Selasa, 20 Oktober 2009

NASIONALISME AGRESIF NAPOLEON... Bagian II

D. Nasionalisme Agresif Napoleon (1799-1813)

Revolusi Brumaire 1799 menjadi tonggak utama, yang kemudian melegitimasi nasionalisme agresif Napoleon ke berbagai penjuru Eropa. Revolusi Brumaire hanya dapat terjadi karena Napoleon Bonaparte sudah sangat masyur dan rakyat menaruh kepercayaan pada pemuda dari Corsica ini.[1]

Revolusi Perancis 1789 dengan panji-panji liberte, egalite dan fraternite telah diturunkan kibarnya, sedangkan demokrasi menjadi pertanyaan besar saat ini, saat seorang Jenderal besar yang masyur dengan kendaraan militer ekspansionisnya menjadi berkuasa di Perancis. Meskipun demikian, sorak-sorai rakyat tetap bergema menyambut hadirnya sang penakluk Eropa ini, dan untuk sementara mengaburkan kendaraan ”pembunuh” yang ditunggangi sang pahlawan Perancis tersebut.

Revolusi Brumaire merupakan revolusi yang dilancarkan oleh kaum militer terhadap revolusi yang pada mulanya dilancarkan oleh sipil. Itulah maksudnya bila dikatakan Revolusi Perancis dimulai oleh sipil tetapi kandas di tangan militer, yang semula ingin menghapus kediktaturan Louis XVI maka dengan berkuasanya Napoleon revolusi telah berputar haluan kediktratur yang lain lagi.[2]

Pada malam pertama sesudah Coup d’Etat itu, sebelum konstitusi baru direncanakan atau diusulkan, Napoleon menunjuk dua panitia untuk merencanakan buku undang-undang. Inilah tindakannya yang pertama dalam kediktatoran. Buku undang-undang ini akhirnya diterima dalam tahun 1804. Buku ini juga disebut Code Napoleon.[3]

Napoleon bertugas sebagai konsul utama hingga tahun 1804. berkat popularitasnya yang semakin menenjak, rakyat Perancis mengijinkannya mengubah konsulat itu menjadi suatu kekaisaran. Napoleon mengundang Sri Paus untuk memahkotainya sebagai Kaisar Perancis di Katedral Notre Dame di Paris 18 Mei 1804.[4] Maka dengan demikian, Napoleon mulai membangun Kekaisaran Perancis-nya di atas legitimasi nasionalisme, atas nama rakyat yang memujanya.

Setelah dipukul angkatan laut Inggris saat ekspedisinya ke Mesir 1798, Napoleon memang sibuk dengan urusan dalam negeri. Akibatnya tahun 1800 Rusia mulai memasuki kancah perebutan kekuasaan di Timur Tengah. Rusia dalam kekosongan konflik Perancis Inggris berhasil menganeksasi Georgia dan menduduki sela-sela strategis di pegunungan Kaukasus pada tahun 1800.[5]

Dengan masuknya kepentingan Rusia di Timur Tengah dan demi membendung kepentingan Rusia tersebut, Inggris mengadakan perjanjian damai dengan Perancis tahun 1802. Masa perdamaian dengan Inggris ternyata tidak melemahkan semangat ekspansionis Napoleon. Pada tahun-tahun damai digunakan Napoleon untuk memperkuat perkapalan Perancis. Semua galangan-galangan kapal di Eropa bekerja sekuat tenaga untuk mempersiapkan kapal bagi armada Napoleon.[6] Kebulatan tekad Napoleon untuk memperkuat angkatan laut merupakan indikasi untuk segera meletus kembali perang antara Perancis dan Inggris. Masa damai ternyata menjadi ”kedok” untuk mengumpulkan kekuatan dan kemudian melakukan revance.

Masih terkait dengan politik luar negeri, Napoleon membutuhkan pemasukan kas negara yang cukup besar untuk menunjang persiapan perang. Tahun 1803, Napoleon menjual tanah koloni Perancis di Amerika yaitu Louisiana kepada Amerika Serikat seharga 15 juta dollar Amerika. Selain untuk mengisi kas negara, penjualan ini juga untuk menutup kemungkinan Inggris untuk mendirikan koloni di Amerika.[7]

Tahun 1805 dimulailah gerakan ekspansi Napoleon. Dengan alasan harus mengalahkan Inggris dahulu baru jaminan kekuasaan di Eropa dan Asia dapat terlaksana, Napoleon dan armadanya merencanakan untuk langsung menyerang Inggris melalui Selat Dover. Pasukan-pasukan darat Perancis yang termasyur dan angkatan laut yang sudah dibangun dengan matang dikerahkan dan dipersiapkan di Boulogne untuk menyeberang menghancurkan Inggris.

Laut dan sosok Nelson – perwiwa angkatan laut Inggris yang mengalahkan Napoleon di Mesir – sepertinya menjadi momok menakutkan bagi pasukan Perancis. Pada tanggal 21 Oktober 1805, Nelson berhasil mengaramkan ambisi Perancis untuk menyerang Inggris. Armada gabungan angkatan laut Perancis dan Spanyol berhasil dihancurkan Nelson di dekat Teluk Trafalgar di pantai Selatan Spanyol.[8] Ini menjadi kekalahan kedua Pasukan Perancis di bawah pimpinan Napoleon terhadap pasukan Inggris di bawah komando Nelson. Ironisnya keduanya terjadi di laut.

Semangat militeristik Napoleon tidak redup begitu saja di Teluk Trafalgar. Di tahun yang sama (1805) Napoleon berhasil memenangkan pertempuran gilang-gemilang di Eropa daratan. Napoleon memukul tentara Rusia dan Austria di Austerlia (1805), tentara Prusia di Jena dan Auerstadt (1806) dan lagi tentara Rusia di Eylau dan Friedland (1807).[9]

Bagaimana dengan Inggris? Harus diakui Napoleon bahwa Inggris memang digdaya di lautan. Namun, tidak berarti Napoleon menyerah kalah terhadap Inggris. Masih terlalu awal bagi Panglima Corsica tersebut untuk kalah. Napoleon kemudian mengeluarkan kebijakan Stelsel Continental atau menutup semua pelabuhan di Eropa untuk Inggris.[10] Tidak ada yang boleh bagi negara-negara Eropa untuk berdagang dengan Inggris. Sekali lagi otoritas Napoleon tampak sangat dominan di Eropa, setelah sebelumnya berhasil ”memaksa” Paus untuk melantiknya sebagai Kaisar (1804).

Inggris untuk ketiga kalinya berhasil mengungguli Napoleon. Inggris membalas Stelsel Continental dengan mengepung perdagangan Eropa dari hubungan dengan wilayah Amerika dan benua lain di seberang samudera. Cara lain yang digunakan Inggris untuk melawan Napoleon adalah dengan memberikan emas kepada musuh-musuhnya dan kepada negeri-negeri netral. Selain itu propaganda juga dilakukan Inggris untuk menjelek-jelekkan pemerintahan Napoleon. Uang-uang palsu juga diselundupkan ke Eropa daratan untuk mengganggu keseimbangan ekonomi di sana.[11]

Meskipun selalu gagal memukul Inggris, Napoleon masih tangguh di daratan. Dalam tahun 1807 Napoleon menyerbu Portugal dan menaruh saudaranya Joseph Napoleon di atas tahta Spanyol (1808).[12]

Tahun 1809 Napoleon mempersiapkan kampanyenya yang terbesar dan yang akan menjadi awal kecelakaan strateginya, yaitu penyerbuan Rusia oleh ”La Grande Armee”(Tentara Agung).[13] Persiapanpun dilakukan hingga tahun 1812. dalam tahun 1812 Napoleon dan tentaranya yang berjumlah besar bergerak menyerbu Rusia. Ditaklukkannya tentara-tentara Rusia dan kemudian terus maju tanpa perlawanan berarti. Pasukan-pasukan Rusia terus menarik diri mundur, sementara pasukan Perancis terus merangsek maju dan akhirnya sampai di muka gerbang Moskow.[14]

Setelah Napoleon dapat mengatur pengepungan terhadap Moskow pada September 1812, angin dingin mulai berhembus yang menandai datangnya musim dingin. Pasukan Napoleon tidak siap dengan kondisi alam demikian, maka terjadi kekacauan di dalam pasukan Napoleon.[15] Di dalam Moskow sendiri, sudah muncul keputusasaan, Tsar Rusia sudah mau menyerahkan diri. Namun, disaat yang genting, Rusia menjalankan taktik membumihanguskan kota Moskow dan semua rute yang akan dilewati Napoleon.

Keadaan yang demikian, musim dingin dan taktik bumi hangus, membuat Napoleon mengambil keputusan untuk menarik pasukannya kembali ke Perancis. Perjalanan pasukan Napoleon ke Perancis justru membawa bencana yang sangat besar. Pasukan Perancis tersebut berjalan pulang dengan letih dan sulit menembus medan salju, sedangkan pasukan Rusia justru melakukan taktik gerilya selama perjalanan tersebut. Ribuan pasukan Perancis tewas, sedangkan yang masih bertahan harus berjalan dengan kaki membeku dan bengkak-bengkak.[16]

Napoleon kemudian meninggalkan tentaranya dan berlari ke Paris untuk mengerahkan segala kekuatan yang masih ada, tetapi Napoleon menderita kekalahan lagi di Leipzig (1813).[17] Inilah serangan terakhir yang bisa dilakukan Napoleon.

E. Akhir Kekuasaan Kaisar Napoleon

Selama sepuluh tahun Napoleon menjadi kaisar di Perancis, dan selama waktu itu pula Napoleon memburu ke seluruh Eropa, dengan perjuangan-perjuangan militer Napoleon merebut kemenangan gilang-gemilang. Segenap Eropa gentar mendengar namanya, memang Napoleon berhasil menjadi penguasa Eropa dan tidak ada yang seperti itu sebelumnya. Ulm, Austerlitz, Jena, Eylau, Friedland, Wagram, adalah nama-nama dari beberapa kemenangan yang termasyur di darat. Austria, Prusia dan Rusia semuanya runtuh di depan Napoleon. Spanyol, Italia, Belanda, sebagian besar Jerman, yang disebut confederasi sungai Rine, Poland sekarang disebut kerajaan Hertog Warshow, semuanya menjadi taklukan Napoleon.[18]

Ironis sekali, setelah kekalahan atau tepatnya kesalahan strategi di front Rusia, Napoleon juga dimusuhi oleh orang-orang yang dulu dekat dengannya. Merasa tidak ada peluang untuk bangkit, Napoleon turun dari tahta pada 11 April 1814. Napoleon mundur dari tahtanya dan dipaksa mengasingkan diri di Pulau Elba yang berbatu-batu.[19]

Nasionalisme militeristik yang dibawa Napoleon selama lima belas tahun akhirnya berakhir pada tahun 1814, seperti halnya Napoleon menumbangkan kekuasaan sipil tahun 1799. Mengapa hal demikian bisa terjadi?

”Menara mercusuar” yang dibangun Napoleon yang sempat menyilaukan daratan Eropa selama lebih dari satu dekade, sebenarnya dibangun dengan fondasi yang keropos. Fondasi keropos tersebut adalah nasionalisme semu dan ambisi Napoleon mendirikan imperium agung, seperti Karel Agung dan Caesar.

Memang anti klimaks agresi militer Napoleon adalah kesalahan strategi di front Rusia, tetapi sesungguhnya bibit kehancuran dinasti Bonaparte ini sudah dipupuk dan tumbuh sejak awal kekuasaannya. Kekalahan di depan kota Moskow hanyalah salah satu faktor yang mempercepat jatuhnya Napoleon beserta dinasti yang hendak dibangunnya. Tanpa itupun Napoleon sudah mengarahkan dirinya pada kekalahan.

Ada berbagai faktor yang menyebabkan berakhirnya kekaisaran Napoleon Bonaparte. Berbagai faktor ini saling terkait, oleh sebab itu tidak bolehlah kita menyederhanakan persoalan jatuhnya Napoleon dengan satu faktor dominan saja.

Faktor pertama adalah nasionalisme yang dikumandangkan Napoleon pada awal dimulainya kepemimpinannya atas Perancis. Nasionalisme yang dikumandangkan Napoleon tidak lebih merupakan nasionalisme semu, yang hanya menjadi alat legitimasi untuk melancarkan ekspansinya ke penjuru Eropa.

Setelah dinobatkan menjadi raja (1804) di Perancis, Napoleon tidak dapat mendasarkan kekuasaanya pada tradisi dan hak ke-Tuhanan, seperti raja-raja sebelumnya. Napoleon mesti mendasarkannya pada kecakapannya dan kemasyurannya di tengah-tengah rakyat, lebih-lebih kaum petani, yang semuanya memang menjadi penunjangnya yang setia, karena mereka merasa bahwa Napoleon telah menolong tanah-tanah mereka.[20] Tetapi kaum petani ini lambat laun merasa jemu juga dengan rhetorasi Napoleon yang mengobarkan panji-panji nasionalisme semu Perancis, mereka merasa jemu harus menyediakan putra-putra mereka untuk peperangan, yang hampir terus menerus terjadi. Kejemuan yang dipupuk terus menerus akhirnya membuat ”mercusuar” yang telah didirikan Napoleon dengan panji-panji nasionalisme mulai goyang.[21]

Napoleon tertarik dengan nasionalisme Perancis, bahkan menggunakannya dalam dasar kekuasaannya, akan tetapi Napoleon sendiri bukanlah nasionalis. Napoleon menyempurnakan negara kebangsaan dengan kekuasaan yang terpusat, dengan sistem undang-undangnya yang seragam, birokrasi dan pendidikan, akan tetapi Napoleon melakukan ini dalam semangat raja-raja abad ke-18. Napoleon bersedia menggunakan aspirasi-aspirasi nasional selama masih sesuai dengan sistemnya, tanpa mempunyai keinginan yang sungguh-sungguh untuk memuaskan rakyat.[22]

Napoleon memberi dorongan yang samar-samar kepada keinginan nasional Italia dan Polandia, akan tetapi Napoleon meletakkan kepentingan-kepentingan nasional itu di bawah kepentingan imperium dan dinastinya. Ambisi Napoleon bukanlah negara kebangsaan, bahkan bukan negara-negara kebangsaan yang diperluas, akan tetapi kebangunan kembali imperium Karel Agung dan Caesar.[23]

Dalam menaklukkan Eropa Napoleon selalu membawa semangat Revolusi Perancis. Rakyat-rakyat di negeri-negeri yang ditaklukan Napoleon, tidak benci terhadapnya bahkan menyanjungnya sebagai pembebas dari tangan-tangan feodal. Di Jerman Feodalisme disapu bersih. Di Spanyol dihabiskannya mahkamah agama. Tetapi semangat kebangsaan yang secara tidak sadar turut dibangunnya dalam negeri-negeri itu, mulai berpaling kearahnya dan akhirnya menaklukkan Napoleon. Napoleon memang dapat mengalahkan raja-raja feodal di eropa, tetapi Napoleon tidak berhasil menguasai rakyat-rakyat yang berdiri melawannya.[24]

Demikianlah bangsa Spanyol bangkit menentang Napoleon. Rakyat Jerman juga mengadakan organisasi di bawah seorang patriot besar, Baron von Stein, yang kemudian menjadi musuh Napoleon yang tidak terkalahkan. Kemudian datanglah perang kemerdekaan Jerman. Demikianlah nasionalisme yang yang telah dibangkitkan Napoleon sendiri bergabung dengan kekuatan Inggris di laut, menyebabkan kejatuhannya.[25]

Faktor kedua adalah kolusi yang dilakukan Napoleon terhadap para saudaranya lelaki maupun perempuan, meskipun mereka sebenarnya tidak memiliki kemampuan yang cakap. Faktor ini disebabkan karena Napoleon berambisi membangun sebuah imperium dimana keluarga Napoleon yang berkuasa. Orang-orang terdekatnya ini, awalnya diharapkan Napoleon untuk mendukung kekuasaannya, tetapi dikemudian waktu merekalah yang bermain mata dengan para musuh Napoleon. Termasuk istri keduanya Maria Louise puteri maharaja Hapsburg dari Austria.

Saudara-saudaranya yang lain bodoh dan sia-sia, tetapi Napoleon tetap menjadikan mereka raja-raja dan pengendali pemerintahan. Hampir setiap saudara-saudaranya berlaku palsu kepada Napoleon dan meninggalkan Napoleon dalam waktu kesukaran. Satu-satunya saudaranya yang sopan adalah Lucien, yang telah membantu Napoleon dalam keadaan genting selama Coup d’Etat tahun 1799, tetapi akhirnya juga bertengkar dengan Napoleon dan menarik diri ke Italia.[26]

Faktor ketiga adalah penghianatan menteri-menteri dalam pemerintahannya terhadap Napoleon. Beberapa dari para menterinya sendiri berkhianant padanya; Talleyrand bersekongkol dengan Tsar Rusia, Fouche dengan Inggris. Napoleon mengetahui bahwa mereka berkhianat, tetapi ajaib, Napoleon hanya menyalahkan mereka dan mengijinkan terus menjadi menteri. Salah satu Jenderalnya, Bernadotte menentang dan menjadi musuh Napoleon.[27]

Akibat dari berbagai faktor tersebut, Napoleon menjadi pemimpin yang sangat diktator, banyaklah orang yang dipenjara dengan tidak diperiksa terlebih dahulu. Nyatalah bahwa pamor Napoleon sedang dimasa krisis. Selain itu penyakit kankerpun mulai menyerangnya di tahun 1812. Berbagai faktor tersebut semakin mempercepat jatuhnya Napoleon dengan didorong faktor keempat yaitu kekalahan La Grande Armee di depan kota Moskow, Rusia. (M.S. Mitchel Vinco/ Makalah pada Kuliah Sejarah Eropa)


[1] Jawaharlal, op.cit, hlm.80.

[2] Adisusilo, J.R.(Ed), op.cit, hlm.30.

[3] Ibid, hlm.81.

[4] Yenne, op.cit, hlm.98-99.

[5] Polak J.B.A.F, Sejarah Dunia Modern, Denpasar, Gunung Agung Bali, 1975, hlm.121.

[6] Idem.

[7] Howard Cincotta (Ed), Garis Besar Sejarah Amerika, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, 1994. hlm. 117. lihat juga Polak, op.cit, hlm.121.

[8] Jawaharlal, op.cit, hlm.83. lihat juga Polak, op.cit, hlm.122.

[9] Polak, op.cit, hlm.122.

[10] Idem. Lihat juga Jawaharlal, op.cit, hlm.83.

[11] Jawaharlal, op.cit, hlm.83.

[12] Polak, op.cit, hlm.123.

[13] Ibid, hlm.124.

[14] Jawaharlal, op.cit, hlm.86.

[15] Yenne, op.cit, hlm. 99.

[16] Jawaharlal, op.cit, hlm.87.

[17] Polak, op.cit, hlm.124.

[18] Jawaharlal, op.cit.hlm.82.

[19] Ibid, hlm.87.lihat juga Yenne, op.cit,hlm.100.dan juga Polak, op.cit, hlm.124.

[20] Jawaharlal, op.cit, hlm.82.

[21] Idem.

[22] Hans Kohn, op.cit.hlm.39.

[23] Idem.

[24] Jawaharlal, op.cit, hlm. 84.

[25] Idem.

[26] Ibid, hlm.85.

[27] Ibid, hlm.86.

NASIONALISME AGRESIF NAPOLEON BONAPARTE (1799-1814) Bagian I

A. Napoleon “Si tangguh” dari Corsica

Napoleon Bonaparte lahir dalam tahun 1769 di pulau Corsica, yang menjadi bagian Perancis. Napoleon sebenarnya campuran Corsica, Perancis dan Italia. Dia dilatih di sekolah militer di perancis, dan selama revolusi menjadi anggota golongan Jacobin.[1] Ambisi Napoleon muda mulai terlihat di sini, apalagi setelah diketahui bahwa Napoleon menggabungkan diri dengan orang-orang Jacobin, semata-mata untuk memajukan kepentingan dan kemajuannya sendiri, dan bukanlah karena percaya dalam cita-cita mereka. Dikemudian hari ketidakterikatan Napoleon terhadap suatu partai politik, menyebabkan Napoleon dengan leluasa menerapkan sistem politiknya. Bahkan ketika harus membentuk pemerintahan koalisi (1795) dengan ”muntahan peluru untuk rakyat” dan di lain saat harus membubarkannya pada November 1799. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan revolusi Brumaire, sekaligus menjadi starting point berkuasanya Napoleon di Perancis secara mutlak..

Kembali ke masa mudanya, pada tahun 1793 saat berusia 24 tahun, Napoleon menang untuk pertama kalinya dalam pertempuran di Toulon. Pemberontakan Toulon merupakan penghianatan orang-orang kaya yang merasa dirugikan oleh revolusi Perancis. Orang-orang kaya ini mengundang dan meminta perlindungan dari tentara Inggris, perbuatan tersebut tentu menjadi bencana bagi Perancis yang baru memulai pemerintahan sipilnya sejak 1789.

Napoleon kemudian membinasakan kaum pemberontak itu dan mengalahkan pasukan Inggris di Toulon oleh serangan yang amat ulung. Bintangnya mulai gemerlapan sekarang, dan pada usia 24 tahun Napoleon menjadi Jenderal.[2]

B. Pemerintahan Teror Jacobin (1793-1794)

Di dalam negeri Perancis – diwaktu Napoleon sibuk dengan perang-perang diluar – terjadi pergolakan antara golongan-golongan, terutama golongan Gerondin[3] dan Jacobin.[4] Tahun 1793, pada tanggal 21 Januari, kaum Gerondin disingkirkan dari puncak pemerintahan oleh golongan Jacobin. Di waktu yang sama Raja Perancis juga dibunuh oleh golongan Jacobin. Naiknya Jacobin sebagai golongan tertinggi di pemerintahan tidak serta merta membawa perbaikan. Usaha memperbaiki ekonomi dan masalah-masalah dalam negeri lainnya ternyata mengalami kesulitan.

Pada pemerintahan Jacobin, semangat revolusi memang berhasil untuk menangkis lawan-lawan yang datang dari luar – dibuktikan dengan kemenangan Napoleon di Toulon – namun gagal mengatasi kesulitan-kesulitan dalam negeri yang diperburuk oleh gerakan-gerakan kontra revolusi yang dilancarkan oleh sisa-sisa Gerondin lainnya.[5] Akibatnya banyak sekali pemberontakan, pembangkangan dari pemerintah daerah terhadap pemerintahan pusat di Paris antara tahun 1793-1794.

Pertentangan dalam dewan Konvensi dan antara golongan-golongan memaksa Robespierre pemimpin Jacobin menerapkan pemerintahan teror. Kebijakan ini diawali dengan dibentuknya Panitia Keselamatan Umum dan disusul dengan Komite keamanan Umum pada bulan agustus 1793. Kedua lembaga inilah yang kemudian melakukan teror, terutama bagi lawan-lawan politik Jacobin.

Mulai bulan april hingga Juli 1794 puluhan ribu ’musuh revolusi” dari kalangan bangsawan, pejabat gerejani, kaum royalis, Gerondin, bahkan Jacobin seperti Danton, Roland, diajukan ke depan Pengadilan revolusioner serta di kirim ke tiang guillotin.[6] Kondisi demikian telah menghancurkan sendi-sendi demokrasi dan hak asasi yang diperjuangkan sejak revolusi Perancis tahun 1789. Situasi itulah yang mendorong militer untuk turun tangan dengan melakukan kudeta.

Jenderal Hanriot, Panglima militer dari distrik kota Paris menangkap Robespiere dan ”dedengkotnya” tanggal 27 Juli 1794 dan kemudian pada tanggal 28 Juli langsung dijatuhkan hukuman guillotin oleh Dewan Konvensi.

Bermula dari tahun 1794 inilah, campur tangan militer mulai mangambil peran besar di dalam negeri Perancis. Pada awalnya campur tangan militer hanya untuk menstabilkan kondisi politik yang sudah sangat ekstrim gerakannya. Hal itu pula yang diingini rakyat Perancis kebanyakan, yang merasa dirugikan dan terancam oleh gerakan ekstrim penguasa, sehingga melegitimasi kudeta militer 1794 di Paris, Perancis. Analisis ini juga sesuai pendapat Crane Brinton, dalam bukunya Anatomi Revolusi (terjemahan), yang mengatakan ”dalam revolusi-revolusi ini golongan radikal pada satu hal mewakili atau melaksanakan apa yang dikehendaki oleh jiwa, kemauan, semangat bangsa-bangsa mereka masing-masing”[7]

Golongan ekstrimis, dalam hal ini gerakan ekstrim dari militer, mendapat kemenangan oleh karena mereka memegang pengawasan terhadap pemerintahan tidak sah (Golongan Girondin, royalis dan bangsawan) dan kemudian merubahnya dalam suatu coup d’etat yang menentukan, atas pemerintahan yang sah (Jacobin).[8]

C. Dewan Directoire hingga Revolusi Brumaire (1795-1799)

Segera setelah Coup d’etat Jenderal Hanriot, Dewan Konvensi sebagai lembaga legislatif segera mempersiapkan Konstitusi baru. Pada bulan oktober 1795, lima belas bulan kemudian, rapat nasional dibubarkan dan sebuah majelis terdiri dari lima anggota menjadi pengendali pemerintah.[9] Pemerintahan itu kemudian disebut Dewan Direktoire. Di antara kelima direktur tersebut adalah Abbe Seiyes, Henriot dan Napoleon Bonaparte, namun Napoleon masih sibuk di medan perang menghadapi koalisi.[10]

Perancis mengalami guncangan berat di dalam negeri. Pemerintahan apapun, dari golongan manapun, akan sulit menstabilkan situasi di Perancis. Dewan Direktoire mengalami nasib serupa. Kendaraan militer yang mereka bawa tidak mengurungkan perlawanan dari pihak oposisi yang dipimpin sisa-sisa kaum royalis dan Jacobin.

Konstitusi baru yang mencoba menghapuskan pemerintahan diktatur tidak mendapat sambutan positif dari rakyat dan justru di bawah hasutan kaum royalis, mereka melancarkan pemberontakan Oktober 1795.[11] Kejadian itu akhirnya mampu ditumpas oleh seorang jenderal muda dari tentara republik, Napoleon Bonaparte, yang berani menembaki khalayak Perancis.[12] Hanya dengan ketegasan militeristik Napoleonlah pemberontakan tersebut dalam waktu singkat dapat dipadamkan.

Dari dalam negeri, kita beralih ke font lain di luar negeri. Seperti diungkapkan di awal, kondisi dalam negeri yang kacau ternyata tidak memberi dampak berarti pada politik luar negeri. Perancis dengan panji-panji nasionalisme menancapkan cakar-cakar pengaruhnya di berbagai sudut daratan Eropa. Gerakan ekspansif tersebut dipimpin oleh pemuda dari Corsica yang kita kenal, yaitu Napoleon Bonaparte. Meskipun menjabat sebagai salah seorang dari Dewan Directoire, Napoleon tidak dapat meninggalkan nalurinya sebagai seorang militer yang haus kekuasaan.

Dalam tahun 1896 Napoleon menjadi panglima tentara Italia dalam ekspansi ke Italia Utara. Bangsa-bangsa Eropa dikejutkan dengan kemenangan gilang gemilang Napoleon di Italia Utara tersebut.[13] Setelah memenangi pertempuran di Italia Utara dan mengalahkan Austria di sana dan menghabiskan republik purba Venesia, dia kembali ke Paris sebagai pahlawan besar yang telah mengadakan rebutan-rebutan yang membanggakan. Pada waktu itu Napoleon sudah mulai menguasai Perancis dengan karisma dan popularitasnya.[14]

Pasca kemenangan di Italia Utara, Napoleon belum tertarik untuk duduk sebagai pemimpin Perancis. Namun, saat itu saja karismanya sudah dapat mempengaruhi hampir seluruh rakyat Perancis. Tampaknya hanya menunggu waktu saja, Napoleon akan menjadi orang nomer satu di Perancis. Meskipun demikian ada satu keinginan yang ingin dicapainya dahulu, yaitu menguasai Mesir, wilayah yang sangat dipuja Napoleon dari masa kanak-kanaknya.

Mesir pada waktu itu menjadi bagian dari kemaharajaan Turki Ottoman yang sedang merosot, akibatnya yang mengendalikan Mesir adalah orang-orang Mameluk atas nama Sultan Turki. Napoleon sebagai ahli dalam peperangan di darat dengan mudah dapat menaklukan Mesir. Tetapi ternyata kedigdayaan Napoleon di darat tidak diimbangi kekuatan laut yang cakap. Sedangkan Inggris mempunyai perwira-perwira laut yang tangguh seperti Nelson. Akibatnya sudah dapat dikira, Napoleon terisolasi dari hubungan dengan Perancis karena laut dikuasai Inggris.

Meskipun Napoleon memperoleh kemenangan yang gilang-gemilang di Mesir, ekspedisi ke Timur ini dapat dikatakan gagal. Oleh karena itu, Napoleon kembali ke Perancis dan mengurbankan Mesir.[15]

Di dalam negeri Perancis, pemerintahan koalisis Thermidor tidaklah berjalan lancar karena krisis pangan antara tahun 1795-1797 menimbulkan inflasi besar-besaran, harga melonjak tak terkendali, kerusuhan meluas di kota-kota Perancis sehingga bahaya perang saudara mengancam.[16]

Dalam kondisi seperti ini Napoleon yang sebelumnya ada di Mesir segera bergegas pulang dan dengan dukungan penuh dari militer, Dewan Direktoire dibubarkan di Brumaire bulan November 1799. Peristiwa ini dekenal dengan Revolusi Brumaire. Dengan kudeta tersebut Napoleon mendirikan pemerintahan Konsuler, yang terdiri dari tiga orang. Dalam kenyataan Napoleon menjadi konsul utama dan menjadi penguasa tunggal sejak tanggal 15 Desember 1799.[17][18] (M.S.Mitchel Vinco/ Makalah pada kuliah Sejarah Eropa)


[1] Jawaharlal Nehru, Lintasan Sedjarah Dunia II, Djakarta, Balai Pustaka, 1951, hlm.76.

[2] Ibid, hlm.77.

[3] Golongan Gerondin merupakan salah satu wadah kaum nasionalis, menghimpun kaum borjuis, pedagang, industrialis, mempunyai kedudukan ekonomi yang kuat, juga menguasai parlemen-parlemen di berbagai kota di Perancis. Tokoh gerondin: Brissot, Roland, Concordet. Adisusilo. J.R., Kapita Selekta Sejarah Eropa Abad XVIII-XIX, Yogyakarta, Univeersitas Sanata Dharma, 1998, hlm. 41.

[4] Golongan Jacobin merupakan perkumpulan kaum buruh dan petani, bersifat radikal dan ekstrim. Sudah beberapa kali melakukan pemberontakan tahun 1780 sampai 1785-an. Tokohnya: Robespierre dan Petion. Selain Gerondin dan Jacobin terdapat juga golongan Cordellier (kaum terpelajar dan teknokrat) dan kaum konstitusionalis. Ibid.hlm.41.

[5] Adisusilo, J.R. (Ed), op.cit., hlm. 28-29.

[6] Ibid. hlm.29.

[7] Crane Brinton, Anatomi Revolusi, Djakarta, Bhratara, 1962, hlm.182.

[8] Ibid, hlm.179-180.

[9] Jawaharlal, op.cit, hlm.67.

[10] Adisusilo, J.R.(Ed), op.cit, hlm.30.

[11] Idem.

[12] Jawaharlal, op.cit. hlm.67.

[13] Ibid, hlm.77.

[14] Ibid, hlm.78.

[15] Ibid, hlm.79.

[16] Adisusilo, J.R.(Ed), op.cit, hlm.30.

[17] Idem.

[18] Idem.

Senin, 17 Agustus 2009

20 Mei 1908: Diingat, Ditemukan, Ditemu-ciptakan

Bernard Lewis, sejarawan “otoritatif” kajian Sejarah Timur Tengah dari Princenton University, USA, mengungkapkan tiga ragam sejarah yang selama ini eksis di masyarakat, yaitu: 1) sejarah sebagaimana yang diingat (remembered), 2) sejarah sebagaimana yang ditemukan kembali (recovered), dan 3) sejarah sebagaimana yang ditemu-ciptakan (invented).

Tulisan ini akan mengkaji Sejarah Awal Kebangkitan Nasional Indonesia, yang terkait Budi Utomo, menggunakan ketiga jenis sejarah di atas. Namun, sebelumnya akan dibahas pengertian singkat jenis-jenis sejarah tersebut.

Sejarah jenis pertama oleh para antropolog dan sosiolog biasa disebut memori kolektif, yang menjadi identitas dan nilai bersama di dalam masyarakat penghayatnya. Sejarah jenis ini berdasarkan ingatan yang diturunkan antar generasi dan menjadi keyakinan yang tidak mudah berubah. Sejarah jenis ini dapat dilihat dari upacara peringatan atau selebrasi terhadap peristiwa masa lalu.

Sejarah jenis kedua merupakan penemuan masa lalu, berdasarkan jejak-jejak peristiwa yang ditemukan dan dirangkai melalui cara kerja ilmiah. Karena yang berusaha disusun kembali adalah jejak-jejak masa lalu yang tidak utuh, maka dalam rekontruksinya, suka tidak suka, sejarawan akan masuk ke sejarah jenis ketiga.

Sejarah yang ditemu-ciptakan (invented) merupakan sejarah yang ditulis dengan tujuan tertentu. Sejarah jenis ini dimungkinkan terjadi karena pemalsuan dan penyingkiran sumber sejarah, tetapi juga karena semangat subyektif sejarawan yang tergambar dalam karyanya. Sejarah jenis ketiga ini, tidak bisa dihindari maupun dihilangkan, karena dalam penelitian sejarah proses interpretasi terhadap sumber sejarah mendayagunakan penciptaan dan imajinasi.

Dalam memahami ketiga jenis sejarah tersebut, agar tidak terjadi kesalahan pemahaman, perlu dikemukakan pendapat sejarawan senior Indonesia, Taufik Abdullah, seketika kata sejarah disebut maka dua pengertian akan tampil – “hasil rekontruksi peristiwa di masa lalu” dan “sebuah sistem keilmuan untuk merekontruksi peristiwa di masa lalu”. Dengan demikian sejarah dapat menjadi alat perjuangan, penanaman nilai-nilai hidup, selama tata cara keilmuan dijalankan. Seperti kata Sartono Kartodirjo, ”penulisan kembali biasa dilakukan, karena penemuan fakta-fakta baru, atau sejarawan membuat interpretasi baru terhadap fakta yang sudah ada berdasarkan kerangka teoritik konseptual dan jiwa jaman yang baru”.

Kebangkitan Nasional: Yang Diingat
Setiap tahun, pada tanggal 20 Mei, masyarakat Indonesia merayakan hari Kebangkitan Nasional. Pada tahun 2008 lalu, bertepatan 100 tahun peringatan Kebangkitan Nasional, dirayakan besar-besaran di Gelora Bung Karno. Semangat berkobar-kobar pun diserukan, bahwa Indonesia harus bangkit dari keterpurukan dan semua itu bisa dilakukan. Menurut Putu Wijaya dalam kolom Bahasa! Majalah Tempo 27/10 – 2/11 tahun 2008, acara demikian merupakan “kegiatan seremonial dan terapi psikologis untuk mengatasi segala kegalauan”. Demikian pula bila menelusuri munculnya perayaan hari kebangkitan pada awalnya.

Memori kolektif mengenai kebangkitan nasional dimulai atas prakarsa pemerintah Indonesia pada tahun 1948, di saat negara baru diproklamasikan tahun 1945, sedang mengalami ancaman serius dari kekuatan kolonial Belanda yang ingin kembali. Presiden, Wakil Presiden dan para tokoh RI yang lain merayakan hari lahirnya Budi Utomo, 20 Mei 1908, sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Secara eksplisit para tokoh bangsa ingin mengatakan, bahwa perjuangan mendapatkan kemerdekaan bangsa sesungguhnya telah bermula sejak empat puluh tahun yang lalu (1908). Dengan panjang waktu demikian, kemenangan atau mempertahankan kemerdekaan yang sudah lama dibangun adalah suatu kemestian.

Kebangkitan Nasional: Yang Ditemukan
Sejarah yang ditemukan terkait dengan kerja-kerja sistematis dalam menemukan sumber sejarah, sehingga masa lalu yang awalnya gelap menjadi terang. Dari penelitian para sejarawan dapat disebutkan tentang berdirinya organisasi-organisasi pergerakan nasional. Diawali dari catatan Taufik Abdullah mengenai pertemuan ide antara dr. A. Rivai dan dr. Wahidin Soediro Hoesodo mengenai perlunya organisasi para “kaum muda”. Dalam perjalanan mengelilingi Pulau Jawa menyebar gagasan, pada akhir 1907, dr. Wahidin bertemu dengan Sutomo, pelajar STOVIA di Jakarta. Hari Rabu, 20 Mei 1908 di Gedung STOVIA, Jakarta, Budi Utomo didirikan. Setelah perdebatan yang panjang mengenai corak Budi Utomo, Pengurus Besar membatasi jangkauan gerakan Budi Utomo kepada penduduk Jawa dan Madura, dengan bidang kegiatan pendidikan dan budaya, serta tidak melibatkan diri dalam politik. Tujuan Budi Utomo tergambar melalui slogannya, pada awalnya “kemajuan bagi Hindia”, “perjuangan untuk mempertahankan penghidupan” dan akhirnya menjadi “kemajuan secara serasi”. Pada akhir tahun 1909 Budi Utomo telah mempunyai cabang di 40 tempat dengan jumlah anggota kurang lebih 10.000 orang.
Pada tahun 1911 berdiri perkumpulan Sarekat Islam di Solo, yang kemudian berkembang pesat hingga anggotanya mencapai angka jutaan. Pada tahun 1912 berdiri juga Indische Partij, yang tidak membatasi keanggotaannya berdasarkan suku bangsa dan agama, melainkan terbuka bagi mereka yang terlahir di tanah Hindia. Kedua organisasi ini kemudian mengambil gerakan non kooperatif terhadap penguasa kolonial. Setelah Budi Utomo, Sarekat Islam dan Indische Partij, organisasi pergerakan mulai banyak bermunculan. Sebelum Budi Utomo pernah berdiri organisasi Priyayi Jawa dengan nama Sarikat Priyayi, namun organisasi belum berbentuk organisasi modern.

Kebangkitan Nasional: Yang Ditemu-ciptakan
Sejarah jenis ini muncul karena kebutuhan akan sejarah yang berarti bagi sejarawannya sendiri, masyarakat, bahkan bagi penguasa/negara. Dengan demikian, dari sejarah yang ditemukan (recovered) ditarik hubungan-hubungan sebab akibat yang berpengaruh terhadap masa sekarang dan masa depan individu, kelompok atau lembaga bersangkutan.

Kebangkitan Nasional merupakan hasil dari sejarah yang ditemu-ciptakan (invented). Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij pada masa berdirinya tidak dapat mengklaim “dirinya” sebagai pembangkit gerakan nasional menuju Indonesia merdeka. Istilah Kebangkitan Nasional diberikan kemudian, ketika dapat dilihat hasil benih-benih perjuangan mereka, yaitu lahirnya golongan terpelajar yang mampu berjuang melalui organisasi kooperatif maupun non kooperatif dengan hasil proklamasi 17 Agustus 1945.

Pemilihan kata “Kebangkitan Nasional” dapat dimengerti jika melihat perjuangan setelah 20 Mei 1908 yang menggunakan metode pergerakan atau organisasi. Berbeda dengan cara perang fisik yang bersifat kedaerahan dan sangat bergantung pada karisma tokoh tertentu. Dengan kata lain, kata “bangkit” digunakan sebagai ungkapan untuk meninggalkan cara perjuangan lama yang dikemudian hari dinilai tidak efektif.
Mengenai Budi Utomo yang gerakannya terbatas pada orang Jawa dan Madura, dapat dikatakan sebagai etnonasionalisme dan merupakan proses awal penyadaran diri terhadap identitas bangsa. Perlu dicatat pada masa itu bangsa Indonesia belumlah tergambar, melalui Indische Partij konsep tersebut digaungkan. Barulah pada 1923 Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia di Belanda menggunakan istilah kemerdekaan Indonesia. Lima tahun kemudian para pemuda mengucapkan Sumpah Pemuda 1928.

Pemaparan mengenai ragam sejarah di atas harus dilihat sebagai kesatuan. Bermula dari yang diingat, kemudian dicari dan ditemukan melalui metode yang ilmiah. Penemuan tersebut melalui seleksi nilai-nilai akan menjadi yang berarti dan tidak berarti. Meskipun demikian tetap saja yang tidak berarti pada dasarnya berarti bagi manusia. Realitas inilah yang terjadi, seleksi-seleksi tersebut akan muncul meski tidak disadari. Dalam ilmu sejarah hal ini disebut intersubyektifitas. Akhirnya sejarah yang berarti akan diingat dan ditanamkan antar generasi.

Perayaan Kebangkitan Nasional bagi masyarakat dan bangsa Indonesia tentu saja sangat berarti. Diawali Kebangkitan Nasional-lah rakyat Indonesia diantar ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Kisah tentang pergerakan awal para tokoh bangsa, mampu mengobarkan semangat juang ketika Belanda kembali ke Indonesia melalui agresi militer. Namun, setelah semua itu usai, masih berartikan kisah awal Pergerakan Nasional bagi kita? Jika iya, mari kita kenang peristiwa tersebut dengan menjadikannya cambuk semangat dan inspirasi bagi kebangkitan kita dan bangsa Indonesia. Karena sejarah bukanlah sebuah paksaan, sejarah merupakan proses dialog antara kita dengan jejak-jejak dari masa lalu.

M. S. Mitchel Vinco
Sejarawan dan Pendidik

Kebudayaan Lokal: Harta Karun di ”Rumah” Sendiri

Pulang dari ibu kota mencari harta karun, Lawing membawa cangkul ke kandang babi. Ia menemukan kaleng berisi emas dua kilo. Dengan keheranan Lawing bersandar dan berpikir ”dicari jauh-jauh, ternyata rejeki ada di dekat rumah.”(Yan Zwirs, MSF, 1998:66)

Harmonisasi Manusia dan Alam
Cara pandang melalui dimensi global, melupakan permasalahan di wilayah lokal. Pemahaman terhadap kebudayaan lokal, yang menyangkut semua ide, perilaku, dan produksi fisik kemudian melekat dengan istilah tradisional dan primitif. Tradisional mengalami pergeseran di masyarakat menjadi “kaku”, konservatif, dan ketinggalan jaman. Demikian pula primitif diartikan tidak beradab dan tertinggal secara mental. Segala yang berbau lokal, menjadi ternegasikan, terlupakan, tanpa ingin menyadari bahwa segala sesuatu pada dasarnya muncul dan berkembang sebagai jawaban dari masalah yang dihadapi.

Tradisi dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah ”segala sesuatu yang turun temurun dari nenek moyang” (Poerwadarminta, 1985). Dalam Wikipedia ensikopledia, ”...hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah” (http://id.wikipedia.org). Tradisi-tradisi tersebut merupakan pengetahuan bagaimana memecahkan masalah di sekitar manusia. Dengan demikian, tradisi-tradisi tersebut minimal sudah teruji secara waktu.

Primitif yang berarti asli, murni, harus dilihat dalam konteks sejarah kolonialisme dan imperialisme, yang menggunakan kaca mata Bangsa Eropa ketika bertemu penduduk asli. Cara pandang inilah yang didukung penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikannya dianggap modern dan beradab. Dalam anggapan umum tersebut, primitif adalah ”suatu kebudayaan atau masyarakat yang hidupnya masih tergantung alam ataupun tidak mengenal dunia luar... Kata primitif ditujukan untuk seseorang yang tidak mempunyai tatakrama dalam perilakunya” (http://id.wikipedia.org). Menurut penulis pribadi, primitif berbeda dengan tidak beradab karena standar tantangan yang dihadapi berbeda. Masyarakat primitif mampu menjawab seluruh tantangan yang ditemuinya, dibuktikan dengan masih eksisnya mereka.

Dalam memandang tradisi seperti upacara adat, harus dilihat dalam konteks terjadinya goncangan kebudayaan, yang menjadi pertanda ketidakseimbangan antara manusia dan alam. Upacara adat dilakukan demi mengembalikan keseimbangan. Dalam upacara tersebut ada proses refleksi, melihat tindakan di masa lalu yang salah dan bertentangan dengan alam, agar tidak terjadi lagi pengulangan yang sama. Adanya proses pemulihan yang disadari sebagai keinginan untuk memperoleh kembali hubungan yang seimbang dengan alam.

Kebudayaan Lokal: Humanis!
Sekarang ini tradisi-tradisi lokal sudah tergerus oleh budaya populer. Kesenian-kesenian lokal di perkotaan menjadi museum, di mana wisatawan mengagumi tradisi diambang kepunahan. Di daerah asalnya, kebudayaan lokal tak bertaji melawan busana tank top dan gaya bicara anak nongkrong. Kebudayaan lokal dalam pendidikan formal diajarkan sebagai identitas semata. Padahal Shakespeare pernah berujar “apalah arti sebuah nama? Harum mawar tetaplah harum mawar, andaikan mawar bersalin dengan nama lain...”. Demikian pula kebudayaan harus dipahami lebih dari sekedar nama, namun juga mengerti fungsi dan alasan keberadaan budaya tersebut.

Dengan isu global warming sekarang, kesadaran kolektif mengenai permasalahan lokal memang muncul. Ironisnya kewaspadaan tersebut menjadi kabur ketika bersanding dengan reklame produk dalam kemasan plastik. Akhirnya Bumi yang semakin gerah hanya menjadi slogan kecap “Stop Global Warming”. Ancaman dunia inipun seakan lewat layaknya angin lalu. Sindhunata menyebut fenomena ini “Apokalipsme Hidup Harian” (Basis No. 01-02, 2009: hlm. 3), yang justru menarik kehancuran jaman tanpa kita sadari.

Mengenai ancaman kabut asap yang terjadi di Kalimantan Barat, pembakaran lahan oleh masyarakat lokal (pedalaman) menjadi aktor utama di media massa. Memang masyarakat lokal mempunyai tradisi pembakaran lahan untuk membuka ladang. Namun, tradisi tersebut sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun. Sejak tahun 1997 (menurut Sinar Harapan 10/07/2001 kabut asap sejak 1994) asap tebal menyelimuti seluruh wilayah Kalimantan dan Sumatera. Bahkan, Sulawesi, Jawa dan beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, dan Filipina (http://www.vhrmedia.net). Tahun 1997 juga menjadi pengalaman empiris penulis ketika menggunakan masker pertama kali saat kelas enam SD. Tahun 1997 merupakan tahun yang kontemporer jika dibandingkan tradisi pembakaran hutan oleh masyarakat lokal.

Global warming, kabut asap dan banjir merupakan permasalahan global di mana titik permasalahannya ada di lingkup lokal. Segala perubahan alam pada tataran lokal akan berdampak pada kepentingan global. Penyelesaian terbaik dengan meletakkan kebudayaan lokal sebagai perpustakaan dan laboratorium ilmiah, tempat menemukan segala masalah dan solusi dalam kehidupan manusia. Memandang kebudayaan lokal sebagai hasil interaksi antara manusia dan lingkungannya, merupakan kunci dalam mengambil kebijakan. Cara pandang ini disebut relativitas atau kenisbian kebudayaan yaitu “sikap antropologis bahwa kebiasaan-kebiasaan dan pemikiran dalam suatu masyarakat harus dipandang sehubungan dengan kebudayaan masyarakat setempat. Karena sikapnya yang simpatis... maka dinamakan sikap manusiawi atau humanis” (Ihromi T.O., 1999: 16).
Akhirnya saatnya kita bersandar sejenak, berefleksi, sudah sejauh mana memahami dan menghayati lingkungan di mana kita bertumbuh. Harta karun itu adalah diri sendiri, kebudayaan dan alam sekitar, yang sejak nenek moyang sudah bersinergi dan saling menguntungkan. Ilmu pengetahuan dan teknologi berfungsi untuk memperbaiki agar “rumah” yang sudah ada semakin berkembang dan tetap selaras seperti pada awalnya. Pada akhirnya Lawing pun berujar ”...dicari jauh-jauh, ternyata rejeki (memang) ada di dekat rumah.”

M. S. Mitchel Vinco
Sejarawan dan Pendidik

Kamis, 11 Desember 2008

Pemuda yang Bangkit dan Bersumpah!

Putu Wijaya dalam tulisannya “Antara Sumpah dan Soempah” di kolom Bahasa! Majalah Tempo edisi 27 Oktober-2 November 2008, secara menarik membedakan “sumpah” dalam konteks Soempah Pemoeda dan Sumpah Pemuda. Menurutnya, sumpah di dalam Soempah Pemoeda adalah sebuah peristiwa dahsyat, sakral dan transedental. Sumpah di dalam Soempah Pemoeda (1928) merupakan tekad sekaligus ancaman agar tidak ada manusia Indonesia yang berani melanggar persatuan yang diperlukan untuk merengut kemerdekaan. Sedangkan sumpah di dalam Sumpah Pemuda saat ini merupakan sebuah kegiatan seremonial dan terapi psikologis untuk mengatasi segala kegalauan. Seremoni menjadi penting karena dapat mendamaikan perbedaan sesuai slogan: Bhineka Tunggal Ika. Setidaknya inilah realitas yang berhasil ditangkap Putu Wijaya.

Pemaknaan serupa juga didapat pada perayaan hari bersejarah Indonesia lainnya. Seperti halnya sumpah di dalam Soempah Pemoeda (1928), berdirinya Boedi Oetama (1908), Proklamasi Indonesia (1945) dan Reformasi (1998) hanya ada di masa lalu, dan memiliki makna baginya di masa lalu. Sedangkan yang ada di masa sekarang hanyalah seremoni tentang masa lampau. Pembelajaran sejarah, bahkan di perguruan tinggi, juga memperlakukan masa lalu sebagai kenangan romantis dan heroik, semata-mata hanya untuk mempertahankan semangat persatuan dalam tataran psikis. Dengan demikian, tidak ada bedanya “sejarah” dengan dongeng pengantar tidur yang juga mampu menanamkan nilai-nilai pada manusia.

Pemaknaan terhadap sejarah Indonesia selama ini hanya melihat puncak-puncak peristiwa, yang sebenarnya dihasilnya melalui proses panjang yang saling terkait. Masyarakat umum hanya mengetahui 20 Mei 1908 sebagai hari berdirinya Budi Utomo, mengetahui isi sumpah pemuda dan Pancasila. Bahkan Reformasi 1998 hanya diidentikkan dengan gerakan mahasiswa yang berhasil menggulingkan Presiden Soeharto. Apakah mungkin Budi Utomo, Sumpah Pemuda, Pancasila, hingga Reformasi terjadi seketika itu saja, seperti jentikan jemari? Peristiwa-peristiwa yang hanya diceritakan “akhirnya” pada saatnya akan dilupakan dan tidak dihargai.

Kebangkitan Nasional dan Sumpah Pemuda
Perayaan 100 tahun Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2008 diadakan secara besar-besaran. Slogan yang tertera dalam panji-panji besar di setiap bagian jalan mengajak masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan. Pemerintah juga menyatakan optimis Indonesia akan bangkit dan mampu mengatasi masalah-masalahnya. Demikianlah 2008! Bagi penulis pribadi, seratus tahun yang lalu kebangkitan adalah kondisi setelah mati. Para pemuda, pelajar dari STOVIA telah menguburkan cara perjuangan fisik yang bersifat kedaerahan. Mereka bangkit dari kematian, dengan metode perjuangan yang baru, melalui organisasi massa. Tujuannya pun tidak lagi kedaerahan, melainkan demi meningkatkan derajat ”bangsa”.

Hasil dari menguburkan cara lama dan ”bangkit” dengan cara baru adalah lahirnya perjuangan melalui organisasi. Setelah Budi Utomo ada Sarekat Islam, Indische Partij, PNI, PKI dan kemudian juga berdiri Indonesia Muda hasil dari Kongres Pemuda II 27-28 Oktober 1928. Organisasi-organisasi tersebut melahirkan sejumlah tokoh yang di kemudian hari mengantarkan Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Sehingga pemilihan kata ”bangkit” pada masa lalu memang tepat melihat metode perjuangan benar-benar berubah drastis, seperti kelahiran kembali, bangkit dari kematian. Dengan demikian makna ”bangkit” dalam perayaan 100 tahun Kebangkitan Nasional harus dipertanyakan. Seharusnya kesediaan untuk bangkit harus diikuti dengan penguburan massal cara-cara lama yang dianggap gagal dan keinginan ”revolusioner” untuk bergerak merubah bangsa ke arah yang lebih sejahtera.

Sejarah sebaiknya tidak berhenti pada keberhasilan pemuda untuk bangkit. Tetapi juga mempertanyakan alasan mengapa para calon dokter STOVIA mau berpikir untuk bangsanya. Bukankah mereka adalah golongan pribumi yang terhormat latar belakangnya dan mapan secara ekonomi. Selain itu, bagaimana para pemuda bisa mendirikan organisasi, baik yang kooperatif dan non-kooperatif di masa pemerintahan kolonial. Berbedakah umur kita, mahasiswa Sanata Dharma, dengan Tirto Adi Suryo, Sang Pemula, pendiri Sarekat Prijaji, Sarekat Dagang Islam, jurnalis bangsa yang tulisannya bisa membuat pejabat Belanda ”muntah darah”? Tirto seumur dengan kita, dan dia sangat luar biasa.

28 Oktober 2008 juga diperingati sebagai 80 tahun Sumpah Pemuda. Pilihan untuk mengucapkan ”sumpah” dan bukannya ”janji” atau lainnya, merupakan keputusan bersejarah yang membawa pengaruh bagi masa yang akan datang. Pada 22 Desember 1928, Siti Sundari, sebagai tokoh perempuan (seumur juga dengan kita!) yang baru mengenal Bahasa Melayu (Indonesia) dalam pidatonya di Kongres Perempuan Indonesia memilih menggunakan bahasa persatuan tersebut, meskipun hasilnya masih terbata-bata dalam mengucapkan beberapa kosa kata. Setelah Kongres Pemuda II 1928, organisasi-organisasi yang bersifat kedaerahan juga dilebur menjadi Indonesia Muda. Demikian sumpah tersebut sangat besar pengaruh bagi gerakan pemuda.

Seperti halnya Kebangkitan Nasional, peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda sebaiknya tidak hanya berteriak tentang satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Namun, juga merefleksikan alasan pemuda-pemuda yang saat itu terbagi dalam organisasi daerah seperti Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Ambon, dan lainnya, bersedia mengucapkan sumpah yang sakral dan tabu jika dilanggar. Bagaimana para pemuda, yang sebagian besar berumur 20 tahun, bahkan banyak juga yang dibawah 18 tahun, mampu mengadakan kongres di tengah pengawasan polisi intelijen Belanda. Selain itu, bagaimana para mahasiswa di Negeri Belanda dengan Perhimpunan Indonesia-nya mampu meluangkan waktu akademisnya dengan mengeluarkan Manifesto Politik 1925 yang menjadi embrio Sumpah Pemuda.

Semua itu bukan hanya perayaan kembang api, potong tumpeng atau festival diva ibu kota. Tetapi bagaimana kita berdialog dengan masa lalu, mencari alasan, mencari jawaban, menjadikannya inspirasi dan cambuk untuk melangkah ke masa depan. Pandangan umum yang menganggap sejarah hanya belajar tentang masa lalu, sudah harus dibuang ke tong sampah. Sejarah sesungguhnya ilmu tentang masa depan, ilmu yang berkehendak untuk tujuan ke depan. Hanya dalam prosesnya sejarah mencari jawaban dan kebijaksanaan dari masa lampau. Bukan hanya untuk mengetahui informasi di masa lalu, tapi juga mencari sebab mengapa saat ini bisa terjadi dan bagaimana masa depan akan terbentuk. Hal ini merupakan kesadaran sejarah berbasis kontinuitas.

M.S. Mitchel Vinco
Pendidikan Sejarah 2004

(Berusaha) Menemukan Tujuan Perjuangan Kaum Terdidik

A. Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan
Bagaimana ilmu pengetahuan lahir? Pada awalnya hanya ada ilmu filsafat, ilmu yang berusaha menjawab seluruh "kebingungan" atau rasa penasaran manusia akan alam dan dirinya sendiri. Dengan bertambahnya waktu, kehidupan manusia semakin kompleks, dan semakin banyak "tanda tanya" di benak manusia. Filsafat kemudian berkembang dan lahirlah ilmu-ilmu seperti: matematika, fisika, etika, bahasa, musik, arsitektur, dan seterusnya. Semua ilmu pengetahuan mempunyai satu tujuan sebagai jawaban teoritis dari persoalan hidup manusia. Sedangkan jawaban konkrit dari persoalan hidup manusia dinamakan teknik.

Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah sistem dimana pribadi dibentuk. Bertrand Russel menyatakan "...pendidikan dimaksud supaya manusia mencerminkan lingkungannya dengan tepat, lewat pengetahuan yang diperoleh dengan kecerdasan..." Schumacher mengatakan "pendidikan adalah usaha penyebaran nilai-nilai kehidupan sehingga pendidikan harus memberikan kemampuan hidup dan menginterpretasikan dunia". Driyarkara mengatakan pendidikan sebagai humanisasi yaitu "proses manusiawinya manusia berkat meningkatnya daya cipta, rasa dan karsa". Menurut Paolo Freire "peserta didik tidak dipahami sebagai objek yang digarap dan diisi. Namun, harus diterima sebagai subjek yang dilengkapi kemampuan unruk merubah realitas yang dihadapinya...".

Pendidikan dan ilmu pengetahuan sangat terkait. Ilmu pengetahuan dan teknik yang pada hakikatnya jawaban atas persoalan hidup, dibagikan pada generesai penerus melalui pendidikan. Sedangkan pendidikan, meningkatkan "kualitas" manusia dengan mencari ilmu pengetahuan (mempelajari dan menciptakan). Pendidikan tidak pernah berakhir karena persoalan manusia selalu berubah dan berkembang. Pendidikan dan ilmu pengetahuan akan selalu dibutuhkan untuk menjawab permasalahan hidup.

B. Realitas Pendidikan "Kita"
Inilah dunia yang disebut modern! Hampir setiap manusia Indonesia memiliki hand phone, sebagian mahasiswa Sanata Dharma memiliki komputer, beberapa di antaranya bahkan mempunyai televisi di samping komputer. Setiap tahun anak muda merongoh dompet untuk modifikasi sepeda motor, dugem (ajojing!), pesta miras, narkoba, dan tentunya shoping di mall atau butik. Beberapa langkah dari mahasiswa yang modern dan gaul ada fenomena menarik. Seorang ibu membakar tiga anaknya hingga tewas karena tidak mampu menanggung biaya hidup, kemudian sang ibu juga bunuh diri dengan minum racun. Seorang anak SD bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan membayar uang sekolah. Banyak siswa yang belajar di sekolah yang hampir ambruk, atau beratapkan terpal, sedangkan sekolah internasional bertularan berdiri seperti influenza.

Dalam bidang politik muncul UU Badan Hukum Pendidikan seperti yang disebutkan dari pasal 53 ayat 3 UU Sisdiknas No.20/2003 "BHP bersifat nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan.". Ini berarti mengharuskan intstitusi pendidikan untuk mampu memenuhi segala kebutuhan finansialnya. Akibatnya institusi pendidikan akan berusaha meningkatkan pendapatan, salah satu caranya dengan menaikkan iuran sekolah. Pemerintah kemudian menelurkan program BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang total angkanya milyaran. Namun, setelah dibagi, setiap sekolah di DIY hanya mendapat empat juta rupiah saja (Sumber: Kedaulatan Rakyat). BOS juga tidak memecahkan persoalan lainnya seperti kesenjangan sosial, biaya transportasi, biaya makan, perlengkapan sekolah dan lainnya. Akibatnya pilihan untuk siswa bekerja tetap saja besar.

Dalam dunia kampus (yang katanya intelektual), banyak mahasiswa membeli jasa "swasta" untuk membuat skripsi, di sudut-sudut jalan terpampang iklan-iklan pengolahan data penelitian kuantitatif, banyak mahasiswa yang juga menggunakan jasa pengetikan di rental, bahkan meminta "mas-mas" rental meringkaskan dan membuat makalah. Banyak lulusan perguruan tinggi yang tidak mampu melakukan penelitian ilmiah, tidak terampil dalam organisasi dan teamwork, dan tidak pecaya diri dengan ilmunya. Angka pengangguran semakin meningkat tiap tahunnya.
Benarkah kita memiliki ilmu pengetahuan? Benarkah kita mengalami pendidikan?

C. Analisa Sistem Pendidikan Indonesia
Paolo Freire mengungkapkan tiga hal yang harus diperhatikan dalam mengamati sistem pendidikan: 1) hubungan kurikulum dengan realita sosial; 2) hubungan kekuasaan dengan ilmu pengetahuan; 3) Tugas intelektual.

1) Hubungan kurikulum dengan Realita Sosial
Kurikulum merupakan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Kurikulum menurut Saylor "the total effort of the school to boing about desired outcomes in scholl and out of school situations" Menurut William B. Ragan "kurikulum mempertemukan peserta didik dengan lingkungannya, agar dapat merealisasikan bakatnya dan menumbangkan jasanya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat". Dengan demikian, kurikulum berisi jajaran ilmu pengetahuan yang membantu peserta didik memahami dirinya, lingkungannya, masalah yang ada di dalamnya dan turut memberi sumbangsih untuk pemecahannya. Hal ini selaras dengan hakikat pendidikan dan ilmu pengetahuan di atas.

Seharusnya, dengan adanya sarjana-sarjana (mereka yang mendapat pendidikan), mampu menjawab persoalan-persoalan di dalam masyarakat. Bukankah memang demikian hakikat ilmu pengetahuan, pendidikan dan kurikulum. Tidak sesuainya antara teori yang peserta didik dapat dengan realitas sosial menandakan ada sesuatu yang salah. Apakah itu?

2) Hubungan Kekuasaan dengan Ilmu Pengetahuan
Sudah menjadi sifat "kekuasaan" untuk selalu berkuasa, memegang dominasi dalam waktu selama mungkin. Salah satu alat penguasa untuk mempertahankan dominasinya adalah dengan mengendalikan ilmu pengetahuan. Pada awal abad ke-20 pemerintah kolonial Belanda menerapkan Politik Etis yaitu edukasi, irigasi dan imigrasi. Saat ini rakyat Indonesia boleh mengenyam pendidikan. Namun, ada udang di balik batu, ilmu pengetahuan yang diberikan untuk rakyat pribumi hanyalah ilmu pengetahuan "kacangan" yang menghasilkan pekerja-pekerja untuk kepentingan pemerintah kolonial sendiri. Jadilah "intelektual" Indonesia yang bekerja sebagai operasional mesin pabrik, juru tulis, dan pembantu administrasi.

Pada masa Pemerintahan Bung Karno, pendidikan difokuskan untuk tujuan mendukung pemerintah revolusioner. Ilmu pengetahuan yang didapat rakyat lebih "bermutu", tapi tetap saja kekuasaan menguasai ilmu pengetahuan. Sosialisasi ajaran Bung Karno berjalan gencar, rakyat di arahkan untuk anti "barat". Pada masa Orde Baru, ilmu pengetahuan yang diberikan hanya untuk indoktrinasi dan pemenuhan pasar liberal (tenaga kerja terkait industri). Sekarang ini untuk apa ilmu pengetahuan diberikan? Adakah kekuasaan yang mengendalikan kita (mahasiswa)?

3) Tugas Intelektual
Intelektual berasal dari kata intellect yang berarti "orang pandai" (bukan si mbah!). Intelektual menunjukkan orang-orang yang telah menguasai ilmu pengetahuan tertentu, dan juga berarti telah mengalami pendidikan. Seberapa banyak intelektual di Indonesia? Manusia Indonesia yang ada di Perguruan Tinggi hanya 1% dari seluruh penduduk Indonesia, berarti sekitar 2 juta-an. Jumlah profesor di Indonesia ada 2000-an (0,1% dari 2juta), dibandingkan dengan India 60.000, Kanada 2 juta dan Amerika Serikat belasan juta profesor.

Ternyata hanya segelintir saja yang menguasai ilmu pengetahuan, dan ironisnya segelintir itu lupa hakikat ilmu pengetahuan dan pendidikan. Para intelektual ini sibuk dengan mencari citra pribadi, dengan uang yang banyak dan terkenal, pokoknya "elu..elu..gue..gue!" dan "emang gue pikirin?!" Ilmu pengetahuan digunakan hanya untuk "menipu" manusia "bodoh" untuk membeli produknya, menggunakan jasanya, yang ujung-ujungnya duit dan semakin mencekik rakyat kebanyakan. Ke manakah mereka yang menguasai ilmu pengetahuan, yang memperoleh pendidikan? Atau ilmu pengetahuan ada hanya untuk menindas dan menguasai si lemah?

D. Ke Manakah Arah Kita?
Kita sebagai segelintir yang bisa mengalami pendidikan, seharusnya mampu menggunakan ilmu pengetahuan yang didapat melalui pendidikan sesuai hakikatnya. Pendidikan menurut Freire adalah "alat bagi pembebasan", maksudnya ialah pendidikan harus mampu menjawab persoalan manusia berupa penindasan, pengekangan dan penguasaan yang menderitakan rakyat. Ini bukan persoalan ikut menjadi miskin, ikut menjadi pengangguran, tidak memikirkan masa depan dan melupakan kuliah! Namun, ini persoalan tugas intelektual, tugas berpikir, tugas menciptakan "sesuatu". Jangan pikirkan seorang sarjana hanya berupa gelar saja (dan sudah bangga), tapi lebih dari itu adalah kemampuan ilmiah, kemampuan berpikir, kemampuan memecahkan masalah dan akhirnya bertindak.

Manfaatkanlah situasi anda sekarang sebagai mahasiswa, untuk belajar yang "sebenarnya", belajar dari realita, dari luka yang sakit, dari pengalaman yang sedih, dari penghianantan, dari canda tawa seoarang sahabat, dari kerja sama yang melelahkan, dan terus melakukan... jangan berhenti, jangan pernah puas tapi terimalah kenyataan dan ubahlah. Katakanlah pada diri anda "berilah saya keberanian untuk mengubah apa yang bisa saya ubah, berilah saya kerendahan hati untuk menerima apa yang tidak bisa saya ubah dan berilah saya kebijaksanaan untuk membedakannya!" Katakanlah dan kita akan membuat perubahan, tidak ada yang mampu menghadang kita.

Gang Mawar, 27-11-08
Pukul 22:40
M.S. Mitchel Vinco

Senin, 27 Oktober 2008

Hanya Pendapat: Tentang Sejarah Post-Modern!

Sejarah merupakan sebuah kajian keilmuan yang mempelajari peristiwa masa lalu. Meskipun demikian, sejarah tidak akan pernah menghadirkan peristiwa masa lalu tersebut ke masa sekarang. Sejarah hanya bisa “memungut” keping-keping fakta yang berhasil ditinggalkan peristiwa di waktu lampau. Keping-keping fakta yang tidak utuh, yang terkadang terpisah oleh tempat dan waktu, bahkan sekilas tampak tidak berhubungan. Selanjutnya menjadi tugas seorang sejarawan untuk merekontruksi, bahkan mendekontruksi fakta-fakta sisa masa lalu tersebut dalam sebuah narasi yang disebut historiografi.


Tidak berlebihan bila dikatakan interpretasi sejarah merupakan biang subyektifitas. Dalam proses interpretasi sejarawan berusaha menarik hubungan-hubungan dari fakta-fakta sejarah yang ada. Hubungan-hubungan tersebut merupakan celah kosong (missing link) dari peninggalan peristiwa masa lalu, yang berusaha dirasionalisasikan oleh sejarawan. Bahkan dengan hadirnya pendekatan ilmu sosial, tidak mengurangi subyektifitas dalam penulisan sejarah. Pilihan-pilihan teori dalam ilmu sosial yang demikian luasnya dan terus berkembang sepanjang waktu, hanya menjadikan sejarah lebih ilmiah, tapi tidak akan pernah menjadi obyektif.


Kondisi demikian sesuai dengan pendapat J. Huizinga yang menganggap sejarah sebagai “bentuk intelektual di mana suatu peradaban menceritakan dirinya sendiri mengenai masa lalunya.”1 Pendapat Huizinga ini dapat diartikan bahwa dalam penelitian sejarah yang dapat disepakati hanyalah dalam tataran metode, seperti yang tampak dalam kata “bentuk intelektual”. Sedangkan selanjutnya merupakan bentuk-bentuk interpretasi yang khas sesuai dengan semangat jaman sekarang dan terlebih lagi semangat sejarawan yang melakukannya.


Berkembangnya aliran post-modern, yang identik dengan ketidakpastian dan keragu-raguan, dalam filsafat dan kemudian sejarah justru menjadikan sejarah lebih “jujur” dalam tujuan penulisannya. Penelitian Hayden White, salah satu peletak dasar sejarah post-modern, dalam Metahistory (1973) mampu membedah kecenderungan dalam karya-karya para sejarawan.2 Sehingga dapat diketahui idealisme apa yang ada di balik sejarah yang ditulis sejarawan. Metode yang digunakan White memang secara terang-terangan menunjukkan adanya subyektifitas dalam penulisan sejarah. Namun, tidak berarti penulisan sejarah dapat disamakan dengan karya sastra. Penulisan sejarah tetap berpegang pada fakta yang tersisa dari masa lalu, sedangkan dalam sastra tidak diharuskan menggunakan fakta.


Fakta-fakta peninggalan sejarah, menurut pandangan sejarah post-modern, tidak dapat berdiri sendiri tanpa konteks yang bermakna. Jadi apa yang disebut ”konteks” yang dikontruksi untuk mengkontekstualisasi fakta-fakta pada akhirnya harus diimajinasikan atau diciptakan. Hanya tidak seperti fakta-fakta, konteks-konteks tidak pernah secara pasti ditemukan. Oleh sebab itu, agar semua kisah sejarah itu bermakna, maka harus melibatkan hubungan-hubungan bagian ke seluruhan (part-to-whole) atau seluruh ke bagian (whole-to-part).3 Hubungan-hubungan tersebut, seperti telah disebut di atas, harus diciptakan. Sehingga dalam hal ini sangat mengandung subyektifitas.


Salah satu ciri khas filsafat post-modern dan kemudian sejarah post-modern adalah dekontruksi. Kebalikan dengan rekontruksi yang berusaha menarik makna yang terkandung dalam suatu peristiwa, dekontruksi berusaha memberi makna dalam suatu peristiwa. Ahli filsafat sejarah Perancis, Philip Carrard berkata ”karya sejarah... menimbang informasi yang ada, mendiskusikan interpretasi-interpretasi yang sudah ada, dan kemungkinan mengomentari asumsi-asumsi yang telah membuat mungkin interpretasi-interpretasi ini.”4 Dengan demikian aliran sejarah post-modern tidak dapat menerima begitu saja interpretasi yang sudah ada dan berlaku umum. Sejarawan post-modern akan berusaha memberi makna sesuai dengan semangatnya dan hasil ”pembacaannya” terhadap lingkungannya.


Penulisan sejarah post-modern tidak lagi melakukan perdebatan: apakah interpretasi atas fakta sejarah merupakan hal yang obyektif? Namun,: bagaimana interpretasi yang "saya" berikan terhadap fakta sejarah? Seakan-akan teori sejarah post-modern akan meruntuhkan kemapanan teori sejarah lainnya, yang berkembang selama ini. Bagi saya pribadi, semua ini akan semakin menarik... (akhir tulisan yang belum ada kesimpulan) vinco.


1 Helius Sjamsuddin, Metodologi Sejarah, Ombak: Yogyakarta, 2007, hlm. 7.
2 Baca idem., hlm. 334. Bab IX tentang Metahistory dan Puisi Sejarah.
3 idem., hlm. 346.
4 idem., hlm. 347.

Rabu, 11 Juni 2008

Resensi Buku
Awalnya Berawal dari Pikiran

Judul: Pikiran yang Terkorupsi
Penulis: Kwik Kian Gie
Penerbit: Kompas
Cetakan: Pertama, November 2006
Tebal: VII + 228 halaman

"…KKN is the roots of all evils…"
(Kwik Kian Gie)


Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) bagai kanker, menjalar ke semua aspek kehidupan sehingga masalah apa pun yang kita hadapi, akarnya adalah KKN. Sebelum KKN berhasil diberantas atau dikurangi secara signifikan, kita tidak dapat memecahkan masalah apa pun juga dengan memuaskan.


Kwik Kian Gie, seorang intelektual yang dikenal sebagai politikus dan juga ekonom. Dalam bidang politik, Kwik dikenal konsisten berada di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Beberapa jabatan politis pernah dipegangnnya, yang terakhir adalah Kepala Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Sebagai seorang nasionalis sejati, Kwik kerap kali menampakkan kegusarannya ketika Indonesia begitu mudah tunduk pada modal asing, terutama IMF.


Sebagai seorang esais, Kwik sangatlah produktif. Tulisannya selalu terkait dengan idealisme Kwik dalam memandang situasi dan kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Buku Pikiran yang Terkorupsi, merupakan kumpulan esai ekonomi Kwik Kian Gie yang ditulis di harian Kompas dari 1999-2006. Pikiran yang Terkorupsi adalah buku pertama dari dua buku karya Kwik Kian Gie. Buku keduanya dari dwi tunggal ini, adalah Kebijakan ekonomi Politik dan Hilangnya Nalar.
Dalam dialektikanya, Kwik memandang bahwa akar dari semua kebobrokan di Indonesia adalah KKN, atau bila desederhanakan adalah korupsi. Berikut beberapa contohnya dalam Pikiran yang Terkorupsi bab 1 judul pertama:


Keamanan dan ketertiban tidak ada karena jasa pelayanan untuk memberikan ketertiban dan keamanan diperjualbelikan. Bagi pengusaha yang mengerti dan kalkulasinya masih cocok, keamanan diperoleh dengan membayar aparat untuk menjaga usahanya. Jadi tidak adanya kemanan disebabkan karena sengaja tidak diamankan supaya aparat keamanannya dibayar. Ini adalah mengkomersialkan jabatan atau KKN.


Investasi dari dalam negeri kalah bersaing dengan barang impor. Produsen lebih untung menutup pabriknya dan menjadi importir barang sejenis (yang sama dengan usaha terdahulu) yang diimpor dari luar negeri, misalnya RRC. Mengapa kalah bersaing? Sejak lama di Indonesia dikenal ekonomi biaya tinggi, harga pokok barang apa pun di dalam negeri, lebih tinggi dari barang sejenis buatan luar negeri. Mengapa? Karena banyak pungli (pungutan liar) dan pemerasan oleh aparat negara. Jadi KKN lagi.


Dalam keseluruhan Bab 1 tersebut Kwik Kian Gie mengemukakan banyak contoh, bobroknya bangsa Indonesia, dan hasil analisisnya selalu memperoleh jawaban akhir KORUPSI. Tidak hanya memaparkan analisanya, Kwik juga memberi solusi-solusi untuk memberantas korupsi hingga akar-akarnya.


"Selama manusianya masih korup, pembentukan lembaga , penentuan prosedur dan apa pun juga selalu dapat diselewengkan dalam pelaksanaannya. Otak, akal, daya inovasi, dan daya kreasi manusia sangat dahsyat. Otak, akal, daya inovasi, dan daya kreasi manusia sangat dahsyat. Mereka senantiasa akan menemukan cara agar korupsinya sangat sulit dibuktikan" demikian tulis Kwik pada judul Korupsi Oh Korupsi. Kemudian lanjutnya "pemberantasa korupsi harus berfokus pada bagaimana memperbaiki akhlak, moral dan tata nilai manusia Indonesia. Ini proses yang amat panjang"


Lalu apa langkah konkritnya? Kwik Kian Gie dalam judul Cara Pemberantasan KKN hal 30 menuliskan "konsep pemberantasan korupsi yang sederhana, yaitu menerapkan carrot and stick". Kemudian dibahas bahwa carrot adalah pendapatan neto untuk pegawai negeri, baik sipil maupun militer, yang mencukupi untuk hidup standar. Bila perlu pendapatan ini dibuat sedemikian tinggi, hingga mampu hidup dengan sangat layak. Tidak berlebihan, tapi tidak kalah dengan sektor swasta. Stick adalah hukuman yang sangat berat bila terjadi korupsi.


Lebih lanjut Kwik Kian Gie memaparkan bagaimana cara memperoleh dana untuk gaji pegawai, seprti dalam judul Audit dan Penataan Kembali Organisasi Birokrasi. Secara singkat dikatakan bahwa segala biaya negara dapat terpenuhi bila pemberantasan Korupsi dapat berjalan. Bahkan secara pasti, dengan contoh perhitungannya, Kwik menuliskan "...kalau 30 % dapat diselamatkan dari pemberantasan korupsi tahap pertama, pemerintah sudah mendapat pendapatan tambahan sebesar 92 triliun rupiah...".


Buku Pikiran yang Terkorupsi ini, sebenarnya juga menjadi "trend" di dunia perbukuan. Menerbitkan buku yang merupakan kumpulan artikel yang sudah pernah dimuat di media massa, dalam hal ini Kompas. Kumpulan tulisan lain yang dibuat buku oleh Kompas, salah satunya adalah buku feature Sindhunata sebanyak empat buku. Sebuah usaha yang baik dari Kompas dan menjadi apresiasi bagi penulisnya. Hanya saja kelemahan buku seperti ini adalah keterbatasan kolom – di surat kabar – yang menyebabkan kurang mendalamnya analisis. Selain itu ciri khas sebuah esai adalah pembahasan yang padat, tanpa jeda "istirahat". Meskipun demikian, Kwik Kian Gie memang mampu menjawab tantangan bagi penulisan esai. Tulisannya padat tapi masih bisa dimengerti dengan cukup mudah.


Buku ini layak dibaca oleh mahasiswa, wartawan, politisi, ekonom, dan mereka yang aktif dalam pemberantasan korupsi. Sekaligus juga menarik mengikuti pemikiran Kwik Kian Gie seorang ekonom lulusan Nederlandse Economische Hogeschool di Rotterdam, namun juga seorang nasionalis. Dengan membaca buku ini setidaknya kita tahu, bahwa memberantas KKN harus dimulai dari pikiran. (vinco)
Resensi
Romantisme Derita di Balik Tembok Orde Baru

Judul: Menolak Menyerah – Menyingkap Tabir Keluarga Aidit
Penulis: Budi Kurniawan dan Yani Andriansyah
Penerbit: ERA Publisher
Cetakan: Pertama, Juni 2005
Tebal: XXIII + 166 halaman


Semua yang datang adalah semua yang akan pergi. Semua orang melakoni datang dan pergi ini dalam suasana yang alami, lancar dan tak terganggu. Setidaknya itulah yang biasa kita alami dalam kehidupan. Datang dan pergi telah kita lalui untuk kesekian kalinya, dengan kurang disadari, semua itu telah berlalu.


Bukannya hendak membahas sebuah perjalanan datang dan pergi, ataupun bolak-balik tanpa arah. Namun, makna datang dan pergi bagi keluarga besar Dipa Nusantara Aidit, ketua Centra Committee Partai Komunis Indonesia (CC PKI), begitu berbeda. Datang atau pulang, bagi keluarga korban kedigdayaan orde baru ini, bukanlah menjadi suatu yang membahagiakan, melainkan sebuah ancaman dan derita bagi kerinduan yang tidak terlampiaskan. Sebaliknya makna pergi menjadi sebuah penyelamatan, yang meninggalkan kisah-kisah romantis, dan akan tetap menjadi kisah pengantar tidur.


Kisah-kisah romantis tersebut adalah kenangan-kenangan yang dimiliki: Murad Aidit, Sobron Aidit, Asahan Aidit (yang ketiganya adik DN Aidit), Iwan Aidit dan Ilham Aidit (dua dari lima anak DN Aidit), serta Rini Melati Aidit (keponakan DN Aidit), tentang sosok Dipa Nusantara Aidit, kesehariannya dan perjuangannya. Dibalik keromantisan sebuah kenangan, ternyata menyandang nama Aidit membawa konsekuensi derita dalam kehidupan keluarga besar Aidit. Setelah runtuhnya orde baru, barulah beban derita tersebut terkurangi, walau tak mungkin dihilangkan.


Buku Menolak Menyerah – Menyingkap Tabir Keluarga Aidit, merupakan satu-satunya buku yang mengulas sisi lain pasca peristiwa 30 September 1965. Tidak seperti buku lain yang banyak mengulas peristiwa saja, buku ini lebih menonjolkan sisi human interest para korban dan tipu daya orde baru. Di beberapa bagian juga terdapat informasi tentang gerakan 30 September 1965 yang dapat menambah pengetahuan kita tentang peristiwa tersebut.


Buku ini dimulai dari kisah Ilham Aidit, satu dari anak kembar pasangan DN Aidit dan dr. Tanti. Ilham menceritakan bagaimana perlakuan diskriminatif yang telah dia dapat selama ini, bahkan Ilham pernah menerima kenyataan bahwa dirinya nyaris saja berakhir dibawah kokangan senjata tentara. Kemudian kisah berlanjut ketika Ilham akan menikah, bagaimana tekanan batin yang dia dapat untuk menjelaskan bahwa dirinya adalah anak dari DN Aidit, ketua CC PKI, kepada calon mertuanya.


Bab berikutnya, Sobron Aidit dan Asahan Aidit lebih mengisahkan pengalamannya bersama Bang Amad (panggilan mereka untuk DN Aidit) sebelum peristiwa 1965. Bagaimana kehidupan mereka bersama Bang Amad, termasuk percakapan-percakapan keseharian yang terjadi. Sungguh ironis memang bagi Sobron dan Asahan melihat Bang Amad menjadi penanggung dosa peristiwa 1965, menurut mereka Bang Amad hanyalah korban. Bang Amad bagi mereka adalah sosok yang ramah dan demokratis, itu terlihat pada dialognya dengan Sobron, yang mendukung Sobron menjadi sastrawan ketimbang terjun di dunia politik.


Murad, Rini Melani dan Iwan Aidit turut membagi pengalamannya menjadi korban selama orde baru. Mereka terpaksa menyembunyikan identitas “Aidit” di belakang namanya. Resiko tidak diterima dimasyarakat menjadi trauma yang sebisa mungkin harus mereka hindari. Pernah suatu ketika, hanya untuk menghindari kecurigaan kalangan militer, dr. Tanti, Istri DN Aidit, hanya bisa memandang anak-anaknya bermain dari kejauhan tanpa mencoba mendekat. Bayangkan saja, kemanusiaan seperti apa yang menciptakan kondisi demikian.


Buku Menolak Menyerah – Menyingkap Tabir Keluarga Aidit adalah buku yang dianjurkan untuk dibaca. Karena buku ini tidak saja mengandung unsur historis yang kental, tetapi juga unsur kemanusiaan yang dibalut bahasa sastrawi yang mampu membuka wawasan kemanusiaan kita. Bagi penikmat sejarah dan kalangan pro demokrasi, buku ini dapat menjadi informasi segar, karena memang terdapat data-data sejarah baru dan jelas mengajak kita untuk menolak menyerah.


Kelemahan buku ini, khususnya bagi kalangan peneliti dan sejarawan, terutama pada tata cara penyampaiannya yang cenderung sastrawi. Membuat kita sedikit ragu akan fakta ataukah cerita naratif yang terkandung di dalamnya. Hal tersebut sangat jelas terdapat pada Bab 3, Gesek Biola dan Vietkong yang diceritakan oleh Asahan Aidit. Kritik sejarah dapat kita lakukan untuk membuktikan autentitas buku ini, walaupun yang sangat memukau dan jarang terjadi adalah hampir semua data di buku ini adalah data primer (langsung dari pelaku sejarah).


Terlepas dari semua itu Menolak Menyerah – Menyingkap Tabir keluarga Aidit, merupakan buku satu-satunya yang mengulas DN Aidit, ketua CC PKI, aktor tertuduh peristiwa 1965, secara mendalam. Bacalah…!! Dan renungkan romantisme derita yang terjadi, apakah pada kondisi yang sama anda juga akan menolak menyerah…?!
Oleh: M.S. Mitchel Vinco