Rabu, 21 Oktober 2009

NASIONALISME AGRESIF NAPOLEON BONAPARTE (1799-1814) Bagian I

A. Napoleon “Si tangguh” dari Corsica

Napoleon Bonaparte lahir dalam tahun 1769 di pulau Corsica, yang menjadi bagian Perancis. Napoleon sebenarnya campuran Corsica, Perancis dan Italia. Dia dilatih di sekolah militer di perancis, dan selama revolusi menjadi anggota golongan Jacobin.[1] Ambisi Napoleon muda mulai terlihat di sini, apalagi setelah diketahui bahwa Napoleon menggabungkan diri dengan orang-orang Jacobin, semata-mata untuk memajukan kepentingan dan kemajuannya sendiri, dan bukanlah karena percaya dalam cita-cita mereka. Dikemudian hari ketidakterikatan Napoleon terhadap suatu partai politik, menyebabkan Napoleon dengan leluasa menerapkan sistem politiknya. Bahkan ketika harus membentuk pemerintahan koalisi (1795) dengan ”muntahan peluru untuk rakyat” dan di lain saat harus membubarkannya pada November 1799. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan revolusi Brumaire, sekaligus menjadi starting point berkuasanya Napoleon di Perancis secara mutlak..

Kembali ke masa mudanya, pada tahun 1793 saat berusia 24 tahun, Napoleon menang untuk pertama kalinya dalam pertempuran di Toulon. Pemberontakan Toulon merupakan penghianatan orang-orang kaya yang merasa dirugikan oleh revolusi Perancis. Orang-orang kaya ini mengundang dan meminta perlindungan dari tentara Inggris, perbuatan tersebut tentu menjadi bencana bagi Perancis yang baru memulai pemerintahan sipilnya sejak 1789.

Napoleon kemudian membinasakan kaum pemberontak itu dan mengalahkan pasukan Inggris di Toulon oleh serangan yang amat ulung. Bintangnya mulai gemerlapan sekarang, dan pada usia 24 tahun Napoleon menjadi Jenderal.[2]

B. Pemerintahan Teror Jacobin (1793-1794)

Di dalam negeri Perancis – diwaktu Napoleon sibuk dengan perang-perang diluar – terjadi pergolakan antara golongan-golongan, terutama golongan Gerondin[3] dan Jacobin.[4] Tahun 1793, pada tanggal 21 Januari, kaum Gerondin disingkirkan dari puncak pemerintahan oleh golongan Jacobin. Di waktu yang sama Raja Perancis juga dibunuh oleh golongan Jacobin. Naiknya Jacobin sebagai golongan tertinggi di pemerintahan tidak serta merta membawa perbaikan. Usaha memperbaiki ekonomi dan masalah-masalah dalam negeri lainnya ternyata mengalami kesulitan.

Pada pemerintahan Jacobin, semangat revolusi memang berhasil untuk menangkis lawan-lawan yang datang dari luar – dibuktikan dengan kemenangan Napoleon di Toulon – namun gagal mengatasi kesulitan-kesulitan dalam negeri yang diperburuk oleh gerakan-gerakan kontra revolusi yang dilancarkan oleh sisa-sisa Gerondin lainnya.[5] Akibatnya banyak sekali pemberontakan, pembangkangan dari pemerintah daerah terhadap pemerintahan pusat di Paris antara tahun 1793-1794.

Pertentangan dalam dewan Konvensi dan antara golongan-golongan memaksa Robespierre pemimpin Jacobin menerapkan pemerintahan teror. Kebijakan ini diawali dengan dibentuknya Panitia Keselamatan Umum dan disusul dengan Komite keamanan Umum pada bulan agustus 1793. Kedua lembaga inilah yang kemudian melakukan teror, terutama bagi lawan-lawan politik Jacobin.

Mulai bulan april hingga Juli 1794 puluhan ribu ’musuh revolusi” dari kalangan bangsawan, pejabat gerejani, kaum royalis, Gerondin, bahkan Jacobin seperti Danton, Roland, diajukan ke depan Pengadilan revolusioner serta di kirim ke tiang guillotin.[6] Kondisi demikian telah menghancurkan sendi-sendi demokrasi dan hak asasi yang diperjuangkan sejak revolusi Perancis tahun 1789. Situasi itulah yang mendorong militer untuk turun tangan dengan melakukan kudeta.

Jenderal Hanriot, Panglima militer dari distrik kota Paris menangkap Robespiere dan ”dedengkotnya” tanggal 27 Juli 1794 dan kemudian pada tanggal 28 Juli langsung dijatuhkan hukuman guillotin oleh Dewan Konvensi.

Bermula dari tahun 1794 inilah, campur tangan militer mulai mangambil peran besar di dalam negeri Perancis. Pada awalnya campur tangan militer hanya untuk menstabilkan kondisi politik yang sudah sangat ekstrim gerakannya. Hal itu pula yang diingini rakyat Perancis kebanyakan, yang merasa dirugikan dan terancam oleh gerakan ekstrim penguasa, sehingga melegitimasi kudeta militer 1794 di Paris, Perancis. Analisis ini juga sesuai pendapat Crane Brinton, dalam bukunya Anatomi Revolusi (terjemahan), yang mengatakan ”dalam revolusi-revolusi ini golongan radikal pada satu hal mewakili atau melaksanakan apa yang dikehendaki oleh jiwa, kemauan, semangat bangsa-bangsa mereka masing-masing”[7]

Golongan ekstrimis, dalam hal ini gerakan ekstrim dari militer, mendapat kemenangan oleh karena mereka memegang pengawasan terhadap pemerintahan tidak sah (Golongan Girondin, royalis dan bangsawan) dan kemudian merubahnya dalam suatu coup d’etat yang menentukan, atas pemerintahan yang sah (Jacobin).[8]

C. Dewan Directoire hingga Revolusi Brumaire (1795-1799)

Segera setelah Coup d’etat Jenderal Hanriot, Dewan Konvensi sebagai lembaga legislatif segera mempersiapkan Konstitusi baru. Pada bulan oktober 1795, lima belas bulan kemudian, rapat nasional dibubarkan dan sebuah majelis terdiri dari lima anggota menjadi pengendali pemerintah.[9] Pemerintahan itu kemudian disebut Dewan Direktoire. Di antara kelima direktur tersebut adalah Abbe Seiyes, Henriot dan Napoleon Bonaparte, namun Napoleon masih sibuk di medan perang menghadapi koalisi.[10]

Perancis mengalami guncangan berat di dalam negeri. Pemerintahan apapun, dari golongan manapun, akan sulit menstabilkan situasi di Perancis. Dewan Direktoire mengalami nasib serupa. Kendaraan militer yang mereka bawa tidak mengurungkan perlawanan dari pihak oposisi yang dipimpin sisa-sisa kaum royalis dan Jacobin.

Konstitusi baru yang mencoba menghapuskan pemerintahan diktatur tidak mendapat sambutan positif dari rakyat dan justru di bawah hasutan kaum royalis, mereka melancarkan pemberontakan Oktober 1795.[11] Kejadian itu akhirnya mampu ditumpas oleh seorang jenderal muda dari tentara republik, Napoleon Bonaparte, yang berani menembaki khalayak Perancis.[12] Hanya dengan ketegasan militeristik Napoleonlah pemberontakan tersebut dalam waktu singkat dapat dipadamkan.

Dari dalam negeri, kita beralih ke font lain di luar negeri. Seperti diungkapkan di awal, kondisi dalam negeri yang kacau ternyata tidak memberi dampak berarti pada politik luar negeri. Perancis dengan panji-panji nasionalisme menancapkan cakar-cakar pengaruhnya di berbagai sudut daratan Eropa. Gerakan ekspansif tersebut dipimpin oleh pemuda dari Corsica yang kita kenal, yaitu Napoleon Bonaparte. Meskipun menjabat sebagai salah seorang dari Dewan Directoire, Napoleon tidak dapat meninggalkan nalurinya sebagai seorang militer yang haus kekuasaan.

Dalam tahun 1896 Napoleon menjadi panglima tentara Italia dalam ekspansi ke Italia Utara. Bangsa-bangsa Eropa dikejutkan dengan kemenangan gilang gemilang Napoleon di Italia Utara tersebut.[13] Setelah memenangi pertempuran di Italia Utara dan mengalahkan Austria di sana dan menghabiskan republik purba Venesia, dia kembali ke Paris sebagai pahlawan besar yang telah mengadakan rebutan-rebutan yang membanggakan. Pada waktu itu Napoleon sudah mulai menguasai Perancis dengan karisma dan popularitasnya.[14]

Pasca kemenangan di Italia Utara, Napoleon belum tertarik untuk duduk sebagai pemimpin Perancis. Namun, saat itu saja karismanya sudah dapat mempengaruhi hampir seluruh rakyat Perancis. Tampaknya hanya menunggu waktu saja, Napoleon akan menjadi orang nomer satu di Perancis. Meskipun demikian ada satu keinginan yang ingin dicapainya dahulu, yaitu menguasai Mesir, wilayah yang sangat dipuja Napoleon dari masa kanak-kanaknya.

Mesir pada waktu itu menjadi bagian dari kemaharajaan Turki Ottoman yang sedang merosot, akibatnya yang mengendalikan Mesir adalah orang-orang Mameluk atas nama Sultan Turki. Napoleon sebagai ahli dalam peperangan di darat dengan mudah dapat menaklukan Mesir. Tetapi ternyata kedigdayaan Napoleon di darat tidak diimbangi kekuatan laut yang cakap. Sedangkan Inggris mempunyai perwira-perwira laut yang tangguh seperti Nelson. Akibatnya sudah dapat dikira, Napoleon terisolasi dari hubungan dengan Perancis karena laut dikuasai Inggris.

Meskipun Napoleon memperoleh kemenangan yang gilang-gemilang di Mesir, ekspedisi ke Timur ini dapat dikatakan gagal. Oleh karena itu, Napoleon kembali ke Perancis dan mengurbankan Mesir.[15]

Di dalam negeri Perancis, pemerintahan koalisis Thermidor tidaklah berjalan lancar karena krisis pangan antara tahun 1795-1797 menimbulkan inflasi besar-besaran, harga melonjak tak terkendali, kerusuhan meluas di kota-kota Perancis sehingga bahaya perang saudara mengancam.[16]

Dalam kondisi seperti ini Napoleon yang sebelumnya ada di Mesir segera bergegas pulang dan dengan dukungan penuh dari militer, Dewan Direktoire dibubarkan di Brumaire bulan November 1799. Peristiwa ini dekenal dengan Revolusi Brumaire. Dengan kudeta tersebut Napoleon mendirikan pemerintahan Konsuler, yang terdiri dari tiga orang. Dalam kenyataan Napoleon menjadi konsul utama dan menjadi penguasa tunggal sejak tanggal 15 Desember 1799.[17][18] (M.S.Mitchel Vinco/ Makalah pada kuliah Sejarah Eropa)


[1] Jawaharlal Nehru, Lintasan Sedjarah Dunia II, Djakarta, Balai Pustaka, 1951, hlm.76.

[2] Ibid, hlm.77.

[3] Golongan Gerondin merupakan salah satu wadah kaum nasionalis, menghimpun kaum borjuis, pedagang, industrialis, mempunyai kedudukan ekonomi yang kuat, juga menguasai parlemen-parlemen di berbagai kota di Perancis. Tokoh gerondin: Brissot, Roland, Concordet. Adisusilo. J.R., Kapita Selekta Sejarah Eropa Abad XVIII-XIX, Yogyakarta, Univeersitas Sanata Dharma, 1998, hlm. 41.

[4] Golongan Jacobin merupakan perkumpulan kaum buruh dan petani, bersifat radikal dan ekstrim. Sudah beberapa kali melakukan pemberontakan tahun 1780 sampai 1785-an. Tokohnya: Robespierre dan Petion. Selain Gerondin dan Jacobin terdapat juga golongan Cordellier (kaum terpelajar dan teknokrat) dan kaum konstitusionalis. Ibid.hlm.41.

[5] Adisusilo, J.R. (Ed), op.cit., hlm. 28-29.

[6] Ibid. hlm.29.

[7] Crane Brinton, Anatomi Revolusi, Djakarta, Bhratara, 1962, hlm.182.

[8] Ibid, hlm.179-180.

[9] Jawaharlal, op.cit, hlm.67.

[10] Adisusilo, J.R.(Ed), op.cit, hlm.30.

[11] Idem.

[12] Jawaharlal, op.cit. hlm.67.

[13] Ibid, hlm.77.

[14] Ibid, hlm.78.

[15] Ibid, hlm.79.

[16] Adisusilo, J.R.(Ed), op.cit, hlm.30.

[17] Idem.

[18] Idem.

Tidak ada komentar: