu banyak karya
dengan “penulisan sejarah kita yang sedemikian maju, mengandung bahaya bahwa
masa silam … terletak di muka kita sebagai suatu benda yang mati” (Nietzsche,
1889-1900).
Goethe dan Nietzsche berada pada masa yang relatif
lampau untuk masyarakat saat ini tetapi masih memberikan peringatan yang
kontekstual, terutama pada pembahasan yang akan dilakukan penulis tentang
pendidikan sejarah, kebudayaan lokal, dan pendidikan kedamaian. Pendidikan
sejarah dewasa ini terlalu “nyaman” dengan sejarah politiknya, sedangkan
kebudayaan lokal terlalu sering diidentikkan dengan kesenian dan kegiatan
seremonialnya, sementara itu pendidikan perdamaian-kedamaian selama ribuan
tahun sering kali “senyap” dengan konflik kekerasan. Sebagian besar wacana
dalam penulisan ini bukanlah hal baru, tetapi berusaha mengingatkan pembaca
untuk terus berjuang menjadikan sejarah di sekitar kita bukan sebagai benda-benda
yang mati.





