Kamis, 19 Oktober 2017

MASYARAKAT PEDALAMAN DI KALIMANTAN BAGIAN BARAT HINGGA ABAD KE-19


(Sumber: google.com)
A.    Pendahuluan
Sjamsuddin (2005) mengutip ATEEC (Advanced Technology Environmental Education Committee) mengatakan bahwa para peserta didik akan belajar dengan baik dan menguasai apa yang mereka telah pelajari ketika: (1) mereka tertarik dengan mata pelajaran yang diajarkan, dan (2) pembelajaran mengandung konsep-konsep yang dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Pengalaman penulis secara empiris membenarkan apa yang dikatakan Sjamsuddin, bahwa peserta didik belajar dengan antusias ketika mereka mengalami ketertarikan pada penampilan pendidik yang menarik (ganteng, cantik, lucu, ramah), materi, media, dan metode pembelajaran yang menarik. Selain itu, peserta didik juga mengalami kebermaknaan dengan wacana-wacana, isu-isu, atau konsep-konsep yang dekat dengan diri mereka seperti kebudayaan populer, permasalahan remaja, sejarah lokal, dan permasalahan lingkungan di sekitar mereka.
Pendidikan sejarah juga dihadapkan dengan permasalahan yang sama yaitu terkait dengan ketertarikan dan kebermaknaan pembelajaran sejarah bagi diri mereka, baik secara individual dan sosial. Dalam artikel ini penulis tidak membahas persoalan ketertarikan yang identik dengan kemasan atau bagian luar. Namun, artikel ini ingin membahas salah satu narasi yang terkait kebermaknaan materi pembelajaran sejarah yaitu sejarah lokal.

Provinsi Kalimantan Barat sampai saat ini hanya memiliki satu orang pahlawan nasional yaitu Abdul Kadir Gelar Raden Temenggung Setia Pahlawan (1771-1875) melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 114 tahun 1999. Abdul Kadir adalah seorang birokrat kelahiran Sintang yang memimpin daerah Melawi dengan gelar Raden Temenggung. Dia dengan demikian berdasarkan identitas politik berada pada kelompok melayu dan Islam. Tentu saja penggolongan seseorang berdasarkan identitas politik tidak baik terjadi di Indonesia, tetapi secara empiris masyarakat Indonesia masih terbagi-bagi berdasarkan identitas politik yaitu berdasarkan suku (kelompok etnis), agama, ras, dan antar golongan politik (SARA). Permasalahan identitas politik yang berkaitan dengan SARA masih harus dipertimbangkan selama proses pertumbuhan kedewasaan berpolitik dan berdemokrasi di Indonesia.
Tiga kelompok etnis mayoritas di Kalimantan Barat yaitu Dayak, Melayu, dan Tionghoa dalam pergumulan mereka sepanjang sejarah Indonesia hanya menghasilkan satu pahlawan nasional. Tokoh sejarah paling terkenal di Kalimantan Barat yaitu Sultan Hamid II, seorang melayu dan Islam, dalam sejarah nasional Indonesia memperoleh predikat sebagai “pengkhianat”. Tokoh sejarah paling terkenal bagi kelompok etnis Dayak yaitu Oevaang Oeray, seorang Katolik, sepanjang masa Orde Baru diidentikkan dengan kedekatannya pada Soekarno dan Komunisme. Sementara itu kelompok etnis Tionghoa masih mencari-cari peran bersejarah mereka dalam sejarah Kalimantan Barat.
Sejarah memiliki sifat unik yang artinya peristiwa-peristiwa sejarah terjadi dalam waktu dan ruang yang khas, peristiwa sejarah itu sekali terjadi dan tidak mungkin dapat terulang. Seharusnya pernyataan tersebut membuat pembaca memahami bahwa perbedaan dalam sejarah adalah keniscayaan, dan sangat sulit sekali membuat generalisasi dalam sejarah. Sejarah juga berpijak pada fakta-fakta sejarah yang seperti kita ketahui bersama tidak semuanya bertahan sampai masa sekarang ini. Hal itu menyebabkan secara apa adanya narasi sejarah juga unik dan perbedaan menjadi keniscayaan pula.
Artikel ini akan melihat perkembangan dan perubahan masyarakat-masyarakat pedalaman di Kalimantan Barat yang karena posisi geografis, struktur sosial, dan kepentingan politik kolonialis akan menghasilkan narasi yang unik. “Masyarakat-masyarakat” yang ditulis dua kali bertujuan supaya pembaca memahami bahwa disebabkan oleh keadaan geografis, maka masyarakat-masyarakat di pedalaman Kalimantan Barat dapat sangat berbeda dan tidak berhubungan satu dengan lainnya. Dalam artikel ini penulis akan memberikan interpretasi terhadap pandangan hidup masyarakat pada zaman tersebut (abad ke-19) dan dikaitkan dengan pandangan hidup sekarang ini (2017). Seperti yang dikatakan oleh Bruner, seorang tokoh pendidikan konstruktivisme, “(pembelajaran) … is the context in which individual members make sense of and appraise incidents and phenomena”.

B.     Gelapnya Hutan Tropis Kalimantan
Penjelajahan samudera yang dilakukan pelaut-pelaut Eropa merupakan sebuah perjudian. Bangsa Eropa melakukan penjelajahan samudera dengan biaya yang sangat besar dengan harapan terhadap keberuntungan yang sepanjang jauh dan lama perjalanan mereka semakin menipis. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, mitos, dan perhitungan ekonomi mengharuskan para pelaut memperoleh keuntungan yang sangat besar dari penjelajahannya, karena jika tidak, maka terancam bangkrut.
Afrika mendapat gelar benua hitam bukan saja karena penduduknya berkulit relatif gelap dibandingkan ras Eropa (Kaukasoid, Indo-German), tetapi juga karena hamparan padang pasir di sepanjang pantai Afrika yang membuat para penjelajah merasa tidak tertarik untuk memasuki daerah tersebut. Seperti itu jugalah yang terjadi dengan Pulau Kalimantan, seperti yang ditulis P.J. Veth, seorang ilmuwan terkemuka abak ke-19 berdasarkan pengalaman seorang musafir:
“Pulau Borneo … yang dari kejauhan tampak berwarna hijau yang indah … tetapi begitu anda mendekatinya melihat dan menjumpai gugusan-gugusan pohon akasia, palma, pandan, dan pohon-pohon lain yang tidak dikenal, yang lebat, yang tidak bisa ditembus oleh siapapun, baik penduduk asli (mungkin Melayu) maupun orang Eropa, kesan itu hilang … saya belum pernah mengunjungi pantai-pantai yang semula saya anggap memberi banyak harapan, tetapi begitu mengecewakan …” (Veth, 2012.a).

Pandangan seorang musafir tersebut yang besar kemungkinannya juga menjadi pendapat umum di kalangan penjelajah Eropa dapat dibuktikan dengan melihat titik-titik persinggahan orang-orang Eropa di Kalimantan. Para pelaut Eropa hanya merasa tertarik dengan beberapa daerah di pesisir pulau Kalimantan yang pada abad ke-16 dan ke-17 sudah terdapat kekuasaan kerajaan atau kesultanan Melayu-Islam. Menurut Veth (2012.a) dan King (2013) daerah-daerah pesisir tersebut adalah Kesultanan Brunei (menjadi asal kata untuk Borneo [Sjamsuddin, 2013]) dan Kesultanan Sulu di Utara; Kesultanan Kutai dan Kesultanan Berau di Timur; Kesultanan Banjarmasin di Selatan; serta Kesultanan Sukadana dan Kesultanan Sambas di Barat. Kalimantan bagian pedalaman sepertinya bukan menjadi tujuan yang menarik bagi para pedagang Eropa yang menginginkan keuntungan besar dari perdagangan.
Komoditas ekonomi dari daerah pedalaman Kalimantan sebenarnya menjanjikan keuntungan yang relatif besar. Barang-barang dari pedalaman yang laris di pasaran adalah kamper, madu, lilin, kayu manis, jahe, mirabolan, tebu, rotan, kayu, damar, getah, kapur, cula badak, gading gajah, emas, intan, dan juga batu bara (batu bara sedikit di Kalimantan bagian Barat) (Veth, 2012. a & b; King, 2013; Sjamsuddin, 2013). Pedagang Eropa pada umumnya membeli barang-barang tersebut dari penguasa-penguasa Melayu yang berada di pesisir pulau Kalimantan. Pada abad ke-19 dan 20 mulai para pedagang Eropa masuk ke pedalaman melalui sungai-sungai untuk memperoleh barang-barang tersebut, tetapi sebagian besar masih membeli dari penguasa-penguasa Melayu yang berada di pedalaman, di pesisir sungai utama.
Informasi-informasi perdana tentang keadaan di pedalaman Kalimantan memang diperoleh dari para ilmuwan etnologi dan botanikus asal Eropa, yang menjelajahi pedalaman Kalimantan dengan tim-tim yang relatif kecil. Hasil-hasil laporan tersebut justru semakin memperkuat dugaan penulis bahwa pedalaman Kalimantan merupakan daerah yang sulit untuk dijelajahi karena kondisi medan, tersebar dan kecilnya jumlah peradaban manusia, dan kurangnya potensi perdagangan.
Patrick M Synge, seorang anggota ekspedisi Universitas Oxford, dalam penjelajahannya sebagai pakar botani di pedalaman Sarawak 1932 melaporkan demikian:
“Bukannya bersiap dengan vaskulum dan pisau, kami bersiap dengan para kuli pengangkut barang, keranjang besar, dan kapak … jika hutannya amat rimbun … mereka akan selalu memotong dan membengkokkan ranting-ranting kecil … memang sangat mudah tersesat meski berjalan hanya beberapa yard dari jalur utama” (King, 2013).

Padahal dalam perjalanan tersebut, Synge dipandu oleh masyarakat pedalaman yaitu kelompok etnis Dayak dan Melayu, tetapi masih saja lebatnya dan gelapnya hutan tropis di Kalimantan tidak mudah untuk dipahami. Kondisi lingkungan di pedalaman Kalimantan tidak hanya menyajikan tantangan berupa lebatnya hutan, tetapi juga sungai-sungai yang besar maupun kecil yang arusnya deras. Seperti yang diceritakan Synge, “Kami pikir batang pohon (besar) itu akan cukup kuat karena terletak beberapa kaki dari air sungai. Namun, pohon tersebut hilang beberapa hari kemudian dan kamipun sadar pohon ini telah tersapu oleh aliran sungai” (King, 2013).
Istilah “gelapnya” hutan tropis di pedalaman Kalimantan merupakan istilah yang menandakan sulitnya daerah ini untuk dijelajahi secara medan maupun motif ekonomi. Hal ini merupakan keunikan dalam peristiwa-peristiwa sejarah di daerah pedalaman yang menyebabkan penulisan sejarah tentang daerah ini relatif kurang dibandingkan daerah-daerah lain yang lebih muda dijelajahi dan memiliki potensi ekonomi yang lebih besar. Sedikitnya sisa-sisa (sumber-sumber) dari peristiwa masa lalu menjadi semakin sedikit ketika masyarakat yang tertua dan terbesar jumlah di pedalaman belum menemukan atau mengenal sistem tulisan.

C.    Kelompok yang Dianggap Tertua
Penelitian sejarah, arkeologi, antropologi, dan bahkan ilmu-ilmu yang relatif pasti seperti kimia dan fisika belum dapat memastikan siapakah kelompok tertua di dunia ini sampai detik ini. Perdebatan-perdebatan masih akan terus terjadi, tetapi justru perdebatan dan permusuhan secara teori, yang berdasarkan pengalaman kita, justru mampu membawa manusia ke arah kemajuan peradaban. Demikian pula di Pedalaman Kalimantan, sangat sulit untuk memastikan apakah masyarakat-masyarakat pedalaman di Kalimantan Barat berasal dari tanah kalimantan sendiri, ataukah berasal dari daerah lain di luar.
Penulis dan pembaca harus bijaksana untuk mengatakan bahwa apapun teori yang diajukan, kenyataan menunjukkan kelompok yang dianggap tertua di Kalimantan sekarang ini sudah mengalami percampuran kebudayaan yang sangat kompleks. Pendapat-pendapat tentang kelompok tertua berasal dari tanah Kalimantan Barat sendiri berasal dari cerita rakyat (folklore), mitos-mitos, dan kepercayaan setempat (Veth.a, 2012; Sjamsuddin, 2013). Penemuan fosil Homo Erectus dan atau Homo Sapiens terjadi di Kalimantan bagian Utara, di daerah kekuasaan Kesultanan Brunei dan Inggris (Veth, 2012.a; Poesponegoro & Notosusanto, 1992). Penemuan fosil ini menandakan dua hal: pertama, kelompok tertua di Kalimantan berasal dari Kalimantan sendiri dan atau Indonesia; kedua, kelompok tertua itu berasal dari Afrika. Pendapat terakhir mengatakan kelompok tertua di Kalimantan berasal dari Yunan, Tiongkok bagian Selatan, yaitu kelompok proto melayu dan deutro melayu (Poesponegoro & Notosusanto, 1992).
Penulis menerima bahwa kelompok yang tertua di Kalimantan sudah sulit sekali ditelusuri asal-muasalnya terutama sejak abad ke-19. Veth (2012.a) mengemukakan sebagai berikut:
“… di tengah-tengah bermacam hubungan dan persatupaduan dan percampuran, atau dari permusuhan dan penolakan, dan di bawah keadaan alamiah dari udara dan tanah, produk-produk tanah dan karena itu satu cara hidup, berangsur-angsur, membentuk masyarakat itu, yang dianggap sebagai yang tertua dan asli, yang pada umumnya dikenal dengan nama Dayak, …”

Kelompok yang dikenal dengan nama Dayak atau kelompok etnis Dayak pada dasarnya bukanlah identitas yang dibentuk oleh kelompok-kelompok tertua tersebut, melainkan label yang diberikan para kolonialis dari Eropa untuk membedakan kelompok tersebut dengan kelompok etnis Melayu dan Tionghoa (Vinco, 2015).
Kelompok etnis Dayak berdasarkan penelitian terkini memiliki 450 sub etnis (Riwut, 2003) dan 151 sub etnis terdapat di Kal-Bar (Bamba, 2008). Pengklasifikasian tersebut dilakukan berdasarkan keberagaman bahasa dan dialek yang juga menggambarkan keberagaman detail kebudayaan di dalam kelompok etnis dayak. Hal ini menunjukkan pemahaman terhadap kelompok etnis Dayak memang tidak bisa dilakukan secara sederhana. Veth sebagai sumber yang cukup tua, masih saja menyatakan bahwa pembahasan identitas Dayak menjadi hal yang tidak mudah dilakukan, “… sebagai yang tertua dan asli … tetapi memuat satu perbedaan besar suku-suku yang masih sekarang ini … dalam rupa, bahasa, cara hidup, konsepsi-konsepsi agama, dan tingkat kebudayaan” (Veth, 2012.a).
Kelompok etnis Dayak dengan berbagai keragaman kebudayaan pada titik tertentu masih dapat digeneralisir, terutama dengan membandingkan mereka dengan kebudayaan-kebudayaan Melayu, Tionghoa, dan kolonalis Eropa. Beberapa kesamaan antara berbagai kelompok etnis Dayak adalah sebagai berikut:
1.      Hidup di bantaran anak sungai
Kelompok etnis Dayak yang dianggap sebagai yang tertua diyakini pada awalnya hidup juga di pesisir-pesisir pantai dan di pesisir-pesisir sungai utama. Dayak Iban dalam berbagai literatur dari para kolonialis Eropa disebut sebagai Dayak Laut dan bajak laut (Veth, 2012.a; King, 2013). Namun, dengan kedatangan berbagai bangsa yang diduga sebagai bangsa Melayu (Sumatera, Jawa, Sulawesi, Indo-China) yang membawa kebudayaan dengan tingkat yang lebih kompleks seperti kebudayaan logam (perundagian), kebudayaan perdagangan uang, dan kemampuan bersosialisasi yang multikultural, membuat kelompok etnis Dayak menggeser pemukimannya menuju ke pedalaman, ke anak-anak sungai (Veth, 2012.a; King, 2013; Sjamsuddin, 2013).
Hal ini bukan berarti kelompok etnis Dayak kalah dalam berperang atau ditaklukkan secara militer, tetapi mereka terdesak dalam pergaulan ekonomi, teknologi, dan politik. Pola pikir seperti itu dapat juga digunakan ketika melihat kehidupan orang-orang miskin di perkotaan yang menggeser diri ke tepian sungai, ke bawah kolong jembatan, atau ke rumah susun. Pola demikian juga dapat digunakan untuk melihat pemukiman kelompok etnis Dayak saat ini (2017) yang semakin mengecil, terpusat, dan tidak lagi menguasai hutan yang luas. Semua itu bukan kekalahan di bidang militer, melainkan kekalahan secara ekonomi, teknologi, dan politik.
2.      Rumah Panjang
Kelompok etnis dayak dengan berbagai keragaman bahasa, dialek, dan kebudayaan, hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang terisolasi dan relatif berjauhan dengan kelompok etnis Dayak yang lain. Satu sub kelompok etnis Dayak bisa berjumlah 1.000 jiwa hingga 10.000 jiwa (Veth, 2012.a). Salah satu sub kelompok etnis Dayak yang memiliki anggota besar adalah Dayak Iban atau Dayak Laut atau Dayak Batang Lupar (Veth, 2012.a; Sjamsuddin; 2013). Kelompok-kelompok yang terisolasi dan seringkali saling bermusuhan diantara mereka membuat masing-masing kelompok mendirikan pertahanan masing-masing.
Pertahanan utama kelompok-kelompok etnis Dayak adalah sebuah rumah yang tinggi (rumah panggung) dan memanjang. Rumah tersebut menurut Malcolm MacDonald, “… tidak seperti rumah dalam pemikiran kita, tetapi lebih seperti perkampungan. Setiap penghuni komunitas tersebut tinggal dalam satu atap bersama yang menyambung” (King, 2013). Rumah panjang pada umumnya dihuni oleh 20-30 keluarga yang memiliki bilik (kamar) masing-masing sekitar 4x4 meter dan di luar bilik-bilik tersebut terdapat ruang besar (aula) sebagai tempat bersosialisasi, bahkan seperti jalan perkampungan. Pada bagian luar yang tidak beratap di sepanjang rumah itu berfungsi sebagai teras atau tempat menjemur padi.
Rumah panjang memiliki tinggi sekitar 4-5 meter yang berfungsi sebagai pertahanan bagi serangan musuh yang tiba-tiba, pada beberapa rumah selain milik Dayak Iban memiliki tinggi yang lebih lagi (King, 2013). Rumah ini memiliki sebuah tangga yang ditarik ke atas pada waktu malam, sedangkan pada bagian bawah rumah kelompok etnis Dayak memelihara hewan ternak. Setiap rumah dipimpin oleh kepala suku karena pada dasarnya satu rumah adalah satu perkampungan.
Pada banyak laporan para kolonialis Eropa seringkali kelompok etnis Dayak digambarkan sebagai manusia-manusia brutal, agresif, dan garang. Namun, melihat konstruksi bangunan tempat tinggal mereka yaitu rumah panjang, yang tampak sebenarnya adalah manusia-manusia yang pasif, pencari kedamaian, yang menjalani kehidupannya untuk mempertahankan diri dari dan kelompoknya. Bahkan dalam cerita rakyat Dayak Tamambaloh, rumah panjang mereka pernah didirikan di tengah danau untuk menghindari dari pengayauan.
3.      Perburuan kepala (mengayau)
Tradisi mengayau merupakan tradisi yang sangat sulit dicari sebab-sebab awal terjadinya. Pada abab ke-19 di Kalimantan, khususnya di Kalimantan bagian Barat tradisi ini sudah terjadi sejak waktu yang sangat lampau (Veth, 2012.a; King, 2013). Satu sub kelompok etnis Dayak pada umumnya memiliki beberapa musuh dari sub kelompok – sub kelompok yang berbeda, tetapi tidak semua di antara berbagai macam sub kelompok itu bermusuhan. Asal-muasalnya tidak begitu jelas, tetapi menurut berbagai catatan kolonial Eropa pendorongnya adalah dendam nyawa akibat pembunuhan yang dilakukan pihak lawan, yang terkadang sejarahnya sangat lampau dan bercampur dengan mitos-mitos.
Kepala yang berharga adalah kepala dari pihak musuh, sehingga kepala-kepala orang Melayu, Tionghoa, dan kolonial Eropa pada umumnya tidak diminati kecuali dianggap musuh oleh salah satu dari sub kelompok etnis Dayak (Veth, 2012.a). Kepala musuh yang dipenggal memiliki nilai spiritual yang dianggap mampu melindungi pemiliknya, keluarga, dan komunitasnya, sehingga kepala tersebut diperlakukan dengan sangat hormat. Kepala hasil mengayau juga menaikkan status sosial pemiliknya, dan orang yang tidak memiliki satupun kepala dianggap tidak mampu melindungi keluarganya, sehingga harus ditolak dalam perkawinan.
Tradisi mengayau yang didasarkan pada permusuhan antara sub-sub kelompok etnis Dayak, pada perjalanannya sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak penguasa Melayu dan kolonialis Eropa untuk memperoleh pasukan yang digunakan untuk menyerang sub kelompok etnis Dayak lain yang juga didukung oleh penguasa Melayu dan kolonialis Eropa yang berbeda (Veth, 2012.a; King, 2013; Sjamsuddin, 2013). Pengelompokkan-pengelompokkan yang terjadi antara sub-sub kelompok etnis Dayak membuat peran kelompok etnis ini sangat minor dalam konstelasi perekonomian dan perpolitikan di Kalimantan abad ke-19. Kelompok-kelompok yang kecil secara perlahan berada di bawah pengaruh penguasa Melayu dan atau kolonialis Eropa, sedangkan kelompok-kelompok yang bebas (merdeka) letakkan relatif jauh di pedalaman di anak-anak sungai yang terpencil.
4.      Kebutuhan terhadap garam
Salah satu komoditi yang membuat kelompok etnis Dayak bergantung pada kelompok di luar (Melayu, Tionghoa, dan kolonialis Eropa) adalah garam, selain besi, kawat, tembaga, tembakau, dan kain katun (Veth, 2012.b). Garam sebagai produk yang sangat diperlukan oleh kelompok etnis Dayak, bahkan legenda-legenda kelompok etnis Melayu menggambarkan orang-orang Dayak yang tidak dapat berbicara di awal perjumpaan mereka, sampai orang Melayu memberi mereka garam (Sjamsuddin, 2013). Berawal dari kebutuhan (atau ketergantungan) orang-orang dari kelompok etnis Dayak terhadap garam, maka muncullah perdagangan barter antara orang-orang Dayak dengan para pedagang Melayu, yang mana nantinya akan berkembang menjadi struktur sosial “Dayak Serah”. Dayak Serah menurut Sjamsuddin (2013) adalah kewajiban orang-orang Dayak dari kelompok tertentu untuk membeli barang-barang hanya dari penguasa (kerajaan) Melayu tertentu saja.
Dalam pandangan penulis sebelum-sebelumnya sudah disampaikan pentingnya meletakkan pandangan hidup sesuai zamannya (zeitgeist) dan juga disaat sekarang ini mempertimbangkan politik identitas suku, agama, ras, dan antara golongan (SARA). Adanya status “Dayak Serah” dapat menimbulkan persepsi negatif bahwa kerajaan-kerajaan Melayu “menjajah” orang-orang Dayak. Namun, sebenarnya kondisi saat itulah (abad 18-19) yang memposisikan orang-orang dari kelompok etnis Dayak untuk memerlukan barang-barang yang tidak dapat mereka produksi sendiri seperti garam dan logam. Sementara itu penguasa-penguasa Melayu dihadapkan pada kesempatan untuk memonopoli perdagangan, yang pada dasarnya mendapat pengaruh tarik menarik yang kompleks dalam dunia perdagangan dengan para kolonialis Eropa.
Hasil dari ketergantungan tersebut memang menjadikan harga-harga barang naik 20 kali lipat dan seringkali orang-orang Dayak dihadapkan dengan hutang yang tidak mampu dibayar bertahun-tahun (Veth, 2012. b). Kondisi seperti demikian sebenarnya tidak asing dengan pengetahuan kita dewasa ini. Ketergantungan sebuah negara terhadap komoditas tertentu membuat negara itu tidak memiliki daya tawar dan menerima saja harga pasar. Tidak semua kelompok etnis Dayak menjadi Dayak Serah, banyak pula sub-sub kelompok etnis Dayak yang berstatus merdeka (Sjamsuddin, 2013). Salah satu contoh sub kelompok etnis Dayak yang merdeka adalah Dayak Kayan, salah satu sebabnya karena mereka mampu mendulang logam (Veth, 2012. a). Selain itu Dayak Punan yang mempertahankan tradisi hidup secara nomaden dan subsistem juga dapat dikatakan kelompok yang merdeka.

D.    Kesultanan-kesultanan Pesisir dan Kolonialis Eropa
Kelompok etnis Melayu dan kelompok kolonialis Eropa di pedalaman bersama-sama dengan kelompok etnis Dayak membentuk struktur masyarakat pedalaman di Kalimantan. Kerajaan-kerajaan (atau kesultanan-kesultanan) Melayu di Kalimantan Barat yang terletak di pesisir pantai atau muara sungai dan mengarah ke laut yaitu Sukadana, Sambas, Mempawah, Kubu, Pontianak, Simpang, dan Matan. Kesultanan-kesultanan Melayu di pedalaman juga terletak di pesisir sungai utama (Sungai Kapuas) atau di muara-muara sungai yang mengarah ke Sungai Kapuas yaitu Landak, Tayan, Sanggau, Sekadau, Sintang, Silat, Suhaid, Selimbau, Piasa, Jongkong, dan Bunut. Kerajaan-kerajaan tersebut ada yang besar dan kuat, tapi ada juga yang kecil dan lemah (Veth, 2012 a dan b). Sedangkan untuk kelompok etnis Dayak sudah disebutkan sebelumnya, memiliki pemukiman di bantaran anak-anak sungai, sehingga penggolongan kelompok pesisir untuk kelompok etnis Melayu dan kelompok pedalaman untuk kelompok etnis Dayak ada benarnya.
Kelompok etnis Melayu datang ke pedalaman Kalimantan sebagai penjelajah dan pedagang yang membawa harapan untuk mengubah status ekonomi, sosial, dan politik di negeri asal mereka. Menurut Ozinga dalam Sjamsuddin (2013),
“Dalam pelayaran mereka temukan tempat-tempat berlabuh yang baik, tanah yang subur, dan tidak ada penduduk yang menentang pemukiman-pemukiman mereka … mereka memberikan kekuasaan kepada raja mereka. Tetapi kemudian ketika merasa sudah cukup matang … melepaskan diri dari ‘tanah ibu’”

Dalam Veth (2012) wilayah asal dari para penjelajah tersebut adalah kerajaan Johor dan kerajaan Brunei. Para penjelajah tersebut dalam kasus di Kalimantan Barat dapat pula diduga berasal dari Sukadana, Sambas, atau Banjarmasin.
Pendapat Ozinga dibantah oleh Sjamsuddin (2013) karena terlalu menyederhanakan kompleksitas keadaan di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Barat pada masa itu. Menurut dia, dalam legenda-legenda asal-muasal berdirinya kerajaan di Kalimantan Barat, hampir seluruhnya mengandung cerita adanya hubungan pernikahan antara penjelajah dari Melayu dengan orang-orang setempat yaitu orang Dayak. Hal ini tentunya tidak dapat digeneralisir untuk seluruh kerajaan-kerajaan Melayu di Kalimantan Barat, tetapi sangat kecil kemungkinan kerajaan-kerajaan Melayu dapat mempertahankan kemurnian rasnya selama ratusan 200-300 tahun, sehingga sangat besar kemungkinannya ada percampuran genetik antara berbagai kelompok etnis di kerajaan tersebut.
Para kolonialis Eropa datang kemudian pada abad ke-17 ke pesisir Kalimantan, dan pada abad ke-19 ke bagian pedalaman Kalimantan Barat (Veth, 2012). Kedatangan mereka pada dasarnya adalah meneruskan kebijakan yang telah berlaku di pusat pemerintahan kolonial, dalam hal ini di Batavia (Belanda) atau Sarawak (Inggris). Kebijakan pemerintah kolonial tentu saja untuk memperoleh keuntungan besar dalam perdagangan di berbagai daerah. Kebijakan khasnya adalah dengan bekerja sama dan mempengaruhi kebijakan penguasa-penguasa setempat (raja-raja setempat), dalam hal ini adalah kerajaan-kerajaan Melayu.
Hubungan para kolonialis dengan kelompok etnis Dayak dalam catatan Veth (2012), King (2013), dan Sjamsuddin (2013) tidak bersifat langsung, melainkan bersama-sama penguasa Melayu atau menggunakan penguasa Melayu. Hubungan yang bersifat langsung memang pernah terjadi antara kolonialis dengan kelompok etnis Dayak di pedalaman, tetapi itu karena James Brooke dan Charles Broke berlaku sebagai raja di Sarawak yang juga membawahi semua kelompok etnis, termasuk kelompok etnis Melayu.

E.     Penutup
Peristiwa sejarah selalu memiliki nilai keunikan yang mengakibatkan pendidikan sejarah juga memiliki keunikan. Sejarah Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat pada abad ke-19 memiliki perbedaan yang relatif besar dengan daerah lain semisalnya Pulau Jawa. Terutama daerah-daerah pedalaman di Kalimantan Barat memiliki perbedaan geografis dan sistem kemasyarakatan dengan daerah-daerah lain di sekitar periode imperialisme dan kolonialisme Bangsa Eropa di Nusantara.
Masyarakat di pedalaman Kalimantan Barat relatif terisolasi dari dunia luar karena hutan tropis Kalimantan mendirikan benteng-benteng alami yang sulit untuk dijelajah. Selain itu kelompok etnis Dayak juga mendirikan benteng mereka yang berupa rumah panjang untuk melindungi anggota komunitas mereka dari serangan musuh-musuh yang berasal dari sub-sub kelompok etnis Dayak yang berbeda. Suasana di pedalaman Kalimantan saat itu diwarnai dengan permusuhan antara sub-sub kelompok etnis Dayak yang tampak melalui tradisi mengayau atau perburuan kepala.
Hubungan antara pedalaman dengan pesisir terjadi ketika masyarakat pedalam memerlukan barang-barang dari luar seperti garam dan logam, sementara itu komoditas di pedalaman juga cukup menjanjikan. Pada masa itulah terjadi interaksi antara masyarakat Dayak di pedalaman dengan masyarakat Melayu di pesisir dan juga para kolonialis dari Eropa. Hubungan tersebut sangat kompleks, sehingga menimbulkan perubahan-perubahan yang terus berkelanjutan.

DAFTAR  PUSTAKA

Bamba, John (ed). (2008). Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak. Institut Dayakologi: Pontianak.

King, Victor. (2013). Kalimantan Tempo Doeloe. Komunitas Bambu: Depok.

Poesponegoro, M.J. & Notosusanto, N. (1993). Sejarah Nasional Indonesia I. Balai Pustaka: Jakarta.

Riwut, Tjilik. (2003). Maneser Panatau Tatu Huang: Menyelami Kekayaan Leluhur. Pusakalima: Palangkaraya.

Sjamsuddin, Helius. (2005). Pembelajaran Sejarah Refleksi dan Prospek. Historia Vitae, vol 19 no 2, 303.

________________. (2013). Kerajaan Sintang 1822-1942. Ombak: Yogyakarta.

Veth, P.J. (2012). Borneo Bagian Barat Geografis Statistis Historis Jilid 1. Institut Dayakologi: Pontianak.

________. (2012). Borneo Bagian Barat Geografis Statistis Historis Jilid 2. Institut Dayakologi: Pontianak.

Vinco, Mitchel. (2015). Identitas Dayak di Kalimantan Barat. [Internet]. Diakses di http://kamudaponti.blogspot.co.id/2015/01/identitas-dayak-di-kalimantan-barat.html


Oleh: M.S. Mitchel Vinco (1604736)
Jurusan Pendidikan Sejarah, Sekolah Pascasarjana UPI
 

Tidak ada komentar: